7 Tips Merawat Aglaonema agar Warna Daun Semakin Cerah dan Menarik
-
Halo Sobat SHAHIR! Apakah Sobat termasuk salah satu penggemar tanaman hias
yang terpukau dengan keindahan Aglaonema? Tanaman yang juga dikenal […]
Tampilkan postingan dengan label Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Chapter 155- Pertemuan ketiga
Pada hari keempat, kami masuk ke hutan lebat yang berada di sekitar gunung. Karena bentar lagi mau malam, kami mulai mencari tempat untuk bermalam dan menemukan pohon besar. Tempat ini nyaman dan mudah untuk mengawasi sekitarnya sehingga kami memutuskan untuk bermalam di sini. Tidak mungkin bagi mereka untuk terus berjalan tanpa beristirahat dan bepergian di malam hari sangatlah berbahaya.
Jadi kami mengambil bahan makanan dari sihir ruang-waktu Meru. Tata dan Mao mulai memasak dengan beberapa rumput liar yang Freud bawa. Kami memutuskan untuk bergantian memasak setiap hari, yang berarti tentu aku juga akan membuat makanan untuk mereka. Tampaknya hari ini, juru masak terbaik dikelompok kami, Tata akan mengajari Mao saat memasak.
Tampaknya Mao sangat bersungguh- sungguh sampai aku bisa merasakan semangatnya.
Setiap hari ada dua orang yang dipasangkan untuk memasak, tapi ada masalah jika Haosui dan Kagane di pasangkan. Ketika kedua orang ini dipasangkan untuk suatu alasan masakan mereka menjadi agak kreatif, atau haruskah aku katakan aneh? Kebiasaan aneh mereka muncul saat memasak bersama-sama.
Biasanya mereka bisa memasak makanan yang lezat tapi ketika keduanya dipasangkan, akan menjadi ajang kompetisi satu sama lain, meskipun makanan mereka tidak benar- benar lezat jika mereka begini, dan mereka selalu menyuruhku memakannya sampai aku tidak kuat makan lagi dan bertanya masakan siapa yang lebih enak.
Tingkat DEX keduanya tinggi jadi kenapa hanya aku yang berpikiran jika masakan mereka “SAMA”? Setelah mengumpulkan keberanian aku meminta mereka untuk membuat sesuatu yang normal tetapi keduanya menjawab
“Memasak adalah Cinta!! Dan yang masakannya lebih enak akan menjadi istri terbaik!! ”
jadi aku berhenti bertanya lagi … Aku rasa aku hanya bisa bersyukur bahwa mereka memasak untuk ku dan aku juga gak peduli makanan mewah seperti ‘rasa’…
Selagi aku berpikir bahwa semua orang sedang menyiapkan peralatan makan, gadis-gadis itu muncul sekali lagi.
“Kami adalah bandit ~ … eh ?!”
“Oh! Itu kamu kan? kita bertemu lagi! ”
Ini sudah ketiga kalinya aku mendengar suara Ungu-san dan Blonde-san. Aku menjawab mereka sambil menggaruk kepala.
“… halo.”
“Ah! Iya !! Selamat sore!! mh?Atau harus nya selamat malam? ”
“Halo-halo ~ Sudah lama!”
Purple-san memberiku salam hormat sedangkan Blonde-san mengangkat tangannya sambil menyapaku. Rasanya seperti teman yg udah lama gk bertemu, tapi mereka itu bandit.
“Dan? Apakah kamu masih melakukan itu? Ujian untuk menjadi Bandit? ”
“Iya! Aku akan melakukan yang terbaik! ”
“Kami sudah sampai di level 3.”
Ya, sepertinya mereka meningkat.
“Sepertinya kamu sudah naik lagi.”
“Ehehe …” (Purple-san)
“Bagus juga bagiku gadis ini sudah mulai mendapatkan penghasilan.”(Blonde-san)
(Tl note : BANDIT MACAM APA INII !! Semua bandit di cerita ini pada kgk jelas)
Saat memuji levelnya yg meningkat, Purple-san memberikan senyum lebar bahagia sedangkan Blonde-san mulai menepuk kepala Purple-san seolah-olah Purple-san itu adik perempuannya. Nah, jika Kamu melihat itu,Kamu akan berpikir itu adalah adegan yang benar-benar mengharukan tapi, masalahnya adalah Mereka itu bandit. Daripada itu, apa yang menggangguku adalah sesuatu yg lain.
