Chapter 160 – Pembunuh bayaran ketiga


Pagi hari setelah aku memastikan ukuran para gadis aku mulai merasakan kehadiran, dan mulai bangun. Ini bukan kehadiran Meru. Atau lebih tepatnya, aku tak bisa merasakan kehadiran Meru sama sekali. Apakah dia pergi berjalan-jalan pagi atau apakah dia pergi untuk mencari ibunya, Meral? Apakah gadis-gadis itu masuk lagi? Kemarin karena kelelahan mental, aku lupa mengunci pintu dan aku tidak menempatkan sesuatu untuk menutup pintu … hmmm … yah, itu tidak bisa dihindari.

Dengan perlahan aku membuka mata dan…

“Ya… kamu sangat luar biasa tadi malam.” (seorang wanita)
“…” (Wazu)

Di sampingku ada seorang wanita yang berbaring dan mengatakan sesuatu. Wanita itu mempunyai rambut merah semerah api, tatapan yang tajam dan wajah yang berkemauan keras, tetapi dia benar-benar cantik.
Namun, dadanya berada pada sisi yang mengecewakan, dan fisiknya yang langsing tapi, hanya dengan melihat kau bisa tahu kalau itu terlatih dengan baik. Otot perutnya terbentuk dengan sempurna. Kenapa kau tanya kalau aku tahu hal itu? Karena wanita itu hanya mengenakan jaket yang hanya menutupi bahu dan celana dalamnya saja.

“Yah~aku ingin mencoba mengatakannya sekali lagi… are? Apa dia sudah bangun? Sepertinya dia melihat kemari… Hei!, Hello~!” (seorang wanita)
“…” (Wazu)

… eeeeeehhhhhhh!!!!

Aku beranjak ditempat dan memasang sikap tempur.

“Si-siapa kamu?! Kenapa kau tidur di ranjangku?!” (Wazu)
“Mh? Sekarang setelah kau menyebutkannya, ini adalah pertemuan pertama kita. Aku adalah Dewi Perang.” (Dewi Perang)

… Dewi Perang… Dewi Perang… Dewi Perang… Dewi Perang?

DEWI PERANG!!

Lagi-lagi ini?

Setelah aku berteriak di kepalaku, aku membuang seluruh kelelahanku sekaligus, dan duduk dengan keras di tempat itu. Wanita yang ada di depanku melakukan hal yang sama dan duduk. Aku mungkin harus memastikan untuk berjaga-jaga seandainya…

“Untuk berjaga-jaga seandainya aku bertanya, apa kamu benar-benar asli?” (Wazu)
“Mh? Apakah tidak masalah dengan ini?” (Dewi Perang)

Mengatakan itu, wanita yang ada di depanku memakai aura dewa seolah-olah untuk membuktikan dirinya. Yeah, aku sudah tahu… aku sudah tahu kalau dia asli… tetapi aku masih menginginkan kalau ini hanya sebuah mimpi… haa…

“Sudah oke, aku paham” (Wazu)
“Benarkah?” (Dewi Perang)

Dewi Perang menghapus auranya dan tersenyum padaku. Aku membalasnya dengan senyum pahit.

“Dan? Apa yang Dewi Perang lakukan disini? Atau lebih tepatnya, bagaimana kau sampai disini?” (Wazu)
“Ceritanya sederhana. Di antara kami para Dewi aku adalah yang menguasai peperangan dan dengan demikian dapat menyimpan kekuatan dengan lebih mudah. Dan dengan begitu aku menyimpan kekuatan untuk dapat memanifestasikan diri karena aku ingin bertemu dengan mu… dan pada saat yang sama ingin melihat bagaimana kabar dunia.” (Dewi Perang)
“Haa…” (Wazu)

… eh? Apa ini? Mengesampingkan bagian tentang ingin bertemu denganku… Aku merasa bahwa apa yang dikatakannya sangat normal sekali… Mh? Bukankah dia temannya si Dewi? Rekannya? Begitu?

“… Uhm… Hanya itu saja?” (Wazu)
“Apa ada yang lain?” (Dewi Perang)
“… Tidak…tidak ada.” (Wazu)

Bagaimana mengatakannya… itu seperti… jika seorang Dewi mengatakan sesuatu yang normal, aku merasa tidak ada yang beres…
“Jadi, kau sudah bertemu denganku, dan sekarang. Kau akan pergi melihat kabar dunia?” (Wazu)
“Mari kita lihat… yah, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan… meskipun aku memanifestasikan diriku, aku tak bisa bertarung.” (Dewi Perang)
“Kau tidak bisa bertarung? Kau adalah Dewi Perang, benarkan?” (Wazu)

Ketika aku bertanya padanya, Dewi Perang mengatakan “ahaha…” sembari tersenyum pahit.

“Yah, tanpa diragukan lagi aku adalah Dewi yang menguasai peperangan akan tetapi, agar aku bisa bertarung ada banyak sekali batasan sehingga aku tak bisa melakukannya denga mudah.” (Dewi Perang)
“…Eh? Tapi kau menulis sebelumnya kalau kau ingin bertarng denganku jika kau bertemu dengan ku, bukan?” (Wazu)
“… Aku terbawa suasana saat itu.” (Dewi Perang)
“Jadi, kau tidak benar-benar ingin bertarung denganku?” (Wazu)
“Tidak, aku benar-benar menginginkannya.” (Dewi Perang)
“…Eh?” (Wazu)
“Saat Wazu mendapatkan pendewaan yang sempurna, kamu akan menjadi makhluk dengan sifat yang sama dengan kami, dan saat itu kita dapat bertarung tanpa masalah.” (Wazu)

… Yeah, Aku ingin pergi dengan cara yang tidak akan ku lakukan… Menjadi makhluk dengan sifat yang sama dengan para Dewi yang tidak memukulku dengan cara yang benar adalah sedikit… tapi aku mengerti… Jika aku melakukan pendewaan sempurna, aku akan menjadi sama dengan para Dewi… Haa…

“Yah, itu saat aku benar-benar menjadi dewa…” (Wazu)
“Yeyy!! Aku menunggu dengan penuh semangat sampai saat itu terjadi!! Mulai sekarang aku akan menantikan hari itu!!” (Dewi Perang)

Dewi Perang mengatakan hal itu dengan wajah yang benar-benar bahagia… Ahh… Jika dia membuat wajah bahagia seperti itu, aku jadi tak bisa meributkan persentasi ras ku yang menurun…

“Ugh…” (Wazu)
“Mh? Apa ada yang salah? Apa kau merasa tidak sehat? Apa kau ingin berbaring? Ah! Apa aku mengganggumu? Aku minta maaf, aku akan pergi sekarang.” (Dewi Perang)

Sudah ku duga!! Dengan semua percakapan ini aku mengerti!! Kau terlalu normal!! Ini percakapan yang normal!! Tidak, mengatakan normal itu kasar, dia orang yang baik… Dewi ini terlalu baik!! Apa Dewi ini sejenis dengan Dewi atau Dewi Bumi itu? Faktanya dia tidak, kan?

“Kalau begitu, sampai jumpa” (Dewi Perang)

Dan mengatakan itu, Dewi Perang mengulurkan tangan dan mulai meninggalkan ruangan.

“Ah, tunggu” (Wazu)
“Yah, ada apa?” (Dewi Perang)

Aree? Mengapa aku menghentikan Dewi Perang? Mungkinkah karena kami melakukan percakapan normal yang tak terduga, aku jadi sedikit terguncang? Dewi-dewi lain tidak pernah mengkhawatirkan keadaanku juga aku tak pernah ingat pernah melakukan percakapan yang benar dengan mereka… Atau lebih tepatnya, ketika aku memikirkan hal ini, Dewi Perang masih setia menunggu apa yang akan ku katakan. Apa yang harus ku lakukan? Apa yang harus ku katakan? Aku berbicara tanpa berfikir dan sekarang tak bisa mengatakan apa-apa… Ah! Benar!!

“Kau tidak dapat bertarung kan?” (Wazu)
“Yah, ada beberapa batasan” (Dewi Perang)
“Tapi apa kau bisa mengajari orang bertarung?” (Wazu)
“Mari kita lihat. Aku tidak bisa mendemonstrasikannya, tapi setidaknya aku bisa bicara tentang hal itu.” (Dewi Perang)
“Lalu, aku tahu ini kurang sopan tapi, bisakah kau ajarkan satu atau dua hal kepada gadis-gadis itu?” (Wazu)
“Mh… Yah, kenapa tidak. Aku pikir itu akan baik-baik saja. Lagipula, kami sama-sama sangat tertarik dengan Wazu dan aku berfikir untuk berbicara dengan mereka agar lebih akrab, jadi ini adalah kesempatan yang bagus. Tapi aku hanya memilik waktu untuk mengajari satu atau dua dari mereka. Dan aku akan melihat mereka dari jauh agar aku tidak mengganggu dan menunjukannya saat diperlukan. Maafkan aku, aku tidak bisa mengajari mereka semua.” (Dewi Perang)

SUNGGUH DEWI YANG BAIK SEKALI!!

Ada apa dengan Dewi ini? Dia normal!! Sangat normal!! Kau bisa berinteraksi dengan normal bersamanya!! Tidak ada kesalahan atau eksentrisitas yang ditemukan!! Maafkan aku!! Maafkan aku telah mengelompokkan mu dengan Dewi-dei yang lain!! Maafkan aku yang sudah berjaga-jaga dari awal!! Sebaliknya, silahkan datang kapan pun kau mau!! Atau lebih tepatnya, jika kau ingin tinggal selamanya itu juga tak apa-apa!! Jika kau membutuhkan kekuatanku untuk mempertahankan manifestasi wujudmu maka aku akan memberikannya kepadamu kapan saja!!

“Baiklah, aku akan pergi melihat bagaimana keadaan mereka dulu. Jika aku tidak benar-benar melihatnya, aku tidak tau apa yang harus diajarkan pada mereka.” (Dewi Perang)

Setelah mengatakan itu, Dewi Perang meninggalkan ruangan sambil melambaikan tangannya dan aku membalas gerakan itu.

Aku pergi ke ruang kerja untuk membuat baju zirah para gadis setelah tercengang untuk sementara waktu, berfikir kalau ada Dewi semacam ini juga.

Sono Mono Nochi Ni Chapter 160

Posted by : Kinderboy 0 Comments

Bab 159 – Apakah menahan diri itu buruk?

Sehari setelah kejadian kemarin, semua orang mulai menghabiskan waktu mereka sendiri. Karena sekarang aku juga sendirian, mungkin ini waktu yang tepat untuk mengumpulkan bahan-bahan untuk armor para gadis. Aku puas dengan bahan bahan kami kumpulkan saat datang ke sini berjumlah banyak, tapi masalahnya adalah tidak ada bahan yang bisa digunakan untuk membuat inti armor. Karena itu aku pergi ke Aula untuk bertanya pada Ragnil dan Megil apakah mereka tahu di mana aku dapat menemukannya. Ngomong-ngomong, saat gadis-gadis itu tidak ada, Ragnil akan melakukan dogeza. Kita maafkan dia sajalah, sebenarnya aku ingin mengatakannya tapi aku benar-benar tidak ingin terlibat dengan masalah mereka, jadi aku hanya mengabaikannya saja.

“Fumu … kristal yang bisa digunakan jadi inti … Hanya dengan melihat aku bisa mengatakan istri-istrimu sangat kuat jadi  kristal biasa tidak akan bertahan, dan semua kristal di sini mungkin tidak bisa digunakan…” (Megil)
“Seperti yang aku pikir, mereka tidak akan bertahan lama … Aku juga sudah mencari beberapa tempat yang memiliki beberapa kristal dalam perjalanan ke sini tapi aku tidak menemukan satupun yang bagus … apa yang harus aku lakukan sekarang?” (Wazu)
“Wazu, kamu harus menggunakan senjata yang ada di dalam peti harta karun di kastil ini. Aku pikir cukup banyak kristal yang ada di sana. “(Ragnil)

Ragnil mengatakan saat sedang Dogeza.

“Aku bersyukur atas tawaran itu, tapi apakah itu baik-baik saja?”(Wazu)
“Tidak masalah. Tidak ada orang yang akan datang mencari harta di sini. Tidak akan ada masalah bahkan jika diambil beberapa, selain itu, barang itu memang dimaksudkan untuk digunakan. ” (Ragnil)
“Aku akan menerima kebaikanmu.” (Wazu)
“Umu, Sebagai gantinya, menyerahlah pada Meru.” (Ragnil)
“kamu tidak berhak memutuskan. Yang paling penting adalah apa yang diinginkan Meru. Aku akan menghukummu karena mengatakan hal yang tidak sopan, tambah satu hari lagi dogeza. ” (Megil)
“Grrrrr …”(Ragnil)

Yup, bukan salahku. Aku pikir Ragnil hanya menghancurkan dirinya sendiri. Setelah itu, Megil memberitahuku jalan ke ruang harta dan memberiku kunci untuk membukanya. Aku berterima kasih padanya dan meninggalkan Aula.

