7 Tips Merawat Aglaonema agar Warna Daun Semakin Cerah dan Menarik
-
Halo Sobat SHAHIR! Apakah Sobat termasuk salah satu penggemar tanaman hias
yang terpukau dengan keindahan Aglaonema? Tanaman yang juga dikenal […]
Archive for 2019
Chapter 160 – Pembunuh bayaran ketiga
Pagi hari setelah aku memastikan ukuran para gadis aku mulai merasakan kehadiran, dan mulai bangun. Ini bukan kehadiran Meru. Atau lebih tepatnya, aku tak bisa merasakan kehadiran Meru sama sekali. Apakah dia pergi berjalan-jalan pagi atau apakah dia pergi untuk mencari ibunya, Meral? Apakah gadis-gadis itu masuk lagi? Kemarin karena kelelahan mental, aku lupa mengunci pintu dan aku tidak menempatkan sesuatu untuk menutup pintu … hmmm … yah, itu tidak bisa dihindari.
Dengan perlahan aku membuka mata dan…
“Ya… kamu sangat luar biasa tadi malam.” (seorang wanita)
“…” (Wazu)
Di sampingku ada seorang wanita yang berbaring dan mengatakan sesuatu. Wanita itu mempunyai rambut merah semerah api, tatapan yang tajam dan wajah yang berkemauan keras, tetapi dia benar-benar cantik.
Namun, dadanya berada pada sisi yang mengecewakan, dan fisiknya yang langsing tapi, hanya dengan melihat kau bisa tahu kalau itu terlatih dengan baik. Otot perutnya terbentuk dengan sempurna. Kenapa kau tanya kalau aku tahu hal itu? Karena wanita itu hanya mengenakan jaket yang hanya menutupi bahu dan celana dalamnya saja.
“Yah~aku ingin mencoba mengatakannya sekali lagi… are? Apa dia sudah bangun? Sepertinya dia melihat kemari… Hei!, Hello~!” (seorang wanita)
“…” (Wazu)
… eeeeeehhhhhhh!!!!
Aku beranjak ditempat dan memasang sikap tempur.
“Si-siapa kamu?! Kenapa kau tidur di ranjangku?!” (Wazu)
“Mh? Sekarang setelah kau menyebutkannya, ini adalah pertemuan pertama kita. Aku adalah Dewi Perang.” (Dewi Perang)
… Dewi Perang… Dewi Perang… Dewi Perang… Dewi Perang?
DEWI PERANG!!
Lagi-lagi ini?
Setelah aku berteriak di kepalaku, aku membuang seluruh kelelahanku sekaligus, dan duduk dengan keras di tempat itu. Wanita yang ada di depanku melakukan hal yang sama dan duduk. Aku mungkin harus memastikan untuk berjaga-jaga seandainya…
“Untuk berjaga-jaga seandainya aku bertanya, apa kamu benar-benar asli?” (Wazu)
“Mh? Apakah tidak masalah dengan ini?” (Dewi Perang)
Mengatakan itu, wanita yang ada di depanku memakai aura dewa seolah-olah untuk membuktikan dirinya. Yeah, aku sudah tahu… aku sudah tahu kalau dia asli… tetapi aku masih menginginkan kalau ini hanya sebuah mimpi… haa…
“Sudah oke, aku paham” (Wazu)
“Benarkah?” (Dewi Perang)
Dewi Perang menghapus auranya dan tersenyum padaku. Aku membalasnya dengan senyum pahit.
“Dan? Apa yang Dewi Perang lakukan disini? Atau lebih tepatnya, bagaimana kau sampai disini?” (Wazu)
“Ceritanya sederhana. Di antara kami para Dewi aku adalah yang menguasai peperangan dan dengan demikian dapat menyimpan kekuatan dengan lebih mudah. Dan dengan begitu aku menyimpan kekuatan untuk dapat memanifestasikan diri karena aku ingin bertemu dengan mu… dan pada saat yang sama ingin melihat bagaimana kabar dunia.” (Dewi Perang)
“Haa…” (Wazu)
… eh? Apa ini? Mengesampingkan bagian tentang ingin bertemu denganku… Aku merasa bahwa apa yang dikatakannya sangat normal sekali… Mh? Bukankah dia temannya si Dewi? Rekannya? Begitu?
“… Uhm… Hanya itu saja?” (Wazu)
“Apa ada yang lain?” (Dewi Perang)
“… Tidak…tidak ada.” (Wazu)
Bagaimana mengatakannya… itu seperti… jika seorang Dewi mengatakan sesuatu yang normal, aku merasa tidak ada yang beres…
“Jadi, kau sudah bertemu denganku, dan sekarang. Kau akan pergi melihat kabar dunia?” (Wazu)
“Mari kita lihat… yah, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan… meskipun aku memanifestasikan diriku, aku tak bisa bertarung.” (Dewi Perang)
“Kau tidak bisa bertarung? Kau adalah Dewi Perang, benarkan?” (Wazu)
Ketika aku bertanya padanya, Dewi Perang mengatakan “ahaha…” sembari tersenyum pahit.
“Yah, tanpa diragukan lagi aku adalah Dewi yang menguasai peperangan akan tetapi, agar aku bisa bertarung ada banyak sekali batasan sehingga aku tak bisa melakukannya denga mudah.” (Dewi Perang)
“…Eh? Tapi kau menulis sebelumnya kalau kau ingin bertarng denganku jika kau bertemu dengan ku, bukan?” (Wazu)
“… Aku terbawa suasana saat itu.” (Dewi Perang)
“Jadi, kau tidak benar-benar ingin bertarung denganku?” (Wazu)
“Tidak, aku benar-benar menginginkannya.” (Dewi Perang)
“…Eh?” (Wazu)
“Saat Wazu mendapatkan pendewaan yang sempurna, kamu akan menjadi makhluk dengan sifat yang sama dengan kami, dan saat itu kita dapat bertarung tanpa masalah.” (Wazu)
… Yeah, Aku ingin pergi dengan cara yang tidak akan ku lakukan… Menjadi makhluk dengan sifat yang sama dengan para Dewi yang tidak memukulku dengan cara yang benar adalah sedikit… tapi aku mengerti… Jika aku melakukan pendewaan sempurna, aku akan menjadi sama dengan para Dewi… Haa…
“Yah, itu saat aku benar-benar menjadi dewa…” (Wazu)
“Yeyy!! Aku menunggu dengan penuh semangat sampai saat itu terjadi!! Mulai sekarang aku akan menantikan hari itu!!” (Dewi Perang)
Dewi Perang mengatakan hal itu dengan wajah yang benar-benar bahagia… Ahh… Jika dia membuat wajah bahagia seperti itu, aku jadi tak bisa meributkan persentasi ras ku yang menurun…
“Ugh…” (Wazu)
“Mh? Apa ada yang salah? Apa kau merasa tidak sehat? Apa kau ingin berbaring? Ah! Apa aku mengganggumu? Aku minta maaf, aku akan pergi sekarang.” (Dewi Perang)
Sudah ku duga!! Dengan semua percakapan ini aku mengerti!! Kau terlalu normal!! Ini percakapan yang normal!! Tidak, mengatakan normal itu kasar, dia orang yang baik… Dewi ini terlalu baik!! Apa Dewi ini sejenis dengan Dewi atau Dewi Bumi itu? Faktanya dia tidak, kan?
“Kalau begitu, sampai jumpa” (Dewi Perang)
Dan mengatakan itu, Dewi Perang mengulurkan tangan dan mulai meninggalkan ruangan.
“Ah, tunggu” (Wazu)
“Yah, ada apa?” (Dewi Perang)
Aree? Mengapa aku menghentikan Dewi Perang? Mungkinkah karena kami melakukan percakapan normal yang tak terduga, aku jadi sedikit terguncang? Dewi-dewi lain tidak pernah mengkhawatirkan keadaanku juga aku tak pernah ingat pernah melakukan percakapan yang benar dengan mereka… Atau lebih tepatnya, ketika aku memikirkan hal ini, Dewi Perang masih setia menunggu apa yang akan ku katakan. Apa yang harus ku lakukan? Apa yang harus ku katakan? Aku berbicara tanpa berfikir dan sekarang tak bisa mengatakan apa-apa… Ah! Benar!!