“Bolehkah aku bertanya sebentar, Siapa 3 orang yg dibelakang kalian? Temanmu?”
Aku menunjuk ke belakang Purple-san dan Blonde-san menuju tiga orang yang tersembunyi di balik pepohonan.
Kulit dan usia yang berbeda-beda. Seorang pria gendut berusia tiga puluhan, seorang pria kurus berusia empat puluhan dan seorang pria bertubuh sedang di usia remajanya. Entah kenapa ketiganya mengenakan pakaian dengan warna ungu sebagai warna dasarnya dan memakai bandana di kepala mereka yang sama-sama berwarna ungu. Tangan mereka dicat warna ungu yang panjangnya sekitar 10 cm… untuk apa mereka melakukannya? Untuk bertarung?
“Mereka adalah orang baik yang mendukungku dari bayang-bayang!”
“Mereka awalnya orang yang dipilih untuk Ujiannya dia, tapi untuk suatu alasan setelah menghadapi mereka, kami mulai melihat mereka dari waktu ke waktu … dan ketika aku berpikir bahwa mereka sudah pergi, mereka akan muncul entah dari mana …”
Eh? Apa itu? itu sedikit menakutkan … apa kalian tidak sadar akan apa yang kamu katakan? Tiba-tiba mereka mulai melambai-lambaikan tongkat ungu mereka dan bersorak untuk Purple-san dengan suara keras. Tidak, serius … untuk apa tongkat ungu itu? Aku mulai merasakan sesuatu yang menakutkan yang tidak bisa kupahami dari ketiganya. Blonde-san melanjutkan penjelasannya.
“Terlebih lagi, saat mereka kembali, mereka akan memberikan sejumlah besar uang untuk dia … dan mereka tidak mencoba untuk datang lebih dekat dari jarak tertentu. Yah, mereka tidak berbahaya dan mereka sering membantu kami jadi aku tidak bisa memaksa mereka untuk pergi… ”
“Mereka semua adalah orang baik!! Kamu terlalu meragukan mereka!! ”
“Dan gadis ini selalu mengatakan ini terus, jadi aku tidak bisa tenang…”
Blonde-san membuat wajah yang agak kelelahan dan menghela nafas panjang. Aku berfikir bahwa dia adalah tipe orang yang khawatiran. Aku yakin terakhir kali kita bertemu dia berbicara tentang bosnya yang mengganggunya, dan Purple-san juga mengatakan kata-kata dan tindakannya sedikit keluar dari batas … Ini lama-lama menjadi sedikit sulit… Tapi Aku tetap tidak akan memberi mereka uang.
“Lalu, apa kali ini juga kalian ingin meminta uang?”
“Sebenarnya … aku berharap kamu bisa memberi kami beberapa makanan.”
Ha? Saat aku bingung oleh apa yang baru saja dikatakan Purple-san, perut Purple-san dan blonde-san mengeluarkan suara ‘guuu ~’.
“…Makanan ya?”
“Aku minta maaf… Sejujurnya, kami sudah berada di hutan ini selama beberapa hari dan kami tidak punya makanan yang layak untuk dimakan. Jika kamu dapat memberi sedikit untuk kami, kami akan menghilang dalam waktu singkat. ”
Blonde-san malu-malu, memberitahuku tentang keadaan mereka. Makanan … setidaknya aku bisa melakukan itu. Dan ketika aku memikirkan itu, aku mengalihkan pandanganku ke para gadis.
Entah kenapa aku bisa merasakan niat membunuh yang meluap-luap dari mereka. Apa itu cuma perasaanku saja ?
Aku memberi sinyal dengan tanganku untuk Purple-san dan Blonde-san supaya menunggu dan berhati-hati untuk tidak mendekati ke tempat gadis-gadis.
“Uhm … wajahmu sedikit menakutkan …”
“…”
Kenapa kamu tidak menjawabku …? Eh? Apa yang harus aku lakukan? Sementara aku tersesat pada apa yang harus dilakukan atau dikatakan, Freud mendekatiku dengan senyuman feminin.