Ruang Harta dilindungi oleh pintu yang sangat besar, cukup untuk Ragnil masuk. Aku mulai membuka kunci dan setelah itu melewati pintu-pintu lingkaran-lingkaran sihir yang tak terhitung jumlahnya muncul kemudian mereka mulai menghilang seolah-olah mereka menghapus dirinya. Setelah itu aku mendengar bunyi klik yang keras dan pintu brankas harta terbuka. Aku dengan hati-hati mendorong pintu dan masuk ke dalam.

Ruang Harta sangat besar. Orang mungkin akan berpikir ruangan ini diperluas dengan sihir. Dan bagian dalam ruangan penuh dengan permata, perak, emas dan baju besi yang sangat berkilau samapai harus menutup mata.

“… Ini terlalu besar. Apakah aku harus mencarinya disini? ”(Wazu)



Jumlah barang-barang disini membuatku perutku mual karena itu sangat banyak! Aku mulai mengambil pedang di dekatku yang dihiasi permata.

“… Aku tidak tahu bagaimana ini dibuat, atau apa bahan bahannya … dan tidak ada masalah saat aku memegangnya tapi, jika pedang ini dikutuk itu akan menjadi masalah … mhh …”

Haa … tidak ada pilihan lain (shikatanai) … Disaat seperti ini gunain pendewaan aja. Daripada salah mengambil barang yang berbahaya untuk para gadis, lebih baik aku menggunakan pendewaan untuk mencari barang yang bagus dengan mengorbankan ras ku. Keamanan gadis-gadis jauh lebih penting daripada sesuatu seperti ras. Aku mulai mengaktifkan pendewaan dan melihat semua hal di Ruang harta. Seperti yang kuharapkan, dalam bentuk ini aku bisa tahu mana yang benda aman dan buruk atau benda yang didalamnya ada kutukan, bahkan jika itu tidak sampai tingkat dimana aku dapat tahu terbuat dari apa benda itu atau bagaiman mereka dibuat, setidaknya aku bisa mencari bahan yang cocok untuk gadis-gadis. Dengan itu aku selesai memilih bahan yang aku perlukan untuk semua armor dan selagi aku bingung, bagaimana aku akan membawa benda benda ini, Meru tiba tiba terbang mendekatiku.

“Kyui Kyuii ~!”

Oh, tepat waktu! Aku hanya akan menaruh benda benda ini ke magic strorage Meru. Meru datang ke kepalaku sambil membawa kertas di mulutnya. Aku mengambil kertas itu pada saat yang sama saat dia mendarat di kepalaku. Sepertinya pesan ini ditujukan untukku.

“Tolong jaga Meru – Meral.”

… mh … Untuk sekarang, kata-kata ini bisa dipahami dengan cara yang berbeda. Yah, jujur, aku akan selalu menerima Meru bagaimanapun juga. Aku menjawab Meru ‘Tolong rawat aku juga’ dan dia menepuk kepalaku dan menjawab dengan ‘Kyui!’ Dan dengan demikian aku meminta Meru untuk membawa barang-barang yang aku pilih ke penyimpanan ajaibnya, ketika aku meninggalkan ruangan harta dan mengunci pintu lingkaran sihir mulai membentuk lagi dan muncul suara klik, pintu menjadi terkunci.

Dan seperti itu aku mulai pergi ke ruang kerja yang aku pinjam dari Ragnil yah walaupun ruangan ini berbeda dengan yang aku miliki, dan sementara pendewaanku masih aktif, aku mulai bekerja. Aku meminta Meru untuk mengeluarkan bahan-bahan yang dibutuhkan dari penyimpanannya dan mulai menempa. Jika aku menggunakan God Magic, aku yakin bisa membuat armor dalam waktu singkat, tapi kali ini aku ingin merasa aku membuatnya sendiri jadi ini mungkin butuh waktu yang sedikit lama. Yah, berkat pendewaan, aku akan tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana caranya melakukannya. Dan ketika aku sedang di tengah pekerjaan, aku menyadari sesuatu. Aku melupakan sesuatu yang sangat penting.

aku tidak tahu ukuran tubuh mereka!!

ini masalah … Aku tidak mungkin membuat armor mereka hanya dengan melihat … pasti akan lebih baik jika aku bertanya pada mereka terlebih dahulu … haa …

di saat itu aku mulai menghentikan pekerjaanku. Jika aku meminta gadis-gadis itu untuk melakukan pengukuran, biasanya mereka harus menentangnya tapi aku yakin mereka dengan paksa akan  berkata padaku  ‘tolong sentuh aku lebih banyak!’ … tentu saja, aku tidak akan melakukan apa pun selain

(Tl note : Apa ini ngk seru, harusnya ada adegan ecchinya -_-)

melakukan pengukuran pada mereka tapi … Ini akan menjadi hari yang sulit huft~.

Hari itu aku kelelahan secara mental karena hanya melakukan pengukuran dan, setelah mengkonfirmasi pengukuran semua orang, aku membawa Meru ke kamar dan pergi tidur bersama.

Sono Mono Nochi Ni Chapter 159

Posted by : Kinderboy 0 Comments

Chapter 158 – Martabat Sang Raja Naga

Aku memasuki Aula dengan tenang. Ragnil masih melakukan dogeza dan tidak memperhatikan kami, tapi, Ibu Meru, Meral sedang berbaring dengan anggun di lantai dan Nenek Meru, Megil yang sedang duduk di singgasana melihat kami. Mereka melihat kami tapi entah kenapa mereka tidak mengatakan apa-apa, kayaknya situasinya lagi buruk… haruskah aku pergi saja? Saat aku memikirkan itu Meru terbang dari kepalaku menuju ke ibunya. Aku mengikutinya dan perlahan mendekati Ragnil.

“Yo!”

Menanggapi ucapanku, Ragnil melompat dan dengan hati-hati mendongak.

“… Apa, jadi itu hanya kamu … apa yang kamu lakukan disini …?” (Ragnil)
“Siapa yang memberimu izin untuk mengangkat kepala?”(Megil)

Ragnil menutup mulutnya sekali lagi karena bentakan suara Megil yang keras dan mulai meneteskan keringat dingin saat menurunkan kepalanya ke lantai. Disaat seperti ini aku tidak mungkin bisa berbicara pada Ragnil dan memperkenalkannya pada para gadis. jadi aku ingin segera mengakhiri ini, aku kembali melihat ke Megil dan mulai mengambil nafas.

“Sudah lama, Wazu.” (Megil)
“Ya itu sudah lama, melihatmu sehat-sehat saja membuatku senang. Dan … Hmm untuk berapa lama ini akan berlanjut? ” (Wazu)

(Tl note : Lu nya seneng tapi si Ragnil pengen dia cepet mati XD)
“Sampai idiot ini mengatakan ‘Aku akan bertobat jadi tolong maafkan aku’ dan meminta dibebaskan, kalau tidak aku akan menguji berapa lama dia bisa menjaga postur itu sampai aku puas.” (Megil)
“Begitukah … maka kami akan kembali jika kami mengganggumu.” (Wazu)

Dan setelah aku mengatakan itu, aku bisa melihat mata Ragnil berkerut dengan air mata saat melihatku. Jangan lihat aku seperti itu. Ini masalah keluargamu, bukan? Atau lebih tepatnya, bukankah kau itu Raja Naga? meski aku tidak bisa merasakan keagungan apa pun darimu, tapi apakah itu baik baik saja untukmu? Bukankah Kau berada di puncak makhluk superior yang tinggal di puncak gunung ini? Haa~ …

“… Yah, sebenarnya …” (Wazu)

Karena aju tidak tahan lagi melihat Ragnil dalam situasi itu, aku memberi tahu mereka kalau dibelakang pintu Ruang Aula ada istri-istriku dan seorang butler, yang tidak ingin ku kenalkan.

“Ha ha ha!! Kamu memiliki tujuh istri! Kamu cukup mengesankan meskipun bertentangan dengan penampilanmu!!” (Meril)
“Yah … salah satunya sebenarnya adik perempuanku.” (Wazu)
“Wazu sangat populer. Meru jadi tidak bisa bermalas-malasan lagi. ” (Megil)

Ibu Meral menatapku dan tersenyum sementara dia menepuk kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.

“Kyui!! Kyui, kyuii!! ” (Meru) (Editor note: huh? Apa ada yang bisa jelasin saya tentang ini?)
“Ara ara! Kamu tidur bersamanya setiap malam dan dia selalu memelukmu? ” (Meral)

Meru-san, mari hentikan pembicaraan itu.

“Fumu … Bukankah Wazu yang harus bertanggung jawab? Tidak akan ada masalah selama kita mengajarkan sihir transformasi pada Meru. ”(Megil)

Megil, tolong kau juga berhentilah. Ragnil telah menatapku dengan niat membunuh tanpa alasan sambil menitikkan air mata darah. Eh? Haruskah kita meninggalkannya sendirian? Pendapat ayah tidak masuk hitungan, kan? Dia jelas menentangnya …

“Baiklah, mari kita tunda kesempatan ini di lain hari dan sekarang mari kita biarkan gadis-gadis itu masuk.”(Megil)

Setelah aku membawa gadis-gadis itu ke Aula, kami mendengar suara megah bergema dari singgasana.

“Fumu, Apakah kalian istri dari sahabatku Wazu? Kalian akan disambut dengan baik disini. “(Ragnil)

Itu Ragnil. Kami harus menunda hukuman dogezanya dan dia juga harus duduk di tahta. Yah … kakinya gemetar ketika dia mendekati tahta sehingga tidak ada perasaan kekhusyukan darinya. Di sekelilingnya juga ada Megil dan Meral yang sedang memeluk, Meru.

“Halo, senang bertemu dengan kalian, aku ibu Meru, Meral.” (Meral)
“Aku Nenek Meru, Megil.” (Megil)

Setelah itu, gadis-gadis itu mulai membungkuk dan memperkenalkan diri.

“Aku Sarona,istrinya yang ingin Wazu-san segera meletakkan tangannya padaku.”
“Aku Tata,istrinya yang sangat ingin dimanja oleh wazu-san.”
“Aku  Naminissa,istrinya yang ingin bangun bersama Wazu-sama setiap hari.”
“Aku Narelina,istrinya yang ingin berlatih dengan Wazu-sama di malam hari.”
“… Aku Haosui,istrinya yang ingin selalu bersamanya. ”
“Aku Kagane,istrinya yang ingin dibuat tidak berdaya oleh Wazu-oniichan.”
“Aku Maorin,istrinya yang ingin dipeluk Wazu-san seperti binatang.”

Eh? Apakah mereka secara tidak langsung membuat keluhan padaku? Atau lebih tepatnya, apakah ini tempat untuk mengatakan itu? Aku merasa mereka terlalu terburu-buru. Dan juga, kapan Kagane dan Maorin menjadi istriku? Aku masih belum menerimanya. Mungkinkah mereka mencoba memaksa ku untuk menerima mereka sebagai istriku?

“… Fumu … aku adalah kepala pelayan dan teman Wazu-sama. Namaku Freud. ”(Freud)

Freuuuuuuud !! Ada apa denganmu ?! Kenapa kau sangat sopan saat ini ?! Ini adalah situasi di mana kau harus memecahkannya dengan leluconmu, mengapa kau memperkenalkan diri dengan normal?! Maksudku begitulah seharusnya tapi, ini salah !! Mengapa kau memperkenalkan dirimu sebagai kepala pelayanku tanpa ragu-ragu? Terus ada apa dengan wajahmu yang seperti mengatakan ‘bagaimana dengan itu!’ ?! Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan!! Aku tidak akan mengakuimu sebagai butlerkuu !!

“Umu, istri dan kepala pelayan Wazu, aku akan mengingat nama dan wajah kalian. Wazu juga sudah memberitahuku, untuk sementara kalian dapat tinggal di sini, anggap tempat ini sebagai rumah kalian! ” (Ragnil)

Ragnil mengatakan dengan nada selayaknya Raja Naga tapi dari matanya yang menatapku aku dapat dengan jelas memikirkan apa yang dipikirkannya ‘Kau memiliki semua istri ini tapi masih ingin Meru-ku yang imut menjadi istrimu ?! Kau bajingan! Aku akan menemuimu nanti di luar !! ‘”

“Kyui, kyui, kyui !!” (Meru)
“Ara ara, Meru meminta untuk diterima sebagai salah satu istri Wazu.” (Meril)

Dan setelah mendengar kata-kata istri dan anaknya, wajah putus asa mulai muncul. Topengmu, Topengmu! Topeng ‘Raja Naga’mu mulai rusak!
Selagi aku memikirkan itu, para gadis ditanya apa yang mereka pikirkan tentang kata-kata Meru, gadis-gadis itu berkata, “Eh? Aku pikir dari awal bukankah mereka sudah begitu. ”Apa? Kalian sudah memikirkan sejauh itu tentang Meru? Yah, tidak apa-apa. Saat ini aku tidak berencana untuk melepaskan Meru dan jika beberapa bajingan mencoba untuk menyakitinya, aku akan mengubahnya menjadi daging cincang.

Setelah itu kami dengan enteng membicarakan tentang perjalanan kami sampai di sini, lalu makan bersama dan kemudian dipandu oleh Meru dan Meral ke kamar kami untuk beristirahat.