“Kau tidak dapat bertarung kan?” (Wazu)
“Yah, ada beberapa batasan” (Dewi Perang)
“Tapi apa kau bisa mengajari orang bertarung?” (Wazu)
“Mari kita lihat. Aku tidak bisa mendemonstrasikannya, tapi setidaknya aku bisa bicara tentang hal itu.” (Dewi Perang)
“Lalu, aku tahu ini kurang sopan tapi, bisakah kau ajarkan satu atau dua hal kepada gadis-gadis itu?” (Wazu)
“Mh… Yah, kenapa tidak. Aku pikir itu akan baik-baik saja. Lagipula, kami sama-sama sangat tertarik dengan Wazu dan aku berfikir untuk berbicara dengan mereka agar lebih akrab, jadi ini adalah kesempatan yang bagus. Tapi aku hanya memilik waktu untuk mengajari satu atau dua dari mereka. Dan aku akan melihat mereka dari jauh agar aku tidak mengganggu dan menunjukannya saat diperlukan. Maafkan aku, aku tidak bisa mengajari mereka semua.” (Dewi Perang)
SUNGGUH DEWI YANG BAIK SEKALI!!
Ada apa dengan Dewi ini? Dia normal!! Sangat normal!! Kau bisa berinteraksi dengan normal bersamanya!! Tidak ada kesalahan atau eksentrisitas yang ditemukan!! Maafkan aku!! Maafkan aku telah mengelompokkan mu dengan Dewi-dei yang lain!! Maafkan aku yang sudah berjaga-jaga dari awal!! Sebaliknya, silahkan datang kapan pun kau mau!! Atau lebih tepatnya, jika kau ingin tinggal selamanya itu juga tak apa-apa!! Jika kau membutuhkan kekuatanku untuk mempertahankan manifestasi wujudmu maka aku akan memberikannya kepadamu kapan saja!!
“Baiklah, aku akan pergi melihat bagaimana keadaan mereka dulu. Jika aku tidak benar-benar melihatnya, aku tidak tau apa yang harus diajarkan pada mereka.” (Dewi Perang)
Setelah mengatakan itu, Dewi Perang meninggalkan ruangan sambil melambaikan tangannya dan aku membalas gerakan itu.
Aku pergi ke ruang kerja untuk membuat baju zirah para gadis setelah tercengang untuk sementara waktu, berfikir kalau ada Dewi semacam ini juga.
Sono Mono Nochi Ni Chapter 160
Bab 159 – Apakah menahan diri itu buruk?
Sehari setelah kejadian kemarin, semua orang mulai menghabiskan waktu mereka sendiri. Karena sekarang aku juga sendirian, mungkin ini waktu yang tepat untuk mengumpulkan bahan-bahan untuk armor para gadis. Aku puas dengan bahan bahan kami kumpulkan saat datang ke sini berjumlah banyak, tapi masalahnya adalah tidak ada bahan yang bisa digunakan untuk membuat inti armor. Karena itu aku pergi ke Aula untuk bertanya pada Ragnil dan Megil apakah mereka tahu di mana aku dapat menemukannya. Ngomong-ngomong, saat gadis-gadis itu tidak ada, Ragnil akan melakukan dogeza. Kita maafkan dia sajalah, sebenarnya aku ingin mengatakannya tapi aku benar-benar tidak ingin terlibat dengan masalah mereka, jadi aku hanya mengabaikannya saja.
“Fumu … kristal yang bisa digunakan jadi inti … Hanya dengan melihat aku bisa mengatakan istri-istrimu sangat kuat jadi kristal biasa tidak akan bertahan, dan semua kristal di sini mungkin tidak bisa digunakan…” (Megil)
“Seperti yang aku pikir, mereka tidak akan bertahan lama … Aku juga sudah mencari beberapa tempat yang memiliki beberapa kristal dalam perjalanan ke sini tapi aku tidak menemukan satupun yang bagus … apa yang harus aku lakukan sekarang?” (Wazu)
“Wazu, kamu harus menggunakan senjata yang ada di dalam peti harta karun di kastil ini. Aku pikir cukup banyak kristal yang ada di sana. “(Ragnil)
Ragnil mengatakan saat sedang Dogeza.
“Aku bersyukur atas tawaran itu, tapi apakah itu baik-baik saja?”(Wazu)
“Tidak masalah. Tidak ada orang yang akan datang mencari harta di sini. Tidak akan ada masalah bahkan jika diambil beberapa, selain itu, barang itu memang dimaksudkan untuk digunakan. ” (Ragnil)
“Aku akan menerima kebaikanmu.” (Wazu)
“Umu, Sebagai gantinya, menyerahlah pada Meru.” (Ragnil)
“kamu tidak berhak memutuskan. Yang paling penting adalah apa yang diinginkan Meru. Aku akan menghukummu karena mengatakan hal yang tidak sopan, tambah satu hari lagi dogeza. ” (Megil)
“Grrrrr …”(Ragnil)
Yup, bukan salahku. Aku pikir Ragnil hanya menghancurkan dirinya sendiri. Setelah itu, Megil memberitahuku jalan ke ruang harta dan memberiku kunci untuk membukanya. Aku berterima kasih padanya dan meninggalkan Aula.
Ruang Harta dilindungi oleh pintu yang sangat besar, cukup untuk Ragnil masuk. Aku mulai membuka kunci dan setelah itu melewati pintu-pintu lingkaran-lingkaran sihir yang tak terhitung jumlahnya muncul kemudian mereka mulai menghilang seolah-olah mereka menghapus dirinya. Setelah itu aku mendengar bunyi klik yang keras dan pintu brankas harta terbuka. Aku dengan hati-hati mendorong pintu dan masuk ke dalam.
Ruang Harta sangat besar. Orang mungkin akan berpikir ruangan ini diperluas dengan sihir. Dan bagian dalam ruangan penuh dengan permata, perak, emas dan baju besi yang sangat berkilau samapai harus menutup mata.
“… Ini terlalu besar. Apakah aku harus mencarinya disini? ”(Wazu)
Jumlah barang-barang disini membuatku perutku mual karena itu sangat banyak! Aku mulai mengambil pedang di dekatku yang dihiasi permata.
“… Aku tidak tahu bagaimana ini dibuat, atau apa bahan bahannya … dan tidak ada masalah saat aku memegangnya tapi, jika pedang ini dikutuk itu akan menjadi masalah … mhh …”
Haa … tidak ada pilihan lain (shikatanai) … Disaat seperti ini gunain pendewaan aja. Daripada salah mengambil barang yang berbahaya untuk para gadis, lebih baik aku menggunakan pendewaan untuk mencari barang yang bagus dengan mengorbankan ras ku. Keamanan gadis-gadis jauh lebih penting daripada sesuatu seperti ras. Aku mulai mengaktifkan pendewaan dan melihat semua hal di Ruang harta. Seperti yang kuharapkan, dalam bentuk ini aku bisa tahu mana yang benda aman dan buruk atau benda yang didalamnya ada kutukan, bahkan jika itu tidak sampai tingkat dimana aku dapat tahu terbuat dari apa benda itu atau bagaiman mereka dibuat, setidaknya aku bisa mencari bahan yang cocok untuk gadis-gadis. Dengan itu aku selesai memilih bahan yang aku perlukan untuk semua armor dan selagi aku bingung, bagaimana aku akan membawa benda benda ini, Meru tiba tiba terbang mendekatiku.
“Kyui Kyuii ~!”