“Wazu-sama, sepertinya kamu tidak menyadari apa yang terjadi di sini jadi aku akan memberitahumu. Para gadis merasa cemburu. ”
“Cemburu?”
“Iya. Jika kamu memperhatikan dengan seksama, sepertinya Wazu-sama sedang melakukan percakapan yang ramah dengan para bandit wanita itu. ”
Ehhh ~ … Ini bukan seperti aku ramah pada mereka, tapi lebih seperti aku hanya mengenal mereka. Apa kamu berkata ini itu seperti apa yang dipikirkan para gadis?
Aku menarik napas panjang da berjalan ke para gadis.
“Biar aku jelaskan. Aku hanya pernah bertemu gadis-gadis ini sebelumnya dan tidak lebih dari itu saja. Dan kali ini aku hanya berpikir bahwa aku dapat membantu orang-orang dalam kesulitan. Aku berpikir untuk memberi mereka makanan dan tidak ada yang lain. Apa itu tidak boleh? ”
“Haa ~ …”
Aku baru saja mengatakan kepada mereka apa yang aku pikirkan, tapi entah kenapa para gadis hanya mendesah.
“Yah, mereka mengatakan kebaikan tetaplah kebaikan.”
“Kebaikannya juga merupakan salah satu keistimewaannya Wazu-san.”
“Kali ini saja, oke?”
“Tidak ada lagi setelah ini, oke?”
“… jangan curang!”
“Jika itu Onii-chan maka tidak ada pilihan lain.”
“Kurasa membantu yang lemah adalah tugas orang yang kuat jadi …”
“Terima kasih.”
Aku mengucapkan terima kasih kepada para gadis dan berpikir bahwa hubungan ini akan terus berlanjut di masa depan…
Aku menggelengkan kepalaku untuk membuat pikiran itu pergi dan mengambil makanan dari para gadis untuk memberikannya pada Purple-san dan Blonde-san, dan mereka mulai menangis sambil berterima kasih padaku.
“Terima kasih!! Terima kasih!!”
“Aku pikir jika kalian pergi ke arah itu kalian akan mencapai kota.”
Aku mengarahkan mereka ke jalan utama yang akan membawa mereka ke kota terdekat. Mereka berdua sekali lagi memberiku terima kasih dan menghilang ke arah yang aku tunjukkan. Tentu saja setelah mereka pergi si trio juga pergi. Saat kami melihat itu, aku bisa mendengar Kagane mengatakan sesuatu.
“*Natural dan idol… jika kita ceroboh …”
Idol? Apa itu sebuah kata dari dunia Kagane sebelumnya? Aku benar-benar tidak tahu apa artinya dan tidak peduli juga sih, jadi aku kembali ke tempat para gadis untuk membantu membuat makan malam.
Sono Mono Nochi ni Chapter 155
Bab 154 – Ayo berangkat!
Hmmm, aku berada dalam masalah.
Oleh karena itu, aku meminta Grave-san untuk memperkenalkanku ke pandai besi yang ada di kota. Pandai besi yang dikenalkan padaku adalah seorang kurcaci yang kasar tapi aku diizinkan untuk melihatnya bekerja. Aku hanya diizinkan melihatnya saja agar DEX ku tidak aktif secara tiba-tiba, dan seperti itu aku melihatnya sampai akhir. Setelah itu aku mengucapkan terima kasih dan mengucapkan selamat tinggal kepadanya ketika meninggalkan tempat itu.
Yup, aku bisa membuatnya. Aku tidak tahu apa dengan DEX yang tinggi bisa berguna tapi aku sudah mengerti apa yang harus aku lakukan. Karena rank monster yang berada di gunung tinggi sehingga aku tidak bisa menggunakan palu atau tempat pembakaran yang biasa. Aku harus menggantinya dengan bahan mentah dari monster di sekitar sana atau aku tidak akan mendapatkan hasil yang bagus. Aku juga harus membawa alat-alatku di gunung.