Meskipun aku mendapat kesan bahwa aku akan melakukan percakapan “fisik” dengan Ragnil nanti… haa…

Sono Mono Nochi ni Chapter 158

Posted by : Kinderboy 0 Comments

Chapter 157 – Kita Datang di Waktu yang Salah

Kami menaiki gunung sambil mempertahankan sihir penghalang. Di dalam cuaca buruk ini, kami terus diserang oleh monster tapi Kagane mengalahkan monster-monster itu dengan sihirnya, bahkan jika mereka mendekat, mereka tidak akan mampu menembus penghalang dan akan menjadi sasaran empuk untuk serangan kami. Gadis-gadis itu benar-benar menjadi kuat. Aku menyerahkan urusan monster pada mereka dan fokus dalam pelatihan Mao. Mao berasal dari keluarga yang memiliki kemampuan fisik yang tinggi, dan bahkan di dalam keluarganya sendiri, dialah yang memiliki kemampuan fisik paling tinggi, jadi kami berlatih demi mimpinya untuk dapat menggunakan pedang ganda.

Kami terus mendaki dan akhirnya sampai di puncak gunung. Sekarang kami berada di atas dan bisa melihat kastil Ragnil sudah tidak jauh dari sini. meskipun cuacanya sudah reda, namun anginnya masih sedikit kencang. Karena kita telah mendaki sampai puncak gunung, kami sudah tidak perlu khawatir tentang monster. di puncak gunung ini adalah tempat tinggal makhluk superior sehingga monster yang tinggal di bagian bawah takut untuk pergi kesini. Dan makhluk superior itu juga sudah kenal denganku. Bahkan jika mereka menyerang kita itu tidak akan menjadi masalah karena mereka semua tahu kekuatanku. Dari awal tidak ada yang perlu dikhawatirkan, para gadis juga sudah berada di dalam penghalang, bahkan jika ada makhluk superior yang datang, kami akan baik-baik saja. Tapi agar terbiasa dengan tempat ini, perlahan-lahan mereka akan menghilangkan sihir penghalang. Karena ini pertama kalinya para gadis datang ke sini, mereka terpesona oleh pemandangan di atas gunung. Walaupun Aku tidak merasa terlalu terkesan oleh pemandangan ini, karena aku sudah pernah kesini berkali-kali sampai aku lupa sejak kapan itu, mungkin pada saat aku masih berusaha mati-matian untuk bertahan hidup. Itu mengingatkan ku pada saat pertama kali kesini…

Saat ini kami bisa melihat sebuah kastil yang tampak seperti di sebuah dongeng. Itu adalah kastil yang tidak peduli bagaimana kamu melihatnya tidak dibangun untuk makhluk seukuran manusia, dan lebih seperti penjara bawah tanah tetapi sebenarnya itu adalah salah satu tempat suci yang digunakan sebagai tempat tinggal oleh raja naga selama beberapa generasi, itu yang dikatakan Ragnil padaku.

“Aku mengerti, jadi disini tempat tinggal Raja Naga dari legenda?”
“Dia pasti makhluk yang angkuh.”
“Kita serasa seperti berada di dongeng.”
“Raja Naga ya … dia pasti penguasa yang hebat.”
“… Ini adalah pertama kalinya aku bertemu naga dewasa, aku ingin melihatnya.”
“Ini dia!! Ketika kamu memikirkan dunia lain, itu seharusnya seperti ini!! ”
“Seberapa kuat dia … Aku ingin menguji seberapa kuat aku sekarang.”

Para gadis sangat bersemangat dan menantikan pertemuan mereka dengan Raja Naga Ragnil. Meru dan aku saja yang tahu seperti apa Ragnil, berdoa agar harapan mereka tidak dikhianati. Ketika kami sedang berdoa, aku melihat sikap Freud. Ketika ia melihat kastil ekspresinya seperti orang yang sedang nostalgia.

“Freud, jangan bilang kau pernah datang kesini?”
“Tentu saja tidak, aku hanya seorang butler … Jika aku harus mengatakannya itu akan menjadi ‘berkali-kali sebelumnya.'”

Setelah mengatakan itu dia mulai tersenyum biasa seolah-olah ia berkata ‘Aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi’. Senyumnya mungkin caranya mengatakan jika kamu bertanya lagi, aku tidak akan bicara, jadi aku hanya menjawab ‘begitu ya.’ Nah, jika dia ingin memberitahuku, dia akan melakukannya tanpa harus kutanyakan dan itu benar-benar sedikit menakutkan karena aku cuma bisa mengabaikannya sambil berpikir itulah Freud.

kami tiba di depan kastil tanpa masalah. Gadis-gadis itu terpesona oleh keagungan kastil, tapi karena aku sudah berkali-kali datang kesini, aku hanya bertingkah biasa dan membuka gerbang tanpa berpikir.

“Ayo, masuk!!”

Aku dengan tidak sopan memasuki kastil diikuti gadis-gadis yang masuk sambil meningkatkan kewaspadaan mereka. Huft~ Seharusnya kalian tidak perlu terlalu berhati-hati, kalian tahu Ragnil dan keluarganya adalah naga yang baik dan tidak ada perangkap di sini. Aku mulai berjalan di depan para gadis sambil menunjukkan tempat-tempat di sekitar kastil seperti taman atau ruang makan.

Sekarang, di mana Ragnil dan yang lainnya? Ketika kami berjalan, aku mulai mencari kehadiran mereka dan menemukan ruangan yang didalamnya ada tiga orang. Sepertinya mereka semua berada di aula, itu cocok untuk seorang raja. Mh? Tiga kehadiran, apakah Megil, nenek Meru, masih di sini? Sementara aku memikirkan itu, kami mencapai pintu raksasa dari Aula yang didekorasi cantik dengan permata. Yup, dari dalam aku merasakan tiga kehadiran. Karena pintu yang biasanya terbuka sekarang tertutup, aku yakin mereka mungkin sedang melakukan percakapan penting, aku hanya diam-diam membuka pintu sehingga aku tidak mengganggu mereka dan melihat situasi di dalam.

Raja Naga Ragnil sedang melakukan dogeza[1].

Aku perlahan menutup pintu.

“Mengapa kamu menutup pintu? Apakah tidak ada orang di dalam? ”

Sarona bertanya padaku dari belakang tapi aku tidak memperdulikannya.

Oi, oi. Lagi? Sungguh, lagi? Apa itu? Ini berubah menjadi Raja Naga yang sedang melakukan dogeza tapi, ada apa ini? Atau lebih tepatnya Ragnil, bukankah kamu seorang Raja Naga? Ini memberi kesan, apa yang kamu lakukan cuma dogeza. Apa itu yang Raja Naga lakukan? Lagipula, jika aku membiarkannya seperti itu para gadis akan melihatnya, kan? Apa itu tidak apa apa ? Sebagai laki-laki, aku tidak ingin melakukannya. Ini benar-benar mustahil. Apa yang harus aku lakukan?

Ketika aku mengusap keringatku, aku menyadari bahwa tidak peduli seberapa keras aku berpikir aku tidak bisa memikirkan jawabannya, karena itu aku diam-diam membuka pintu sekali lagi dan melihat ke dalam.

… Ya, dia masih melakukan dogeza …

Aku sekali lagi perlahan menutup pintu, menghela nafas dan berbalik pada gadis-gadis itu.

“… Sepertinya mereka mendiskusikan masalah mendesak jadi aku akan masuk ke dalam untuk memeriksa, apakah semuanya baik-baik saja … kalau hanya Meru dan aku yang …”

Setelah mengatakan itu semua orang mengangguk dan meningkatkan kewaspadaan mereka … Aku senang mereka tidak bertanya  … Aku menarik nafas untuk menenangkan diri dan memasuki Aula bersama Meru.

Sono Mono Nochi ni Chapter 157

Posted by : Kinderboy 0 Comments

Bab 156 – Kekuatan Persahabatan Monster

Sudah beberapa hari sejak kami memasuki hutan. Saat ini aku menggendong Mao di tanganku dan Tata di punggungku sambil terus bergerak. Setelah bertemu Purple-san dan Blonde-san, entah kenapa mereka bilang bahwa aku harus menggendong dua orang mulai sekarang. Yah, aku tidak keberatan sih, walaupun disuruh menggendong 2 orang aku juga tidak akan lelah.

… Itu yang awalnya kupikirkan tapi sekarang aku dapat masalah. Ketika aku cuma menggendong mereka di tanganku, aku cuma mencium bau yang harum, tapi sekarang karena aku harus menggendong mereka dipunggungku, Tata harus memegang erat punggungku, karena tanganku sibuk memegang Mao di depan … dengan kata lain aku bisa merasakan dua benda lembut ditekan di punggungku dan itu mengambil semua inderaku!! Dan ketika giliran Kagane berada di depan, dia menyadari apa yg kurasakan.

“Onii-chan, aku bisa merasakan benda keras …”

Ucap Kagane dengan senyum gembira. Aku membalikkan wajahku sambil bersiul dan mengatakan padanya “Bukankah itu hanya imajinasimu?” tapi tindakanku hanya memperkuat kecurigaannya, itu membuatku sedikit tertekan. Dan sejak saat itu, setiap kali para gadis naik di punggungku, mereka menekan itunya ke arahku sambil melihat reaksiku. Kasihinilah aku…

Selagi itu terjadi, kami akhirnya memasuki gunung. Dari sekitar tengah gunung ini, cuacanya benar-benar tidak dapat diprediksi sehingga kami mulai mengandalkan sihir penghalang Tata, Naminissa dan Kagane untuk melindungi kami. Penempatan penghalang akan dilakukan dalam dua shift, Tata dan Naminissa yang bertugas dalam shift pagi dan sore, dan Kagane yang bertugas shift malam karena status INT nya melebihi batas maksimal. Yah, jika situasinya menjadi buruk, aku bisa menggunakan skill pendewaan dan membuat penghalang yg lebih kuat … atau begitulah yang kupikirkan tapi sepertinya berkat pelatihan para gadis, mereka menjadi cukup kuat karena aku tidak perlu melakukan apa pun. Kami dapat melanjutkan perjalanan tanpa masalah.

Di dalam penghalang itu cukup nyaman tetapi di luar penghalang itu benar-benar buruk dan di waktu tertentu terik matahari menjadi sangat menyengat, kemudian badai dingin dan setelah itu hujan deras akan datang entah dari mana. Namun berkat penghalang ketiga gadis itu, kami mampu menangkisnya. Dan selain cuacanya, ada banyak monster yang akan mengejar kita, tetapi berkat sihir Kagane, mereka dikalahkan satu demi satu. Gimana! Adik kecilku sangat luar biasa kan! Aku merasa ingin menyombongkan tentang dirinya tapi di tidak ada siapapun disini selain kami jadi aku mengalihkan perasaanku untuk menepuk kepala Kagane sebagai gantinya. Tapi ketika Haosui melihatku melakukan itu, dia membusungkan pipinya dan membuat tangannya menjadi pisau, mulai membunuh semua monster yang menghalangi jalan kami. Gimana! Istriku luar biasa, kan! Akhirnya aku juga mulai menepuk-nepuk kepala Haosui. Tapi sekarang semua gadis mulai mengambil batu dan melemparnya dengan akurat di kepala monster atau menggunakan sihir serangan untuk menghancurkan para monster. Mereka mulai berusaha menjadi yang pertama untuk membunuh monster dan terlihat seperti pemburu yang ganas. Untuk menenangkan mereka, aku akhirnya menepuk kepala semua orang. Kalian semakin kuat ya… Aku mulai menaruh semua bahan dari monster yang diburu di sihur ruang-waktu Meru, jadi semua bahan itu tidak terbuang sia-sia.

Ketika kami bergerak, cuaca di luar penghalang sedikit membaik sehingga kami bisa bergerak lebih jauh, tapi saat itulah aku bertemu mereka berdua lagi.

Monster Kucing dan monster Ikan.

Kali ini, selain dua monster itu ada yang lain.

Seekor reptil yang berevolusi dan mulai berjalan dengan dua kaki dengan wajah yg menakutkan, sepertinya itu adalah Dinosaurus, dan dia sedang mengejar monster kucing. Monster kucing itu berusaha mati-matian melarikan diri dari Dinosaurus. Dan monster Ikan sedang melihat adegan tersebut sambil bersembunyi di bayang bayang pohon. Aku berhenti dan aku mulai melihat adegan di depanku, dan ketika aku melakukannya, semua orang juga ikut berhenti dan berkumpul di sekelilingku. Mao yang ada di punggungku bertanya padaku.

“Otto-dono, apa yang dilakukan monster-monster itu?”
“Mh? Ahh, sebenarnya… ”

Aku memberi tahu para gadis tentang bagaimana Aku bertemu dengan monster Ikan dan monster Kucing. Mereka menunjukkan pandangan yang seolah-olah mengatakan “… Terus?”. Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Aku tidak mengharapkan Kalian untuk memahamiku … hanya Freud yang meletakkan tangannya di pundakku dan mulai mengangguk penuh pengertian. Ohh… Aku tidak merasa senang sama sekali meski kamu ada di pihakku tapi setidaknya aku akan berterima kasih dari lubuk hatiku. Gadis-gadis itu bergabung denganku. Kami mulai beristirahat sambil melihat monster-monster itu.