Oh, tepat waktu! Aku hanya akan menaruh benda benda ini ke magic strorage Meru. Meru datang ke kepalaku sambil membawa kertas di mulutnya. Aku mengambil kertas itu pada saat yang sama saat dia mendarat di kepalaku. Sepertinya pesan ini ditujukan untukku.
“Tolong jaga Meru – Meral.”
… mh … Untuk sekarang, kata-kata ini bisa dipahami dengan cara yang berbeda. Yah, jujur, aku akan selalu menerima Meru bagaimanapun juga. Aku menjawab Meru ‘Tolong rawat aku juga’ dan dia menepuk kepalaku dan menjawab dengan ‘Kyui!’ Dan dengan demikian aku meminta Meru untuk membawa barang-barang yang aku pilih ke penyimpanan ajaibnya, ketika aku meninggalkan ruangan harta dan mengunci pintu lingkaran sihir mulai membentuk lagi dan muncul suara klik, pintu menjadi terkunci.
Dan seperti itu aku mulai pergi ke ruang kerja yang aku pinjam dari Ragnil yah walaupun ruangan ini berbeda dengan yang aku miliki, dan sementara pendewaanku masih aktif, aku mulai bekerja. Aku meminta Meru untuk mengeluarkan bahan-bahan yang dibutuhkan dari penyimpanannya dan mulai menempa. Jika aku menggunakan God Magic, aku yakin bisa membuat armor dalam waktu singkat, tapi kali ini aku ingin merasa aku membuatnya sendiri jadi ini mungkin butuh waktu yang sedikit lama. Yah, berkat pendewaan, aku akan tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana caranya melakukannya. Dan ketika aku sedang di tengah pekerjaan, aku menyadari sesuatu. Aku melupakan sesuatu yang sangat penting.
aku tidak tahu ukuran tubuh mereka!!
ini masalah … Aku tidak mungkin membuat armor mereka hanya dengan melihat … pasti akan lebih baik jika aku bertanya pada mereka terlebih dahulu … haa …
di saat itu aku mulai menghentikan pekerjaanku. Jika aku meminta gadis-gadis itu untuk melakukan pengukuran, biasanya mereka harus menentangnya tapi aku yakin mereka dengan paksa akan berkata padaku ‘tolong sentuh aku lebih banyak!’ … tentu saja, aku tidak akan melakukan apa pun selain
(Tl note : Apa ini ngk seru, harusnya ada adegan ecchinya -_-)
melakukan pengukuran pada mereka tapi … Ini akan menjadi hari yang sulit huft~.
Hari itu aku kelelahan secara mental karena hanya melakukan pengukuran dan, setelah mengkonfirmasi pengukuran semua orang, aku membawa Meru ke kamar dan pergi tidur bersama.
Sono Mono Nochi Ni Chapter 159
Chapter 158 – Martabat Sang Raja Naga
Aku memasuki Aula dengan tenang. Ragnil masih melakukan dogeza dan tidak memperhatikan kami, tapi, Ibu Meru, Meral sedang berbaring dengan anggun di lantai dan Nenek Meru, Megil yang sedang duduk di singgasana melihat kami. Mereka melihat kami tapi entah kenapa mereka tidak mengatakan apa-apa, kayaknya situasinya lagi buruk… haruskah aku pergi saja? Saat aku memikirkan itu Meru terbang dari kepalaku menuju ke ibunya. Aku mengikutinya dan perlahan mendekati Ragnil.
“Yo!”
Menanggapi ucapanku, Ragnil melompat dan dengan hati-hati mendongak.
“… Apa, jadi itu hanya kamu … apa yang kamu lakukan disini …?” (Ragnil)
“Siapa yang memberimu izin untuk mengangkat kepala?”(Megil)
Ragnil menutup mulutnya sekali lagi karena bentakan suara Megil yang keras dan mulai meneteskan keringat dingin saat menurunkan kepalanya ke lantai. Disaat seperti ini aku tidak mungkin bisa berbicara pada Ragnil dan memperkenalkannya pada para gadis. jadi aku ingin segera mengakhiri ini, aku kembali melihat ke Megil dan mulai mengambil nafas.
“Sudah lama, Wazu.” (Megil)
“Ya itu sudah lama, melihatmu sehat-sehat saja membuatku senang. Dan … Hmm untuk berapa lama ini akan berlanjut? ” (Wazu)
(Tl note : Lu nya seneng tapi si Ragnil pengen dia cepet mati XD)
“Sampai idiot ini mengatakan ‘Aku akan bertobat jadi tolong maafkan aku’ dan meminta dibebaskan, kalau tidak aku akan menguji berapa lama dia bisa menjaga postur itu sampai aku puas.” (Megil)
“Begitukah … maka kami akan kembali jika kami mengganggumu.” (Wazu)
Dan setelah aku mengatakan itu, aku bisa melihat mata Ragnil berkerut dengan air mata saat melihatku. Jangan lihat aku seperti itu. Ini masalah keluargamu, bukan? Atau lebih tepatnya, bukankah kau itu Raja Naga? meski aku tidak bisa merasakan keagungan apa pun darimu, tapi apakah itu baik baik saja untukmu? Bukankah Kau berada di puncak makhluk superior yang tinggal di puncak gunung ini? Haa~ …
“… Yah, sebenarnya …” (Wazu)
Karena aju tidak tahan lagi melihat Ragnil dalam situasi itu, aku memberi tahu mereka kalau dibelakang pintu Ruang Aula ada istri-istriku dan seorang butler, yang tidak ingin ku kenalkan.
“Ha ha ha!! Kamu memiliki tujuh istri! Kamu cukup mengesankan meskipun bertentangan dengan penampilanmu!!” (Meril)
“Yah … salah satunya sebenarnya adik perempuanku.” (Wazu)
“Wazu sangat populer. Meru jadi tidak bisa bermalas-malasan lagi. ” (Megil)
Ibu Meral menatapku dan tersenyum sementara dia menepuk kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.
“Kyui!! Kyui, kyuii!! ” (Meru) (Editor note: huh? Apa ada yang bisa jelasin saya tentang ini?)
“Ara ara! Kamu tidur bersamanya setiap malam dan dia selalu memelukmu? ” (Meral)
Meru-san, mari hentikan pembicaraan itu.
“Fumu … Bukankah Wazu yang harus bertanggung jawab? Tidak akan ada masalah selama kita mengajarkan sihir transformasi pada Meru. ”(Megil)
Megil, tolong kau juga berhentilah. Ragnil telah menatapku dengan niat membunuh tanpa alasan sambil menitikkan air mata darah. Eh? Haruskah kita meninggalkannya sendirian? Pendapat ayah tidak masuk hitungan, kan? Dia jelas menentangnya …
“Baiklah, mari kita tunda kesempatan ini di lain hari dan sekarang mari kita biarkan gadis-gadis itu masuk.”(Megil)
Setelah aku membawa gadis-gadis itu ke Aula, kami mendengar suara megah bergema dari singgasana.
“Fumu, Apakah kalian istri dari sahabatku Wazu? Kalian akan disambut dengan baik disini. “(Ragnil)
Itu Ragnil. Kami harus menunda hukuman dogezanya dan dia juga harus duduk di tahta. Yah … kakinya gemetar ketika dia mendekati tahta sehingga tidak ada perasaan kekhusyukan darinya. Di sekelilingnya juga ada Megil dan Meral yang sedang memeluk, Meru.
“Halo, senang bertemu dengan kalian, aku ibu Meru, Meral.” (Meral)
“Aku Nenek Meru, Megil.” (Megil)
Setelah itu, gadis-gadis itu mulai membungkuk dan memperkenalkan diri.
“Aku Sarona,istrinya yang ingin Wazu-san segera meletakkan tangannya padaku.”
“Aku Tata,istrinya yang sangat ingin dimanja oleh wazu-san.”
“Aku Naminissa,istrinya yang ingin bangun bersama Wazu-sama setiap hari.”
“Aku Narelina,istrinya yang ingin berlatih dengan Wazu-sama di malam hari.”
“… Aku Haosui,istrinya yang ingin selalu bersamanya. ”
“Aku Kagane,istrinya yang ingin dibuat tidak berdaya oleh Wazu-oniichan.”
“Aku Maorin,istrinya yang ingin dipeluk Wazu-san seperti binatang.”
Eh? Apakah mereka secara tidak langsung membuat keluhan padaku? Atau lebih tepatnya, apakah ini tempat untuk mengatakan itu? Aku merasa mereka terlalu terburu-buru. Dan juga, kapan Kagane dan Maorin menjadi istriku? Aku masih belum menerimanya. Mungkinkah mereka mencoba memaksa ku untuk menerima mereka sebagai istriku?
“… Fumu … aku adalah kepala pelayan dan teman Wazu-sama. Namaku Freud. ”(Freud)
Freuuuuuuud !! Ada apa denganmu ?! Kenapa kau sangat sopan saat ini ?! Ini adalah situasi di mana kau harus memecahkannya dengan leluconmu, mengapa kau memperkenalkan diri dengan normal?! Maksudku begitulah seharusnya tapi, ini salah !! Mengapa kau memperkenalkan dirimu sebagai kepala pelayanku tanpa ragu-ragu? Terus ada apa dengan wajahmu yang seperti mengatakan ‘bagaimana dengan itu!’ ?! Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan!! Aku tidak akan mengakuimu sebagai butlerkuu !!
“Umu, istri dan kepala pelayan Wazu, aku akan mengingat nama dan wajah kalian. Wazu juga sudah memberitahuku, untuk sementara kalian dapat tinggal di sini, anggap tempat ini sebagai rumah kalian! ” (Ragnil)
Ragnil mengatakan dengan nada selayaknya Raja Naga tapi dari matanya yang menatapku aku dapat dengan jelas memikirkan apa yang dipikirkannya ‘Kau memiliki semua istri ini tapi masih ingin Meru-ku yang imut menjadi istrimu ?! Kau bajingan! Aku akan menemuimu nanti di luar !! ‘”
“Kyui, kyui, kyui !!” (Meru)
“Ara ara, Meru meminta untuk diterima sebagai salah satu istri Wazu.” (Meril)
Dan setelah mendengar kata-kata istri dan anaknya, wajah putus asa mulai muncul. Topengmu, Topengmu! Topeng ‘Raja Naga’mu mulai rusak!
Selagi aku memikirkan itu, para gadis ditanya apa yang mereka pikirkan tentang kata-kata Meru, gadis-gadis itu berkata, “Eh? Aku pikir dari awal bukankah mereka sudah begitu. ”Apa? Kalian sudah memikirkan sejauh itu tentang Meru? Yah, tidak apa-apa. Saat ini aku tidak berencana untuk melepaskan Meru dan jika beberapa bajingan mencoba untuk menyakitinya, aku akan mengubahnya menjadi daging cincang.
Setelah itu kami dengan enteng membicarakan tentang perjalanan kami sampai di sini, lalu makan bersama dan kemudian dipandu oleh Meru dan Meral ke kamar kami untuk beristirahat.
Meskipun aku mendapat kesan bahwa aku akan melakukan percakapan “fisik” dengan Ragnil nanti… haa…
Sono Mono Nochi ni Chapter 158
Chapter 157 – Kita Datang di Waktu yang Salah
Kami menaiki gunung sambil mempertahankan sihir penghalang. Di dalam cuaca buruk ini, kami terus diserang oleh monster tapi Kagane mengalahkan monster-monster itu dengan sihirnya, bahkan jika mereka mendekat, mereka tidak akan mampu menembus penghalang dan akan menjadi sasaran empuk untuk serangan kami. Gadis-gadis itu benar-benar menjadi kuat. Aku menyerahkan urusan monster pada mereka dan fokus dalam pelatihan Mao. Mao berasal dari keluarga yang memiliki kemampuan fisik yang tinggi, dan bahkan di dalam keluarganya sendiri, dialah yang memiliki kemampuan fisik paling tinggi, jadi kami berlatih demi mimpinya untuk dapat menggunakan pedang ganda.
Kami terus mendaki dan akhirnya sampai di puncak gunung. Sekarang kami berada di atas dan bisa melihat kastil Ragnil sudah tidak jauh dari sini. meskipun cuacanya sudah reda, namun anginnya masih sedikit kencang. Karena kita telah mendaki sampai puncak gunung, kami sudah tidak perlu khawatir tentang monster. di puncak gunung ini adalah tempat tinggal makhluk superior sehingga monster yang tinggal di bagian bawah takut untuk pergi kesini. Dan makhluk superior itu juga sudah kenal denganku. Bahkan jika mereka menyerang kita itu tidak akan menjadi masalah karena mereka semua tahu kekuatanku. Dari awal tidak ada yang perlu dikhawatirkan, para gadis juga sudah berada di dalam penghalang, bahkan jika ada makhluk superior yang datang, kami akan baik-baik saja. Tapi agar terbiasa dengan tempat ini, perlahan-lahan mereka akan menghilangkan sihir penghalang. Karena ini pertama kalinya para gadis datang ke sini, mereka terpesona oleh pemandangan di atas gunung. Walaupun Aku tidak merasa terlalu terkesan oleh pemandangan ini, karena aku sudah pernah kesini berkali-kali sampai aku lupa sejak kapan itu, mungkin pada saat aku masih berusaha mati-matian untuk bertahan hidup. Itu mengingatkan ku pada saat pertama kali kesini…
Saat ini kami bisa melihat sebuah kastil yang tampak seperti di sebuah dongeng. Itu adalah kastil yang tidak peduli bagaimana kamu melihatnya tidak dibangun untuk makhluk seukuran manusia, dan lebih seperti penjara bawah tanah tetapi sebenarnya itu adalah salah satu tempat suci yang digunakan sebagai tempat tinggal oleh raja naga selama beberapa generasi, itu yang dikatakan Ragnil padaku.
“Aku mengerti, jadi disini tempat tinggal Raja Naga dari legenda?”
“Dia pasti makhluk yang angkuh.”
“Kita serasa seperti berada di dongeng.”
“Raja Naga ya … dia pasti penguasa yang hebat.”
“… Ini adalah pertama kalinya aku bertemu naga dewasa, aku ingin melihatnya.”
“Ini dia!! Ketika kamu memikirkan dunia lain, itu seharusnya seperti ini!! ”
“Seberapa kuat dia … Aku ingin menguji seberapa kuat aku sekarang.”
Para gadis sangat bersemangat dan menantikan pertemuan mereka dengan Raja Naga Ragnil. Meru dan aku saja yang tahu seperti apa Ragnil, berdoa agar harapan mereka tidak dikhianati. Ketika kami sedang berdoa, aku melihat sikap Freud. Ketika ia melihat kastil ekspresinya seperti orang yang sedang nostalgia.
“Freud, jangan bilang kau pernah datang kesini?”
“Tentu saja tidak, aku hanya seorang butler … Jika aku harus mengatakannya itu akan menjadi ‘berkali-kali sebelumnya.'”
Setelah mengatakan itu dia mulai tersenyum biasa seolah-olah ia berkata ‘Aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi’. Senyumnya mungkin caranya mengatakan jika kamu bertanya lagi, aku tidak akan bicara, jadi aku hanya menjawab ‘begitu ya.’ Nah, jika dia ingin memberitahuku, dia akan melakukannya tanpa harus kutanyakan dan itu benar-benar sedikit menakutkan karena aku cuma bisa mengabaikannya sambil berpikir itulah Freud.
kami tiba di depan kastil tanpa masalah. Gadis-gadis itu terpesona oleh keagungan kastil, tapi karena aku sudah berkali-kali datang kesini, aku hanya bertingkah biasa dan membuka gerbang tanpa berpikir.
“Ayo, masuk!!”
Aku dengan tidak sopan memasuki kastil diikuti gadis-gadis yang masuk sambil meningkatkan kewaspadaan mereka. Huft~ Seharusnya kalian tidak perlu terlalu berhati-hati, kalian tahu Ragnil dan keluarganya adalah naga yang baik dan tidak ada perangkap di sini. Aku mulai berjalan di depan para gadis sambil menunjukkan tempat-tempat di sekitar kastil seperti taman atau ruang makan.
Sekarang, di mana Ragnil dan yang lainnya? Ketika kami berjalan, aku mulai mencari kehadiran mereka dan menemukan ruangan yang didalamnya ada tiga orang. Sepertinya mereka semua berada di aula, itu cocok untuk seorang raja. Mh? Tiga kehadiran, apakah Megil, nenek Meru, masih di sini? Sementara aku memikirkan itu, kami mencapai pintu raksasa dari Aula yang didekorasi cantik dengan permata. Yup, dari dalam aku merasakan tiga kehadiran. Karena pintu yang biasanya terbuka sekarang tertutup, aku yakin mereka mungkin sedang melakukan percakapan penting, aku hanya diam-diam membuka pintu sehingga aku tidak mengganggu mereka dan melihat situasi di dalam.
Raja Naga Ragnil sedang melakukan dogeza[1].
Aku perlahan menutup pintu.
“Mengapa kamu menutup pintu? Apakah tidak ada orang di dalam? ”
Sarona bertanya padaku dari belakang tapi aku tidak memperdulikannya.
Oi, oi. Lagi? Sungguh, lagi? Apa itu? Ini berubah menjadi Raja Naga yang sedang melakukan dogeza tapi, ada apa ini? Atau lebih tepatnya Ragnil, bukankah kamu seorang Raja Naga? Ini memberi kesan, apa yang kamu lakukan cuma dogeza. Apa itu yang Raja Naga lakukan? Lagipula, jika aku membiarkannya seperti itu para gadis akan melihatnya, kan? Apa itu tidak apa apa ? Sebagai laki-laki, aku tidak ingin melakukannya. Ini benar-benar mustahil. Apa yang harus aku lakukan?
Ketika aku mengusap keringatku, aku menyadari bahwa tidak peduli seberapa keras aku berpikir aku tidak bisa memikirkan jawabannya, karena itu aku diam-diam membuka pintu sekali lagi dan melihat ke dalam.
… Ya, dia masih melakukan dogeza …
Aku sekali lagi perlahan menutup pintu, menghela nafas dan berbalik pada gadis-gadis itu.
“… Sepertinya mereka mendiskusikan masalah mendesak jadi aku akan masuk ke dalam untuk memeriksa, apakah semuanya baik-baik saja … kalau hanya Meru dan aku yang …”
Setelah mengatakan itu semua orang mengangguk dan meningkatkan kewaspadaan mereka … Aku senang mereka tidak bertanya … Aku menarik nafas untuk menenangkan diri dan memasuki Aula bersama Meru.
Sono Mono Nochi ni Chapter 157
Bab 156 – Kekuatan Persahabatan Monster
Sudah beberapa hari sejak kami memasuki hutan. Saat ini aku menggendong Mao di tanganku dan Tata di punggungku sambil terus bergerak. Setelah bertemu Purple-san dan Blonde-san, entah kenapa mereka bilang bahwa aku harus menggendong dua orang mulai sekarang. Yah, aku tidak keberatan sih, walaupun disuruh menggendong 2 orang aku juga tidak akan lelah.
… Itu yang awalnya kupikirkan tapi sekarang aku dapat masalah. Ketika aku cuma menggendong mereka di tanganku, aku cuma mencium bau yang harum, tapi sekarang karena aku harus menggendong mereka dipunggungku, Tata harus memegang erat punggungku, karena tanganku sibuk memegang Mao di depan … dengan kata lain aku bisa merasakan dua benda lembut ditekan di punggungku dan itu mengambil semua inderaku!! Dan ketika giliran Kagane berada di depan, dia menyadari apa yg kurasakan.
“Onii-chan, aku bisa merasakan benda keras …”
Ucap Kagane dengan senyum gembira. Aku membalikkan wajahku sambil bersiul dan mengatakan padanya “Bukankah itu hanya imajinasimu?” tapi tindakanku hanya memperkuat kecurigaannya, itu membuatku sedikit tertekan. Dan sejak saat itu, setiap kali para gadis naik di punggungku, mereka menekan itunya ke arahku sambil melihat reaksiku. Kasihinilah aku…
Selagi itu terjadi, kami akhirnya memasuki gunung. Dari sekitar tengah gunung ini, cuacanya benar-benar tidak dapat diprediksi sehingga kami mulai mengandalkan sihir penghalang Tata, Naminissa dan Kagane untuk melindungi kami. Penempatan penghalang akan dilakukan dalam dua shift, Tata dan Naminissa yang bertugas dalam shift pagi dan sore, dan Kagane yang bertugas shift malam karena status INT nya melebihi batas maksimal. Yah, jika situasinya menjadi buruk, aku bisa menggunakan skill pendewaan dan membuat penghalang yg lebih kuat … atau begitulah yang kupikirkan tapi sepertinya berkat pelatihan para gadis, mereka menjadi cukup kuat karena aku tidak perlu melakukan apa pun. Kami dapat melanjutkan perjalanan tanpa masalah.
Di dalam penghalang itu cukup nyaman tetapi di luar penghalang itu benar-benar buruk dan di waktu tertentu terik matahari menjadi sangat menyengat, kemudian badai dingin dan setelah itu hujan deras akan datang entah dari mana. Namun berkat penghalang ketiga gadis itu, kami mampu menangkisnya. Dan selain cuacanya, ada banyak monster yang akan mengejar kita, tetapi berkat sihir Kagane, mereka dikalahkan satu demi satu. Gimana! Adik kecilku sangat luar biasa kan! Aku merasa ingin menyombongkan tentang dirinya tapi di tidak ada siapapun disini selain kami jadi aku mengalihkan perasaanku untuk menepuk kepala Kagane sebagai gantinya. Tapi ketika Haosui melihatku melakukan itu, dia membusungkan pipinya dan membuat tangannya menjadi pisau, mulai membunuh semua monster yang menghalangi jalan kami. Gimana! Istriku luar biasa, kan! Akhirnya aku juga mulai menepuk-nepuk kepala Haosui. Tapi sekarang semua gadis mulai mengambil batu dan melemparnya dengan akurat di kepala monster atau menggunakan sihir serangan untuk menghancurkan para monster. Mereka mulai berusaha menjadi yang pertama untuk membunuh monster dan terlihat seperti pemburu yang ganas. Untuk menenangkan mereka, aku akhirnya menepuk kepala semua orang. Kalian semakin kuat ya… Aku mulai menaruh semua bahan dari monster yang diburu di sihur ruang-waktu Meru, jadi semua bahan itu tidak terbuang sia-sia.
Ketika kami bergerak, cuaca di luar penghalang sedikit membaik sehingga kami bisa bergerak lebih jauh, tapi saat itulah aku bertemu mereka berdua lagi.
Monster Kucing dan monster Ikan.
Kali ini, selain dua monster itu ada yang lain.
Seekor reptil yang berevolusi dan mulai berjalan dengan dua kaki dengan wajah yg menakutkan, sepertinya itu adalah Dinosaurus, dan dia sedang mengejar monster kucing. Monster kucing itu berusaha mati-matian melarikan diri dari Dinosaurus. Dan monster Ikan sedang melihat adegan tersebut sambil bersembunyi di bayang bayang pohon. Aku berhenti dan aku mulai melihat adegan di depanku, dan ketika aku melakukannya, semua orang juga ikut berhenti dan berkumpul di sekelilingku. Mao yang ada di punggungku bertanya padaku.
“Otto-dono, apa yang dilakukan monster-monster itu?”
“Mh? Ahh, sebenarnya… ”
Aku memberi tahu para gadis tentang bagaimana Aku bertemu dengan monster Ikan dan monster Kucing. Mereka menunjukkan pandangan yang seolah-olah mengatakan “… Terus?”. Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Aku tidak mengharapkan Kalian untuk memahamiku … hanya Freud yang meletakkan tangannya di pundakku dan mulai mengangguk penuh pengertian. Ohh… Aku tidak merasa senang sama sekali meski kamu ada di pihakku tapi setidaknya aku akan berterima kasih dari lubuk hatiku. Gadis-gadis itu bergabung denganku. Kami mulai beristirahat sambil melihat monster-monster itu.
Ketika kami melihat mereka, monster Kucing tiba-tiba terjatuh ke tanah dan dinosaurus tidak melewatkan kesempatan itu dan membuka lebar mulutnya mencoba memakan monster kucing dalam satu gigitan.
Tapi, seolah menunggu momen itu, monster Ikan keluar dari bayang-bayang pohon dan melompat ke udara dengan berputar dan ketika aku pikir dia akan jatuh ke tanah, ia mulai meluncur di udara dengan … kakinya? siripnya?… Mengirim Dinosaurus terbang.
Dinosaurus dengan tubuh besarnya jatuh ke tanah dengan suara ‘zuun’,. Tampaknya dia pingsan. Setelah itu Monster kucing melihat monster Fish dengan wajah seolah mengatakan ‘Aku percaya padamu!’. Monster Ikan mendarat dengan anggun dan menerima pujian monster Kucing dengan tenang.
Eh? Apa itu tadi?
Selagi aku memikirkan itu, monster Ikan membantu monster Kucing berdiri dengan menggigit leher monster Kucing kemudian keduanya menuju ke tempat Dinosaurus berada. Dinosaurus masih belum sadar tetapi monster Ikan mulai memukulnya dengan … tangannya? sirip? di kedua pipinya. Dan dari rasa sakit itu, Dinosaurus mulai bangun dan melihat situasi, berdiri dan mulai menyerang mereka lagi, tapi monster Ikan sekali lagi menerbangkannya dengan … tangannya? sirip? Tapi tidak berhasil karena Dinosaur dapat mempertahankan kesadarannya. Dinosaurus menahan pipinya dengan tangannya yg pendek dan melihat monster ikan, Monster Ikan itu membuat suara seperti raungan ke Dinosaurus, mungkin dia sedang bicara dengannya?
Kemudian, monster Ikan menutup mulutnya dan Dinosaurus mulai menundukkan kepalanya ke arah monster Ikan dan dengan begitu ketiga monster itu membuat monster Ikan menjadi boss mereka dan menghilang ke hutan terdekat.
Setelah melihat itu, aku berfikir bukankah monster kucing tidak dibutuhkan disini? … Monster Ikan bisa mengalahkannya sendiri, kan? Atau lebih tepatnya, Apa tidak apa-apa untuk menganggap Dinosaurus bisa ditundukkan? Selagi pikiranku kesana-sini, aku menyadari sesuatu …
Siapa Peduli!!!
Itu buang-buang waktu saja. Aku memanggil para gadis dan mulai bergerak menuju tujuan kami.
Jika aku bertemu orang-orang itu lagi, aku pasti akan menerbangkan mereka berdua sekaligus. Atau lebih tepatnya, bertahanlah monster Kucing!
Sono Mono Nochi ni Chapter 156
Chapter 155- Pertemuan ketiga
Pada hari keempat, kami masuk ke hutan lebat yang berada di sekitar gunung. Karena bentar lagi mau malam, kami mulai mencari tempat untuk bermalam dan menemukan pohon besar. Tempat ini nyaman dan mudah untuk mengawasi sekitarnya sehingga kami memutuskan untuk bermalam di sini. Tidak mungkin bagi mereka untuk terus berjalan tanpa beristirahat dan bepergian di malam hari sangatlah berbahaya.
Jadi kami mengambil bahan makanan dari sihir ruang-waktu Meru. Tata dan Mao mulai memasak dengan beberapa rumput liar yang Freud bawa. Kami memutuskan untuk bergantian memasak setiap hari, yang berarti tentu aku juga akan membuat makanan untuk mereka. Tampaknya hari ini, juru masak terbaik dikelompok kami, Tata akan mengajari Mao saat memasak.
Tampaknya Mao sangat bersungguh- sungguh sampai aku bisa merasakan semangatnya.
Setiap hari ada dua orang yang dipasangkan untuk memasak, tapi ada masalah jika Haosui dan Kagane di pasangkan. Ketika kedua orang ini dipasangkan untuk suatu alasan masakan mereka menjadi agak kreatif, atau haruskah aku katakan aneh? Kebiasaan aneh mereka muncul saat memasak bersama-sama.
Biasanya mereka bisa memasak makanan yang lezat tapi ketika keduanya dipasangkan, akan menjadi ajang kompetisi satu sama lain, meskipun makanan mereka tidak benar- benar lezat jika mereka begini, dan mereka selalu menyuruhku memakannya sampai aku tidak kuat makan lagi dan bertanya masakan siapa yang lebih enak.
Tingkat DEX keduanya tinggi jadi kenapa hanya aku yang berpikiran jika masakan mereka “SAMA”? Setelah mengumpulkan keberanian aku meminta mereka untuk membuat sesuatu yang normal tetapi keduanya menjawab
“Memasak adalah Cinta!! Dan yang masakannya lebih enak akan menjadi istri terbaik!! ”
jadi aku berhenti bertanya lagi … Aku rasa aku hanya bisa bersyukur bahwa mereka memasak untuk ku dan aku juga gak peduli makanan mewah seperti ‘rasa’…
Selagi aku berpikir bahwa semua orang sedang menyiapkan peralatan makan, gadis-gadis itu muncul sekali lagi.
“Kami adalah bandit ~ … eh ?!”
“Oh! Itu kamu kan? kita bertemu lagi! ”
Ini sudah ketiga kalinya aku mendengar suara Ungu-san dan Blonde-san. Aku menjawab mereka sambil menggaruk kepala.
“… halo.”
“Ah! Iya !! Selamat sore!! mh?Atau harus nya selamat malam? ”
“Halo-halo ~ Sudah lama!”
Purple-san memberiku salam hormat sedangkan Blonde-san mengangkat tangannya sambil menyapaku. Rasanya seperti teman yg udah lama gk bertemu, tapi mereka itu bandit.
“Dan? Apakah kamu masih melakukan itu? Ujian untuk menjadi Bandit? ”
“Iya! Aku akan melakukan yang terbaik! ”
“Kami sudah sampai di level 3.”
Ya, sepertinya mereka meningkat.
“Sepertinya kamu sudah naik lagi.”
“Ehehe …” (Purple-san)
“Bagus juga bagiku gadis ini sudah mulai mendapatkan penghasilan.”(Blonde-san)
(Tl note : BANDIT MACAM APA INII !! Semua bandit di cerita ini pada kgk jelas)
Saat memuji levelnya yg meningkat, Purple-san memberikan senyum lebar bahagia sedangkan Blonde-san mulai menepuk kepala Purple-san seolah-olah Purple-san itu adik perempuannya. Nah, jika Kamu melihat itu,Kamu akan berpikir itu adalah adegan yang benar-benar mengharukan tapi, masalahnya adalah Mereka itu bandit. Daripada itu, apa yang menggangguku adalah sesuatu yg lain.
“Bolehkah aku bertanya sebentar, Siapa 3 orang yg dibelakang kalian? Temanmu?”
Aku menunjuk ke belakang Purple-san dan Blonde-san menuju tiga orang yang tersembunyi di balik pepohonan.
Kulit dan usia yang berbeda-beda. Seorang pria gendut berusia tiga puluhan, seorang pria kurus berusia empat puluhan dan seorang pria bertubuh sedang di usia remajanya. Entah kenapa ketiganya mengenakan pakaian dengan warna ungu sebagai warna dasarnya dan memakai bandana di kepala mereka yang sama-sama berwarna ungu. Tangan mereka dicat warna ungu yang panjangnya sekitar 10 cm… untuk apa mereka melakukannya? Untuk bertarung?
“Mereka adalah orang baik yang mendukungku dari bayang-bayang!”
“Mereka awalnya orang yang dipilih untuk Ujiannya dia, tapi untuk suatu alasan setelah menghadapi mereka, kami mulai melihat mereka dari waktu ke waktu … dan ketika aku berpikir bahwa mereka sudah pergi, mereka akan muncul entah dari mana …”
Eh? Apa itu? itu sedikit menakutkan … apa kalian tidak sadar akan apa yang kamu katakan? Tiba-tiba mereka mulai melambai-lambaikan tongkat ungu mereka dan bersorak untuk Purple-san dengan suara keras. Tidak, serius … untuk apa tongkat ungu itu? Aku mulai merasakan sesuatu yang menakutkan yang tidak bisa kupahami dari ketiganya. Blonde-san melanjutkan penjelasannya.
“Terlebih lagi, saat mereka kembali, mereka akan memberikan sejumlah besar uang untuk dia … dan mereka tidak mencoba untuk datang lebih dekat dari jarak tertentu. Yah, mereka tidak berbahaya dan mereka sering membantu kami jadi aku tidak bisa memaksa mereka untuk pergi… ”
“Mereka semua adalah orang baik!! Kamu terlalu meragukan mereka!! ”
“Dan gadis ini selalu mengatakan ini terus, jadi aku tidak bisa tenang…”
Blonde-san membuat wajah yang agak kelelahan dan menghela nafas panjang. Aku berfikir bahwa dia adalah tipe orang yang khawatiran. Aku yakin terakhir kali kita bertemu dia berbicara tentang bosnya yang mengganggunya, dan Purple-san juga mengatakan kata-kata dan tindakannya sedikit keluar dari batas … Ini lama-lama menjadi sedikit sulit… Tapi Aku tetap tidak akan memberi mereka uang.
“Lalu, apa kali ini juga kalian ingin meminta uang?”
“Sebenarnya … aku berharap kamu bisa memberi kami beberapa makanan.”
Ha? Saat aku bingung oleh apa yang baru saja dikatakan Purple-san, perut Purple-san dan blonde-san mengeluarkan suara ‘guuu ~’.
“…Makanan ya?”
“Aku minta maaf… Sejujurnya, kami sudah berada di hutan ini selama beberapa hari dan kami tidak punya makanan yang layak untuk dimakan. Jika kamu dapat memberi sedikit untuk kami, kami akan menghilang dalam waktu singkat. ”
Blonde-san malu-malu, memberitahuku tentang keadaan mereka. Makanan … setidaknya aku bisa melakukan itu. Dan ketika aku memikirkan itu, aku mengalihkan pandanganku ke para gadis.
Entah kenapa aku bisa merasakan niat membunuh yang meluap-luap dari mereka. Apa itu cuma perasaanku saja ?
Aku memberi sinyal dengan tanganku untuk Purple-san dan Blonde-san supaya menunggu dan berhati-hati untuk tidak mendekati ke tempat gadis-gadis.
“Uhm … wajahmu sedikit menakutkan …”
“…”
Kenapa kamu tidak menjawabku …? Eh? Apa yang harus aku lakukan? Sementara aku tersesat pada apa yang harus dilakukan atau dikatakan, Freud mendekatiku dengan senyuman feminin.
“Wazu-sama, sepertinya kamu tidak menyadari apa yang terjadi di sini jadi aku akan memberitahumu. Para gadis merasa cemburu. ”
“Cemburu?”
“Iya. Jika kamu memperhatikan dengan seksama, sepertinya Wazu-sama sedang melakukan percakapan yang ramah dengan para bandit wanita itu. ”
Ehhh ~ … Ini bukan seperti aku ramah pada mereka, tapi lebih seperti aku hanya mengenal mereka. Apa kamu berkata ini itu seperti apa yang dipikirkan para gadis?
Aku menarik napas panjang da berjalan ke para gadis.
“Biar aku jelaskan. Aku hanya pernah bertemu gadis-gadis ini sebelumnya dan tidak lebih dari itu saja. Dan kali ini aku hanya berpikir bahwa aku dapat membantu orang-orang dalam kesulitan. Aku berpikir untuk memberi mereka makanan dan tidak ada yang lain. Apa itu tidak boleh? ”
“Haa ~ …”
Aku baru saja mengatakan kepada mereka apa yang aku pikirkan, tapi entah kenapa para gadis hanya mendesah.
“Yah, mereka mengatakan kebaikan tetaplah kebaikan.”
“Kebaikannya juga merupakan salah satu keistimewaannya Wazu-san.”
“Kali ini saja, oke?”
“Tidak ada lagi setelah ini, oke?”
“… jangan curang!”
“Jika itu Onii-chan maka tidak ada pilihan lain.”
“Kurasa membantu yang lemah adalah tugas orang yang kuat jadi …”
“Terima kasih.”
Aku mengucapkan terima kasih kepada para gadis dan berpikir bahwa hubungan ini akan terus berlanjut di masa depan…
Aku menggelengkan kepalaku untuk membuat pikiran itu pergi dan mengambil makanan dari para gadis untuk memberikannya pada Purple-san dan Blonde-san, dan mereka mulai menangis sambil berterima kasih padaku.
“Terima kasih!! Terima kasih!!”
“Aku pikir jika kalian pergi ke arah itu kalian akan mencapai kota.”
Aku mengarahkan mereka ke jalan utama yang akan membawa mereka ke kota terdekat. Mereka berdua sekali lagi memberiku terima kasih dan menghilang ke arah yang aku tunjukkan. Tentu saja setelah mereka pergi si trio juga pergi. Saat kami melihat itu, aku bisa mendengar Kagane mengatakan sesuatu.
“*Natural dan idol… jika kita ceroboh …”
Idol? Apa itu sebuah kata dari dunia Kagane sebelumnya? Aku benar-benar tidak tahu apa artinya dan tidak peduli juga sih, jadi aku kembali ke tempat para gadis untuk membantu membuat makan malam.
Sono Mono Nochi ni Chapter 155
Bab 154 – Ayo berangkat!
Hmmm, aku berada dalam masalah.
Oleh karena itu, aku meminta Grave-san untuk memperkenalkanku ke pandai besi yang ada di kota. Pandai besi yang dikenalkan padaku adalah seorang kurcaci yang kasar tapi aku diizinkan untuk melihatnya bekerja. Aku hanya diizinkan melihatnya saja agar DEX ku tidak aktif secara tiba-tiba, dan seperti itu aku melihatnya sampai akhir. Setelah itu aku mengucapkan terima kasih dan mengucapkan selamat tinggal kepadanya ketika meninggalkan tempat itu.
Yup, aku bisa membuatnya. Aku tidak tahu apa dengan DEX yang tinggi bisa berguna tapi aku sudah mengerti apa yang harus aku lakukan. Karena rank monster yang berada di gunung tinggi sehingga aku tidak bisa menggunakan palu atau tempat pembakaran yang biasa. Aku harus menggantinya dengan bahan mentah dari monster di sekitar sana atau aku tidak akan mendapatkan hasil yang bagus. Aku juga harus membawa alat-alatku di gunung.
Dan dengan ini, persiapanku selesai. Pertama-tama semua barang-barangku disimpan dalam sihir penyimpanan Meru sehingga tidak ada masalah. Kami akan segera meninggalkan negeri ini setelah persiapan semua orang selesai. Aku mengambil jalan memutar ke kastil untuk berkeliling sehingga aku tidak akan melupakan negeri ini.
Beberapa hari kemudian, persiapan kami sudah selesai jadi kami memulai perjalanan ke Ibukota melalui gunung. Semua barang-barang para gadis sudah disimpan di sihir penyimpanan Meru sehingga kami bisa bergerak lebih mudah.