Dan dengan ini, persiapanku selesai. Pertama-tama semua barang-barangku disimpan dalam sihir penyimpanan Meru sehingga tidak ada masalah. Kami akan segera meninggalkan negeri ini setelah persiapan semua orang selesai. Aku mengambil jalan memutar ke kastil untuk berkeliling sehingga aku tidak akan melupakan negeri ini.
Beberapa hari kemudian, persiapan kami sudah selesai jadi kami memulai perjalanan ke Ibukota melalui gunung. Semua barang-barang para gadis sudah disimpan di sihir penyimpanan Meru sehingga kami bisa bergerak lebih mudah.
Yang mengantar kami saat akan pergi adalah Grave-san dan istri-istrinya, Deizu, King Gio, Marao dan orang-orang dari perusahaan Kagane. Semua orang mengatakan selamat tinggal kepada kami. Grave-san dan aku juga menukar beberapa kata perpisahan.
“Sampai jumpa’! Mari bertemu kembali! Kamu selalu diterima di negeri ini!! ”
“Tentu saja! Jaga dirimu juga, Grave- san! Jika kamu punya anak, aku pasti akan kembali!”
Kami saling berjabat tangan, mengucapkan selamat tinggal pada semua orang dan meninggalkan negeri itu seperti Grave-san dan yang lainnya melihat kami pergi menjauh.
Jika kamu bepergian dengan kereta dan bergerak lurus dari negeri Grave-san ke kaki gunung itu akan memakan waktu sekitar 3 minggu tapi jika kita berusaha keras mungkin kita bisa sampai dalam waktu seminggu. Aku awalnya mencoba untuk mencocokkan kecepatan para gadis tapi sekarang berkat pelatihan yang mereka jalani, mereka jauh lebih cepat dari sebelumnya dan stamina mereka juga lebih tinggi jadi aku pikir kita bisa sampai di sana lebih cepat daripada memakai kereta. Bahkan kemampuan fisik Tata telah meningkat sehingga dapat bersaing dengan anggota baru kami, Mao. Dia bahkan berkata,
“Ada begitu banyak orang yang lebih kuat dari ku! Aku jadi semangat!! ”
Ada juga usul yang mereka ajukan tidak bisa aku tolak. aku harus menggendong mereka setiap hari selama perjalanan. Aku tidak apa-apa sih jika cuma menggendong saja.
Yang lebih mengejutkan lagi adalah Freud bisa mengikuti kami dengan tersenyum lebar. Serius ada apa dengan orang ini? Aku tahu jika aku bertanya kepadanya dia pasti menjawabnya dengan santai, “Karena aku seorang pelayan.” Jadi aku akan membiarkannya.
Dalam perjalanan kami semua harus berkemah tapi entah kenapa di pagi hari ketika aku bangun, aku melihat semuanya berkumpul di sekitarku dengan tertidur, dan setiap kali aku pergi untuk mandi di suatu sungai yang dekat, gadis-gadis itu selalu ingin ikut denganku. Yah, aku melarikan diri dengan kecepatan yang tidak bisa mereka deteksi.
Dan kejadian ini terjadi berulang kali selama perjalanan. Dan pada hari ketiga ketika kami bersiap untuk makan siang yang kami ambil dari sihir penyimpanan Meru, tiba-tiba dua bandit muncul.
“Hehehe…”
“Keberuntunganmu habis disini dengan bertemu kami.”
Dengan rambut dan, jenggot yang tidak dicukur dan terawat, memakai perlengkapan kotor dan pedang yang menggantung di pinggang mereka, penampilan para bandit yang biasa ditemui. Yang satu sangat kurus dan terlihat kelaparan, sedangkan satunya begitu gemuk dan bulat. Nom nom …
“Hei! Kenapa kamu terus makan seperti tidak ada apa-apa! ”
“Kami bandit, tahu !!Bandit !! ”
… nom, nom … Yah bahkan jika Anda tidak memberi tahu aku, aku bisa melihatnya dari penampilanmu. Apa Mao ingin bertarung? Aku bisa melihat dengan jelas di matanya bahwa dia ingin melakukannya, dan ketika dia ingin berdiri, Aku menghentikannya dengan tanganku dan perlahan-lahan berdiri sendiri untuk menghadapi bandit. Sedangkan Gadis-gadis lain melanjutkan makannya.