Ketika kami melihat mereka, monster Kucing tiba-tiba terjatuh ke tanah dan dinosaurus tidak melewatkan kesempatan itu dan membuka lebar mulutnya mencoba memakan monster kucing dalam satu gigitan.

Tapi, seolah menunggu momen itu, monster Ikan keluar dari bayang-bayang pohon dan melompat ke udara dengan berputar dan ketika aku pikir dia akan jatuh ke tanah, ia mulai meluncur di udara dengan … kakinya? siripnya?… Mengirim Dinosaurus terbang.

Dinosaurus dengan tubuh besarnya jatuh ke tanah dengan suara ‘zuun’,. Tampaknya dia pingsan. Setelah itu Monster kucing melihat monster Fish dengan wajah seolah mengatakan ‘Aku percaya padamu!’. Monster Ikan mendarat dengan anggun dan menerima pujian monster Kucing dengan tenang.

Eh? Apa itu tadi?

Selagi aku memikirkan itu, monster Ikan membantu monster Kucing berdiri dengan menggigit leher monster Kucing kemudian keduanya menuju ke tempat Dinosaurus berada. Dinosaurus masih belum sadar tetapi monster Ikan mulai memukulnya dengan … tangannya? sirip? di kedua pipinya. Dan dari rasa sakit itu, Dinosaurus mulai bangun dan melihat situasi, berdiri dan mulai menyerang mereka lagi, tapi monster Ikan sekali lagi menerbangkannya dengan … tangannya? sirip? Tapi tidak berhasil karena Dinosaur dapat mempertahankan kesadarannya. Dinosaurus menahan pipinya dengan tangannya yg pendek dan melihat monster ikan, Monster Ikan itu membuat suara seperti raungan ke Dinosaurus, mungkin dia sedang bicara dengannya?

Kemudian, monster Ikan menutup mulutnya dan Dinosaurus mulai menundukkan kepalanya ke arah monster Ikan dan dengan begitu ketiga monster itu membuat monster Ikan menjadi boss mereka dan menghilang ke hutan terdekat.

Setelah melihat itu, aku berfikir bukankah monster kucing tidak dibutuhkan disini? … Monster Ikan bisa mengalahkannya sendiri, kan? Atau lebih tepatnya, Apa tidak apa-apa untuk menganggap Dinosaurus bisa ditundukkan? Selagi pikiranku kesana-sini, aku menyadari sesuatu …

Siapa Peduli!!!

Itu buang-buang waktu saja. Aku memanggil para gadis dan mulai bergerak menuju tujuan kami.

Jika aku bertemu orang-orang itu lagi, aku pasti akan menerbangkan mereka berdua sekaligus. Atau lebih tepatnya, bertahanlah monster Kucing!

Sono Mono Nochi ni Chapter 156

Posted by : Kinderboy 0 Comments

Chapter 155- Pertemuan ketiga

Pada hari keempat, kami masuk ke hutan lebat yang berada di sekitar gunung. Karena bentar lagi mau malam, kami mulai mencari tempat untuk bermalam dan menemukan pohon besar. Tempat ini nyaman dan mudah untuk mengawasi sekitarnya sehingga kami memutuskan untuk bermalam di sini. Tidak mungkin bagi mereka untuk terus berjalan tanpa beristirahat dan bepergian di malam hari sangatlah berbahaya.

Jadi kami mengambil bahan makanan dari sihir ruang-waktu Meru. Tata dan Mao mulai memasak dengan beberapa rumput liar yang Freud bawa. Kami memutuskan untuk bergantian memasak setiap hari, yang berarti tentu aku juga akan membuat makanan untuk mereka. Tampaknya hari ini, juru masak terbaik dikelompok kami, Tata akan mengajari Mao saat memasak.

Tampaknya Mao sangat bersungguh- sungguh sampai aku bisa merasakan semangatnya.

Setiap hari ada dua orang yang dipasangkan untuk memasak, tapi ada masalah jika Haosui dan Kagane di pasangkan. Ketika kedua orang ini dipasangkan untuk suatu alasan masakan mereka menjadi agak kreatif, atau haruskah aku katakan aneh? Kebiasaan aneh mereka muncul saat memasak bersama-sama.

Biasanya mereka bisa memasak makanan yang lezat tapi ketika keduanya dipasangkan, akan menjadi ajang kompetisi satu sama lain, meskipun makanan mereka tidak benar- benar lezat jika mereka begini, dan mereka selalu menyuruhku memakannya sampai aku tidak kuat makan lagi dan bertanya masakan siapa yang lebih enak.

Tingkat DEX keduanya tinggi jadi kenapa hanya aku yang berpikiran jika masakan mereka “SAMA”? Setelah mengumpulkan keberanian aku meminta mereka untuk membuat sesuatu yang normal tetapi keduanya menjawab

“Memasak adalah Cinta!! Dan yang masakannya lebih enak akan menjadi istri terbaik!! ”

jadi aku berhenti bertanya lagi … Aku rasa aku hanya bisa bersyukur bahwa mereka memasak untuk ku dan aku juga gak peduli makanan mewah seperti ‘rasa’…

Selagi aku berpikir bahwa semua orang sedang menyiapkan peralatan makan, gadis-gadis itu muncul sekali lagi.

“Kami adalah bandit ~ … eh ?!”
“Oh! Itu kamu kan? kita bertemu lagi! ”

Ini sudah ketiga kalinya aku mendengar suara Ungu-san dan Blonde-san. Aku menjawab mereka sambil menggaruk kepala.

“… halo.”
“Ah! Iya !! Selamat sore!! mh?Atau harus nya selamat malam? ”
“Halo-halo ~ Sudah lama!”

Purple-san memberiku salam hormat sedangkan Blonde-san mengangkat tangannya sambil menyapaku. Rasanya seperti teman yg udah lama gk bertemu, tapi mereka itu bandit.

“Dan? Apakah kamu masih melakukan itu? Ujian untuk menjadi Bandit? ”

“Iya! Aku akan melakukan yang terbaik! ”

“Kami sudah sampai di level 3.”

Ya, sepertinya mereka meningkat.

“Sepertinya kamu sudah naik lagi.”

“Ehehe …” (Purple-san)

“Bagus juga bagiku gadis ini sudah mulai mendapatkan penghasilan.”(Blonde-san)
(Tl note : BANDIT MACAM APA INII !! Semua bandit di cerita ini pada kgk jelas)

Saat memuji levelnya yg meningkat, Purple-san memberikan senyum lebar bahagia sedangkan Blonde-san mulai menepuk kepala Purple-san seolah-olah Purple-san itu adik perempuannya. Nah, jika Kamu melihat itu,Kamu akan berpikir itu adalah adegan yang benar-benar mengharukan tapi, masalahnya adalah Mereka itu bandit. Daripada itu, apa yang menggangguku adalah sesuatu yg lain.

“Bolehkah aku bertanya sebentar, Siapa 3 orang yg dibelakang kalian? Temanmu?”

Aku menunjuk ke belakang Purple-san dan Blonde-san menuju tiga orang yang tersembunyi di balik pepohonan.

Kulit dan usia yang berbeda-beda. Seorang pria gendut berusia tiga puluhan, seorang pria kurus berusia empat puluhan dan seorang pria bertubuh sedang di usia remajanya. Entah kenapa ketiganya mengenakan pakaian dengan warna ungu sebagai warna dasarnya dan memakai bandana di kepala mereka yang sama-sama berwarna ungu. Tangan mereka dicat warna ungu yang panjangnya sekitar 10 cm… untuk apa mereka melakukannya? Untuk bertarung?

“Mereka adalah orang baik yang mendukungku dari bayang-bayang!”

“Mereka awalnya orang yang dipilih untuk Ujiannya dia, tapi untuk suatu alasan setelah menghadapi mereka, kami mulai melihat mereka dari waktu ke waktu … dan ketika aku berpikir bahwa mereka sudah pergi, mereka akan muncul entah dari mana …”

Eh? Apa itu? itu sedikit menakutkan … apa kalian tidak sadar akan apa yang kamu katakan? Tiba-tiba mereka mulai melambai-lambaikan tongkat ungu mereka dan bersorak untuk Purple-san dengan suara keras. Tidak, serius … untuk apa tongkat ungu itu? Aku mulai merasakan sesuatu yang menakutkan yang tidak bisa kupahami dari ketiganya. Blonde-san melanjutkan penjelasannya.

“Terlebih lagi, saat mereka kembali, mereka akan memberikan sejumlah besar uang untuk dia … dan mereka tidak mencoba untuk datang lebih dekat dari jarak tertentu. Yah, mereka tidak berbahaya dan mereka sering membantu kami jadi aku tidak bisa memaksa mereka untuk pergi… ”

“Mereka semua adalah orang baik!! Kamu terlalu meragukan mereka!! ”

“Dan gadis ini selalu mengatakan ini terus, jadi aku tidak bisa tenang…”

Blonde-san membuat wajah yang agak kelelahan dan menghela nafas panjang. Aku berfikir bahwa dia adalah tipe orang yang khawatiran. Aku yakin terakhir kali kita bertemu dia berbicara tentang bosnya yang mengganggunya, dan Purple-san juga mengatakan kata-kata dan tindakannya sedikit keluar dari batas … Ini lama-lama menjadi sedikit sulit… Tapi Aku tetap tidak akan memberi mereka uang.

“Lalu, apa kali ini juga kalian ingin meminta uang?”
“Sebenarnya … aku berharap kamu bisa memberi kami beberapa makanan.”

Ha? Saat aku bingung oleh apa yang baru saja dikatakan Purple-san, perut Purple-san dan blonde-san mengeluarkan suara ‘guuu ~’.

“…Makanan ya?”
“Aku minta maaf… Sejujurnya, kami sudah berada di hutan ini selama beberapa hari dan kami tidak punya makanan yang layak untuk dimakan. Jika kamu dapat memberi sedikit untuk kami, kami akan menghilang dalam waktu singkat. ”

Blonde-san malu-malu, memberitahuku tentang keadaan mereka. Makanan … setidaknya aku bisa melakukan itu. Dan ketika aku memikirkan itu, aku mengalihkan pandanganku ke para gadis.

Entah kenapa aku bisa merasakan niat membunuh yang meluap-luap dari mereka. Apa itu cuma perasaanku saja ?

Aku memberi sinyal dengan tanganku untuk Purple-san dan Blonde-san supaya menunggu dan berhati-hati untuk tidak mendekati ke tempat gadis-gadis.

“Uhm … wajahmu sedikit menakutkan …”
“…”

Kenapa kamu tidak menjawabku …? Eh? Apa yang harus aku lakukan? Sementara aku tersesat pada apa yang harus dilakukan atau dikatakan, Freud mendekatiku dengan senyuman feminin.

“Wazu-sama, sepertinya kamu tidak menyadari apa yang terjadi di sini jadi aku akan memberitahumu. Para gadis merasa cemburu. ”

“Cemburu?”

“Iya. Jika kamu memperhatikan dengan seksama, sepertinya Wazu-sama sedang melakukan percakapan yang ramah dengan para bandit wanita itu. ”

Ehhh ~ … Ini bukan seperti aku ramah pada mereka, tapi lebih seperti aku hanya mengenal mereka. Apa kamu berkata ini itu seperti apa yang dipikirkan para gadis?

Aku menarik napas panjang da berjalan ke para gadis.

“Biar aku jelaskan. Aku hanya pernah bertemu gadis-gadis ini sebelumnya dan tidak lebih dari itu saja. Dan kali ini aku hanya berpikir bahwa aku dapat membantu orang-orang dalam kesulitan. Aku berpikir untuk memberi mereka makanan dan tidak ada yang lain. Apa itu tidak boleh? ”

“Haa ~ …”

Aku baru saja mengatakan kepada mereka apa yang aku pikirkan, tapi entah kenapa para gadis hanya mendesah.

“Yah, mereka mengatakan kebaikan tetaplah kebaikan.”

“Kebaikannya juga merupakan salah satu keistimewaannya Wazu-san.”

“Kali ini saja, oke?”

“Tidak ada lagi setelah ini, oke?”

“… jangan curang!”

“Jika itu Onii-chan maka tidak ada pilihan lain.”

“Kurasa membantu yang lemah adalah tugas orang yang kuat jadi …”

“Terima kasih.”

Aku mengucapkan terima kasih kepada para gadis dan berpikir bahwa hubungan ini akan terus berlanjut di masa depan…

Aku menggelengkan kepalaku untuk membuat pikiran itu pergi dan mengambil makanan dari para gadis untuk memberikannya pada Purple-san dan Blonde-san, dan mereka mulai menangis sambil berterima kasih padaku.

“Terima kasih!! Terima kasih!!”

“Aku pikir jika kalian pergi ke arah itu kalian akan mencapai kota.”

Aku mengarahkan mereka ke jalan utama yang akan membawa mereka ke kota terdekat. Mereka berdua sekali lagi memberiku terima kasih dan menghilang ke arah yang aku tunjukkan. Tentu saja setelah mereka pergi si trio juga pergi. Saat kami melihat itu, aku bisa mendengar Kagane mengatakan sesuatu.