Yang mengantar kami saat akan pergi adalah Grave-san dan istri-istrinya, Deizu, King Gio, Marao dan orang-orang dari perusahaan Kagane. Semua orang mengatakan selamat tinggal kepada kami. Grave-san dan aku juga menukar beberapa kata perpisahan.
“Sampai jumpa’! Mari bertemu kembali! Kamu selalu diterima di negeri ini!! ”
“Tentu saja! Jaga dirimu juga, Grave- san! Jika kamu punya anak, aku pasti akan kembali!”
Kami saling berjabat tangan, mengucapkan selamat tinggal pada semua orang dan meninggalkan negeri itu seperti Grave-san dan yang lainnya melihat kami pergi menjauh.
Jika kamu bepergian dengan kereta dan bergerak lurus dari negeri Grave-san ke kaki gunung itu akan memakan waktu sekitar 3 minggu tapi jika kita berusaha keras mungkin kita bisa sampai dalam waktu seminggu. Aku awalnya mencoba untuk mencocokkan kecepatan para gadis tapi sekarang berkat pelatihan yang mereka jalani, mereka jauh lebih cepat dari sebelumnya dan stamina mereka juga lebih tinggi jadi aku pikir kita bisa sampai di sana lebih cepat daripada memakai kereta. Bahkan kemampuan fisik Tata telah meningkat sehingga dapat bersaing dengan anggota baru kami, Mao. Dia bahkan berkata,
“Ada begitu banyak orang yang lebih kuat dari ku! Aku jadi semangat!! ”
Ada juga usul yang mereka ajukan tidak bisa aku tolak. aku harus menggendong mereka setiap hari selama perjalanan. Aku tidak apa-apa sih jika cuma menggendong saja.
Yang lebih mengejutkan lagi adalah Freud bisa mengikuti kami dengan tersenyum lebar. Serius ada apa dengan orang ini? Aku tahu jika aku bertanya kepadanya dia pasti menjawabnya dengan santai, “Karena aku seorang pelayan.” Jadi aku akan membiarkannya.
Dalam perjalanan kami semua harus berkemah tapi entah kenapa di pagi hari ketika aku bangun, aku melihat semuanya berkumpul di sekitarku dengan tertidur, dan setiap kali aku pergi untuk mandi di suatu sungai yang dekat, gadis-gadis itu selalu ingin ikut denganku. Yah, aku melarikan diri dengan kecepatan yang tidak bisa mereka deteksi.
Dan kejadian ini terjadi berulang kali selama perjalanan. Dan pada hari ketiga ketika kami bersiap untuk makan siang yang kami ambil dari sihir penyimpanan Meru, tiba-tiba dua bandit muncul.
“Hehehe…”
“Keberuntunganmu habis disini dengan bertemu kami.”
Dengan rambut dan, jenggot yang tidak dicukur dan terawat, memakai perlengkapan kotor dan pedang yang menggantung di pinggang mereka, penampilan para bandit yang biasa ditemui. Yang satu sangat kurus dan terlihat kelaparan, sedangkan satunya begitu gemuk dan bulat. Nom nom …
“Hei! Kenapa kamu terus makan seperti tidak ada apa-apa! ”
“Kami bandit, tahu !!Bandit !! ”
… nom, nom … Yah bahkan jika Anda tidak memberi tahu aku, aku bisa melihatnya dari penampilanmu. Apa Mao ingin bertarung? Aku bisa melihat dengan jelas di matanya bahwa dia ingin melakukannya, dan ketika dia ingin berdiri, Aku menghentikannya dengan tanganku dan perlahan-lahan berdiri sendiri untuk menghadapi bandit. Sedangkan Gadis-gadis lain melanjutkan makannya.
“…*glek*. Bolehkah aku bertanya? Ada yang bisa kubantu?“
“Tidak tidak tidak, kau seharusnya sudah tahu, kan?”
“Ini, beri kami ini!”
Si bandi gendut membuat lingkaran di jarinya dengan menghubungkan ibu jari dan jari telunjuknya dan menunjukkannya kepadaku.
“Donat?”
Donat adalah makanan pencuci mulut yang ada di dunia Kagane dulu, tapi dia mereproduksinya di sini dan sekarang mereka laris manis.
“Yaya, yang manis dan enak.”
“Tapi jika kau menyentuhnya langsung, minyaknya akan menempel di jari-jarimu!! Dan jika kau menyentuhnya seperti itu, mereka akan marah kepadamu.”
“”… Bukan itu!!””
Oh, mereka mengikuti alurnya.
“Lalu, karet gelang?”
Yang ini juga dari Kagane.
“Ya, jika kau meregangkannya seperti ini dan membidik ke orang…”
“Kau ingin mengatakan ‘berhen ~ ti'”
“Bukan itu juga!! ”
“Lalu, chakram?”
”Ah itu. Bagaimana cara kau melemparnya?”
“Bukannya itu terlalu besar untuk dilempar?”
“Bukan itu!! Tapi uang!! ”
Para bandit mulai terengah-engah seperti ‘haa, haa’.
Yup aku sudah tahu… oke, aku pikir sudah waktunya untuk melakukan latihan setelah makan.
“Tentu saja aku sudah tahu itu tapi aku tidak punya uang untuk diberikan kepada bandit.”
Ketika aku mengatakan itu, bandit melemparkanku senyuman vulgar dan meletakkan tangan mereka di gagang pedang mereka.
“Sudah Kuduga … kalau begitu, kami akan membunuhmu dan mengambil uangmu.”
Si Kurus menarik pedangnya.
“…”
“…”
“…”
Bilah pedang itu terbuat dari bambu.
“Haaah !? Kenapa pedangku terbuat dari bambu !? ”
“Kau bodoh, tidakkah kamu ingat bahwa kamu kalah taruhan dan menggadaikan pedangmu?”
“Kau benar!!”
Dan ketika dia mengatakan itu, Kurus melemparkan bilah bambu ke tanah.
“Mau gimana lagi, kalau gitu aku yang akan mengambil semua uangnya.”
Si gendut menarik pedangnya.
“…”
“…”
“…”
Tidak ada pedang di sarung pedangnya.
“Ehhhh! Kenapa!?”
“… bukankah Kau tadi mengatakan kalau kau terlalu banyak makan dan tidak bisa membayarnya, jadi pemilik toko mengambilnya darimu sebagai kompensasi?”
“Betul!!”
Si gendut melemparkan sarung pedangnya ke tanah.
Mhh … untuk apa orang-orang ini datang kemari?
Apa mereka datang untuk membuat kita tertawa?
Kelihatannya para gadis sudah selesai makan dan sedang beres-beres. Oke, haruskah kita pergi sekarang?
Dan dengan itu aku pikir sudah waktunya untuk membuat para bandit pergi. Saat aku mengambil selangkah untuk mendekati mereka, mereka mundur selangkah dan ketika aku melangkah lagi, mereka sekali lagi mundur. Ada apa sih!?
“Sekarang aku ingat aku membuat janji dengan seorang teman untuk bertaruh pada game!!”
“Ya, dan seorang teman mengundangku untuk minum-minum!!”
“Sampai jumpa!!”
Mereka mengangkat tangan kanan mereka serentak dan berlari meninggalkan tempat ini.
… Apa itu? … Aku menghela nafas dan pergi membantu para gadis beres-beres
Sono Mono Nochi ni Chapter 154
Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia
Native Title : That Person. Later on…
Type : Web Novel
Genres : Action, Adventure, Comedy, Drama, Fantasy, Harem, Romance
Chapter : 213
Status : 213 Chapters + 4 extra (Complete)
Author : NAHAaTO
Rating : 3.4
Tahun Rilis : 2015
Source : Sono Yaku, Isecai Translation, Nega Translations
| Arc 1&2 | |
| Arc 3&4 | |
| Arc 5 |