“…*glek*. Bolehkah aku bertanya? Ada yang bisa kubantu?“
“Tidak tidak tidak, kau seharusnya sudah tahu, kan?”
“Ini, beri kami ini!”
Si bandi gendut membuat lingkaran di jarinya dengan menghubungkan ibu jari dan jari telunjuknya dan menunjukkannya kepadaku.
“Donat?”
Donat adalah makanan pencuci mulut yang ada di dunia Kagane dulu, tapi dia mereproduksinya di sini dan sekarang mereka laris manis.
“Yaya, yang manis dan enak.”
“Tapi jika kau menyentuhnya langsung, minyaknya akan menempel di jari-jarimu!! Dan jika kau menyentuhnya seperti itu, mereka akan marah kepadamu.”
“”… Bukan itu!!””
Oh, mereka mengikuti alurnya.
“Lalu, karet gelang?”
Yang ini juga dari Kagane.
“Ya, jika kau meregangkannya seperti ini dan membidik ke orang…”
“Kau ingin mengatakan ‘berhen ~ ti'”
“Bukan itu juga!! ”
“Lalu, chakram?”
”Ah itu. Bagaimana cara kau melemparnya?”
“Bukannya itu terlalu besar untuk dilempar?”
“Bukan itu!! Tapi uang!! ”
Para bandit mulai terengah-engah seperti ‘haa, haa’.
Yup aku sudah tahu… oke, aku pikir sudah waktunya untuk melakukan latihan setelah makan.
“Tentu saja aku sudah tahu itu tapi aku tidak punya uang untuk diberikan kepada bandit.”
Ketika aku mengatakan itu, bandit melemparkanku senyuman vulgar dan meletakkan tangan mereka di gagang pedang mereka.
“Sudah Kuduga … kalau begitu, kami akan membunuhmu dan mengambil uangmu.”
Si Kurus menarik pedangnya.
“…”
“…”
“…”
Bilah pedang itu terbuat dari bambu.
“Haaah !? Kenapa pedangku terbuat dari bambu !? ”
“Kau bodoh, tidakkah kamu ingat bahwa kamu kalah taruhan dan menggadaikan pedangmu?”
“Kau benar!!”
Dan ketika dia mengatakan itu, Kurus melemparkan bilah bambu ke tanah.
“Mau gimana lagi, kalau gitu aku yang akan mengambil semua uangnya.”
Si gendut menarik pedangnya.
“…”
“…”
“…”
Tidak ada pedang di sarung pedangnya.
“Ehhhh! Kenapa!?”
“… bukankah Kau tadi mengatakan kalau kau terlalu banyak makan dan tidak bisa membayarnya, jadi pemilik toko mengambilnya darimu sebagai kompensasi?”
“Betul!!”
Si gendut melemparkan sarung pedangnya ke tanah.
Mhh … untuk apa orang-orang ini datang kemari?
Apa mereka datang untuk membuat kita tertawa?
Kelihatannya para gadis sudah selesai makan dan sedang beres-beres. Oke, haruskah kita pergi sekarang?
Dan dengan itu aku pikir sudah waktunya untuk membuat para bandit pergi. Saat aku mengambil selangkah untuk mendekati mereka, mereka mundur selangkah dan ketika aku melangkah lagi, mereka sekali lagi mundur. Ada apa sih!?
“Sekarang aku ingat aku membuat janji dengan seorang teman untuk bertaruh pada game!!”
“Ya, dan seorang teman mengundangku untuk minum-minum!!”
“Sampai jumpa!!”
Mereka mengangkat tangan kanan mereka serentak dan berlari meninggalkan tempat ini.
… Apa itu? … Aku menghela nafas dan pergi membantu para gadis beres-beres
Sono Mono Nochi ni Chapter 154
Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia
Native Title : That Person. Later on…
Type : Web Novel
Genres : Action, Adventure, Comedy, Drama, Fantasy, Harem, Romance
Chapter : 213
Status : 213 Chapters + 4 extra (Complete)
Author : NAHAaTO
Rating : 3.4
Tahun Rilis : 2015
Source : Sono Yaku, Isecai Translation, Nega Translations
| Arc 1&2 | |
| Arc 3&4 | |
| Arc 5 |