“*Natural dan idol… jika kita ceroboh …”

Idol? Apa itu sebuah kata dari dunia Kagane sebelumnya? Aku benar-benar tidak tahu apa artinya dan tidak peduli juga sih, jadi aku kembali ke tempat para gadis untuk membantu membuat makan malam.

Sono Mono Nochi ni Chapter 155




Bab 154 – Ayo berangkat!

Hmmm, aku berada dalam masalah.

Oleh karena itu, aku meminta Grave-san untuk memperkenalkanku ke pandai besi yang ada di kota. Pandai besi yang dikenalkan padaku adalah seorang kurcaci yang kasar tapi aku diizinkan untuk melihatnya bekerja. Aku hanya diizinkan melihatnya saja agar DEX ku tidak aktif secara tiba-tiba, dan seperti itu aku melihatnya sampai akhir. Setelah itu aku mengucapkan terima kasih dan mengucapkan selamat tinggal kepadanya ketika meninggalkan tempat itu.

Yup, aku bisa membuatnya. Aku tidak tahu apa dengan DEX yang tinggi bisa berguna tapi aku sudah mengerti apa yang harus aku lakukan. Karena rank monster yang berada di gunung tinggi sehingga aku tidak bisa menggunakan palu atau tempat pembakaran yang biasa. Aku harus menggantinya dengan bahan mentah dari monster di sekitar sana atau aku tidak akan mendapatkan hasil yang bagus. Aku juga harus membawa alat-alatku di gunung.

Dan dengan ini, persiapanku selesai. Pertama-tama semua barang-barangku disimpan dalam sihir penyimpanan Meru sehingga tidak ada masalah. Kami akan segera meninggalkan negeri ini setelah persiapan semua orang selesai. Aku mengambil jalan memutar ke kastil untuk berkeliling sehingga aku tidak akan melupakan negeri ini.

Beberapa hari kemudian, persiapan kami sudah selesai jadi kami memulai perjalanan ke Ibukota melalui gunung. Semua barang-barang para gadis sudah disimpan di sihir penyimpanan Meru sehingga kami bisa bergerak lebih mudah.

Yang mengantar kami saat akan pergi adalah Grave-san dan istri-istrinya, Deizu, King Gio, Marao dan orang-orang dari perusahaan Kagane. Semua orang mengatakan selamat tinggal kepada kami. Grave-san dan aku juga menukar beberapa kata perpisahan.

“Sampai jumpa’! Mari bertemu kembali! Kamu selalu diterima di negeri ini!! ”
“Tentu saja! Jaga dirimu juga, Grave- san! Jika kamu punya anak, aku pasti akan kembali!”

Kami saling berjabat tangan, mengucapkan selamat tinggal pada semua orang dan meninggalkan negeri itu seperti Grave-san dan yang lainnya melihat kami pergi menjauh.

Jika kamu bepergian dengan kereta dan bergerak lurus dari negeri Grave-san ke kaki gunung itu akan memakan waktu sekitar 3 minggu tapi jika kita berusaha keras mungkin kita bisa sampai dalam waktu seminggu. Aku awalnya mencoba untuk mencocokkan kecepatan para gadis tapi sekarang berkat pelatihan yang mereka jalani, mereka jauh lebih cepat dari sebelumnya dan stamina mereka juga lebih tinggi jadi aku pikir kita bisa sampai di sana lebih cepat daripada memakai kereta. Bahkan kemampuan fisik Tata telah meningkat sehingga dapat bersaing dengan anggota baru kami, Mao. Dia bahkan berkata,

“Ada begitu banyak orang yang lebih kuat dari ku! Aku jadi semangat!! ”

Ada juga usul yang mereka ajukan tidak bisa aku tolak. aku harus menggendong mereka setiap hari selama perjalanan. Aku tidak apa-apa sih jika cuma menggendong saja.

Yang lebih mengejutkan lagi adalah Freud bisa mengikuti kami dengan tersenyum lebar. Serius ada apa dengan orang ini? Aku tahu jika aku bertanya kepadanya dia pasti menjawabnya dengan santai, “Karena aku seorang pelayan.” Jadi aku akan membiarkannya.

Dalam perjalanan kami semua harus berkemah tapi entah kenapa di pagi hari ketika aku bangun, aku melihat semuanya berkumpul di sekitarku dengan tertidur, dan setiap kali aku pergi untuk mandi di suatu sungai yang dekat, gadis-gadis itu selalu ingin ikut denganku. Yah, aku melarikan diri dengan kecepatan yang tidak bisa mereka deteksi.

Dan kejadian ini terjadi berulang kali selama perjalanan. Dan pada hari ketiga ketika kami bersiap untuk makan siang yang kami ambil dari sihir penyimpanan Meru, tiba-tiba dua bandit muncul.

“Hehehe…”
“Keberuntunganmu habis disini dengan bertemu kami.”

Dengan rambut dan, jenggot yang tidak dicukur dan terawat, memakai perlengkapan kotor dan pedang yang menggantung di pinggang mereka, penampilan para bandit yang biasa ditemui. Yang satu sangat kurus dan terlihat kelaparan, sedangkan satunya begitu gemuk dan bulat. Nom nom …

“Hei! Kenapa kamu terus makan seperti tidak ada apa-apa! ”
“Kami bandit, tahu !!Bandit !! ”

… nom, nom … Yah bahkan jika Anda tidak memberi tahu aku, aku bisa melihatnya dari penampilanmu. Apa Mao ingin bertarung? Aku bisa melihat dengan jelas di matanya bahwa dia ingin melakukannya, dan ketika dia ingin berdiri, Aku menghentikannya dengan tanganku dan perlahan-lahan berdiri sendiri untuk menghadapi bandit. Sedangkan Gadis-gadis lain melanjutkan makannya.

“…*glek*. Bolehkah aku bertanya? Ada yang bisa kubantu?“

“Tidak tidak tidak, kau seharusnya sudah tahu, kan?”
“Ini, beri kami ini!”

Si bandi gendut membuat lingkaran di jarinya dengan menghubungkan ibu jari dan jari telunjuknya dan menunjukkannya kepadaku.

“Donat?”

Donat adalah makanan pencuci mulut yang ada di dunia Kagane dulu, tapi dia mereproduksinya di sini dan sekarang mereka laris manis.

“Yaya, yang manis dan enak.”
“Tapi jika kau menyentuhnya langsung, minyaknya akan menempel di jari-jarimu!! Dan jika kau menyentuhnya seperti itu, mereka akan marah kepadamu.”

“”… Bukan itu!!””

Oh, mereka mengikuti alurnya.

“Lalu, karet gelang?”

Yang ini juga dari Kagane.

“Ya, jika kau meregangkannya seperti ini dan membidik ke orang…”
“Kau ingin mengatakan ‘berhen ~ ti'”
“Bukan itu juga!! ”
“Lalu, chakram?”
”Ah itu. Bagaimana cara kau melemparnya?”
“Bukannya itu terlalu besar untuk dilempar?”
“Bukan itu!! Tapi uang!! ”

Para bandit mulai terengah-engah seperti ‘haa, haa’.
Yup aku sudah tahu… oke, aku pikir sudah waktunya untuk melakukan latihan setelah makan.

“Tentu saja aku sudah tahu itu tapi aku tidak punya uang untuk diberikan kepada bandit.”

Ketika aku mengatakan itu, bandit melemparkanku senyuman vulgar dan meletakkan tangan mereka di gagang pedang mereka.

“Sudah Kuduga … kalau begitu, kami akan membunuhmu dan mengambil uangmu.”

Si Kurus menarik pedangnya.

“…”
“…”
“…”

Bilah pedang itu terbuat dari bambu.

“Haaah !? Kenapa pedangku terbuat dari bambu !? ”
“Kau bodoh, tidakkah kamu ingat bahwa kamu kalah taruhan dan menggadaikan pedangmu?”
“Kau benar!!”

Dan ketika dia mengatakan itu, Kurus melemparkan bilah bambu ke tanah.

“Mau gimana lagi, kalau gitu aku yang akan mengambil semua uangnya.”

Si gendut menarik pedangnya.

“…”
“…”
“…”

Tidak ada pedang di sarung pedangnya.
“Ehhhh! Kenapa!?”
“… bukankah Kau tadi mengatakan kalau kau terlalu banyak makan dan tidak bisa membayarnya, jadi pemilik toko mengambilnya darimu sebagai kompensasi?”
“Betul!!”

Si gendut melemparkan sarung pedangnya ke tanah.

Mhh … untuk apa orang-orang ini datang kemari?

Apa mereka datang untuk membuat kita tertawa?

Kelihatannya para gadis sudah selesai makan dan sedang beres-beres. Oke, haruskah kita pergi sekarang?

Dan dengan itu aku pikir sudah waktunya untuk membuat para bandit pergi. Saat aku mengambil selangkah untuk mendekati mereka, mereka mundur selangkah dan ketika aku melangkah lagi, mereka sekali lagi mundur. Ada apa sih!?

“Sekarang aku ingat aku membuat janji dengan seorang teman untuk bertaruh pada game!!”
“Ya, dan seorang teman mengundangku untuk minum-minum!!”

“Sampai jumpa!!”

Mereka mengangkat tangan kanan mereka serentak dan berlari meninggalkan tempat ini.

… Apa itu? … Aku menghela nafas dan pergi membantu para gadis beres-beres

Sono Mono Nochi ni Chapter 154

Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia

Native Title : That Person. Later on…

Type : Web Novel

Genres : Action, Adventure, Comedy, Drama, Fantasy, Harem, Romance

Chapter : 213

Status : 213 Chapters + 4 extra (Complete)

Author : NAHAaTO

Rating : 3.4

Tahun Rilis : 2015

Source : Sono Yaku, Isecai Translation, Nega Translations


Arc 1&2 PDF
Arc 3&4 PDF
Arc 5 PDF

Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia

「Heh, ada begitu banyak permintaan di sini.」

Aku, yang telah mendaftar sebagai petualang di resepsionis, pergi ke papan permintaan. Permintaan peringkat F yang bisa aku ambil mencakup hal-hal seperti membersihkan saluran pembuangan, mengambil sampah, mengasuh anak, dan berjalan dengan hewan peliharaan seseorang.

Bagi orang-orang dengan peringkat E, mereka pergi ke luar kota untuk mengumpulkan ramuan obat atau jamur; Menaklukkan kelinci putih dan goblin juga termasuk permintaan peringkat E.

「Mungkin aku bisa melakukan kelinci putih ...」

Aku mengambil permintaan menaklukkan kelinci putih dari papan.

ー ー
Menaklukkan Kelinci Putih
Permintaan Berulang
Silakan menaklukkan kelinci putih, sejenis monster yang sangat subur. Daging kelinci putih bisa dimakan, jadi tolong ambil kembali tubuh mereka. Terima kasih atas kerjamu.
Reward: Satu koin tembaga untuk satu kelinci putih.
ー ー

Aku bertanya-tanya apa artinya dengan "Permintaan Berulang". Aku memutuskan untuk mencoba bertanya kepada resepsionis. Meja wanita itu berada, jadi aku bertanya padanya.

「Maaf, permisi」

「Ara, apakah kamu memutuskan menerima sebuah permintaan?」

「Ya, tentang itu, aku pikir aku akan pergi dengan 'Menaklukkan Kelinci Putih', tapi apa artinya 'Permintaan Berulang'?」

Aku mengulurkan selembar kertas yang kuambil dari papan permintaan.

「Ah, 'Permintaan Berulang' berarti bisa mengulang berkali-kali, berbeda dengan permintaan lain yang dibatasi sampai 2 kali. Kelinci Putih dan Goblin dapat ditemukan di hutan dengan berjalan kaki selama satu jam dari kota ini, dan mereka berkembang biak dengan sangat cepat. Itulah sebabnya permintaan untuk menaklukkannya adalah 'Permintaan Berulang'. Jika dibiarkan terus, mereka akan menyerang ladang dan merugikan penduduk desa. Oleh karena itu, mereka harus dimusnahkan secara teratur.」

Aku mengerti. Akan merepotkan jika kerugian terjadi. Selain itu, jika dibutuhkan waktu satu jam untuk sampai ke sana dari sini, dibutuhkan waktu 2 jam perjalanan pulang (... .. kau tidak mengatakannya) ... Un, Matahari tidak akan terbenam 6 jam lagi, jadi mungkin bagi ku untuk kembali.

「Aku mengerti, aku akan menerima permintaan ini」

「Baiklah, tolong beri saya Kartu Guild Anda」

Aku menyerahkan kartu guildku seperti yang dibilang oleh resepsionis onee-san. Dia mengeluarkan kristal dari bawah mejanya dan memegang kartu di atasnya. Aku bertanya-tanya apa yang sedang dilakukannya.

「Baik, dengan ini, Anda telah menerima permintaan tersebut. Juga, Anda harus memperbarui pendaftaran setiap lima kali Anda menyelesaikan permintaan 」

Katanya sambil mengembalikan kartu itu padaku.

ー ー ー ー
Redius - Peringkat F
Tempat lahir - Gremond
Senjata Utama - Pedang
Elemen Sihir - N / A (Not Available / Tidak Tersedia)
Permintaan yang Diterima:
Menaklukkan Kelinci Putih
ー ー ー ー

Informasi yang aku tulis saat registrasi ada di sana. Dan kemudian, permintaan yang baru saja akj terima juga tertulis di atasnya. Cukup nyaman, harus aku katakan. Kristal itu mungkin alat sihir. Aku tidak yakin, karena satu-satunya alat sihir yang pernah aku lihat adalah yang mengeluarkan air yang digunakan Gelman untuk mandi di belakang rumah.

"Terima kasih banyak. Aku pergi."

「Ya, lakukan yang terbaik.」

Aku mengucapkan selamat tinggal kepada resepsionis dan meninggalkan Guild. Seperti yang diharapkan, tidak ada yang mendekati ku karena warna rambut ku. Namun, aku mendengar beberapa cerita tentang perang dari percakapan mereka.

Aku mendengar kakakku membicarakan hal ini. Tampaknya kerajaan ini, Albast, sedang bersiap untuk berperang dengan tetangganya yang berada di barat, Kerajaan Britaris. Tidak diketahui kapan perang akan dimulai, tapi mereka merekrut tentara dan menyiapkan senjata untuk itu.

Sebuah perang, ya ... Jika aku lebih kuat, aku akan berpartisipasi, tapi, seperti aku sekarang, aku hanya akan mati sia-sia. Aku bertanya-tanya apakah tidak apa-apa jika aku mengabaikan masalah ini, karena itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Berpikir tentang hal-hal seperti itu, aku berjalan menjauh dari Guild. Aku hanya perlu menguras darah kelinci putih itu sebelum membawa mereka kembali, jadi aku bertanya-tanya apakah aku bisa pergi tanpa membeli pisau untuk menguliti. ... Saat aku memikirkannya, bukankah ini pertama kalinya aku membunuh makhluk hidup? Aku tidak terlalu yakin apakah aku bisa melakukannya ...

Sebelum aku mengetahuinya, aku sudah sampai di pintu gerbang. Aku ingin mengembalikan kartu identitas sementara ku, jadi aku pergi mencari penjaga yang tadi. ... Ah, aku melihatnya.

"Permisi"

「Ahn? Bukankah kamu anak laki-laki dari sebelumnya? Apakah kamu sudah mendaftar?」

"Ya sudah kulakukan. Ini."

Aku menunjukkan kepadanya kartu guild yang aku terima beberapa waktu yang lalu. Penjaga mengambil kartu itu dan membenarkannya.

「... Dengan ini, kamu boleh untuk pergi. Tunjukkan kartu ini setiap kali kau melewati gerbang ini. Ini, koin tembaga besar mu 」

"Ya terima kasih banyak. Lalu, aku ingin menaklukkan kelinci putih tapi, ke arah mana hutan itu?"

「Kelinci putih, ya. Hutan itu sekitar 2 kilometer ke timur dari sini, yah, hati-hati. Tidak hanya ada kelinci putih di sana, goblin dan serigala juga ikut juga. Pemula seperti mu nak, mereka dikelilingi oleh kelompok serigala dan menjadi makanan serigala. 」

Serigala ya, Serigala yang hidup dalam kelompok itu? Itu menakutkan.

「Aku mengerti, Jika aku melihatnya, aku akan segera lari.」

「Nah, tidak seperti sesuatu yang penting. Cepat dan pergi sekarang, kau mengganggu pekerjaan ku.」

Kata penjaga yang dengan cepat mulai memarahi ku. Benar, ada orang yang berbaris di belakangku. Dengan cepat aku mengucapkan terima kasih kepada penjaga yang mengajari ku berbagai hal terlepas dari apa yang dia katakan.

2 Kilometer dari sini ya. Kurasa aku akan pergi dan berlari seperti dulu yang selalu kulakukan di pagi hari.

Bagaimana cara menangkap kelinci putih ... sekarang aku memikirkannya, seperti apa penampilan mereka? Aku bahkan tidak tahu. Sebelum aku menyadarinya, aku sudah berlari selama 10 menit.

「Di sini, aku pikir?

Ada hutan di samping jalan utama. Setiap pohon setinggi 3 meter, dan ada banyak pohon yang tumbuh. Diameter hutan sekitar 3 kilometer atau lebih?

「Baiklah, ayo kita masuk」

Aku sedikit gugup saat memasuki hutan, aku merasakan harapan tentang jenis binatang apa yang tinggal di sini.

「Ara, bukankah kamu anak laki-laki yang sebelumnya?」

Sebuah suara terdengar dari belakangku. Aku berbalik ke arah itu.

「A-Anda adalah wanita yang menuntun saya ke guild!」

Itu benar, dialah yang menunjukkan kepada ku jalan ketika aku tidak tahu bagaimana caranya sampai ke guild. Sama seperti saat pertama kali bertemu dengannya, dia berpakaian tipis, dengan pelindung kulit di atas dan 2 belati di pinggangnya.

「Kau juga datang untuk permintaan, Nak? Sama seperti ku, ya? 」

Wanita itu mulai tertawa. Dia tidak seperti kakak perempuanku tapi, dia sangat cantik. Lalu…

「Anak ini, ya?」

... 2 orang berdiri di belakangku, tingginya sekitar 2 meter, dan berambut cokelat. Dia membawa kapak di punggungnya. Pria lain yang memiliki tatapan lembut memiliki rambut keemasan, dan di pinggangnya, dia memiliki apa yang menurutku disebut rapier? Dia memegang pedang tipis di tangannya.

「Ya, ini dia.」

「Benar, untuk berambut hitam, bajunya cantik ...」 (tunggu, apakah ini tiba" memakai pakaian bagus?)

Mereka bertiga berbicara satu sama lain tapi, aku tidak bisa benar-benar mendengarnya. Aku bertanya-tanya apakah tidak apa-apa jika aku pergi?

「Ummm.」

"Ah maaf. Jadi, permintaan apa yang membuat mu kemari, nak?"

「Eh? Ah, saya datang ke sini untuk menaklukkan beberapa kelinci putih.」

「Ahh, Kelinci putih, ya. Mereka cukup gesit sehingga mereka agak sulit ditangkap kan? Jika kau mau, apakah kau ingin bantuan ku?」

Mengatakan demikian, si onee-san membungkuk sampai ke dekat mataku. Uhh, karena dia di begitu, payudaranya ... Sementara aku mengerutkan dahi.

「T-tapi, nona, bukankah Anda memiliki permintaan Anda sendiri?」

「Kami di sini untuk menaklukkan serigala, jadi kita perlu menuju ke hutan lebih jauh. Itu sebabnya, mari kita pergi bersama. Aku akan mengajari mu dengan sangat hati-hati.」

Pada titik ini, aku pikir dia adalah orang baik sejak dia membantu ku sebelumnya.

「Saya mungkin akan menyusahkan Anda tapi, tolong perlakukan saya dengan baik. Sejujurnya, saya tidak tahu apa-apa tentang kelinci putih.」

Aku meminta onee-san untuk membantu ku keluar (Maksudnya? Hmm i don't know). Pada saat ini, orang-orang di belakangku tertawa, tapi aku tidak menyadarinya.

Black Haired King Chapter 5 B.indonesia

Posted by : Kinderboy 0 Comments
Sudah 3 hari sejak aku meninggalkan wilayah Baron Glemond.

Setelah aku pergi, aku menaiki kereta dan tiba di kota sebelah, 「Requiem」.

Ini adalah salah satu wilayah Earl of Kentry, dan memiliki guild petualang, sesuatu yang tidak dimiliki oleh Baron Glemond.

Aku hanya mendengarkan penjelasan kakak perempuan ku, jadi aku tidak tahu detailnya. Seperti yang aku tahu, mereka tidak hanya mengerjakan satu pekerjaan .

Dari memilah-milah sampah di sekitar kota, memburu monster di luar juga menjaga bangsawan, ada banyak jenis permintaan.

Nah, pada tingkatan ku saat ini, aku tidak akan melawan monster apapun.

Apa yang aku pikirkan sekarang adalah mengambil beberapa pekerjaan aneh sambil aku memoles ilmu pedang ku.

Dan dengan pikiran itu, kereta berhenti.

Jadi ini 「Requiem」, ya?

Salah satu kota paling makmur di sekitar sini ...

Aku membayar 3 koin tembaga ke kusir itu.

"Beku" - sejenis mata uang - bisa digunakan di negara manapun di benua ini.

Kau memiliki koin tembaga kecil, koin tembaga biasa, koin tembaga besar; dan itu juga berlaku untuk perak. Sedangkan untuk Emas, kau hanya memiliki ukuran biasa dan besar, begitu juga untuk putih.

1 Tembaga Kecil → 10 Beku, 1 Tembaga → 100 Beku, 1 Tembaga besar → 500 beku.

1 Perak Kecil → 1.000 Beku, 1 Perak → 5.000 Beku, 1 Perak Besar → 10.000 Beku.

1 Emas → 50.000 Beku, 1 Emas Besar → 100.000 Beku.

1 Emas Putih → 1.000.000 Beku, 1 Emas Putih Besar → 10.000.000 Beku.

Hanya bangsawan dan pedagang yang menggunakan koin emas putih dan koin emas putih besar.

Tentu saja, aku belum pernah melihat itu sendiri.

Orang dewasa bisa makan 2 kali per hari hanya dengan 1 koin Tembaga Besar, dan jika kau menghemat, kau bisa mendapatkan satu Coin Perak Besar dalam sebulan.

Kompensasi yang aku terima dari Gelman adalah persis 1 Coin Emas.

Begitu, kurasa aku tidak terlibat dengan keluarga Glemond lagi.

Nah, itulah dasar yang aku miliki.

Aku punya sedikit uang yang disimpan ibuku tapi, aku ingin menggunakannya dengan hemat.

Saat memikirkan hal-hal seperti itu, aku tiba di gerbang Requiem.

Sepertinya ini adalah tempat mereka memeriksa kartu identitas mu ...

Hanya saja, aku tidak memilikinya. Jadi, aku harus mendapatkan yang baru.

Menurut Kakak perempuan, kartu guild petualang bisa digunakan sebagai pengganti kartu identitas seseorang.

「Selanjutnya!」 Dan begitu, giliranku tiba.

Aku berjalan mendekati penjaga dan melepaskan jubah yang kupakai.

Penjaga itu menatap wajahku dan mengerutkan kening.

「Oi, Nak. Identitas?"

「Aku tidak memiliki Identitas, jadi aku berpikir untuk bekerja di Guild Petualang.」

「Kau ingin menjadi petualang? Hah! Kau mencoba bunuh diri?

Nah, tidak peduli berapa banyak rambut hitam yang mati, itu tidak memiliki efek ya. Ini 1 Tembaga Besar dengan ganti identitas sementara. Setelah kau terdaftar di guild petualang, kembalilah ke sini, aku akan mengembalikan uang mu.

"Aku mengerti."

Aku mengeluarkan 1 tembaga besar dan memberikannya kepada penjaga.

Penjaga itu memberi ku semacam tag kayu.

Aku kira ini adalah identitas sementara.

Aku bisa mendengar orang berbisik di sekitar, tapi jika aku mengkhawatirkan itu dari hari ke hari, itu akan mengganggu.

Jadi, aku bergegas masuk

Setelah melewati gerbang, tidak seperti di luar gerbang, kota itu sendiri meriah.

Suara penjaga toko mempromosikan barang mereka.

Suara gembira anak-anak yang sedang bermain.

Suara pria mabuk meski masih siang hari.

Semua jenis suara bisa terdengar.

Jalannya cukup lebar untuk menampung 4 kendaraan, dan di dekat pintu gerbang terdapat kios-kios jalanan, lebih jauh lagi ada daerah perumahan.

Sementara aku melihat sekeliling dengan takjub ...

「.... Orang itu berambut hitam」

「Jangan mendekatinya!」

「Ya ampun, memberikan ku perasaan merinding.」

........Jelas, tidak peduli ke mana aku pergi, cemoohan kepada rambut hitam tetap sama.

Aku mengabaikan suara seperti itu dan mencoba menuju guild.

Hanya saja, aku tidak tahu dimana itu.

Sedangkan untuk orang-orang di dekat ku, mereka hanya berbisik-bisik dan menghasilkan tempat tidur yang luas. (mengisyaratkan bahwa tidak ada yang mau dimintai tolong)

Apa yang harus dilakukan. Sementara aku sedang berpikir seperti itu ..

「Ara, Nak. Apa yang salah? 」(Bouya, mungkin baa-chan)

Seorang wanita dengan penampilan yang sangat bernafsu mendekatiku.

Dia memiliki rambut pirang dengan sanggul / ekor kuda di sisi kanan, memakai kain penari.

Yah, aku belum pernah melihat seorang penari, aku hanya membaca tentang mereka di buku.

「Iya, Hanya saja aku tidak tahu dimana serikat petualang itu.

「Ara, benarkah begitu? Dalam hal ini, aku akan menunjukkannya.

Dan saat dia mengatakan itu, dia mulai berjalan ke arah lain.

Apakah baik-baik saja jika aku mengikutinya ....

Aku sedikit tidak nyaman, tapi tidak seperti ada orang lain yang mau membantu ku, jadi tidak masalah.

Aku mengikutinya dengan sedikit waspada.

Menurut apa yang dikatakan Kakak perempuan, guild petualang berada di tempat yang nyaman untuk masuk, biasanya di jalan utama.

Jika kau dibawa ke jalan belakang, larilah!

Kami akhirnya berjalan selama 10 menit.

「Ini dia, ini adalah guild petualang, Nak.」

Oo, ini guild petualangnya ya? Di papan nama ada pedang dan perisai disilangkan.

"Terima kasih banyak."

Kataku, penuh dengan rasa syukur.

Aku minta maaf karena telah meragukan mu.

Aku minta maaf seperti itu di dalam hati ku.

「Fufu, tidak apa-apa kau tahu Baiklah, sampai nanti ... 」

Dan dengan itu, dia pergi dengan gelombang selamat tinggal.

Ada orang seperti Ibu dan kakak perempuan yang, meski telah melihat rambut ku, tetap mau dekat dengan ku, ya?

Aku tidak bisa tidak merasa senang atas itu.

Aku melihatnya sampai aku tidak bisa melihatnya lagi, dan kemudian aku masuk ke guild.

Di lantai pertama guild, ada meja resepsionis tempat kau bisa menerima barang atau meminta permintaan.

Di situlah karyawan guild bekerja.

Selanjutnya, ada papan yang berisi sejumlah besar kertas yg terlampir disana.

Itu mungkin permintaan.

Ada banyak dari mereka, ya?

Lantai dua sepertinya menjadi bar.

Aku bisa mendengar suara orang tertawa dari lantai dua.

Mereka tampak bersenang-senang siang ini.

Saat pemikiran itu terlintas dalam pikiran ku, aku menyadari bahwa aku tidak melihat orang seumuranku.

Kakak perempuan dan Mia berbeda, dan Balt mungkin hanya pernah melihat ku sebagai sasaran untuk disiksa.

Aku ingin tahu apakah aku bisa memiliki dengan sesama petualang yang aku ajak party saat aku menerima permintaan. Rekan ... sambil berpikir seperti itu, aku jadi bersemangat.

Aku memeluk perasaan itu, dan dengan itu, aku sampai di resepsionis.

「Ya, barisan berikutnya ... .huh?」

Sambil membereskan dokumen, dia memanggil orang berikutnya, yaitu aku. Ketika aku mendekati meja resepsionis, dia mendongak dan tampak terkejut.

Lebih mirip, bukan padaku, tatapannya menatap rambutku.

「Rambut Hi-Hitam ...... Batuk! Umm, bagaimana aku bisa membantu anda hari ini?」

「Aku ingin mendaftar di guild petualang.」

「Mendaftar dengan hak guild. Kemudian, isi semua bagian yang dibutuhkan pada formulir ini.

Bisakah kamu membaca dan menulis?

「Ya, aku akan mengisinya.」

Aku melihat bentuk dan kolomnya adalah: Nama, Tempat Lahir, Keahlian Senjata, dan atribut sihir.

Aku mengisi segala sesuatu selain atribut sihir. (sama seperti elemen)

「Ini dia.」

"Iya. ... Tulisan tanganmu cantik.

Selama 3 tahun, Kakak perempuanku dengan ketat mengajari ku cara membaca, menulis dan menghitung.

Hal-hal sulit yang dilakukan para  pedagang sebagian tidak kulakukan, namun perhitungan sederhana untuk jual beli baik-baik saja.

Resepsionis melihat ke arahku, dan saat melihat kolom terakhir, dia menatapku.

Sudah pasti bidang tentang elemen ku dia menatap.

"Aku mengerti. Dengan ini, Anda sepenuhnya terdaftar. Pendaftarannya gratis untuk pertama kalinya, tapi penggantian jika hilang akan dikenai biaya 1 koin perak besar. Jika Anda kehilangan identitas Anda lebih dari 5 kali, Anda akan dicabut sebagai petualang jadi mohon berhati-hati.

"Aku mengerti."

Awalnya dia terkejut, tapi mengingat dia sedang bekerja, mungkin karena itulah dia tidak menatapku dengan aneh. Meski karena dia sedang bekerja, aku masih sedikit senang.

「Apakah ada yang ingin Anda tanyakan tentang serikat petualang?

Meski Kakak perempuan menjelaskannya sebentar, aku memang menginginkan penjelasan yang lebih mendalam.

「Ya, tolong dan terima kasih」

"Saya mengerti. Lalu, saya akan mulai penjelasannya. Pertama, Petualang mempunya peringkat.

Setelah Anda mendaftar, Anda adalah peringkat F. Dari sana, ada E, D, C, B, A, dan S. Agar pangkat ini meningkat, Anda dapat menyelasaikan 40 permintaan 1 peringkat di bawah Anda, 30 permintaan dari peringkat anda saat ini, atau 15 permintaan 1 peringkat di atas peringkat Anda. 」

Jadi untuk ku, aku perlu menyelesaikan 30 permintaan peringkat F, atau 15 permintaan peringkat E, ya?

「Anda hanya dapat menerima permintaan yang merupakan peringkat Anda saat ini, 1 peringkat di bawah atau 1 peringkat di atas.

Kau tidak akan dapat menerima permintaan selain itu, jadi mohon perhatikan.

「Jadi, apakah itu berarti peringkat yang lebih tinggi tidak dapat menerima permintaan dengan peringkat yang lebih rendah? Misalnya, orang dengan peringkat B yang menerima permintaan peringkat D?

"Iya. Ini untuk mencegah mereka yang ber peringkat lebih tinggi dari memonopoli permintaan yang bisa diterima oleh peringkat lebih rendah. Yah, tidak seperti orang akan melakukan itu. Bahkan jika mereka menerima permintaan dengan peringkat lebih rendah, pangkat mereka tidak akan meningkat, dan imbalannya rendah karena ini merupakan permintaan peringkat yang lebih rendah, jadi tidak ada gunanya melakukannya.

Aku mengerti ~. Memang, bahkan jika kau bisa menerima permintaan dua tingkat di bawah peringkat mu, masih akan lebih baik untuk hanya menerima permintaan yang setingkat dengan peringkatmu atau lebih tinggi satu tingkat di atas mu.

「Apakah Anda memiliki pertanyaan lain?

「Tidak, Untuk saat ini aku pikir cukup.」

"Saya mengerti. Ini akan menjadi kartu guild mu. Seperti yang saya katakan sebelumnya, harap berhati-hati agar tidak kehilangannya.

"Ya terima kasih banyak."

Aku menerima kartu guild ku dari resepsionis.

Dengan ini, aku seorang petualang.

「Kemudian, jika Anda ingin menerima permintaan, kertas yang ditempel di papan itu adalah permintaan. Permintaan peringkat F ada di sebelah kanan, mohon konfirmasi.

"Ya terima kasih banyak."

Aku mengucapkan terima kasih kepada resepsionis yang mengajari ku dengan baik, dan berbalik ke papan permintaan. Aku masih perlu mencari penginapan untuk menginap, tapi aku ingin memeriksa daftar permintaan di sana terlebih

Black Haired King Chapter 4 B.indonesia

Posted by : Kinderboy 0 Comments
「... ..Pagi ya Mnnn! 」(sfx Peregangan)

Aku bangun sebelum matahari terbit. Itu adalah rutinitas ku sehari-hari sampai pada titik di mana tubuh ku sekarang melakukannya secara tidak sadar.

Aku mengganti pakaian tidur ku menjadi pakaian yang mudah untuk bergerak, dan kemudian ...

「Aku akan bekerja keras hari ini juga!

Aku keluar, memegangi pedang ibu.

Berjalan ke halaman rumah Baron Glemond, begitu aku sampai, aku melakukan beberapa latihan pemanasan ringan.

Setelah itu, aku berlari untuk menghangatkan tubuh ku. Sebuah putaran di sekitar halaman sekitar 300 meter. Kurasa aku akan berlari 10 lap.

Setelah itu, aiu melakukan beberapa ratus push up dan menarik pedang ku.
3 tahun yang lalu, bahkan menahannya memang sulit, tapi belakangan ini aku sudah bisa mengayunkannya berkali-kali. Sudah 3 tahun sejak ibuku meninggal dunia.

Sejak saat itu, aku telah bersumpah di depan makam ibu ku untuk melakukan yang terbaik semampu ku; dan jadi aku memastikan untuk melatih tubuh ku setiap hari.

Tetap saja, ini hanya pada tingkat belajar mandiri; hanya pada tingkat bergerak sedikit lebih baik dari pada anak-anak lain.

Mungkin jika aku bisa melihat orang lain menggunakan pedang, itu akan berbeda, tapi Balt dan kakak perempuan ku mengambil pelajaran sihir, jadi mereka tidak pernah diajarkan ilmu pedang.

Kurasa Balt diajari sedikit, tapi itu hanya sesaat.

Prajurit manor itu memiliki pedang di pinggang mereka, tapi aku belum pernah melihat mereka memegangnya.

Jadi, selama 3 tahun terakhir, aku baru saja berusaha membangun tubuh ku, setelah itu, ayunkan pedang di sekitar aku kira.

Pedang itu cukup berat pada awalnya, dan rasanya tidak stabil, tapi belakangan ini persis seperti yang dikatakan di buku itu, kehilangan semua ketidakberdayaannya.

Tetap setia pada hal-hal mendasar: sikap posisi, Swing up, Swing down. Itu dia.

Inilah yang aku lakukan setiap hari, ribuan kali.

Aku juga meminta kakak perempuan ku untuk mengajari ku tentang dunia ini, tentang sihir.

Sementara aku belajar tentang sihir, sangat memilukan hati, tapi aku paling tidak bisa menggunakan sedikitpun itu.

Pertama, dari mana asalku. Dunia ini rupanya disebut Grinotia. 1 Tahun 360 hari, 1 bulan 30 hari, setahun 12 bulan. Setiap hari memiliki 24 jam.

Setiap minggu memiliki 6 hari, dinamai sesuai atribut sihir; Api, Air, Bumi, Angin, Gelap, dan Cahaya, dengan hari Cahaya menjadi hari libur.

Akhirnya, negara tempat aky tinggal disebut 「Kerajaan Albast」. Terletak di pusat benua Yumeria, dikelilingi oleh negara lain.

Total populasi sekitar 500.000.

Daerah sekitarnya adalah tempat negara-negara dengan tingkat menengah berkumpul, dan ada sekitar 10 negara serupa yang berkumpul di sini.

Ada sebuah gunung dengan dataran besar di selatan, namun perkembangannya lambat karena ada terlalu banyak monster. Sementara itu, berbagai negara sedang berusaha untuk maju ke selatan. Sepertinya ada negara di luarnya, tapi sampai di sana kau perlu menyeberangi gunung yang penuh dengan monster dan kemudian melewati negara lain, yang ternyata tidak bagus, jadi saya kira itu tidak mungkin.

Di sebelah utara「 Kerajaan Albant 」, ada beberapa negara bergabung untuk membentuk「Kekaisaran Belgirus 」, di sebelah timur adalah Kerajaan「 Melt Faria 」.

Kedua negara ini berada di luar sungai Melt, yang memiliki lebar 10 kilometer, namun kakak perempuan ku mengatakan bahwa mereka berada dalam situasi di mana gencatan senjata mereka dapat runtuh setiap saat. Tapi, itu tidak benar-benar ada hubungannya dengan ku.

Sedangkan untuk sihir, secara sederhana, aku diajari cara melapisi tubuh ku dengan kekuatan magis.

Ini pada dasarnya disebut penguatan tubuh.

Dengan ini, aku bisa meningkatkan kecepatan, kekuatan dan penglihatan ku.

Kakak perempuan ku menunjukkan sebuah contoh, tapi ketika aku melompat dalam bentuk itu, akuu terkejut saat bisa melompati lantai dua mansion.

Menurut Kakak perempuan ku, sementara memang benar aku tidak memiliki elemen, aku memiliki kekuatan magis yang sebanding dengan pemilik 3 elemen.

Aku sangat senang saat mengetahui itu. Jika aku berlatih, itu bisa berkembang menjadi sebanding bahkan dengan pemilik 5 elemen.

Setelah itu, aku dilatih dengan melapisi tubuh ku dengan kekuatan magis dan bermeditasi setiap hari.

Pada awalnya, aku tidak benar-benar mengerti kekuatan magis apa, tapi akhir-akhir ini, aku sadar akan arus hangat yang mengalir melalui tubuh ku.

Aku begitu berlebihan karena aku mendorongnya ke dinding meskipun sedang di selimuti kekuatan magis. Kakak perempuan ku sangat ketakutan saat itu.

Mia juga marah padaku karena itu.

Sebelum aku mengetahuinya, sudah 3 tahun berlalu.

Sepertinya Balt tidak mementingkan diri ku lagi, karena belum ada kejadian yang aku alami dalam 2 tahun terakhir. Madam Keri juga tidak ikut campur dengan ku lagi sejak ibuku wafat.

Pelayan rumah sama seperti sebelumnya, tapi lebih baik tidak terjadi apa-apa.

Tapi, gaya hidup ini berakhir hari ini.

Alasannya, aku meninggalkan manor.

Tahun ini, Kakak perempuan ku berusia 14, yang merupakan usia ketika anak-anak bangsawan bersekolah.

Oleh karena itu, dia harus tinggal di ibu kota, meninggalkan Baronya dan tinggal di asrama.

Jadi, orang-orang yang akan melindungiku di sini akan pergi.

Sampai sekarang, kakak perempuanku membantu aku jika terjadi sesuatu, tapi itu tidak akan terjadi lagi.

Kurasa Gelman juga berpikiran sama, jadi dia secara pribadi memanggilku lebih awal untuk memberitahuku tentang pendaftaran Kakak perempuanku, tapi juga tentang ketidakpedulianku.

Nah, rambut hitamku juga ikut berperan di dalamnya.

Jalan baiknya, aku segera memberikan jawaban.

Aku tahu aku tidak akan bisa menepati janjiku pada ibuku jika aku tetap tinggal.

Aku berpikir bahwa, betapapun menyakitkan itu, asalkan itu adalah jalan yang aku pilih, aku akan mampu menanggungnya.

Aku juga menerima sedikit kompensasi dari Gelman untuk pergi.

Sedangkan untuk Mia, aku sudah meminta kakak perempuanku.

Mia sudah terikat dengan ibuku sebelumnya, tapi dia juga pernah menempel padaku sampai kemarin.

Jika aku meninggalkan Keluarga Glemond, Mia mungkin akan dipecat.

Jadi, dia menjadi salah satu pelayan perempuan pertamaku.

Kakak ku mungkin tahu itu juga, menunjukkan kapan dia segera mendatangi Gelman untuk bertanya.

Jadi, Mia akan menjadi pembantunya mulai hari ini.

Meskipun aku membuat Mia menangis, entah bagaimana aku bisa meyakinkannya; Aku bisa pergi dengan tenang.

「Sudah waktunya, huh.」

Sebelum aku mengetahuinya, matahari terbit, dan tiba saatnya para pelayan mulai bekerja.

Aku harus bersiap berangkat.

Jadi aku kembali ke kamarku, membasahi kain untuk dibersihkan dan menggunakannya.

Aku telah menyebutnya 'persiapan', tapi tidak banyak yang bisa aku bawa.

Paling banyak itu hanya beberapa pasang pakaian dan sejumlah uang. Kemudian ada pedang ini, kurasa.

Seperti itu, aku mulai kemas-kemas.

* kncok knock *

Ketukan terdengar.

Aku membuka pintu dan siapa yang muncul-

「Kamu sudah mempersiapkan semuanya, ya?

Kakak perempuan dan Mia ...

「Kakak perempuan, Mia, ada apa?

「Jangan beri aku" apa yang salah ", ... kamu sudah mau pergi?」

「Ya, hari ini adalah hari terakhir dari kesepakatan tersebut.」

Saat aku berbicara, bau bunga yang lembut menyapu hidungku.

Sebelum aku menyadarinya, Kakak perempuan ku telah memeluk ku.

「Maaf, jika saja aku berbicara dengan Ayah sedikit lagi, kau mungkin tidak harus pergi.」

「Tidak, aku tahu ini akan terjadi pada akhirnya, kebetulan hari ini. Juga, aku berencana untuk berbicara tentang pergi sewaktu-waktu, jadi hasil akhirnya akan sama. Jangan pedulikan, Kakak perempuan.

Setelah memelukku erat-erat untuk beberapa lama, Kakak perempuanku memisahkan dirinya sedikit.

Di sudut matanya, air mata mengalir.

「Redius-sama」

「Terima kasih atas semua yang telah Anda lakukan juga, Mia. Mulai sekarang, layani Kakak perempuan dan hidup bahagia, oke?

Ini bukan kata-kata yang akan kau katakan kepada seseorang yang berusia 7 tahun lebih tua dari mu, tapi semuanya keluar secara alami.

Mia mungkin tidak bisa menahannya, dan dia mulai menangis saat memelukku.
"Iya! Aku akan bekerja keras untuk melayani Erishia-sama 」(dia gagap menangis)

Aku menepuk punggung Mia. Kakak perempuan kedua ku, tetaplah sehat.

Setelah Mia dan Kakak perempuan tenang, kami berbicara sedikit saat kami berjalan ke gerbang rumah.

Para penjaga yang ditempatkan di sana menatapku dengan curiga, tapi aku mengabaikannya.

「Kakak perempuan, Mia, terima kasih banyak atas semua yang telah kalian lakukan untuk ku. Silakan bergaul dengan gembira mulai sekarang. 」

「Astaga, kenapa kau terus berbicara secara formal ... kita akan bisa bertemu lagi kan?」

Sejujurnya, aku tidak bisa benar-benar mengatakan "iya" tapi ..

「Tentu saja, Kakak perempuan. Lain kali kita bertemu, aku ingin melihat anak Kakak perempuan.

「G-Geez, Redius! .... Tetap sehat 」

「Redius-sama, tetaplah sehat!」

.... Mia, ingus bocor dari hidungmu mu merusak wajah imut mu.

「Tetap sehat, kalian berdua.

Kataku saat gerbang melayang pergi.

Jadi, kau ingin bertanya apa yang akan aku lakukan mulai sejarang?

Kurasa aku harus pergi ke guild petualang, dan menjadi petualang.

Dengan kemampuan ku saat ini, aku tidak bisa pergi ke negara lain jika aku tidak menjadi sedikit pun lebih kuat.

Ibu, meski aku sendirian sekarang, aku akan melakukan yang terbaik untuk hidup.

Tolong awasi

Black Haired King Chapter 3 B.indonesia

Posted by : Kinderboy 0 Comments

Aku berjalan cukup jauh untuk menghilang dari pandangan kakak perempuan ku dan menuju ke tempat tertentu.

Di sana,…

「Ibu, aku masuk!」

Dan dengan ketukan di pintu, aku masuk rumah.
Di dalamnya ada sebuah ruangan sederhana dengan hanya tempat tidur, meja, dan kursi.
Ada vas bunga tunggal di dekat jendela.

Ibuku, Mary, sedang tidur di tempat tidur.
Dia awalnya putri sulung Baron Arnold, namun keluarga mereka ambruk karena kegagalan bisnis.

Kudengar setiap orang akhirnya berpisah dan mencari pekerjaan di berbagai keluarga kerjaan yang lain, dan ibuku menjadi pembantu di rumah Baron Glemond.
Dia cantik berambut pirang dengan senyuman lembut.
Gelman mungkin tertarik pada penampilannya itu.

Berdiri di samping tempat tidurnya adalah gadis yang merawatnya, Mia.
Mia berumur 14 tahun. Awalnya, dia adalah anak yatim piatu, tapi ibuku membawanya sebagai pembantu empat tahun yang lalu.

Aku tidak ingat banyak tentang itu, karena aku baru berumur tiga tahun saat itu.

Waktu itu, Madam Kelly sangat marah melihat penampilan seorang gadis kecil yang latar belakangnya tidak diketahui, tapi ternyata Gelman mengizinkannya.
Sejak saat itu, dia adalah anak ibuku, dan kakak perempuanku; kami cukup dekat

「...... Ara, Redius, ada apa?

Begitu aku memasuki ruangan, ibuku bangkit dari tempat tidur, meski dia tampak kesakitan. Beberapa tahun yang lalu, dia menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan.

Kami tidak tahu penyebabnya, tapi dokter mengatakan bahwa itu akan memakan sedikit ototnya sedikit demi sedikit.
Awalnya, itu hanya membuat dia tersandung dan jatuh saat dia berjalan, tapi, hari demi hari, itu terus bertambah buruk, membuatnya tidak bisa bergerak; Saat ini, dia bahkan tidak bisa berjalan. Duduk harus benar-benar menyakitkan baginya.

「Ibu, tolong jangan memaksakan diri. Aku akan datang ke sisimu 」

Aku bergegas mendekatinya. Pelayan itu, Mia, juga meminjamkan tangannya, jadi entah bagaimana dia bisa duduk tegak.

Meski ibuku sudah lelah, dia tetap tersenyum.
Aku selalu menyukai senyuman itu. Setiap kali melihatnya, aku bisa melupakan rasa sakitnya.

「Terimakasih, Redius, Mia. Fufu, mungkin aku sudah sedikit lebih sehat berkat kalian berdua. "Katanya, masih tersenyum di bibirnya.

Saat aku hendak mengatakan sesuatu ...

「Benar, Mia. Tolong bawa barang itu ke Redius 」

「Ya, Mary-sama」

... Ibuku tiba-tiba berbicara lagi. Mia lalu mengambil sebuah kotak dari sudut ruangan.
Itu diletakkan di atas meja, salah satu dari beberapa perabot yang ada di sini.
Ketika akh membukanya ...

「In-ini?」

「Ibu membelinya dengan uang yang telah aku hemat sejak sebelum menjadi pembantu.
Ini pedangmu Ibu membeli yang cukup besar untuk kau gunakan sampai kau dewasa, tapi aku bertanya-tanya apakah terlalu besar?

Mengatakan demikian, dia tersenyum lagi. Mia juga tersenyum. Di dalam kotak itu ada pedang setinggi diriku.
Berpikir tinggi ku adalah 100, maka pisau itu sendiri sekitar 80 panjangnya.
Aku tidak tahu banyak tentang pedang, jadi aku tidak bisa berkomentar mengenai hal itu.

Aku bertanya-tanya, "Kenapa begitu tiba-tiba?" Dan menatap ibuku.

「Kamu telah mengalami hal-hal yang mengerikan karena ibu, jadi ibu pikir ibu harus melakukan sesuatu seperti ibu pada umumnya untuk terakhir kali」

Aku terdampar oleh kata-katanya. Apa yang Ibu maksud dengan "untuk terakhir kali"! Kenapa ibu tiba-tiba mengatakan itu? Aku masih memiliki banyak hal yang ingin aku bicarakan, dan banyak hal yang ingin aku lakukan, bersamamu.

「Jangan membuat wajah sedih seperti itu, Redius. Mungkin sulit bagimu tanpa Ibu, tapi, dalam hatimu, aku akan selalu berada di sisimu, kau tahu?

Mengatakan begitu, ibuku memelukku erat-erat.
Dia sama sekali tidak memiliki kekuatan seperti sebelumnya.
Tapi, meski begitu, kehangatan keibuannya membuatku bahagia.
Sebelum aku menyadarinya, air mata telah mengalir di wajah ku.

「Astaga, Redius adalah pria cengeng. Pada tingkat ini, kau akan dibenci oleh pacar masa depan mu, kau tahu?

Ibu menghapus air mataku sambil mengatakan itu. Aku mengusap mataku dan menyeka air mataku.

「Aku tidak akan menangis lagi! Aku akan melakukan yang terbaik sehingga ibu bisa merasa nyaman!

Aku tidak bisa menghentikan air mata sekarang, tapi ini hanya hari ini.
Aku akan mencoba yang terbaik mulai besok.
Bahkan Mia yang berdiri di samping tidak bisa menahan air matanya.
Aku sadar ibuku juga menangis sambil memeluk ku.

Semua orang menangis, tapi, pada akhirnya, kami tersenyum saat saling berpelukan.

Dan kemudian, satu bulan kemudian. Kondisi ibuku berubah mendadak menjadi lebih buruk, dan malam itu dia membawanya.
Seingat ku, dia sudah bisa menduga waktu kematiannya saat itu.
Itu sebabnya dia memberiku pedang itu.
Sedangkan untuk Mia, dia memberinya kalung lucu.
Bahkan sekarang, dia mencengkeramnya erat-erat.

Gelman tidak bisa menempatkannya di kuburan yang sama dengan keluarga Glemond, tapi dia menyiapkan makam sederhana di sudut pemakaman.
Dia membayar penghormatan kepada ibuku.

Aku berdiri di depan kuburannya. Di sampingku, Mia menangis dengan suara keras. Dia selalu menganggap ibuku sebagai miliknya sejak dia diangkat, jadi sangat menyakitkan baginya saat ibu kami meninggalkan kami.

Selain itu, aku pikir dia juga menangis untuk bagian ku. Lagi pula, aku sudah memutuskan bahwa aku tidak akan menangis lagi.

「Mia. Ayo kembali"

「...... * terisak *, y-ya ......」

Aku teringat kata-kata terakhir ibuku.

「Kamu mungkin berpikir bahwa ada terlalu banyak rasa sakit dan kesedihan, tapi ada banyak kebahagiaan.
Saat ini, kamu berpikir bahwa hidup mu menyakitkan karena warna rambut mu, tapi aku yakin kamu akan bisa tersenyum akhirnya 」

Dia mengatakan kepada ku bahwa itu adalah kebahagaian bahwa dia melahirkan ku, dan bahwa dia merasa bahagia.

Karena itulah, Ibu, aku akan terus hidup bahagia seperti yang ibu lakukan, meski ada banyak rasa sakit menanti ku.

Aku ingin ibu melihat ku dari surga.
Aku akan memberikan yang terbaik.
Ibu, terima kasih telah melahirkan ku.

Black Haired King Chapter 2 B.indonesia

Posted by : Kinderboy 0 Comments

- Copyright © ZasuNovel - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -