Chapter 26 Tes Pendaftaran Elysion
Diterjemahkan oleh ZasuNovel




Bagian 1


Ibukota di Merifest, Elysion.

Salah satu kota utama pada benua Merifest. Hal pertama yang para pelancong dari daerah lain tangkap dari pandangan mereka adalah dinding raksasa, mengelilingi tanah luas.

Namun, yang terpenting bukanlah tembok maupun skalanya.

Inilah tempat dimana terdapatnya sebuah sekolah, Akademi Elysion.

Tak ada dimanapun pada benua Merifest kecuali disini. Hanya dengan mendaftarkan diri, kau akan memperoleh kehormatan layaknya bangsawan.

Perubahan suhu selama musim cukup lembut, monster-monster buas dimusnahkan, juga tanah subur dengan kekayaan alam yang melimpah. Di atas semua itu, terdapat sekolah terkenal yang hampir seperti tempat wisata.

Tak diragukan lagi bahwa Elysion merupakan wilayah yang bisa disebut kota metropolitan.

Ketika kau melihat ke atas dinding besar itu, hal berikutnya yang akan muncul adalah sesuatu yang lebih tinggi---Istana.

Di sanalah raja yang memerintah negara ini tinggal. Tampaknya, karena kemampuan sang penguasa bersama orang-orang berbakatnya, kedamaian di sini begitu terjaga. Hampir tak ada ketidakadilan, para penduduk dapat melewati hari-hari mereka di dalam dinding dengan puas.

Disaat aku bertanya tentang perlakuan terhadap para ras binatang, terlepas dari bagian bangsawan yang menyebalkan, tak ada masalah dengan berjalan-jalan dan diskriminasi juga jarang terlihat. Meski begitu, mayoritas populasi diduduki oleh manusia, sedangkan ras binatang menempati tiga puluh persennya.

Itulah yang dijelaskan Zack sementara kami menunggu dibagian luar dinding.

Untuk memasuki kota ini kau hanya bisa lewat dua gerbang pada dua sisi dinding, tentu saja disetiap gerbang dijaga oleh sekumpulan tentara. Setiap individu baru diperbolehkan masuk seusai diperiksa identitas atau asal-usulnya.

Akan lebih cepat jika kau bisa membuktikan diri sebagai orang yang berasal dari perusahaan Galgan. Sebaliknya, jika tidak, kau akan menghabiskan waktu lama untuk menjawab setiap pertanyaan yang mereka lontarkan. Hal itu tampaknya terjadi pada orang-orang di depan barisan, membuat kami menunggu hampir tiga puluh menit.

Reus sedang berlatih mengayunkan pedang di dekat kereta. Karena senggang, aku mendengarkan ringkasan tentang kota.

"Ada juga ras binatang di antara para siswa di sekolah, jadi harusnya takkan ada masalah bagi Emilia dan Reus"

"Baguslah. Jika di sini, kalian bisa melepaskan jubah"

"Kelihatannya begitu. Lagipula, Sirius-sama, bolehkah aku memintamu memakaikan kerah padaku?"

"....Hah?"

"Karena aku harus secara jelas menyatakan ke lingkungan bahwa diriku adalah milik Sirius-sama. Bahkan jika harus diperlakukan sebagai budak, aku malah akan merasa terhormat karena menjadi petugasmu"

"Tunggu, tunggu, tunggu! Bahkan jika kau baik-baik saja dengan itu, aku membencinya. Ini ditolak, ditolak!"

"....Begitu ya"

Bisakah kau berhenti depresi?

Jika ada pengukuran untuk nilai loyalitas, bukankah milikmu akan mencapai puncak dan bahkan menembus bagian atasnya?

"Yah, pernyataan Emilia-chan agak aneh. Tapi itu sesuatu yang harus dipertimbangkan"

"Zack juga, apa yang kau bicarakan?"

"Tidak, itu karena Emilia-chan begitu manis bahkan dari sudut pandangku. Ini tidak terbatas pada ras binatang, tapi aku pernah mendengar bahwa beberapa bangsawan mulai menginginkan mereka sampai muncul rumor tentang penculikan. Jadi jika ada tanda yang menyatakan bahwa dia sudah dimiliki, itu bisa bertindak sebagai tindakan pencegahan"

Jika setiap orang berkumpul dari sana kegelapan lahir, ya*.
[Peribahasa mungkin. Kurang tahu sih artinya]

Memang takkan mudah bagi seorang perempuan yang sudah terlatih untuk diculik, tapi dia tidak bisa menang melawan jumlah. Kami harus berhati-hati meski mendapat perlindungan sekolah.

"Zack-san kelihatannya juga setuju. Jadi, tolong beri aku kerah. Yah....Aku tidak keberatan jika suatu hari nanti berganti menjadi cincin"

"Aah....aku akan memikirkannya"

"Aniki!! Istana itu sangaaaattt besar, ya kan?! Gerbangnya juga terlihat kokoh! Mungkinkah aku bisa menebasnya?!"

Bagus sekali, Reus. Itu menjadi alasan untuk mengubah topik pembicaraan. Hanya saja, komentarmu dapat menyebabkan kesalahpahaman yang aneh.

"Tidak boleh. Aku tidak ingin mereka beranggapan kita kesini untuk menyerang kota"

"Mengerti, aniki!"

"Hahaha, Reus dipenuhi semangat, ya"

Giliran kami untuk memasuki Elysion pun tiba.

Bersama Zack dari perusahaan Galgan sebagai perantara, pemeriksaan kami berakhir dengan cepat. Awalnya, mereka yang tidak bisa membuktikan diri harus membayar sejumlah kecil uang setelah pemeriksaan, tapi Zack berperan sebagai saksi dan membayarkannya untuk kami.

"Maaf membuatmu membayar biaya masuk"

"Jangan khawatir, dibandingkan dengan kasus para bandit dan barang dagangan baru*, ini hal yang tidak penting. Ngomong-ngomong, apa yang akan Danna lakukan dari sini?"
[Maksudnya barang dagangan baru itu pas adegan mereka berkemah setelah insiden bandit. Coba inget2 chapter sebelumnya]

"Tes masuk sekolah mulai besok. Tujuan pertama adalah mencari penginapan"

"Kalau begitu ayo kita pergi. Aku merekomendasikan sebuah penginapan yang bagus dibidang keamanan dan makanannya juga lezat. Aku sering kesana ketika datang ke kota ini"

"Ini pertama kalinya kami disini. Tanpa tahu arah, aku akan menyerahkannya padamu"

Sudah hampir malam, tapi Zack mengajak kami kesana sebelum mengantarkan barang dagangannya ke perusahaan.

"Ini adalah penginapan {Spring Breeze Perch}. Aku akan pergi sebentar untuk berbicara dengan pemiliknya"

Bangunan ini tiga kali lebih besar dari rumah kami, merupakan konstruksi dari kayu dan berlantai dua.

Melewati pintu masuk ada lobi, bergeser ke samping ada pintu yang mengarah ke ruang makan di mana kau bisa melihat para tamu sedang menikmati hidangan. Sepertinya juga berfungsi sebagai bar, karena ada yang minum alkohol dalam suasana hati gembira. Lantai pertama merupakan ruang makan dan penginapan termasuk tempat tinggal pemiliknya, sedangkan lantai kedua adalah bagian dari penginapan utama.

Sementara memahami sifat dan fasilitas tempat ini guna mencatat rute pelarian---kebiasaan diduniaku sebelumnya---Zack membunyikan bel di meja lobi.

"Ya, yaaaa! Oh, bukankah ini Zack!"

"Halo, pemilik. Mohon bantuannya lagi"

Yang keluar adalah wanita ras manusia berusia empat puluhan. Sosoknya yang sedikit gemuk, menyambut Zack dengan senyum ramah nan lembut.

"Apa kau akan memesan satu kamar seperti biasa?....Ara, ada beberapa anak yang tidak kukenal. Mungkinkah mereka anakmu?"

"Kau tahu aku belum menikah, kan? Karena kami bepergian bersama, aku mengenalkan mereka pada penginapan ini"

"Ara, terimakasih atas berkontribusimu. Selamat datang! Aku adalah pemilik tempat ini, Rona. Terdapat beberapa kamar kosong, apa yang para pelanggan disini inginkan?"

"Mohon bantuannya juga. Karena bertiga, kami akan memesan kamar ganda untuk pria, dan satu kamar untuk wanita---"

"Satu kamar untuk tiga orang atau kamar besar, tolong!"

Sebelum sempat menyelesaikan pesananku, Emilia maju dan melayangkan permintaannya. Tunggu sebentar! Aku tidak benar-benar ingin mengatakan ini, tapi apa normal untuk menyelat ucapan masternya?.

"Ara, betapa manisnya anak ini. Singkatnya, ketiga pelanggan ingin berada di kamar yang sama, ya. Tapi jou-chan, apa tidak apa-apa meski kau seorang gadis?"

"Ya, yang disini adalah adikku. Juga ada master kami, Sirius-sama. Tidak masalah"

"Begitulah!"

"Baiklah. Kalau begitu, ayo kita pergi ke kamar besar yang ada di belakang"

Mereka memutuskan ini seenaknya.

Aku memang tidak ingin kedua anak itu lepas dari pandanganku, tapi....ada apa dengan perasaan tidak jelas ini.

"Hanya satu hari untuk Zack, tapi berapa lama kalian bertiga akan tinggal?"
"Benar juga. Tes-nya besok, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk masuk ke asrama?"

"Menurut yang kudengar dari onee-chan, paling tidak butuh tiga hari"

"Aku juga pernah mendengarnya selama itu. Pemilik, jika memesan lima hari untuk berjaga-jaga, berapa biayanya?"

"Ayo kita lihat....Dengan tiga kali makan dan satu kamar besar. Ini agak mahal, tiga koin perak, bagaimana?"

Aku tidak tahu apakah tiga koin perak itu mahal atau murah. Tapi sebuah ruangan jumbo termasuk makanan mungkin memang murah. Ketika aku mencoba mengambil uang dari saku dada, Zack mendahului dan menyerahkan empat koin perak.

"Ini bagianku sekaligus mereka. Jadi tak perlu kembalian"

"Ara, betapa murah hati untuk seseorang yang sangat teliti dengan uang seperti dirimu. Apa yang terjadi?"

"Terlepas dari penampilan, mereka sangat menakjubkan. Aku dibantu dengan berbagai cara saat datang ke sini"

"....Mungkinkah mereka bangsawan?! Sangat menyesal! aku akan segera memperbaiki sikapku!"

Sang pemilik melesat keluar dari meja lalu mencoba menunduk sangat rendah, akupun menghentikannya dengan panik. Pengaruh bangsawan sungguh luar biasa, apa dianggap tidak sopan jika kau tidak bertingkah sebanyak ini?

"Uhh, kami bukan bangsawan, hanya orang biasa. Jadi tidak perlu begitu hormat, tolong berhubungan saja dengan cara normal"

"Begitulah, pemilik. Danna memang bukan bangsawan, tapi dia pria terhormat yang lebih hebat dari itu. Dia akan sering menjadi pelanggan perusahaan Galgan, jadi aku ingin menjaganya bahkan setelah diriku kembali"

"Ohhh, aku mengerti. Meski bukan, aku masih akan melayaninya dengan segenap ketulusan seperti biasa"

Sang pemilik kembali ke posisi semula, setelah mengambil buku tamu dia lalu membungkuk pada kami. Tidak setingkat kaa-san, tapi bungkukannya cukup elegan. Ups, masalah sekarang bukanlah si pemilik, melainkan Zack.

"Zack, aku merasa tidak enak jika kau membayar biaya penginapan juga"

"Aku ini memang pria yang seenaknya. Seperti sebelumnya, tolong biarkan aku membayar"

"Tapi...."

"Maaf, bolehkah aku memotong sebentar?"

Sambil tersenyum, sang pemilik datang untuk turun tangan di antara kami, yang sedang saling mendorong beberapa koin perak.

"Tolong biarkan Zack membayar untuk menyelamatkan harga dirinya. Dia merupakan seorang pedagang yang tidak bisa menerima jika tidak menebus segala hutangnya dengan benar"

"Sama seperti si pemilik katakan. Aku akan berangkat besok, jadi tolong biarkan aku melakukan setidaknya sebanyak ini"

Melihat mereka berdua menundukkan kepala, aku kehilangan keinginan untuk mengatakan sesuatu. Apa boleh buat, jika memang ini yang harus dilalui maka aku akan memperkenankan kebaikan Zach disini. Hanya saja....si pemilik pandai menengahi ya. Seperti yang diharapkan dari seseorang yang mengurusi bisnis penginapan dan melibatkan berbagai orang.

"Baiklah, dengan rasa syukur aku akan menerimanya"

"Terima kasih. Kalau begitu pemilik, aku meninggalkan sisanya padamu. Aku akan datang lagi setelah mengantarkan barang dagangan"

"Ya, selamat jalan....Para pelanggan, tolong masukkan nama Anda disini"

Setelah kepergian Zack, kami menuliskan nama masing-masing di buku tamu. Akupun terheran dengan nama-nama sebelumnya yang tertulis karena banyak sekali yang serupa.

"Sirius-sama, Emilia-sama, Reus-sama, benarkan? Tulisan kalian bertiga sangat rapi. Karena ada cukup banyak orang yang tidak dapat menulis, aku sering menuliskan nama mereka"

"Itu sebabnya ada banyak tulisan tangan yang sama. Jadi ini adalah penginapan yang berorientasi pada rakyat jelata, bukan bangsawan ya"

"Persis. Kami memfokuskan tempat ini menjadi penginapan dimana orang awam bisa bersantai. Meskipun melihat kesopanan dan pakaian kalian bisa disalah kira sebagai bangsawan"

Kesampingkan kesopanan, pakaian kami layaknya petualangan biasa, jadi bagian mana yang seperti itu. Aku agak penasaran.

"Oh, astaga. Barang bawaan kita masih tertinggal di kereta. Reus, ayo mengejar Zack-san"

"Mengerti, nee-chan"

Begitu ya....rambut. orang awam biasanya tidak terlalu mengurusi kilau rambut mereka.

Apalagi Emilia, yang diajarkan berpenampilan baik dari kaa-san agar menjadi petugas yang cocok untukku. Rambut peraknya yang mengkilap halus, takkan ada yang menganggapnya sebagai petualang.

"Kalau begitu, aku akan membimbing Sirius-sama ke kamar sambil menunggu keduanya kembali. Ruang makan akan ditutup dalam dua jam, apa yang kau akan lakukan tentang makan malam?"

"Aku ingin makan bersama, tapi aku tidak begitu tahu kapan Zach akan kembali"

"Toko cabang perusahaan Galgan tidak jauh dari sini, sepertinya dia hanya akan memeriksa dan menyerahkan barang dagangannya. Itu mungkin tidak sampai satu jam. Haruskah aku memberitahunya dimana ruanganmu?"

"Tolong lakukan itu"

Kedua bersaudara kembali tak lama kemudian, kamipun diantar ke kamar.

Sepertinya ruangan besar ini awalnya untuk empat orang karena ada empat tempat tidur, tapi oleh sebab itu ruang lainnya kecil, jadi kamarnya hanya untuk tidur saja. Sedangkan toiletnya berada di tempat lain. Ini adalah toilet yang menyiramkan air menggunakan lingkaran sihir air. Merupakan fasilitas yang tidak buruk karena sering dibersihkan.

Sayangnya, tidak ada bak mandi. Di dunia ini biaya pemeliharaan untuk bak mandi begitu tinggi, selain dirumah para bangsawan, tak ada tempat untuk mandi di rumah-rumah pribadi.

Ketika berada di rumah, aku membangun membuat sebuah drum kayu, dan mandi menggunakan itu.

Biasanya, aku membersihkan diri dengan handuk yang direndam dalam air hangat, namun seperti yang diharapkan dari kota metropolis nomor satu di benua. Biayanya sedikit lebih tinggi, tapi ada tempat yang mirip pemandian umum, aku diberitahu bahwa kami bisa kesana.

Seusai menaruh barang bawaan, kamipun duduk di tempat tidur untuk mengambil nafas.

Karena berbagai hal, aku tidak sepenuhnya dapat beristirahat selama perjalanan. Jadinya aku sering tertidur sambil duduk.

"Ayo kita bicara sedikit sampai Zack kembali. Kita akan mengikuti tes masuk besok, kalian ingat isinya?"

"Wawancara dengan guru dan tes praktek untuk keterampilan sihir, kan?"

"Benar. Yang penting selama praktek, jangan sampai sihir tanpa mantra ketahuan. Jadi takkan masalah jika kalian membisikkan sesuatu sebelum menyebutkan nama sihir"

Seperti yang bisa diduga, menggunakan sihir tanpa mantra di usia ini akan membuat mereka menyelidiki berbagai hal. Sulit untuk menjelaskan bahwa imajinasi itu penting, dan jika mengumumkannya dengan buruk, itu hanya akan menghasilkan protes serius dari para peneliti berkepala keras. Waktu tidak bisa mengikuti perubahan yang terlalu mendadak, aku juga tidak ingin terlalu terkenal, jadi jika kami semua lulus tes, itu sudah cukup.

Kalau kami membisikkan kata-kata seperti mantra selama tes praktek, paling tidak mereka akan menganggapnya sebagai pemendekan mantra.

"Aku kebanyakan mengayunkan pedang, jadi aku tidak terlalu baik dengan sihir"

"Tidak apa-apa Reus. Sepertinya mereka hanya ingin melihat apakah kau bisa menggunakan sihir atau tidak. Takkan ada masalah walau kau hanya bisa menggunakan sihir tingkat dasar. Kau mungkin juga harus menunjukkan mereka 'itu'"

"'Itu', ya....apa boleh?"

"Silakan saja. Meski aku tidak tahu situasi apa yang akan kalian buat, tapi kalian bisa menunjukkannya kepada orang-orang di sekolah"

"Mengerti. Aku akan menunjukkan kepada mereka ajaran langsung Aniki!"

Aku hanya mengajarkan konsepnya, bahkan sering tidak kuabaikan. Reus bisa menggunakannya murni karena kemampuan dan hasil usahanya.

"Aku lebih khawatir dengan bagian wawancara. Cara bicara akan memengaruhinya kan...."

"Kau benar tentang itu. Bukankah ucapan sopan atau semacamnya sudah bagus untuk Reus?"

"Tidak apa-apa, Aniki! Aku akan berbicara sesuai yang diajarkan oleh Erina-san!"

Ada banyak orang setiap tahun, jadi aku tidak berpikir mereka akan menghabiskan berjam-jam hanya untuk satu kali wawancara. Tapi karena tindakan Reus yang biasa ini, aku merasa cemas.

Apalagi baru-baru ini dia sangat ingin tahu apakah dirinya mampu memotong benda kokoh atau tidak. Keadaan bisa berbelok ke arah yang berbahaya jika dia ceroboh.

"Yang tersisa adalah Sirius-sama, tapi....seharusnya tidak ada masalah"

"Ya! Khawatir tentang Aniki itu sia-sia!"

Sepertinya akan ada penilaian atribut sebelum melakukan tes praktek, aku tidak tahu bagaimana kesan mereka  terhadap 'Tak Berwarna' milikku. Hanya saja....yah, aku akan mengaturnya.

"Tinggalkan padaku, aku akan mengurus itu entah bagaimana. Bahkan jika tidak lulus, aku akan bekerja di perusahaan Galgan dan berperan sebagai tim distributor yang juga memberikan bahan untuk Dee"

"Tentu saja, kami juga akan ikut"

"Jika bandit dan semacamnya muncul, aku akan mengirim mereka semua terbang!"

Kakak beradik ini datang ke sekolah karena mereka ingin bersamaku. Jadi bahkan jika diriku sendiri yang gagal, rasanya mereka akan dengan santainya mengabaikan hasil dan mengikuti jejakku. Siswa-siswa yang dapat diandalkan.

Saat kami melanjutkan persiapan untuk besok, keduanya yang sedang beristirahat di tempat tidur mulai terlihat menjadi waspada.

Tenang, ini bukan musuh.

"Oooiii, Dannaaa!!"

Apa yang bisa didengar bersamaan dengan ketukan, adalah suara Zack. Emilia hendak segera membuka pintu, tapi Reus menghentikannya. Ooh, sepertinya kau mengerti. Bahkan jika itu suara seorang kenalan, pintu tidak boleh dibuka sembarangan.

"....Aniki adalah....?"

"Yang terbaik!!"

Aku terjatuh.

Sejak kapan kalian memutuskan untuk menggunakan kata sandi?! Atau kenapa isi kata sandinya seperti itu?! Ada banyak hal yang ingin aku tsukkomi.

Sementara aku memegangi kepalaku erat, pintunya terbuka. Zack muncul dengan senyum puas di wajahnya.

"Maaf sudah membuat kalian menunggu. Tapi sungguh, aku tersentuh begitu tahu kalian menantiku untuk makan malam"

"Aah, ya, kalau begitu ayo kita pergi"

"Kau bilang hidangan disini sangat lezat. Aku jadi tidak sabar"

"Begitulah. Bagian terbaik dari tempat ini adalah daging panggang Jaora Snake"

"Aku tidak berpikir itu akan menang melawan masakan aniki, tapi kedengarannya enak!"

Kami berjalan dengan harmonis ke ruang makan. Tak lama kemudian itu berubah menjadi makan malam meriah layaknya pesta kecil.

"Kalau begitu, untuk merayakan kalian yang bersekolah---"

"Tunggu sebentar. Kami bahkan belum lulus tes-nya"

"Eh? Tapi aku tidak bisa membayangkan kalau Danna gagal"

"Daripada itu, ada hal lain yang harus kita rayakan. Seperti pertemuan dengan Zack"

"Itu bagus juga. Kemudian, untuk pertemuanku dengan kelompok Danna, bersulanggg!!"

Sambutannya memang agak amburadul, tapi pesta tetap berlangsung.

Kami makan panggangan Jaora Snake yang sempat direkomendasikan oleh Zack, meski memiliki cita rasa yang terlalu kuat karena ditenggelamkan dalam minyak, tapi ini memang enak....Lebih seperti, ini hanya belut.

Aku ingin menyantapnya dengan saus kabayaki*, tapi sangat disesalkan karena itu tidak bisa dibuat tanpa kecap.
[Sebenarnya kabayaki itu nama masakannya. Unagi no Kabayaki. Emank dari belut sih. Yg pernah nonton Anime Ben-To pasti tau. Karena itu ada di episode terakhirnya. Malah nyaranin anime XD ]

"Aku tidak bisa makan terlalu banyak, tapi ini sangat lezat. Kurasa bisa dimengerti kenapa hal ini dikomendasikan"

"Aku juga suka! Rasanya pasti cocok dengan roti, enak!!"

"Unnn, aku pikir malah akan menjadi yang terbaik jika bersama nasi"

"Nasi? Apa itu hal yang sesuai dengan daging ini?"

"Apa itu nasi, Aniki? Apakah itu hidangan baru?!"

"Hohoh! Aku juga ingin mendengarnya lebih banyak"

Sejak mereka bertiga bertanya sambil mencondongkan tubuh, aku sempat menjelaskan bentuk dan kondisi untuk tanaman padi agar bisa tumbuh secara alami, juga tentang kecap kabayaki. Kesampingkan kedua bersaudara, Zack adalah seorang pedagang. Jika aku menjelaskan itu, dia mungkin bisa menemukan beras di suatu tempat. Gad bahkan menemukan saus yang diminta Dee.

"Aku akan mencarinya setelah kembali ke Almest"

"Bukankah Zack terlalu berlebihan? Kau menghabiskan berhari-hari untuk mengantarkan barang ke Elysion tapi kemudian kembali keesokan harinya"

"Hahaha, biasanya aku tinggal selama beberapa hari, tapi kali ini adalah pengecualian. Kami harus membalas kejahatan perusahaan itu dengan menggunakan kesaksian para bandit. Kau akan kalah jika meremehkan lawan terlalu banyak"

"Ya! Kau kalah jika meremehkan lawan!"

"Mereka memberi kita pengalaman yang sangat pahit. Ketika Aniki mendengar ini, dia akan benar-benar bersiap. Mungkin Aniki juga akan kembali pada saat yang sama denganku, setelah itu perusahaan kami akan berkumpul dan menghancurkan mereka!!"

Zack dipenuhi antusiasme. Walau pada akhirnya aman, itu tidak mengubah fakta kami telah diserang. Wajar saja jika orang-orang yang melakukan tindakan bodoh akan hancur.

"Kali ini aku benar-benar menyadari kekuranganku. Danna membuat kesempatan bagi perusahaan kami untuk menghancurkan sumber masalah. Jadi biarpun kebetulan, aku sangat senang bertemu kalian semua"

"Aku memang tidak mengarahkan situasi menjadi seperti sekarang tapi karena sudah terlanjur, lakukan itu agar tidak menimbulkan persoalan mengganggu di masa depan"

"Baiklah!! Lain kali aku kemari, aku akan membawa hadiah sebagai ucapan terima kasih bersama Aniki!!"

Makan malam berlanjut dengan suasana hati yang damai. Hari kamipun berakhir.


☆☆☆☆

Bagian 2


Besoknya, setelah menyaksikan sosok Zack yang kembali ke Almest pagi-pagi, kami sampai pada tujuan, Akademi Elysion.

"Waaaahh....Ini besar"

"Besar sekali! Jadi ini akan menjadi rumah baru kita, ya!"

Sama seperti yang dikatakan kedua bersaudara, gedung sekolah sangat besar hingga bisa dikira sebuah benteng....tidak, ini sudah menjadi istana. Kalau dilihat dari luar kota, bangunan ini menyembunyikan istana tempat tinggal raja dibaliknya, tapi aku tidak berpikir sisi belakang memiliki kastil dengan tingkat yang sama.

"Sekarang, dimana tempat tes-nya?"

"Sirius-sama, orang-orang berkumpul di sana. Terdapat juga anak-anak, jadi mungkin saja itu tempatnya"

Ke arah yang Emilia tunjuk memang ada kerumunan orang. Setelah semakin dekat, bisa terlihat suatu tanda pengumuman yang isinya {Tempat Pendaftaran Tes}. Ada juga sebuah bangunan dengan tulisan {Resepsionis} diatasnya, kamipun menuju ke sana.

Aku berpaling ke para pendaftar lain di perjalanan, tapi kebanyakan berpakaian layaknya bangsawan.

Ras binatang hanyalah minoritas. Meski begitu, ada anak bertelinga kucing atau kelinci, berbagai ras dengan telinga berbeda sedang mengobrol, berkumpul di tempat yang jauh dari para bangsawan. Sepertinya beberapa faksi sudah di buat.

Ada seorang pemuda berwajah muda yang duduk di meja resepsionis, dan memperhatikan kami. Dia mulai berbicara.

"Halo, apakah Anda datang untuk mengikuti tes pendaftaran?"

"Iya. Termasuk diriku, kami bertiga datang untuk mengambil tes"

"Aku mengerti. Ngomong-ngomong, apakah Anda semua membawa uang untuk pendaftaran? Maaf, tapi kadang ada yang kemari sebagai lelucon"

"Tidak apa-apa. Biayanya lima belas koin emas, kan?"

"Itu benar. Karena ada tiga orang, totalnya menjadi empat puluh lima. Sebagai imbalan atas koin emas, ini adalah barang untuk diserahkan kepada para pendaftar"

Sambil mengatakan itu, dia menunjukkan liontin bertahtakan permata giok pada kami. Sebuah angka terukir di bagian bawahnya.

"Ini sebagai bukti tes, teruslah gantungkan itu di leher kalian. Ini telah diukir dengan lingkaran sihir yang menyerang pemakainya jika dia meninggalkan area sekolah, jangan lari membawa itu"

"Bagitu ya. Kemudian, ini koin emasnya"

Uang yang aku dapatkan melalui berbagai hal, sirna begitu saja. Aku bukan menyesalinya, melainkan hanya emosional*.
[Mungkin dia mengingat masa-masa saat keluarga mereka berusaha mengumpulkan uang bersama Erina]

Setelah pemuda itu selesai menghitung koin-koin, dia memasukkannya ke dalam kotak dan memberi kami masing-masing satu liontin dan selembar kertas. Tampak seperti pamflet panduan sekolah.

Kamipun memakai liontinnya, dan membaca pamflet ini di tempat agak jauh dari sana.

Tes awal akan dimulai beberapa jam lagi. Setelah berkumpul di paviliun sekolah, yang pertama adalah menulis profil diri sendiri. Dikatakan bahwa mereka yang tidak dapat membaca ataupun menulis, tidak memenuhi syarat untuk diterima. Kau juga tidak dapat berkonsultasi dengan siapa pun di tempat, jadi pada saat itu, kau resmi dinyatakan keluar.

Setelahnya, lima anak akan dipanggil secara bersamaan untuk menjalani wawancara dan tes praktek. Sejumlah guru akan melakukan penilaian dengan cara membagi anak-anak itu dalam beberapa ruangan. Pergantian giliran nampaknya tidak buruk.

Lulus atau gagalnya seseorang akan diumumkan segera. Beberapa hari kemudian upacara penerimaan siswa barupun diadakan....begitulah informasinya. Ngomong-ngomong, ketika kau gagal dan menyerahkan liontin ini kepada pihak sekolah lagi, lima koin emas akan dikembalikan.

Untuk dunia seperti ini, pelayanannya sangat baik. Aku jadi berpikir inilah bukti bahwa sekolah sekaligus kepala sekolahnya cukup hebat.

Ketika menceritakan pemikiranku kepada kedua bersaudara, mereka menunjuk nama kepala sekolah yang tertulis di pamflet tersebut.

"Kepala sekolahnya bernama Rodwell. Ah, sepertinya dia adalah ras elf"

"Elf adalah ras yang hidup lama, kan? Keren! Dia mungkin sudah berumur lebih dari empat ratus tahun!"

"Kukira Elf merupakan ras yang sering diburu, tapi jika setenar ini mana mungkin dia ditargetkan. Aku ingin tahu orang macam apa dirinya"

"Sirius-sama telah bertemu dengan seorang elf sebelumnya kan?"

"Yah, begitulah. Aku jadi penasaran apa yang dia lakukan sekarang...."

Karena suatu peraturan, Fia tidak bisa meninggalkan hutan tempat tinggalnya selama sepuluh tahun. Sudah sedikit lebih dari tiga tahun sejak saat itu, pertemuan masih jauh di masa depan.

"Nah, karena sudah memiliki informasi yang cukup, ayo pergi paviliun. Nomorku adalah....Seratus lima puluh enam"

"Punyaku seratus lima puluh lima"

"Aku seratus lima puluh empat!"

"Aah, aku satu-satunya yang akan pergi dengan kelompok lain, ya. Ini bukan sesuatu yang harus aku katakan sekarang, tapi....percayalah pada kemampuan sendiri dan bertindaklah seperti biasa. Lakukan yang terbaik"

""Ya!!""

Kamipun mengikuti tes pendaftaran.

☆☆☆☆

Bagian 3

---Sudut Pandang Rodwell---


Aku adalah kepala sekolah Akademi Elysion, Rodwell.

Cukup menyenangkan ketika tahu banyak anak-anak yang energik berkumpul di tahun ini juga.

Nah, meski tes dimulai beberapa hari dari sekarang dan seterusnya, namun hari pertama memiliki tes paling banyak.

Dari penjelasan resepsionis, terdapat 163 pendaftar pada hari ini.

Jika seperti tahun lalu, ini akan mencapai tiga ratus. Tapi sesuai dugaan, hari pertama memang paling sulit.

Setelah peserta ujian selesai menulis profil masing-masing, mereka selanjutnya akan dipanggil ke kamar terpisah dalam kelompok lima orang untuk memulai wawancara.

Bahkan jika dikatakan profil, itu hanya hal sederhana berupa mencantumkan nama, atribut, dan sihir yang kau sukai. Guru di sekolah ini secara pribadi memeriksa mereka sambil melihat profil, dan memutuskan hasilnya setelah menyaksikan sihir para pendaftar. Umumnya ada 10% kegagalan yang disebabkan karena terlalu tegang atau kekurangan kemampuan, tapi apa boleh buat. Kau harus mencoba lagi atau menyerah jika kau tidak mau menghadapinya.

Nah, wawancara memang semacam itu, namun....mereka takkan pernah mengira bahwa ada aku, sang kepala sekolah bercampur di antara para guru. Tentu saja setelah menyamarkan diri, takkan ada yang tahu bahwa diriku adalah elf.

Aku memang tidak dapat melihat semuanya, tapi menyaksikan anak-anak melakukan yang terbaik seperti ini sudah cukup menyenangkan. Inilah yang agak kunantikan setiap tahunnya. Sedikit disayangkan karena terdapat beberapa masalah, seperti fakta bahwa diriku bersama Gregory-sensei. Dia adalah pria berbakat yang sangat mampu memanfaatkan atribut api dan bumi. Namun sikap sombongnya yang memandang rendah semua orang kecuali bangsawan, cukup menonjol.

Sejujurnya aku ingin segera memberhentikannya, tapi dia seorang bangsawan berpangkat tinggi, jadi akan menjadi hal yang merepotkan jika aku bertindak ceroboh. Sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu akhir-akhir ini, aku sampai berpikir ingin menugaskan seseorang untuk mengawasinya.

Singkirkan dulu pikiran sedih ini. Ayo kita saksikan calon siswa baru yang akan menjadi bintang dimasa depan.

"Atributku adalah bumi. Aku belum bisa menggunakan sihir serangan, tapi aku pandai membuat boneka"

"Api adalah keahlian utama di rumah kami, dan aku juga hebat dalam hal api. Aku akan menunjukkan kepada kalian {Flame Lance}, yang telah diturunkan selama beberapa generasi!"

"Angin merupakan puncak segalanya, dan anginku adalah yang terkuat. Saat aku mendaftar, sebuah legenda akan lahir di sekolah"

"Orang seperti diriku datang untuk mendaftar. Jika seseorang dari rumah kami mendaftar, tanpa diragukan lagi sekolah ini akan menjadi lebih terhormat"

"Uhh....aku cukup bagus di sihir air. Aku tidak bisa menggunakan sihir serangan....dan sama sekali tak bisa menggunakan sihir api"

....Hmm, seperti yang diharapkan, kebanyakan dari mereka adalah para bangsawan.

Ada beberapa yang menjanjikan, tapi banyak juga yang sombong dan terlalu bangga dengan nama rumah* mereka.
[Ingat ya. Nama rumah itu kayak nama keluarga/marga]

Terutama ada beberapa yang sampai salah paham bahwa guru penguji bisa disuap. Sayangnya bahkan ada guru yang menerimanya....investigasi dan pembersihan akan dilakukan di masa depan.

Haa....dulunya banyak anak yang tidak terlalu bangga pada kekuatan mereka dan terus berlatih....akhir-akhir ini kualitas terus menurun. Aku menantikan tes masuk setiap tahun, namun kenyataan ini semakin membuatnya suram.

Para ras binatang yang tak mau belajar dari lingkungan luar karena disudutkan oleh anak sebaya-nya, hingga ke para bangsawan yang bertebaran sambil menyombongkan sihir mereka. Terutama bangsawan, mereka sangat buruk. Meskipun sekolah secara luas mengumumkan bahwa tidak akan membedakan status sosial, semakin banyak kasus dimana mereka mengacungkan nama rumah untuk mengancam orang awam dan ras binatang.

Mungkin sudah saatnya membangun rencana pensiun.

Ketika memikirkan itu....aku bertemu mereka.

"Nomor seratus lima puluh empat! Reus Silverlion!"

"Nomor seratus lima puluh lima, Emilia Silverlion"

Ruang wawancarapun menjadi berisik. Dua anak dari ras serigala perak, yang langka di benua ini telah muncul.

Melihat profil, nampaknya mereka adalah saudara kandung.

Namun, alasan kebisingan ini bukan karena adanya ras langka. Pakaian mereka merupakan hal biasa yang dikenakan petualang, tapi sikap mereka sungguh menakjubkan. Seluruh perilaku sangat sempurna, hingga hanya dengan satu bungkukan yang ditunjukkan tadi, bisa membuat mereka disalah kira sebagai petugas raja.

Selain itu, penampilan mereka juga. Dari rambut perak berkilau yang rapi sampai otot kencang yang merupakan pertanda mereka telah berkembang dengan sangat baik. Tertulis disini adalah orang biasa, tapi mereka sungguh anggun layaknya bangsawan.

Yang terpenting, keduanya sama sekali tidak tegang. Seakan berkata bahwa mereka berada di sini karena hal yang wajar, duduk sambil membusungkan dada penuh dengan kepercayaan diri .

"Hmph....'Bukan manusia' yang mengkhawatirkan penampilan mereka"

"Anda bersikap kurang sopan, Gregory-sensei"

Menyedihkan. Ras binatang atau bukan, penampilan sangat baik seperti ini begitu jarang muncul bahkan diantara para manusia.

Setelah pendahuluan adalah penilaian atribut, yaitu dengan menyentuh bola kristal. Ini juga dilakukan untuk menyelidiki apakah ada atau tidaknya kecocokan antara warna kristal dan apa yang tertera di profil.

Sepertinya Reus-kun adalah api, karena kristal bercahaya dalam warna merah. Namun itu merupakan merah yang begitu indah. Seakan mewujudkan bahwa inilah warna api sesungguhnya. Kilau merah yang membuat para guru merasa takjub.

Berikutnya adalah Emilia-kun, kristal bersinar dengan warna hijau dari kekuatan anginnya.

Semakin terang cahaya, semakin besar Mana yang tersimpan dalam diri. Hanya saja, kecerahan hijaunya mampu membuat beberapa orang menutup mata. Setingkat ini dengan mudah melampaui penyihir rata-rata. Tidak, dia bahkan mungkin lebih hebat dari para guru di sini.

Tiga lainnya dalam kelompok lima orang adalah normal. Tidak ada poin yang perlu disebutkan, jadi aku mengabaikannya.

"Nah, Reus Silverlion. Dapatkah kau menunjukkan kepada kami sihirmu?"

Akhirnya, praktek yang sudah kutunggu-tunggu dimulai.

Satu sisi pada ruangan wawancara terbuka ke luar, dimana ada target berbentuk manusia yang dibuat oleh sihir beratribut tanah. Tugasnya hanya mengenai boneka-boneka itu dengan sihir, tapi aku menanti-nantikan hal apa yang akan dia lakukan.

"Ummm.....sebenarnya aku tidak terlalu pandai dengan sihir jarak jauh"

"Apa? Jangan bilang kau tidak bisa melakukan {Flame} yang sederhana? Sesuai dugaan, mereka hanya setingkat ini"

"Gregory-sensei, Anda harus diam....Jadi, apa yang ingin kau lakukan, Reus-kun?"

"Sihir unik milikku, tapi aku harus mendekati target. Jika targetnya sejauh itu, aku mungkin takkan bisa mengenainya"
"Begitu ya. Magna-sensei, tolong"

Salah satu guru pengawas, Magna-sensei adalah pengguna sihir tanah. Baginya untuk menambah jumlah target bukanlah masalah sama sekali.

Dalam sekejap mata, muncul boneka bumi di hadapan Reus-kun.

"Kalau begitu, silahkan lakukan"

"Mengerti. Nyalakanlah api mengelilingi tinjuku....{Flame Knuckle}!!"

Saat dia meneriakkan nama sihir, api besar meledak dari tangan kanan anak itu. Nyala merah padam seakan menyelimuti kepalan-nya, namun tak ada tanda-tanda dia merasakan panas.

Kecuali saudara perempuannya, setiap peserta ujian dan guru melihat dengan linglung, dia lalu mengayunkan tinju itu ke sasaran. Bersamaan dengan suara nyaring, boneka bumi luluh lantah. Apa yang tersisa dari disana hanyalah bekas hangus dari suatu adegan tragis.

Tentu saja ada faktor kekuatan fisik. Hanya saja....pada usia delapan tahun sudah menguasai sesuatu yang tidak kalah dengan {Flame Lance}, ditambah mampu memendekkan mantra menjadi satu kalimat---sungguh menakjubkan.

Diriku telah hidup selama lebih dari empat ratus tahun, namun jarang menemukan pemakai api seperti anak itu. Memang sangat kuat, tapi ini juga bisa menjadi pedang bermata dua yang dapat membakar penggunanya jika ragu dan kehilangan kontrol.

Meski begitu, dia melakukannya dengan tenang tanpa sedikitpun kecemasan.

Entah dia cukup bodoh sampai tidak peduli jika dirinya terbakar atau orang yang mengajarinya sangat terampil. Tidak, dengan kontrol dan kekuatan setingkat ini, dia pasti menerima pengajaran dari seseorang.

"Cih....Bukankah itu sihir cacat yang tidak bisa digunakan kecuali kau di dekat target?"

Di sampingku Gregory-sensei berbisik, dia sungguh tidak mengerti. Kau memang tidak bisa menggunakannya jika tidak mendekati musuh, tapi bila sudah didekat musuh, kekuatan setingkat itu sudah cukup memutuskan pertarungan. Jika kau memandang rendah hanya karena dia ras binatang, kau akan diejek, bodoh.

"....Se-Selanjutnya, Emilia Silverlion, tolong tunjukkan sihirmu"

"Mengerti"

Setelah dengan anggun berdiri, sambil mengibarkan rambut peraknya yang panjang, dia mengarahkan tangannya ke arah sasaran.

Si adik telah menunjukkan sihirnya. Hanya karena dia adalah kakak, tidak berarti dirinya lebih kuat. Tapi meski begitu, aku masih mengantisipasi hal ini.

"Wahai angin, robeklah. {Air Slash}"

Apa?! Tidak hanya kecepatan pengubahan Mana yang lebih cepat daripada si adik, dia juga memperpendek mantra tingkat menengah sebanyak itu?!
Aku tidak percaya....namun angin bertiup kencang, jadi sepertinya sihir berhasil aktif.

"....Tak ada yang terjadi"

Sama seperti kata gregory-sensei. Walau jelas-jelas kena, targetnya tidak bergerak sedikit pun.

Aneh, pastinya ada tanda-tanda pengaktifan sihir....apa artinya ini?

{Air Slash} adalah sihir tingkat menengah yang melecutkan sebuah bilah angin pendek nan tajam. Harusnya ini dengan mudah memotong target semacam boneka bumi menjadi dua.

"Mengejutkan saja, inilah yang terjadi saat kau mencoba menggunakan sesuatu seperti sihir tingkat menengah. Cepatlah gunakan sihir dasar!"

"Tidak, ini sudah berakhir.....Dampak angin {Air Shot}"

Sihir barusan bahkan satu langkah lebih pendek dari {Air Slash}, tapi tetap saja, cepat!!.

Dia melepaskannya seolah hanya dengan mengayunkan tangan, kecepatannya sama....Tidak, lebih cepat dari guru sekolah ini!

{Air Shot} yang melesat hanya menabrak bagian kepala target, dan lenyap setelah sedikit menyentuh. Sihir ini harusnya memiliki kekuatan cukup untuk menghancurkan sasaran, meski begitu....bukankah ini hanya sedikit menggoncang target?

"....AP---?!?!"

Aku tidak tahu siapa yang berteriak. Mungkin itu disebabkan ketika kau melihat....sayatan yang tak terhitung jumlahnya muncul pada target, dan boneka bumi runtuh menjadi banyak bagian.

Dengan kata lain, tidak hanya satu bilah angin, setidaknya ada empat yang dilepaskan pada saat bersamaan. Kekuatan kontrolnya mampu mengendalikan jalur pisau-pisau tajam  dari sihir ini teralihkan sehingga membuat target tak jatuh kecuali disenggol.

Sekali lagi, siswa baru yang luar biasa telah muncul.

"Itu saja"

Setelah membungkuk dengan elegan, dia kembali ke tempat duduknya.

Nah, untuk hasilnya....tiga anak yang lain memenuhi persyaratan, juga tak ada hal yang perlu dikatakan tentang kedua bersaudara. Bahkan Gremory-sensei yang membenci ras binatang tidak mampu memberi kritik apapun.

"Kalau begitu, tak ada masalah jika mengatakan mereka semua lulus kan?"

"T-Tidak keberatan"
"Tidak keberatan juga"

"Kuh....Tidak keberatan"

Mendengar kata-kataku, kelima anak yang duduk mulai bersukacita dengan wajah yang pucat. Kecuali untuk kedua bersaudara, seolah berkata ini hal yang wajar, diam-diam senang sambil saling menepuk telapak tangan masing-masing.

Setelah itu mereka meninggalkan ruangan. Hanya saja karena rasa penasaran, aku berseru untuk menghentikan kedua bersaudara.

"Maaf, tapi bisakah kalian berdua menunggu sebentar?"

"Ya....ada apa?"

"Aah, kalian tidak perlu khawatir karena hasil sudah diputuskan dan takkan di ubah. Aku hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan"

Keduanya berhenti sambil keheranan, lalu menghadap ke arahku. Muncul suara decakan lidah di dekat sini, tapi aku akan mengabaikan itu.

"Kedua sihir kalian benar-benar luar biasa. Ngomong-ngomong, boleh aku tahu dari mana kalian mempelajarinya? Atau apa kalian melatihnya sendiri?"

"Kami diajari oleh orang yang paling kami hormati"

"Hou. Jika tidak apa-apa, bisakah kalian memberi tahuku namanya?"

"Sirius-sama. Orang yang merupakan master kami"

"Master? Kalian berdua petugas?"

"Itu benar. Dia adalah sosok hebat yang menyelamatkan dan mendidik kami. Kami sangat bangga menjadi petugasnya."

Dia menjawab dengan manis dan meyakinkan, adik laki-lakinya juga mengangguk.

Setelah menanyakan apa yang ingin di tanyakan dan membiarkan keduanya pergi, kami, para guru membicarakan itu sambil beristirahat sejenak.

"Kalian mendengar percakapan barusan kan? Ada yang pernah mendengar nama itu sebelumnya?"

"Tidak. Dari ketajaman angin itu, kupikir dia belajar dari Dora of the Storm*"
[Ini termasuk tanda bahwa cerita novel ini bakalan sangat panjang]

 "Aku juga tidak ingat pernah mendengarnya. Seorang penyihir yang bisa mengajarkan sihir seperti ini pastilah terkenal"

"Siapa yang peduli dengan seseorang yang membuat para 'bukan manusia' itu sebagai petugas!"

Aku tidak meminta pendapatmu.

Bagaimanapun, melatih para petugasnya hingga sangat kuat dan dihormati dari lubuk hati. Aku bertanya-tanya siapa Sirius ini?

Haruskah aku meminta sedikit lebih banyak tentang karakteristiknya? Yah lagipula, hasil pendaftaran mereka sudah diputuskan, jadi aku bisa menanyakan itu nanti.

"Unn....kepala sekolah. Lihatlah profil ini*"
[Yang tau Rodwell sedang menyamar hanyalah Magna-sensei]

"Hmm? Nama itu tidak disebutkan di salah satu profil mereka, kan?"

"Tidak, bukan pada profilnya, maksudku adalah nama dari peserta tes berikutnya...."

"Hmmm....Ini?!"

Nomor seratus lima puluh enam....Sirius Teacher.

Apakah sebuah kebetulan? Tidak, karena ini merupakan nomor urut, ada kemungkinan besar dia memiliki hubungan dengan kedua bersaudara itu. Usianya....delapan tahun?! Tak dapat percaya kalau dia melatih kakak beradik hingga sekuat itu. Apa dia memang orangnya?

Namun....aku merasa seolah ini terlalu bagus untuk menjadi suatu kebetulan.

"Dia sedang menunggu di ruang wawancara sebelah....Apa yang harus kita lakukan?"

"Tolong beritahu mereka segera bahwa kita akan bertanggung jawab atas dirinya di sini"

"Baiklah, aku mengerti!"

Setelah melihat guru itu yang segera pergi, aku bersandar dikursi dan menutup mata.

Tinju api Reus-kun, sihir angin Emilia-kun. Orang dengan bakat luar biasa yang belum kulihat dalam waktu lama, dua sekaligus langsung muncul disaat bersamaan. Selain itu, terdapat anak laki-laki dengan nama yang mirip seperti orang yang melatih mereka.

Sekarang....aku tidak tahu apakah dia adalah master keduanya atau tidak, tapi siapa sebenarnya dia?

Secara pribadi, aku berharap kalau dia memang master mereka.

Bagaimana dia melatih keduanya?

Seberapa banyak bakat yang dimilikinya?

Ketika tersadar, diriku kegirangan layaknya anak kecil. Berlawanan dengan usiaku.


☆☆☆Chapter 26 berakhir disini☆☆☆

World Teacher chap 26 B.indonesia

Posted by : Kinderboy 0 Comments
Chapter 25 Masalah hanyalah suatu peristiwa yang lain
Diterjemahkan oleh ZasuNovel




Bagian 1

"Kalian!! Jangan berani bergerak!!"

Orang yang harusnya mengawal kami tengah menahan leher Emilia dan menyodorkannya pisau.

"Sialan....Mengambil sandera pada saat ini, kalian adalah kaki tangan mereka?!"

"'Seperti itulah. Cepat buang senjatamu!!"

"Apa kau tidak malu menyandera anak kecil? Aib bagi seorang pria!"

"Berisik, menang adalah hal terpenting!! Aku tidak akan menjamin apa yang terjadi pada ojou-chan ini jika kau tidak membuang senjatamu!!"

Ketika Zack dengan marah membuang pedang di pinggulnya, aku memutuskan melakukan hal serupa. Jika situasi diperhatikan dengan seksama, Emilia tampak hanya merasa jengkel tanpa kesakitan. Ada tas berisi air di genggamanya, mungkin gadis ini tadinya ingin menyerahkan itu padaku.

"Kami sudah tidak punya senjata apapun, jadi cepat turunkan anak itu!"

"Belum! Beritahu bocah di kejauhan agar juga membuangnya!"

Biasanya, kejadian yang muncul adalah Reus bergegas menuju kami dan menghajar mereka tanpa berkata apapun. Tapi, aku menyuruhnya menunggu dikejauhan untuk mengawasi para bandit. Masih ada waktu sampai orang-orang itu tiba disini. Untuk sekarang, ayo mengumpulkan informasi dulu.

"Uhhh....Onii-san seorang petualang, kan?"

"Apa, tidak bisakah kau mengerti hanya dengan melihat?"

"Para petualang adalah orang yang kuat, kan? Lalu kenapa mereka takut pada anak bersenjata? Jadi aku berpikir mungkin saja salah"

"Bocah ini....hei kau, lindungi punggungku! Abaikan yang di luar!!"

Dia lalu menyuruh kawannya untuk mengawasi titik buta sedangkan dirinya memperhatikan kami.

....Lucu, dia tertipu terlalu cepat. Yang penting, aku bisa mencegah Reus melucuti senjatanya.

"Apa tujuan kalian? Jika itu uang, aku bisa memberikan semua barang bawaan di kereta, biarkan anak-anak pergi!"

Ooh, kau orang yang baik ya, Zack-san. Seorang pedagang memprioritaskan keselamatan kami daripada barang bawaannya. Kau pria menakjubkan.

"Hah! Itu tidak perlu karena kami akan merampok semuanya! Bocah-bocah disini memiliki penampilan yang tidak buruk, harusnya bisa terjual sebagai budak dengan harga layak!"

Mendengar kata 'budak', wajah Emilia memucat. Mungkin trauma lama menghantamnya lagi. Tubuh kecil itu mulai gemetar, menunjukkan gejala berbahaya.

Haruskah aku menembak kepala preman ini? Tidak, perlakuan itu agak terlalu kasar. Aku akan membiarkan Emilia mengatasinya.

"Emilia, dengar baik-baik"

"....Ya...."

"Tutup mulutmu, bocah! Daritadi kau terus mengomel!"

"Kau telah menjadi kuat. Ingatlah hari-hari pelatihanmu"

Aku mengabaikan pria yang mulai berteriak itu dan terus berbicara dengan Emilia. Tampak mengingat, gadis ini terpejam. Setelah beberapa detik, dia perlahan membuka mata. Tanda-tanda ketakutan yang sebelumnya tertempel di wajah sekarang telah sirna.

"Sudah ingat? Kalau begitu, lakukanlah! Orang-orang setingkat mereka dapat kau kalahkan dengan mudah!"

"Ya!"

Pada momen ketika pria itu terkejut dan lengah karena suara nyaring dari sandera, Emilia menyelinap keluar dari lengan yang menahannya.

Memegangi tangan orang yang menggenggam pisau, dia menggunakan Aiki*, membuat pria itu terpelanting dan jatuh. Aku kira dia akan menjauh, tapi ternyata serangannya belum selesai.
[Menurut sekumpulan literatur yang pernah kubaca, Aiki adalah prinsip utama dari senibeladiri seperti Aikido, judo, taichi, dll. Agak panjang ngejelasinnya. Anggap aja Emilia menggunakan teknik bantingan dari Aikido, karena itu juga mengandung Aiki]

"Satu-satunya yang bisa menyentuhku....hanya Sirius-sama!!"

Melanjutkan dengan teknik seoi-nage*, dia melemparkan orang itu. Sambil menabrak pria dibelakangnya, dua preman terbang bebas diudara, keluar dari kereta.
[Lemparan bahu. Kayak gini . Btw, yg kurang paham dimana tepatnya adegan ini terjadi, ingat kalo kedua petualang, Emilia, Sirius dan Zack berada dalam kereta. Hanya Reus yg berlari (sebagai bentuk latihan) diluar. Jadi adegan Emilia yg membanting kedua petualang itu berlangsung didalam kereta. Rangkaian kalimat dari penulisnya juga sempet buat aku bingung]

"Haah?! Pria itu baru saja terbang....Eehhh?!"

Sambil meninggalkan Zack, yang ternganga, aku mendekati Emilia dan membelai kepalanya. Dia terengah-engah, tapi tenang saat mendapat belaianku dan perlahan tersenyum.

"Sirius-sama....aku, berhasil"

"Ya, kau melakukannya dengan baik. Emilia bukan lagi gadis lemah yang hanya menunggu untuk menjadi budak lagi. Kau sudah membuktikannya"

"Itu berkat Sirius-sama"

"Salah, inilah hasil kerja kerasmu. Sekarang, tinggal mengurus musuh yang tersisa"

"Ya!"

Emilia mundur. Aku menepuk bahu Zack lalu menyerahkan peralatan yang dia jatuhkan.

"Zack-san, apa kau baik-baik saja?"

"A-Aah, Danna....siapa anak ini?"

"Penjelasannya nanti saja. Untuk sekarang ayo keluar dari kereta dan bertarung. Musuh akan muncul"

"Tidak, jumlah mereka bukan hanya beberapa. Daripada melawan, kita harus pergi dari sini...."

"Dengan kereta berisi barang-barang berat, kita tidak akan lari lebih cepat dari mereka. Jadi, ayo keluar dan menghadapinya"

"Kemampuan berpedangku tak terlalu bisa diandalkan. Tergantung lawannya, lebih dari dua akan jadi mustahil"

"Tidak masalah. Selama kau bisa melindungi dirimu sendiri, Reus dan Emilia akan membereskan sisanya"

Aku mengalihkan pandangan ke Emilia. Wajahnya dilimpahi motivasi, seolah berkata 'Serahkan padaku!'. Baiklah, sepertinya dia telah kembali normal.

"Ngmong-ngomong, ayo. Kita tidak bisa mengurus musuh di dalam kereta, barang-barang disini akan rusak"

"Yah, benar juga"

Sikapnya tampak enggan, namun Zack mengikuti saat kami keluar.

"Aniki, Nee-chan, kalian baik-baik saja?!"

Tepat setelah keluar, anjing setia Ha---*....bukan. Reus berlari, aku menenangkannya juga dengan tepukan di kepala. Para petualang yang tergeletak ditanah mulai bangun dengan goyah. Mungkin lemparan tadi terlalu berlebihan untuk mereka.
[Mau bilang Hachiko, si anjing setia Wiki. ]

"Aniki, apa mereka kita anggap Musuh?"

"Ya. Orang-orang bodoh itu mencoba menjual Emilia dan dirimu sebagai budak lagi. Bersihkan saja mereka semua sekaligus teman-temannya yang akan segera tiba"

"Jadi begitu! Aku akan melakukannya!!"

Melepaskan geraman seakan dirinya akan bertransformasi lagi, dia melotot tajam pada para petualang. Yah, pihak lain juga marah karena merasa kalah.

"Si-Sialan....Apa-apaan bocah itu?"

"....Aku tidak tahu juga, tapi dia kuat. Apa mereka belum sampai?"

Mereka mulai waspada meski tahu kami hanya anak-anak dan memilih menunggu bala bantuan. Penilaian akan situasi orang-orang ini kurasa sudah biasa diantara para petualang.

"Apa yang akan kita lakukan, Danna? Lebih baik mereka disingkirkan sebelum teman-teman mereka datang, ya kan?"

"Itu sudah terlambat. Kita akan melanjutkan rencana semula"

Aku bisa merasakan kehadiran mereka bahkan tanpa {Search}. Sekumpulan orang yang memiliki kesan berbahaya mulai berkumpul dan menghadang jalan didepan maupun belakang. Para petualang itu berlari kearah seorang pria yang mungkin pemimpin kelompok. Mereka mulai melaporkan situasinya.

"Oi oi, apa yang terjadi? Tugas kalian seharusnya melucuti senjata mereka kan?"

"Mereka lebih kuat dari yang kami duga. Ini akan berakhir jika kau lengah karena penampilan mereka yang seperti bocah biasa"

"Menyedihkan, kau menyalahkan bocah-bocah itu atas ketidak becusanmu sendiri....Hei, kau yang disana!! Kesini sebentar!!"

Mungkin memang pemimpinnya, dia mulai memberikan perintah. Seorang pria lalu maju menuju ke arah kami.

Pria itu berhenti di depan Reus, dan melotot dengan ancaman. Para preman ini sangat mudah dimengerti.

"Oi bocah, cepat jatuhkan senjatamu. Jika tidak, kau akan kesakitan"

"Hei, apa kalian bandit?"

"Ya, bandit. Bandit terhormat yang akan menjual kalian dengan harga tinggi"

"Kalau begitu, aku tidak akan sungkan"

"Aah? Apa yang kau---GEFUUGHHH?!?!"

Tinju Reus tenggelam ke pusat wajah lawan. Pria itupun pingsan tanpa mengetahui apa yang terjadi.

Pria itu terus bergulung ditanah, lalu berhenti tepat di depan kaki pemimpin mereka sambil mimisan.

"Reus, teruslah seperti itu. Emilia akan mengurus musuh yang ada di depan gerbong"

Kecuali yang baru saja pingsan, jumlah musuh adalah sepuluh orang. Enam di belakang kereta, tiga di depan. Sisanya....

"Sirius-sama, bagaimana dengan yang di atas sana?"

Terdapat seseorang yang bertengger disebuah pohon sebelah kiri. Mungkin dia bertugas menyerang dari jauh dengan busur. Namun jujur saja, tak ada gunannya jika mereka hanya menugaskan satu orang.

Aku lalu mengambil sebuah batu seukuran kepalan.

"Aku yang akan mengurusnya. Jadi, apa kalian sudah siap?"

Postur tubuh Reus berubah serendah mungkin dengan tanah seolah tertarik gravitasi. Disisi lain, Emilia menghunus pisaunya dan mulai fokus. Sedangkan diriku membidik menggunakan batu, mengincar target pria di pohon itu.

Menggunakan segenap kekuatan dorongan tanganku, batu inipun melesat membelah udara.

"Mulai bertempur!!"

""YAA!!!""

Bersamaan dengan orang yang kubidik jatuh, Reus berlari.

Tak seperti Emilia, anak ini berlatih tanding melawanku dan Lior hampir setiap hari. Orang biasa mungkin sudah tidak akan mampu bertahan. Tapi dia mirip dengan Lior, suka bertarung dengan yang kuat.

Dia terus mengulangi pertarungan sambil memikul trauma ketika menjadi budak. Ini memang pertama kalinya dia menebas manusia, tapi jika itu menyangkut keselamatan saudaranya, dia takkan belas kasihan.

Setelah menendang bumi, sosoknya melecut kencang. Selesai memotong lengan penyerang dihadapannya, dia langsung melompat ke dekat si pemimpin.

"A-Apa?!"

"URRRAAAAA!!!!!"

Keheranan dan terkejut dengan apa yang terjadi, pemimpin itu mengayunkan kebawah pedang besarnya, menghadapi Reus yang menebas ke atas. Seiring dentangan tinggi suara logam, kedua senjata mereka bertabrakan tepat ditengah. Reus kemudian mengambil jarak sambil mendecakkan lidah.

"Sial, aku belum bisa mengenainya!"

Benar saja. Jika ini Lior, musuhmu memiliki pedang berbilah besar bukanlah masalah, pria tua itu pasti mampu membelah orang sekaligus senjatanya.

Tingkat kemampuan Reus memang sudah tinggi, namun dia masih nampak berkecil hati.

"Seperti yang kukatakan!! Hei kalian, kita akan menahannya!! Kau, serang bocah berambut hitam itu!!"

"Anak itu sepertinya pemimpin mereka. Jika kita menyanderanya, yang lain pasti berhenti juga"

"Jauhkan tanganmu dari aniki!!!"

Kedua petualang bekerja sama dan mengurus serangan Reus.

Aku juga mengajarinya sedikit beladiri tangan kosong. Namun karena tidak terlalu mahir, anak itu berhasil dicegah pergi oleh mereka.

Pemimpinnya kembali mengangkat pedang. Hanya saja, Zack berdiri seolah melindungiku dan membalas dengan menghunus pedangnya sendiri.

"Aku tidak bisa hanya mengandalkan anak-anak. Takkan pernah kubiarkan kau mendekatinya!!"

"Pergi kau, pedagang rendahan!!!"

Semangatnya sungguh luar biasa. Hanya saja dari perkiraanku, kemampuan bertarung Zack berada dibawah pemimpin para bandit. Aku tidak ingin pria baik ini terluka....apa boleh buat.

"Kau pikir aku tidak bisa bertarung hanya karena seorang pedagang?! Itulah kesalahan besarmu!!"

"Kau pikir bisa menang melawan---AGGGAHHH?!?!"

....Si pemimpin mendadak jatuh di punggungnya, membuat kepalanya terbentur dan berhenti bergerak.

Meski merasa tidak enak kepada Zack yang masih bersiap dengan pedangnya, aku malah mengakhiri ini dengan cepat....

Biar kujelaskan, apa yang kulakukan hanya melilitkan {String} di kaki si pemimpin lalu menariknya dengan kuat.

"HEYYAAAA!!!!"

Di saat, bersamaan seorang petualang terhantam tepat didagunya. Pukulan itu cukup keras untuk menyingkirkan kesadaran, sedangkan yang lain terlihat sudah tegeletak ditanah. Jika ada sebuah gong disini, mungkin akan berbunyi dengan nada indah.

"Maaf, aniki! Aku tidak bisa menahannya!"

"Jangan khawatir. Kau membereskan hampir semua dari mereka sendirian, itu sudah cukup bagus"

"Un. Haah....aku berharap ada pedang yang lebih baik...."

Aku agak menyesal karena tidak memiliki pedang yang cocok untuk kemampuan Reus. Dia mencoba mengambil pedang dari para bandit dan mencoba mengayunkannya, tapi langsung dimasukkan ke sarungnya sambil menggeleng.

Begitu sampai di Elysion, aku akan mencarikannya senjata yang bagus.

"Tidak, tidak, apa yang kau keluhkan? Reus sungguh luar biasa. Aku belum pernah melihat seseorang yang kuat di usia ini"

"Aku sudah banyak belajar, Zack-nii. Aniki bahkan lebih menakjubkan!"

"Ha, haa....Danna, ya. Tunggu, dimana Emilia-chan?!"

"Harusnya sudah berakhir. Lihat, itu dia"

Mengalihkan pandangan ke depan kereta, disana....Emilia menari dengan indah.

Tak seperti Reus, serangannya lemah. Namun itu berbeda ketika dia menggunakan sihir melawan orang lain. Sebuah {Air Slash} yang dilepaskan ke arah sembarangan bisa berubah menjadi alat eksekusi dan mencincang musuh dalam sekejap. Aku menyuruhnya agar sebisa mungkin tidak membunuh, itulah kenapa gadis ini menahan kekuatannya. Meski begitu, dia mengurus tiga orang dengan reflek dan kecepatan yang sudah terlatih. Mencari celah dan menebas titik vital mereka menggunakan sebilah pisau.

Selain itu, dia menggunakan sihir untuk lebih mempercepat dirinya sendiri. Setiap kali rambut Emilia melambai sambil meninggalkan kemilau perak, luka tebasan di tubuh tiga bandit bertambah

"Apa-apaan dia ini?!?!"

"Walaupun aku bisa melihatnya, seranganku tak pernah kena!! Kenapa---UGHH?!?!"

"AH!! Menjauh! Menjauuhhh!!!"

Memang hanya menimbulkan setumpuk luka ringan, tapi itu sudah cukup untuk melenyapkan keinginan bertarung mereka. Emilia pun terdiam ketika menemukan waktu yang tepat lalu menunjuk dengan pisaunya.

"Selanjutnya adalah tenggorokan kalian. Namun, jika kalian menjatuhkan senjata dan menyerah, aku akan berhenti. Bagaimana?"

Hmmm, senyum itu memang manis....sekaligus menyeramkan. Karena berasal dari anak kecil, kesannya menjadi lebih menakutkan*. Melihat ini, ketiga bandit dengan panik membuang senjata mereka.
[Entah kenapa aku jadi teringat boneka Chucky]

"Sirius-sama! Aku sudah selesai!"

"Kerja bagus. Sekarang, kita ikat tangan bandit-bandit ini dan mengumpulkan mereka di satu tempat"

"Mengerti. Zack-san, apa kau punya sesuatu sebagai pengikat?"

"A-Aah. Kurasa ada di dalam kereta"

"Aku juga akan membantu!"

Sementara ketiga bandit sedang diikat....satu orang lagi muncul.

Aku telah sadar akan keberadaan orang ini, namun hanya membiarkannya. Itu karena selama apapun waktu berlalu, dia tak pernah menampakkan diri.

Kenapa dia baru muncul sekarang?

"....Seseorang memohon, dengan mengorbankan nyala lilin sendiri. Untuk mewujudkan reinkarnasi api sesungguhnya---"

"Mantera!? Ini buruk! Dia penyihir!!"

"Aniki!!!"

"Sirius-sama!!!"

Penyihir….seseorang yang mampu menggunakan sihir tertentu, julukan ini biasanya disematkan pada orang yang mampu menggunakan sihir tingkat menengah.

Kami tidak berpikir dikelompok bandit akan ada seorang penyihir. Sontak, setiap orang mencoba menjauh, yah kecuali diriku. Dia mungkin menunggu kami lengah sambil bersembunyi.

"---Tombak api yang siap menembus siapapun, melesatlah {Fire Lance}!!"

Disaat nama mantra terucap, tombak dari api berukuran sekitar tinggi badanku muncul.

Hmm, ini pertama kali aku melihat pengguna sihir selain para petugasku. Lagipula, inikah sihir dasar dua tingkat lebih tinggi dari pemula, {Fire Lance}? Penyihir itu melotot padaku yang sedang terkagum, lalu membuka mulutnya sambil meluncurkan tombak api.

"RASAKAN INIIII!!!! PEMIMPIN DARI PARA MONSTERRR!!!!!"

Oh ayolah, anak-anak ini adalah para siswa manisku yang menjadi kuat karena usaha sendiri. Bukankah agak kejam memanggil mereka monster?

"{Impact}"

Karena Zack juga melihat, aku memutuskan untuk mengahiri ini dengan sihir normal dan bukan dengan sihir pistol. {Impact} yang aku tembakkan kecil, dan tampak bukan sesuatu yang bisa menandingi tombak api. Namun, saat keduanya bertabrakan, bola padat Mana akan menguraikan api dan menyebarkannya ke segala arah.

Tombak api pun lenyap.

"Ap---?!....Sihirku?!"

"Pengubahan aliran Mana menjadi sihir masih kurang. Setingkat ini bisa di imbangi dengan sihir kecil seperti barusan. Baiklah....sayangnya tak ada 'lain kali'"

Penyihir itu melangkah mundur melihat seringaiku, tapi kau tidak boleh pergi. Catatan kriminalmu adalah menista para siswaku, jadi ayo kita adakan sedikit pendidikan konseling.

Sementara diriku berjalan mendekatinya sambil memikirkan isi konseling, dua bayangan terbang melesat dari sisi dan melewatiku.

"Kepada Sirius-sama,---"

"Kepada Aniki,---"

Diiringi raungan, kakak beradik menerjang dengan kecepatan penuh menuju pria itu. Berpisah menjadi dua sisi dan mengepungnya.

""---BERANINYA KAUUU!!!!"

Emilia menargetkan perut, sedangkan Reus menargetkan wajah. Mereka menghantamnya dari kedua sisi.

Seperti yang diharapkan dari kakak beradik, waktunya sangat tepat. Pria itupun jatuh sambil memuntahkam darah. Dari caranya yang langsung jatuh, kau bisa memperkirakan seberapa tingginya teknik kedua bersaudara. Berdasarkan bunyinya saja, aku tahu itu sangat keras. Dia tidak mati, kan?.

"Nee-chan, orang ini sepertinya masih hidup? Kita akan menyelesaikannya?"

"Kita buat dia menyesal karena masih bernafas. Reus, ayo lakukan"

Tunggu tunggu!! Apa-apaan ini!!
Mata gelap itu, mereka serius. Meski pria ini telah pingsan, Reus meraih leher dan menggoyang-goyangkannya, sedangkan Emilia menatap dengan tatapan dingin sambil memegangi pisau. Oh omong kosong, benar-benar konyol.

"Emilia, Reus. House*!"
[Ini adalah perintah yg digunakan untuk anjing. Mungkin kayak 'kemari~!'. Aku juga gak terlalu tau sih karena gak punya anjing]

""Yaaa!!""

Aku menepuk kepala keduanya yang langsung menghampiriku. Sebenarnya, aku ingin mendengar beberapa hal dari mereka, hanya saja para bandit ini sudah kewalahan oleh pertarungan. Jadi, aku akan mengakhirinya disini.

"....Bagaimana ya, aku tidak bisa berkata apapun"

Meninggalkan penjelasan untuk Zack yang bingung nanti, aku akan mengurus terlebih dahulu para siswa.

"Kalian berhasil. Ada banyak hal tak terduga, tapi kalian mampu menyelesaikannya. Inilah hasil dari latihan keras kalian"

 "Yaayy!"

"Aku melakukannya!"

"Hanya saja, ketika aku diserang jangan bereaksi terlalu berlebihan. Kalian takkan bisa membuat keputusan terbaik jika tidak tenang"

Kali ini kedua bersaudara beruntung karena si penyihir panik tanpa bisa melemparkan serangan balik. Namun jika lawan kami tidak kebingungan, dia pasti akan melontarkan sihir sebelum kakak beradik mampu mencapainya.

"Sirius-sama ditargetkan. Aku takkan bisa tenang!"

"Orang yang menyerang aniki adalah musuh! Aku akan menjatuhkan mereka semua!!"

"Kalian....aku memang senang dengan ini, tapi akan lebih membuatku senang jika kalian dapat mengubah cara berpikir itu. Diskusikan dulu apa yang akan kalian lakukan dengan teman satu tim, prioritaskan untuk melumpuhkan musuh. Selanjutnya, kalian boleh menghajarnya sesuka hati, mengerti?"

"Ya. Kami harus melumpuhkan dulu, dan membuat mereka menyesal telah hidup"

"Aku paham! Kita bisa berbuat apapun selanjutnya, ya!"

"....Anak-anak ini, bukankah mereka agak ekstrem?"

Aku tidak bisa menyangkal kata-kata Zack. Tapi kami telah diserang tanpa alasan. Wajar saja jika kami membela diri atau bahkan membalas.

Setelah itu, aku memutuskan mengumpulkan mereka dan melakukan interogasi.

Ada masalah tanggung jawab dengan serikat petualang yang mengirim mereka sebagai pengawal, dan aku perlu membuat mereka menumpahkan penjelasan tentang jumlah bandit.

Setelah memberi perawatan minimal dan mengirim burung pembawa pesan ke kota Almest, Zack menanyai si pemimpin.

"Oi, apa kalian bandit yang berkeliaran di sekitar sini baru-baru ini?"

"Bagaimana jika benar?"

"Aku akan memaksamu meludahkan segalanya tentang jumlah dan dimana tempat persembunyian kalian. Gara-gara kalian bisnis kami berhenti berkembang, ini masalah yang serius"

"Persetan dengan itu"

"Bahkan sekarang?"

Zack mengancam si pemimpin dengan mendekatkan bilah tajam pedang ke lehernya, tapi pria ini hanya menatap Zack sambil tertawa.

"Hahaha! Lakukan saja jika kau mau. Kau takkan mengetahui apapun kalau aku mati. Seorang pedagang kecil takkan bisa berbuat sesuatu yang tidak biasa dia perbuat"

"Kuh...."

Sepertinya dia tepat sasaran, Zack menyingkirkan pedangnya sambil frustrasi. Tapi dia cepat pulih, dan mulai beralih untuk berbicara kepada para petualang sekarang.

"Apa kalian tidak malu? Menyandera anak kecil dan bekerja sama dengan bandit? Aku heran kenapa kalian menyebut diri sendiri sebagai para petualang yang terhormat"

"Aku tidak ingin mendengar itu dari pedagang yang diselamatkan oleh beberapa bocah"

"Dan aku tidak ingin mendengar itu dari seorang pria yang tangannya terikat. Bekerja sama dengan para bandit merupakan tindakan yang membuat serikat sebagai musuh, apa yang kalian mau?"

"Berisik! Sebuah perusahaan yang didirikan oleh mantan petualang tua tak berhak mengatur kami!"

"Apa?! Berani-beraninya kau menjelek-jelekkan Aniki!"

"Baiklah, waktunya berhenti"

Aku memaksa masuk ke percakapan karena ini hanya akan menjadi perkelahian.

Menenangkan diri setelah menjauh dari petualang itu, Zack menggaruk kepalanya merasa malu.

"Maaf, Danna. Aku tidak tahan jika Aniki di olok-olok"

"Aku sangat tahu perasaan itu!"

"Karena kau seorang pedagang, cobalah mengurusnya dengan sedikit lebih tenang. Kita masih belum tahu apa-apa"

"Aku menyesal karena bertindak memalukan. Akhir-akhir ini para pedagang menjadi target kejahatan bandit"

"Bukankah itu karena pedagang punya lebih banyak uang?"

"Meski begitu, tak ada korban di antara para pelancong. Karena mereka dengan santainya menyerang gerbong yang dijaga, Aniki mengira ada alasan lain dibalik ini. Jika kami bisa mendapatkan bukti dari orang-orang ini...."

Tapi kau tidak pandai dalam persoalan interogasi, karena itulah kau terjebak tanpa memperoleh satupun informasi.

Terus terang, kami bisa pergi ke Elysion tanpa perlu terlibat dengan preman-preman ini. Namun, mereka sempat memberitahu sesuatu tentang menjual kami sebagai budak di atas melibatkan orang yang tidak terkait. Kupikir aku akan membantu sedikit sambil memberi pelajaran kepada orang-orang ini.

"Zack. Boleh aku menginterogasi mereka?"

"Eh? Yah, aku tidak keberatan...."

"Terima kasih dan maaf. Sepertinya aku akan menggunakan sedikit barang dari kereta"

Setelah mendapatkan cat merah yang digunakan untuk melukis, aku berdiri di hadapan si pemimpin bandit.

"Apa yang bocah, dengan kedua ras 'bukan manusia' inginkan?"

Mengabaikannya perkataannya yang menyebalkan, aku menggambar lingkaran dengan cat di lengannya dan menulis 'Idiot' dalam bentuk kanji. Dari sudut pandangku, ini hanyalah keisengan. Tapi bagi mereka yang tidak mengenal bahasa jepang, pasti tampak seperti suatu pola misterius.

"Baiklah, ini selesai"

"Mencorat-coret seenaknya, aku pasti akan membuatmu menyesali ini"

"Kaulah yang akan menyesal. Lagipula, ini bukan sekedar coretan....melainkan kutukan"

"....Apa yang kau bicarakan"

Meskipun wajah dari si pemimpin menampakkan ketidaksenangan, aku memegang erat lengan dimana pola itu terukir seakan tak membiarkannya protes. Awalnya dia membuat ekspresi keheranan, namun disaat aku menggenggamnya lebih kuat, semua itu memudar dan kulitnya berubah pucat.

"A-Apa ini? Apa yang terjadi?"

Selanjutnya, aku mengambil sebuah pisau dan memotong sekitar bagian yang kupegang dengan ringan. Walau hanya menderita luka dangkal, dia bergetar.

"Hei, ada apa? Kau takut hanya karena luka setingkat ini?"

"Tidak! Ini tidak sakit! Meskipun tanganku digenggam sangat kuat, meskipun berdarah, ini tidak sakit sama sekali!!"

Terakhir, aku menusukkan pisau lebih dalam. Aliran deras darahpun mengalir, pria itu mulai menjerit saat berkeringat.

"A-Apa ini?! Kalian, apa lenganku benar-benar melekat?!?! Tak ada rasa sakit atau sensasi semacam itu!!!"

"Aku mengatakannya tadi kan? Ini kutukan"

Untuk sekarang, aku menghentikan pendarahannya dan menatap langsung mata si pemimpin sambil tersenyum. Apa yang tercermin disana adalah kebingungan....dan sedikit ketakutan. Di situasi tak masuk akal sekarang, senyumanku pasti tampak mengerikan.

"Aku mempelajari kutukan sebagai hobi dan ini telah kusempurnakan beberapa hari yang lalu. Singkatnya, jika aku menuangkan Mana pada pola yang telah kubuat....kau akan sepenuhnya mati rasa"

"A-Apa yang kau bicarakan?"

"Artinya, jika kau berbohong atau tidak menjawab pertanyaanku, kutukan ini akan menjadi lebih kuat. Pada akhirnya akan menyebar ke seluruh tubuhmu"

"H-Heh....kalau aku tak bisa merasakan sakit, tidak ada gunanya menyiksa, kan?"

"Kau belum memahaminya? Mati rasa sepenuhnya berarti kau takkan bisa merasakan apapun yang kau makan, kau bahkan takkan merasakan apapun walau sedang memegangi seorang wanita"

Dengan ucapan itu, ketenangannya menghilang. Dia pasti tengah membayangkan itu. Walaupun sebentar, tubuhnya bergetar hebat.

"Da-Danna! Bukankah itu terlalu berlebihan...."

Ups, sepertinya aku menakuti orang lain. Untungnya, Emilia langsung berbisik kepada Zack, jadi aku tidak perlu menjelaskan ini.

Jujur saja, ini adalah penerapan {Regenerasi Aktif}, aku hanya melumpuhkan sebentar sensasi rasa sakit dengan memberi stimulus berlebih menggunakan Mana. Dengan kata lain, itu seperti pemberian anestesi dan dapat kembali normal dalam jangka setengah hari.

Intinya adalah, ada cara lain untuk mengancam selain dengan pedang atau pukulan. Bagi mereka yang tidak tahu tentang anestesi, situasi saat ini hanyalah perwujudan rasa takut.

"Saat sudah terlanjur menyebar ke seluruh tubuh, itu akan mustahil untuk dinetralisir....Kalau begitu, bisakah aku mulai mengajukan beberapa pertanyaan?"

"A-Aku akan memberitahumu segalanya, Bou-chan!!*"
[Tuan muda. Atau sebutan yang disematkan pada bocah laki2 yang terkesan dimanjakan]

Nah, ini terlalu mudah.

Seseorang akan taat setelah kau menekan dua hasrat terbesar manusia.

Si pemimpin tanpa ragu-ragu dan lancar menjelaskan tentang rahasia mereka, bahkan termasuk informasi yang tak seorangpun pedulikan.

Setelah memperlakukan para petualang dengan cara yang sama, akupun mengetahui alasan mereka bergabung dengan bandit.

"Jadi, mereka penyebabnya. Sialan! Aku kira para brengsek itu takkan macam-macam lagi. Tapi ternyata mereka bertindak sejauh ini!"

Rupanya, bandit-bandit yang memburu para pedagang berasal dari perintah perusahaan lain, yang iri dengan pesatnya pertumbuhan perusahaan Galgan. Untuk menghancurkan perusahaan Galgan, mereka menggunakan preman-preman ini dengan membocorkan informasi tentang jalur distribusi dan menghancurkan perdagangannya. Mereka juga meminta agar menyerang beberapa pedagang yang tidak terkait, untuk menutupi jejak mereka.

Dua dari para petualang disini merupakan anggota dalam serikat yang sama, tapi belakangan ini pendapatan mereka semakin menipis tanpa pemasukan yang lancar.

Tampaknya, perusahaan yang bersangkutan menyuruh mereka agar bekerja sama dengan para bandit dan memberikan sejumlah besar imbalan. Senjata yang mereka simpan di kereta tampaknya disediakan oleh perusahaan itu juga, tujuan dari memegang senjata-senjata bagus itu agar mereka lebih mudah dipercayai. Itulah sebabnya meskipun orang-orang ini hanya tahu bagaimana menggunakan pedang satu tangan, mereka juga memakai senjata baru yang tidak biasa mereka gunakan.

"H-Hei....itu sudah cukup kan? Aku mengatakan semua yang kutahu, jadi tolong lenyapkan kutukan ini!"

"Baiklah, aku akan menghapusnya. Hanya saja, sebelum itu...."

Aku mengumpulkan perhatian para bandit, lalu mengambil batu lebih kecil dari telapak tangan dan memerasnya sangat kuat dibantu oleh {Boost}. Batu padat itupun hancur hingga hampir menjadi pasir.

Sambil memperlihatkan adegan ini, sudut bibirku melengkung ke atas.

"Jika kalian memanggil para siswaku monster dan menghina mereka diwaktu berikutnya, ini akan menjadi kepala kalian. Mengerti?"

Para bandit mengangguk berkali-kali dengan sangat cepat sampai-sampai aku berpikir leher mereka akan patah. 'Monster' harusnya merupakan sebutan untuk individu yang kemampuannya berada diranah lain. Ini bukan kata yang harus kau sematkan pada orang yang sedikit lebih kuat darimu

Menuruti keinginan si bandit, aku menyeka pola itu dengan kain dan menuangkan Mana-ku untuk menetralisirnya....atau begitulah yang sedang terlihat. Sebenarnya, aku hanya mengangktifkan sihir {Light}, namun pria ini sepertinya menganggap kutukannya benar-benar lenyap, wajah pucat yang tadi seakan mencair.

"Ah, ngomong-ngomong akan ada efek samping, jadi ini tidak akan sepenuhnya hilang sampai setengah hari. Karena kutukan takkan lenyap dengan cepat, tolong jangan mencari gara-gara pada kelompokku. Aku mungkin tanpa sengaja mengaktifkannya kembali"

Kulit wajah merekapun memucat lagi.

Yah, tak apa asal mereka berhenti macam-macam. Bagaimanapun, orang-orang ini akan dipenjara sambil menunggu keputusan tentang hukuman. Aku yakin mereka sudah belajar dari kejadian sekarang.

Setelah itu, aku melewati waktu menunggu para penjaga kota untuk menyeret kelompok bandit ini dengan menerima setumpuk rasa pemyesalan dari Zack.

"Aku benar-benar minta maaf. Situasi menjadi seperti ini walaupun aku pernah berkata akan menjamin perjalanan yang aman. Aku tidak memiliki satupun alasan untuk mengelak"

"Tidak apa-apa, barang bawaan kita masih aman. Lagipula, kami tidak keberatan sedikitpun"

"Tolong jangan terlalu formal. Ketika aku mendengar dirimu dari Aniki, sejujurnya aku agak ragu. Namun, setelah melihat kekuatanmu langsung, aku menjadi sangat kagum. Mulai sekarang, biarkan aku memanggilmu Danna dalam artian sesungguhnya"

Apa maksudmu dengan arti sesungguhnya? Yah, kurasa ini berarti aku sudah cukup dipercaya.

Zack terus meminta maaf, tapi bagi kami ini bukan masalah besar. Bahkan, kejadian ini berperan baik untuk menyembuhkan trauma kedua bersaudara.

"Jadi, apa yang harus kita lakukan? Kita sudah tidak sempat melanjutkan perjalanan karena matahari akan segera terbenam. Bagaimana kalau kembali ke kota bersama dengan para penjaga yang akan datang untuk membawa orang-orang ini?"

"Itu tidak perlu, kan?"

"Tapi, kesampingkan diriku, kalian belum terbiasa tidur di alam liar kan?"

"Malah sebaliknya, kami cukup mampu ketika tidur diluar. Lagipula, akan lebih baik jika kita tiba ditempat tujuan tepat waktu karena kau sedang mengantarkan barang"

"Seperti yang Sirius-sama katakan, kami tidak keberatan. Jadi, ayo kita lanjutkan"

"Danna....maaf karena kita tidak bisa menempuh jarak yang jauh hari ini. Namun, karena barang bawaan dari dua petualang sudah tidak ada, kecepatan kereta kita pastinya akan meningkat"

"Kalau begitu, ayo kita maju!"

Bersamaan dengan kami yang memutuskan tindakan, Reus mulai membuat keributan ketika dirinya sedang mengawasi keadaan sekitar.

"Aniki!! Ada bau orang-orang, mereka menuju kesini!!"

Sepertinya para penjaga kota telah tiba.

Meski tempat ini berjarak cukup jauh dari kota, enam orang penjaga tetap dikirim kemari. Ini mungkin karena kehebatan dari perusahaan Galgan.

Zack selesai menjelaskan situasinya, para banditpun dibawa.

☆☆☆☆

Bagian 2


Satu jam telah berlalu.

Kami berlanjut menuju Elysion seperti yang direncanakan. Kecepatannya memang sedikit naik, hanya saja begitu langit menggelap, kami mulai bersiap untuk berkemah.

"Aku akan berjaga diluar. Kalian bisa tidur di dalam kereta"

"Bukankah kita seharusnya berjaga secara bergantian?"

"Sirius-sama tidak perlu ikut. Tolong tinggalkan tugas ini kepada kami"

"Ditolak. Kecuali untuk situasi tak terduga, setiap orang harus mendapat bagiannya. Ini juga untuk mendapat pengalaman"

"Jika tetap bersikeras....Namun, giliran Sirius-sama akan lebih pendek"

"....Danna, apa kau benar-benar masih anak kecil? Aku merasa seakan dirikulah yang anak kecil"

"Aniki tidak dapat dipahami dengan logika!"

Walau ada sedikit gangguan, giliran untuk jaga malam diputuskan. Baiklah, selanjutnya adalah menyiapkan makanan.

Hidangan di kemping kami terdiri dari hal-hal yang mudah dan biasa seperti sup berisi roti keras dan daging dibumbui garam. Ini juga terjadi karena makanan yang diawetkan belum berkembang disini.

Tempat kami berpijak memang bukan padang pasir atau tanah tertutup es, melainkan jalan raya dimana kau bisa melihat hutan dari sana. Karena itulah, kalau kau berusaha, kau pasti akan menemukan sesuatu yang dapat dimakan.

"Seperti itulah, Emilia akan bertugas mengumpulkan tumbuh-tumbuhan seperti sayur dan lainnya, sedangkan Reus pergi berburu"

"Mengerti, aku akan mencari tanaman herbal"

"Baiklah, Aniki! Buruan dengan ukuran sedang, kan?"

Seusai menginstruksikan keduanya, aku mengambil panci yang agak kecil dan menciptakan lingkaran sihir api untuk mendidihkan air. Zack sedang melihatku sambil menelan sup roti dan dagingnya.

"Hmm....sepertinya kau tidak memerlukan porsi yang telah kusiapkan untukmu"

"Maaf karena mengecewakanmu, kami akan membuat makanan sendiri"

"Tidak perlu semenyesal itu. Aku akan berisitirahat sebentar setelah menghabiskan ini"

Akupun menghentikan Zack yang mengambil kantong tidurnya sambil masih menggigit sepotong roti.

"Tunggu, kau pastinya lebih suka mengunyah sesuatu yang hangat, kan? Bahkan jika kau sudah makan, aku tetap akan membuat porsi untuk Zack"

"Selain ditolong dari kejadian yang mengancam nyawa tanpa kehilangan satu barangpun, Danna juga mengurus makanan. Bagaimana aku harus membayar hutang ini?"

"Urusan dengan para bandit itu hanyalah suatu kebetulan, tidak perlu keberatan. Lagipula, aku ingin bertanya kesan tentang hidangan yang akan kubuat ini dari sudut pandang seorang pedagang. Anggap saja sebagai percobaan"

"Percobaan....Jika Danna yang melakukannya, maka aku tertarik"

Setelah melihat Zack melipat kantong tidurnya lagi dan duduk di sisi berlawanan, aku mengambil benda berbentuk balok dengan warna coklat dari dalam tas. Aku memotong-motong hal seperti tanah liat ini dan mencelupkannya pada air mendidih. Ketika air jernih berubah warna menjadi coklat juga, suatu aroma mulai melayang diudara.

Mirip dengan miso*, tapi bukan miso. Anggap saja sebagai sup yang dasarnya terbuat dari bahan-bahan dari dunia ini.
[Bisa dibilang bumbu khas Jepang. Mungkin udah banyak yg tau karena baisanya dibuat kuah buat mi atau makanan lain. Wiki]

"Oooh....dari aromanya saja, ini pasti lezat. Apa yang Danna celupkan tadi?"

"Itu hal yang terbuat dari campuran garam dan berbagai rempah-rempah lain, aku mengeringkannya agar lebih mampu bertahan lama. Lalu, dilelehkan pada air panas agar bisa dikonsumsi"

Proses pengeringan memang membuat makanan lebih awet, hanya saja akan mengurangi rasanya. Disamping itu, sekarang kami sedang dalam perjalanan panjang, jadi aku memilih titik tengah, yaitu benda seperti tanah liat ini. Karena Zack menatap penuh keingintahuan, aku menyendokinya sedikit dan memberikan itu kepadanya.

"Ini....PANAS!!!!"

Oi, oi. Ini bukan sesuatu yang harus dimakan langsung. Tentu saja kau merasa panas. Kau melakukan sesuatu seperti Reus di masa lalu.

"Sirius-sama, kami kembal!"

"Aku sudah selesai berburu, aniki!!"

Kedua bersaudarapun kembali sambil menunjukkan hasil mereka.

Emilia juga mengumpulkan tanaman herbal. Aku mungkin bisa menggunakanya sebagai pemberi aroma pada masakan.

"Luar biasa, itu Borrow Bird. Burung ini sangat waspada dan bahkan sulit untuk didekati. Aku heran kau bisa menangkap seekor"

"Dia lari beberapa kali, tapi aku diam-diam mendekatinya lalu melompat dengan 'bang!' dan memotongnya dengan 'shaaa'!"

"A-Ah, aku tidak terlalu mengerti, tapi aku tahu kalau itu adalah luar biasa"

Sia-sia saja untuk meminta penjelasan rinci kepada Reus, yang hanya bergerak mengandalkan naluri. Aku pikir pilihan Zack adalah yang terbaik.

Pokoknya, seusai memotong-motong kecil burung ini, aku membumbuinya dengan garam dan tanaman herbal. Mencampurkan jamur dan rumput liar ke dalam sup, dibagian terakhir aku mencelupkan mi kering kedalam sup.

Mengenai mi kering, itu merupakan hal yang kuciptakan sendiri dengan menggorengnya dulu dalam minyak. Tapi ini masih lebih baik bila dibandingkan dengan roti keras.

Tampaknya Zack tak mampu menyembunyikan keterkejutannya pada hidangan berkualitas lebih baik dari perkiraan. Pergerakaannya dalam meraih mi menjadi lebih cepat walaupun agak kaku karena hanya menggunakan garpu, bukan sendok.

Setelah menghabiskan itu dalam sekejap mata, Zack menggosok perutnya dalam kepuasan.

"Iyaah....benar-benar luar biasa. Ini pertama kalinya aku memakan sesuatu selezat ini saat berkemah"

"Aku pikir Dee dan yang lainnya sedang makan hal yang sama sekarang"

"Jadi karena itu mata Aniki berkilauan. Mi kering ya....? Ini revolusi dari makanan yang diawetkan, pasti laku keras. Apa kau mau memasarkan ini?"

"Aku tidak benar-benar keberatan. Namun jika kau ingin membuat dan menjualnya, lakukan itu setelah mendapat izin Dee dan berkonsultasi dulu dengan Gad"

"Hmm, Dee-nii pasti akan membalas....'Izin diperoleh dari Sirius-sama'!"

Reus benar juga. Aku ingin Dee berkata bahwa dirinya juga hebat dan menjadi sedikit terkenal, tapi karena dia masih belum membuat usaha restoran, meyakinkannya mungkin agak mustahil. Apa boleh buat, aku akan mengizinkannya hanya dengan syarat.

"Yah, baiklah. Aku akan mengajarimu bagaimana untuk membuat ini, namun kau harus memberiku hasil dari penjualannya"

"Berapa banyak?"

"Aku tidak bisa mengira-ngira bagaimana sesuatu akan terjual. Jadi, putuskan itu setelah membahasnya dengan Gad"

"Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, aku yakin akan sangat laku. Inilah kesempatan untuk mendapatkan sejumlah besar uang"

"Untuk sekarang kami tidak benar-benar membutuhkan uang. Sebenarnya, aku bahkan tidak mau dipusingkan dengan hal itu. Jadi, aku akan mengandalkan Zack dan Gad untuk masalah ini"

Belum lama sejak kami bertemu, tapi aku telah berpikir Gad--yang terkait dengan yang Dee dalam kurun waktu agak lama---dan Zack---yang mencoba untuk menyelamatkan kami dari bandit---adalah orang-orang yang baik.

"Dan juga, aku punya satu permintaan lain. Kemampuan kami yang kau lihat hari ini, aku harap kau tak membocorkannya pada siapapun"

"Tentu. Kekuatan setingkat itu memang harus disembunyikan untuk sementara"

"Kau memahaminya ya?"

"Jelas saja. Jika ada anak-anak sekuat ini, mereka akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang merepotkan. Para bangsawan juga mungkin akan menginginkannya. Itu hanya menjadi benih masalah"

Seperti yang diharapkan dari pedagang, ia memahami persoalan yang aku prihatinkan.

"Karena itulah, aku akan bungkam. Aku mendukung keputusan Danna, yang telah menyelamatkanku. Tak peduli apa yang orang lain atau bahkan para bangsawan akan katakan"

"Terima kasih"

"Aku yang harusnya mengucapkan itu. Yah, ngomong-ngomong Danna akan mendaftar di sekolah Elysion, kan?"

"Apa aku pernah membicarakannya?"

"Tidak, hanya saja, anak-anak yang pergi ke Elysion sebagian besar memiliki tujuan mendaftar di sekolah. Menyimpulkan ini cukup sederhana"

Fumu, aku tak menyadari itu. Oh baiklah, jika hanya tentang kami yang pergi untuk mendaftar ketahuan, itu bukanlah masalah.

"Sepertinya kau tidak hanya membahas tujuan perjalanan?"

"Ya. Jujur saja, perusahaan Galgan memiliki cabang di Elysion, jadi aku menyarankan agar kalian mengunjungi toko kami. Aku juga akan sering datang kesana untuk mengurus bisnis. Jika kalian memiliki masalah, biarkan kami membantu"

Oh, jiwa bisnis dalam diri Zack nampaknya berkembang.

Tapi inilah yang aku butuhkan sekarang. Aku bisa langsung menjual rempah-rempah agar bisa sampai ke Dee*. Sepertinya dukunganku pada usahanya juga takkan berkurang bahkan setelah tiba di Elysion.
[Bagi yang blom paham, gini. Sirius masih ingin membantu usaha Dee dengan tetap mengiriminya rempah-rempah. Perusahaan Galgan akan menjadi distributor terbaik disini]

"Tolong urus kami dari sekarang"

"Aah, aku juga sama"

Setelah itu, perjalananpun berlanjut dengan lancar.

Kami juga mengusir para monster yang sempat menyerang beberapa kali, namun tidak ada bandit yang muncul.

Bahkan jika dirinya lemah, melihat kedua bersaudara mengalahkan para monster sebelum dia sempat menghunus pedangnya. Satu-satunya orang dewasa di kelompok kami, Zack hanya bisa tertekan.

"....Meskipun....Meskipun aku pria dewasa, aku serasa dikawal"

Ini adalah kebenaran yang menyedihkan, jadi aku menepuk punggungnya tanpa berucap apapun.

Sambil mengalami berbagai peristiwa kecil semacam ini, lima haripun berlalu.

Akhirnya....kami tiba di tujuan.

"Dannaaa!! Elysion sudah terlihaaattt!!"

"Oooooh?! Itu tinggiiii!!!!"

"....Sangat besar...."

Kota Akademi*, Elysion.
[Ada si jabrik disini XD ]

Apa yang menyambut kami adalah....Tembok raksasa melintang kekejauhan dan melindungi penduduk di sisi lain.

☆☆☆Chapter 25 berakhir disini☆☆☆

Catatan penerjemah : Akhirnya tiba di sekolah..........novel ini mengajarkan untuk menghargai ya. Termasuk tentang pendidikan.

World Teacher chap 25 B.indonesia

Posted by : Kinderboy 0 Comments
Chapter 24 Kepala perusahaan Galgan
Diterjemahkan ZasuNovel




Bagian 1



Kota terdekat dengan rumah kami, Almest.

Skala kota ini berukuran lebih kecil dari Medria yang aku kunjungi kemarin, ketertiban umumnya juga tidak begitu baik. Aku sempat khawatir 'Apakah kota ini termasuk wilayah ayahku, Baldomyr?'. Juga, kenapa jumlah ras binatang disini sangat rendah?.

Meski begitu, disinilah Dee dan Noel berbelanja, dan di sini juga mereka membeli obat untuk Erina. Ini merupakan kota yang sangat penting bagi kehidupan sehari-hari kami.

Seiring dengan matahari yang terbit, kami berangkat dan sampai di Almest sebelum mencapai siang.

Begitu tiba di kota, Dee berpisah untuk mendapatkan sarana transportasi. Selagi berada di tempat ini, kami berkumpul untuk makan siang di sebuah restoran.

"Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya kalian mengunjungi kota, kan~?"

Mengenakan jubah berkurudung hampir mencapai matanya, Noel menanyai kedua bersaudara yang memakai pakaian serupa. Mereka melakukan itu agar identitas sebagai ras binatang tetap rahasia, tapi ketika tiga orang dalam satu kelompok melakukan ini, bukankah malah semakin menonjol?

"Tidak, malah kami sering bepergian ke banyak kota ketika menjadi budak. Sayangnya, kami tidak dapat melihat jalanan karena terus-terusan berada di dalam kereta"

"Kami memang sampai di beberapa kota, tapi dipenjara sepanjang waktu. Jadi, ini pertama kalinya kami berjalan-jalan"

Inilah bukti bahwa mental mereka semakin kokoh. Tak ada sebercak kesedihan ataupun perasaan muram pada ekspresi kakak beradik walaupun sedang membahas masa lalu yang kelam.

"Aku mengerti~. Tidak aneh kalau kalian terlihat gelisah seperti itu"

"Ya! Disini penuh dengan hal-hal baru!"

"Agak misterius. Ada berbagai orang, berbagai aromapun juga bercampur"

"Benarkan~? Aku juga begitu disaat pertama kalinya pergi ke tempat ramai. Setelah dibawa oleh Aria-sama, aku merasa sangat khawatir dan gugup....Hanya saja, tangan hangat Aria-sama yang aku genggam saat itu tak pernah kulepaskan bahkan setelah kami keluar dari kota"

"Noel-nee juga memiliki saat-saat itu ya"

"Wajar saja, kan~? Maksudku, kalian berdua memegangi pakaian Sirius-sama dari tadi"

Benar. Itu tidak akan terlihat karena posisi duduk kami yang memiliki jarak, namun sejak tiba dikota ini mereka terus menggenggam lengan bajuku. Mungkin ini karena kecurigaan terhadap manusia yang masih tersisa dari waktu mereka menjadi budak. Aku ingin keduanya cepat terbiasa, pakaianku mulai mengkerut.

"....Banyaknya manusia membuatku resah. Namun saat bersama Sirius-sama, aku bisa tenang"

"Iya, ada banyak sekali! Tapi, Aniki yang terbiasa dengan ini sungguh hebat!"

"Itu dari pengalaman. Aku pernah berkunjung ke daerah-daerah yang lebih padat daripada disini"

Jika kau telah merasakan longsoran penduduk yang memenuhi jalanan di kota-kota pada kehidupanku sebelumnya, disini seperti bukan apa-apa.

"Kepadatan penduduk disini pasti bisa membuat kalian terbiasa dengan cepat. Lagipula, kekuatan kalian berdua telah melampaui petualang umum di sekitar sini. Percaya dirilah"

"Mengerti"

"Ya! Jika ada banyak orang setingkat kami ataupun lebih, itu akan mengkhawatirkan....hanya saja, ini...."

Sambil mengulurkan sumpit ke tumisan daging dan sayuran yang kami pesan, Reus memiringkan kepalanya. Ia tidak berhenti makan, tapi itu sudah menandakan bahwa hidangan disini tidak terlalu lezat.

"Ini sangat berbeda dari hal-hal yang biasanya dibuat Aniki ataupun Dee-nii"

"Benar. Lebih tepatnya, ini tidak dimasak secara merata"

"Haha~....bukan begitu, kalian berdua. Rasanya tidak buruk, hanya saja Sirius-sama dan Dee lah orang yang luar biasa"

Mungkin karena pengapiannya yang tidak merata, membuat hidangan ini tak tertumis dengan benar. Mereka terlalu banyak menggunakan garam dan merica sehingga rasa sayurannya tertutupi, selain itu, mereka terlalu mengandalkan rasa daging. Memang agak ceroboh, tapi ini tidaklah buruk karena rasanya sudah cukup enak.

"Maaf telah membuat kalian menunggu"

Disaat kami selesai makan, Dee muncul ditemani oleh seorang pria.

Dia memiliki rambut pendek kecoklatan, berpenutup mata hitam di mata kirinya, dan mempunyai postur bagus meskipun agak gemuk.

"Sirius-sama, ini Gad, teman petualangku dulu"

"Senang bertemu denganmu! Aku Gad, kepala perusahaan Galgan di kota ini!"

"Senang bertemu dengan Anda juga. Namaku Sirius"

Ketika kami berjabat tangan, aku sadar bahwa jari kelingking di tangan kanannya telah menghilang. Namun dari tangan ini, bisa diterasa jejak kemahiran mengenggam senjata. Dia mungkin seorang petualang yang pensiun karena cedera sama seperti Dee.

"Aku pernah mendengar dari Dee, Anda merupakan salah satu orang yang membeli obat buatan kami dan juga memberikan beberapa barang yang kami butuhkan. Izinkan aku untuk mengucapkan terima kasih"

"Tak masuk akal! Harusnya perusahaan kamilah yang berterima kasih karena sekian lama, akhirnya kami bisa mendapatkan bahan dan obat-obatan berkualitas tinggi....Setelah bertatap muka denganmu, aku benar-benar mengerti. Seperti yang dibicarakan Dee, kau memang luar biasa"

"Yakisoba yang pernah kubahas denganmu, aku juga mempelajarinya dari Sirius-sama"

"Benarkah?! Kau memiliki kreativitas memasak seperti itu dengan saus tebal dan sulit digunakan, aku jadi lebih ingin menjalin hubungan baik dan lama denganmu"

Genggaman tangannya tiba-tiba menjadi lebih erat sambil mengayunkan lenganku ke atas dan ke bawah. Pria ini sungguh berlawanan dari Dee. Akan baik-baik saja untuk mempercayainya karena mereka tampak sangat dekat.

"Maafkan ketidaksopananku, tapi hubungan seperti apa yang Anda miliki dengan Dee?"

"Jangan terlalu sopan, perlakukan saja aku sama seperti kau memperlakukan Dee....Hubungan kami adalah teman yang dulunya sesama petualangan seperti yang dia katakan. Kami pernah menjadi anggota di sebuah party. Suatu hari, aku sempat diselamatkan olehnya dari serangan monster ganas. Hanya satu jari kelingking dan sebelah mataku yang tidak berhasil selamat. Aku lalu pensiun. Yah, itu sudah lama kuinginkan, dan beralih menjadi pedagang"

"Pertama kali berbelanja disini membuatku terkejut. Aku tidak pernah mengira kau akan berada di kota ini"

"Sama. Aku cukup kaget saat orang yang pernah menyelamatkanku datang sebagai seorang petugas bangsawan. Awalnya aku tidak berharap banyak dari kerjasama bisnis kita. Tapi, keuntungan yang perusaan kami terima terus meningkat setiap harinya. Aku tidak dapat berkata apapun kecuali merasa berhutang budi kepada kau dan Danna* ini"
[Danna itu yah....Tahu film Gintama? Okita Sougo (si sadis dari shinsengumi) selalu memanggil Gintoki dengan sebutan 'Danna'. Singkatnya, ini sebutan yang kesannya agak hormat]

Dia telah memanggilku Danna dan memperlakukanku seperti atasan. Tapi aku bukan seorang bangsawan lagi, ditambah sekarang adalah waktu pertama bertemu orang ini, kan?

"Yah, intinya adalah Dee penyelamatku dan kami memiliki ikatan yang kuat....Baiklah, apa kita akan langsung ke topik? Kau ingin aku mempersiapkan transportasi yang aman kan?"

"Benar. Kami ingin adanya kereta yang menuju ke timur untuk Noel dan diriku. Juga, yang menuju ke barat untuk Sirius-sama dan kedua petugasnya hari ini"

"Hari ini, ya....boleh aku mendengar alasannya? Ini sangat mendadak"

Gad-shi* mengerang dengan wajah sulit, seperti yang diharapkan ini merupakan permintaan yang tidak masuk akal. Tapi kami tetap ingin meninggalkan kota hari ini jika memungkinkan.
[Ini sebutan agak hormat 氏 shi]

Ini seolah kami melakukan perjalan malam (tidak harus di malam hari sekalipun), agar tak dikejar oleh Baldomyr. Aku memang tidak berpikir dia akan datang hari ini atau besok, mungkin bahkan tak ada alasan untuk khawatir sama sekali. Tapi untuk berjaga-jaga, aku ingin meninggalkan wilayah orang itu secepatnya.

"Gad-san, kalau hari ini tidak mungkin kami bisa melakukannya besok, tidak masalah. Aku tahu kami meminta bantuan besar di sini"

"Tidak, tidak, aku akan melakukannya dengan cara apapun. Hanya saja, terasa sepi ya. Kita akan saling berucap selamat tinggal setelah sekian lama menanti pertemuan"

"Apa yang kau bicarakan~? Kau hanya berpikir untuk diajari oleh Sirius-sama atau sesuatu seperti itu, bukan~?"

Noel membalas seakan menyalak. Dia selalu datang bersama Dee ke kota. Selain itu, Gad-shi tidak berperilaku seperti orang yang membenci ras binatang. Aku rasa mereka telah bergaul cukup baik hingga bisa melemparkan candaan tanpa ragu.

"Hahaha, aku tidak bisa bersaing denganmu, Noel-chan. Enggan untuk berpisah itu memang jujur. Tapi Dee telah diajarkan berbagai hal olehnya, jadi aku juga ingin diajari"

"Kau ingin diajari olehku? Yang seorang anak kecil?"

"Danna telah mengubah Dee menjadi dirinya yang sekarang. Aku tidak mungkin menganggapmu hanya sekedar bocah. Pertemuan ini membuatku semakin yakin"

"Baguslah, Gad. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan persoalan kereta?"

"Tentang itu, kau beruntung, Dee. Aku berencana pergi ke timur hari ini. Meskipun akan sesak karena ada berbagai barang yang harus diangkut, tapi aku akan memberimu tumpangan"

"Sebenarnya, aku tidak masalah. Sirius-sama lah yang kami prioritaskan"

"Tenang saja, aku juga punya solusi untuk itu, kalian datang pada waktu yang tepat. Untuk saat ini, ayo kita pergi ke tempat parkir seluruh kereta"

Meninggalkan restoran, kami mengikuti arah yang dituju Gad.

Ada sekumpulan kereta dengan berbagai ukuran berbaris dimana kami sampai. Di antara semua itu, Gad membelokkan langkahnya menuju ke sebuah kereta yang tampak mampu menampung sekitar delapan orang.

"Hei, Zack! Kau sudah selesai dengan persiapannya?"

Menanggapi panggilan Gad, seorang pria muncul dari dalam kereta. Dia memiliki tampilan yang sedikit lebih muda dari Gad, tanpa memiliki penutup mata dan jari-jarinya masih utuh. Namun mereka sangat mirip hingga kau akan beranggapan bahwa mereka bersaudara ketika menyaksikan keduanya berdiri berdampingan

"Persiapannya memang selesai, Aniki. Semua yang tersisa adalah pengawalnya. Distribusi kali ini agak berisiko karena ada kemungkinan diserang oleh monster. Apa ini tetap dilanjutkan?"

"Idiot, jangan bilang hal-hal yang aneh. Ada orang-oranv yang aku ingin kau beri tumpangan, jadi cepat turunkan satu tong dan dua kotak bijih itu"

"Hah? Ada apa? Penjualannya akan menurun jika kita melakukannya kan?"

"Jangan khawatir tentang itu, cepat dan lakukan saja. Ini permintaan dari pelanggan tetap, aku yang akan bertanggung jawab"

"Apa boleh buat. Kalau begitu, bantu aku, Aniki"

"Baiklah baiklah. Yah, itu benar. Danna, kau bilang akan menuju ke barat, tapi boleh aku mendengar kemana kau akan pergi?"

Melihat dari balik bahunya, Gad melemparkan sebuah pertanyaan dengan tatapan meminta maaf.

Meskipun dia berkata takkan menanyakan motifku, mungkin akan sulit baginya untuk menjelaskan kepada Zack ke mana harus pergi tanpa mengetahui lokasi kami.

"Tujuannya adalah Elysion"

"Aku mengerti, tujuan Zack juga Elysion, itu sempurna"

"Maaf telah membuatmu menurunkan barang-barang yang harusnya kau bawa"

"Tidak, tidak, anggap saja sebagai bentuk terima kasih atas apa yang telah kau perbuat. Kalau begitu, aku akan menjelaskan sebentar kepada orang ini dan membantunya dengan bongkar muat kereta. Tolong tunggu sebentar"

Kamipun duduk agak jauh dari tempat parkir kereta. Tak ada yang mengucapkan sepatah kata pun dan hanya terus melihat penduduk yang berlalu lalang. Ini mungkin suatu hal yang wajar.

Karena di sinilah kami akan berpisah.

Tak ada topik bagus yang terlintas dalam pikiranku. Beruntungnya, Dee mengambil langkah pertama untuk memecahkan kesunyian ini. Dia mengambil sebuah kantong dari saku dadanya dan berucap.

"Sirius-sama, sebelum terlambat, aku ingin mengembalikan ini padamu"

"Bukankah aku sudah memberikan itu untuk kalian berdua? Jika menerimanya lagi, aku akan menganggap diriku berhutang budi kepadamu, Dee. Lebih baik tidak"

"Tapi tetap saja, Sirius-sama memberi terlalu banyak. Setengah dari ini lebih dari cukup untuk kami"

Kantong Dee dipenuhi oleh koin emas.

Kenapa dia mempunyai banyak uang? Cerita itu berasal dari tadi malam.

☆☆☆☆

Bagian 2


Di malam terakhir. Ketika pesta itu usai, aku mengadakan pertemuan dengan semua orang lagi.

Apa yang terhampar di meja adalah semua uang yang telah kutabung sampai sekarang dan uang yang aku dapatkan dari menjual permata. Kecuali milik para petugas, seluruh kekayaan rumah ada di sini.

Memanajemen keuangan dulu adalah peran kaa-san, tapi aku mengambil alihnya sekarang. Kamipun menghitung satu persatu koin yang tersebar di atas meja.

Proses penjumlahan berlangsung beberapa menit. Kekayaan seluruh keluargapun disimpulkan.

"Jika rinciannya diabaikan, ada 73 koin emas dan 10 koin perak. Aku mau kita semua berpikir 'Ini digunakan untuk apa'"

Diperkirakan akan ada 45 koin emas yang lenyap untuk biaya masuk sekolah, sisanya adalah 28. Aku dan siswa-siswaku mampu hidup bahkan jika hanya berbekal 1 koin emas.

"Sirius-sama. Maaf, tapi boleh kami meminta waktumu sebentar?"

Noel dan Dee memanggilku dengan suasana gelisah. Untuk sementara, aku menyisihkan persoalan uang dan menoleh ke arah keduanya.

"Ada apa? Kalian terlihat serius"

"Tolong, terimalah ini"

Hal yang di berikan oleh Dee adalah koin emas. Meski hanya satu keping, bagi keduanya ini sudah merupakan hal berharga dan sangat bernilai.

"....Ini?"

"Sebenarnya~, ini uang yang kami terima dari Erina-san sebagai gaji. Meski tidak banyak"

Di atas memikirkan biaya kebutuhan rumah dan lain-lain, kaa-san juga mempertimbangkan gaji para juniornya? Dia akan membuat para ibu rumah tangga merasa malu.

"Kami telah cukup lama menabung dan hasilnya adalah koin emas ini. Maukah Sirius-sama menerimanya?"

"Tunggu dulu, bagaimana dengan biaya hidup kalian setelah kita berpisah?"

"Tidak apa-apa~, kami sudah menyisihkan sebagian untuk diri kami sendiri. Selain itu....kami telah belajar banyak darimu, Sirius-sama. Jadi, walaupun ini sesuatu yang sepele, tolong terimalah"

"Sirius-sana telah mengajarkan banyak hal, dari memasak hingga bagaimana cara berjuang dalam hidup. Aku ingin kau menerima ini sebagai tambahan biaya sekolah"

Keduanya membungkuk sangat rendah, seolah tidak akan menyerah sampai aku menerima pemberian mereka.

Meski mereka berkata itu adalah uang sekolah, kesampingkan Emilia dan Reus, aku hanya mengurusi Noel di waktu senggang dan mengajarkan Dee cara memasak. Yah, karena aku ingin memakan masakannya.

"Perasaan kalian sudah cukup untukku....mengucapkan itu takkan ada gunanya, ya. Baiklah, dengan senang hati aku akan menerima ini"

""Terima kasih banyak!""

Normalnya akulah yang harus berterima kasih, bukan kalian. Ya ampun, kedua petugasku ini terlalu jujur dan baik hati.

Oh iya, aku juga punya sesuatu untuk diberikan kepada mereka.

"Kalau begitu, aku akan memberikan gaji kalian dan itu tidak boleh dikembalikan"

"....Apa?"

Saat aku menyerahkan sebuah kantong kecil berisi 20 koin emas kepada Dee, keduanya membeku dengan mata terbuka lebar.

"Aku sudah mendiskusikan ini dengan kaa-san dan memutuskannya. Itu gaji tambahan untuk kalian berdua"

"....20 keping?"

"Haaaah~?!?! Itu terlalu banyak!!! Sayang, kembalikan, kembalikan~!!!!"

Meskipun pasangan suami istri ini mulai panik, aku mengabaikan mereka. Bagaimanapun, Dee pasti telah menetapkan tujuannya.

"Dee, kau sudah tahu seberapa banyak modal untuk membuka suatu usaha kan?"

"....Itu...."

Ya, rencananya adalah membuka sebuah restoran di kampung halaman Noel. Kurasa dia tidak akan berhasil tanpa bermodalkan setidaknya beberapa koin emas.

"Maaf, aku bisa memberimu lebih banyak jika tidak membayar Baldomyl...."

"Tolong hentikan. Kita semua telah setuju mengenai hal itu"

"Benar~! Lagipula, kamilah yang akan terganggu jika menerima sebanyak ini. Hei, Emi-chan, Reu-kun, katakan sesuatu~!!"

Walaupun Noel mencari bantuan dari kedua bersaudara yang sedang mengumpulkan koin-koin tembaga di samping, mereka hanya menjawab sambil tersenyum.

"Aku memiliki pendapat yang sama dengan Sirius-sama, aku tidak keberatan sedikitpun jika itu untuk Dee-san dan Onee-chan"

"Aku juga! Aku pikir akan sangat hebat jika ada banyak orang yang bisa memakan masakan Dee-nii!"

"Ugh!"

Noel mundur menghadapi kilau senyum murni dan tak bersalah dari anak-anak. Meski begitu, wajah ketidakpuasan keduanya masih belum sirna, kurasa aku akan mengarahkan percakapan dari sini.

"Jika kalian tidak yakin, ayo kita anggap ini sebagai hutang. Setelah lulus sekolah, kami akan menuju lokasi kalian berdua. Ketika saat itu tiba, izinkan kami makan di restoranmu. Tentu saja dengan gratis"

"Bahkan jika Sirius-sama tidak melakukan ini, untuk kalian tentu saja gratis"

"Baiklah, dikatakan bahwa kesulitan sangat berharga selama masa muda. Jika seseorang terlalu banyak memiliki kekayaan, mereka tidak akan mengerti nilai dari uang, ya kan?"

"Kami telah didukung oleh Onee-chan, Dee-san dan Erina-san. Mulai sekarang, aku ingin hidup dan mendapatkan uang sendiri"

"Tidak apa-apa karena kami akan terus bersama Aniki! Aku juga akan bekerja keras untuk mendapatkan uang!"

Dengan paksaan kami, beberapa butiran kecil muncul di sudut mata keduanya. Mereka lalu menunduk....tidak, bukan menunduk. Mereka malah bersujud di lantai.

"Hei?! Ini terlalu berlebihan! Cepat dan angkat kepala kalian!....Tunggu, kenapa semua orang melakukannya?! Hah?....menghormati seorang pemimpin? Aku tidak memegang gelar seperti itu jadi angkat kepala kalian!!"

☆☆☆☆

....Masalah ini harusnya berakhir kemarin. Apa mereka masih mengkhawatirkannya?

"Kalian masih memikirkan itu? Apa yang tidak kalian sukai? Yang paling membutuhkannya adalah Dee. Hal ini tidaklah salah"

"....Hanya saja, walau telah menerima sejumlah besar uang, apakah aku bisa memenuhi harapanmu? Apakah aku bisa mewujudkan mimpiku?....Aku tidak tahu...."

....Begitu ya, Dee....kau cemas.

Meski dia telah menumpuk pengalaman bertahun-tahun sebagai petualang, Erina yang telah biasa dia ikuti, meninggal dunia. Mulai sekarang, dia harus melindungi pasangan tercinta dengan tangannya sendiri.

Karena itulah, dia dilanda kekhawatiran dan tak mampu menahannya. Dengan menerima sejumlah besar uang, dirinya takut akan kegagalan dan membuat kecewa pihak lain.

"Dee"

"Ya....---UGH?!"

Mula-mula adalah pukulan ke perut.

Aku memang menahan kekuatan, tapi karena ini serangan mendadak, Dee belum sempat bersiap dan menerima tinjuku langsung sambil terhuyung-huyung.

"A....Apa....?"

"Jangan lembek, Dee!!!"

Aku meraih kerah Dee, dan menariknya kearahku.

"Kau sudah dewasa, suami yang melindungi Noel! Kau juga akan menjadi seorang ayah untuk anak yang akan lahir darinya!! Pria seperti itu akan diejek jika sudah kewalahan oleh masalah setingkat ini!!!"

"....Sirius-sama...."

"Aku mengerti bahwa kau khawatir. Namun, dirimu sudah tahu cara untuk tetap kuat sekarang! Jangan takut dan hiduplah dengan lebih percaya diri!!"

"....Ya"

"Terima kasih banyak, Sirius-sama....Sayang, aku minta maaf karena ragu-ragu untuk meyakinkanmu"

"Noel...."

"Sayang...."

....Ahhhh, mereka telah menciptakan dunia cinta tingkat kedua.

Akhirnya, dengan ini mereka akan menerima uang tanpa masalah. Kali ini memang akulah yang memarahinya, tapi selanjutnya akan diambil alih oleh Noel.

"Hei, Dee, Danna. Aku akan memperkenalkan sebentar orang ini---Haahh?! Ada apa ini?!"

Waktu yang buruk, Gad. Kau harusnya berada disana lebih lama.

Kedua orang itu akhirnya kembali dari membenahi kereta. Kamipun diperkenalkan pria sebelumnya.

"Ini adalah adikku, Zack. Dialah yang bertanggung jawab atas distribusi barang ke Elysion. Dia juga akan berperan sebagai kusir untuk kereta yang mengantar Danna dan kedua petugasnya"

"Sesuai perkenalan barusan, namaku Zack. Aku hanyalah seorang pemula yang bekerja sekaligus belajar dari Aniki* ku, Gad. Tolong perlakukan aku dengan baik"
[Ya. Dia juga memanggil kakaknya dgn sebutan Aniki]

Keduanya memang tampak mirip. Mungkin Gad berusia tiga puluhan, sedangkan Zack sekitar dua puluh?

"Dia menganggap dirinya sendiri sebagai pemula, tapi orang ini sudah berkali-kali pergi ke Elysion. Aku telah mempekerjakan dua orang dari serikat petualang sebagai pengawal, jadi perjalanan kalian bisa dijamin aman"

"....Gad, apa kita bisa mempercayai pengawal-pengawal itu?"

"Tidak masalah....ah, mungkin wajar jika kau merasa cemas. Tapi yakinlah, mereka bisa dipercaya karena dipilih sendiri oleh Aniki!"

Karena jawabannya dipenuhi kepercayaan diri, Dee sepertinya sudah yakin. Saat keduanya berbincang di tempat lain, Zack mendekatiku dan meminta jabat tangan.

"Aku telah mendengar dari Aniki. Meskipun Elysion agak jauh dari sini, aku berharap bisa bekerja sama denganmu"

"Sama, tolong perlakukan kami dengan baik. Ini perjalanan jauh kami yang pertama, jadi akan sangat membantu jika kau bisa mengajari banyak hal"

"Hahaha, aku akan mengajari hal apapun yang kau mau selama itu dalam lingkup pengetahuanku. Lagipula, aku mendengar dari Aniki bahwa kau telah berkontribusi besar pada perusahaan kami bersama dengan Dee-san. Boleh aku juga memanggilmu 'Danna'?"

"Haha....jika kau tidak keberatan untuk anak kecil seperti diriku ini, maka silakan"

"Mengerti, orang yang akan mengantar Danna dan kelompoknya baru saja tiba, kita bisa berangkat kapanpun. Jadi, panggil aku jika kalian siap"

Tidak hanya penampilan, karakter mereka juga serupa. Karena dia adalah orang yang mudah diajak bicara, hal-hal seperti perjalanan akan terasa menyenangkan. Saat menatap Zack, yang kembali ke kereta, kedua bersaudara itu saling mengucapkan salam perpisahan kepada Noel dan Dee di sampingnya.

"Onee-chan, terimakasih untuk semuanya sampai sekarang"

"Apa yang kau katakan~? Ini bukan berarti kita tidak akan bisa bertemu lagi, jangan bicara seperti itu"

"Tapi tetap saja. Aku akan mendukung Sirius-sama, jadi kau harus mengurus Dee-san juga"

"Oh, ayolah, kau sangat nakal~"

Sambil berkata begitu, mata Noel mulai berkaca-kaca dan memeluk erat gadis kecil itu dengan penuh kasih sayang. Emilia kemudian sedikit berjinjit dan dengan ringan menggigit pundaknya.

"Ah?!....Ini, mungkinkah...."

"Iya. Itu karena aku sangat menyayangimu, Onee-chan"

Mengigit bahu adalah bukti kasih sayang bagi ras serigala perak. Mungkin karena senang digigit, Noel menaruh seluruh kekuatan ke dalam pelukannya.

"Nyahehe~ kau boleh menggigit lebih kuat~"

"Itu hanya untuk Sirius-sama"

"Oh~, seperti yang di harapkan, cinta adalah hal yang hebat~!"

Semakin kuat gigitannya, semakin dalam perasaan yang terkandung disana. Jika Emilia saat ini menggigit pundakku, aku mungkin harus mengobatinya.

"Aku juga akan menggigit! Noel-nee, dekatkan pundakmu!!"

"Uh, baiklah~....aku senang, tapi tolong jangan berlebihan kepadaku ya, Reu-kun~? Agak takut ketika memikirkan ada darah yang muncrat"

"Aku akan sungguh menahannya!"

Reus juga menggigit bahu Noel dan saling berpelukan. Para ras binatang melanjutkan obrolan untuk memastikan ketetapan hati mereka.

"Emi-chan, Reu-kun, tolong jaga Sirius-sama untukku~"

"Tentu saja"

"Aku akan melindungi Aniki dan nee-chan!"

"Namun, kalian juga harus melindungi diri. Akan buruk jika kalian terluka"

"Aku akan melakukan segala hal yang mampu kulakukan sambil mengikuti Sirius-sama"

"Aku akan melindungi semuanya!"

"....Apa ini akan baik-baik saja, ya~?"

....Aku juga setuju.

Meskipun aku ingin mereka menjadi sedikit lebih mampu dalam memutuskan, tidak ada yang bisa kuperbuat kecuali secara bertahap mengubahnya di masa depan.

"Emilia, Reus. Aku telah menunjukkan sikap yang memalukan tadi"

Dee membungkuk untuk membuat tatapan mereka segaris, lalu berbicara sambil menggaruk kepalanya. Kedua bersaudara berkata bahwa mereka tidak keberatan ketika menggeleng.

"Aku berusaha keras untuk bertindak sebagai saudara kalian juga, tapi kurasa kekuatan kita sudah memiliki jarak yang lebar"

"Apa Dee-nii benar-benar berpikir begitu?"

"Ya. Dan sebagai kakak sekaligus senior yang lemah, aku memiliki satu permintaan....tolong urus Sirius-sama"

""Mengerti!""

Dengan begini, pembicaraan dari Dee si pendiam berakhir. Setelah menyelesaikan perpisahan mereka dengan kedua bersaudara, pasangan ini membungkukkan kepala saat berdiri di hadapanku.

"....Jadi inilah perpisahan"

"Ya, kita tidak akan bisa bertemu setidaknya lima tahun, sampai kelulusan"

"Itu begitu lama~. Jika Sirius-sama tidak mengusulkan akan pergi ke sekolah, aku ingin membawamu ke kampung halamanku"

"Itu juga tidak buruk. Tapi aku tidak punya tempat tinggal"

"Sirius-sama pasti bisa membangun rumah sendiri yang bagus"

"Kau agak berlebihan"

Bahkan jika dia berbicara tentang membangun rumah....Oh tunggu dulu, kupikir bisa mengurusnya entah bagaimana. Ketika mengingat rumah Lior, aku merasa mampu.

"Kami akan bertemu kalian berdua begitu lulus....Mungkin disaat itu kalian akan menjadi 'tiga orang'?"

"Meski aku merasa sedikit gugup, kami akan melakukan yang terbaik. Saat anak itu tumbuh, tolong buat dia menjadi petugas Sirius-sama juga~"

"Hah? Apa yang kau katakan?"

"Aku akan mengajarkan setiap pengetahuan dari Erina-san, jadi nantikan saja itu. Juga, jika dia seorang gadis, aku tidak akan keberatan bahkan kalau Sirius-sama mengambilnya sebagai istri"

"Onee-chan! Kau tidak bisa memutuskan itu seenaknya!"

Emilia menyela Noel yang terus berbicara sesuka hati. Benar, bahkan jika kau orang tuanya, jangan memutuskan masa depan anakmu bahkan sebelum dia lahir.

Beritahu itu, Emilia!.

"Tienang saja~. Emi-chan, kau akan selalu menjadi yang pertama. Jangan khawatir~"

"....Baguslah kalau begitu"

Oi, jangan mundur!! Dengan kata lain kau setuju dengan ini?! Mula-mula ada si gadis Elf, Fia, yang mengajukan reservasi....Bagaimana bisa mereka memutuskan sendiri tanpa izinku? Wanita di dunia ini terlalu agresif.

"Tidak apa-apa~. Aku takkan memaksanya! Kehendak anak itu sendirilah yang terpenting"

"Syukurlah kau mengerti"

"Akan bagus jika aku bisa mencuci otaknya dan membimbingnya padamu"

"Itu juga tidak boleh!!"

Entah kenapa, aku sudah kelelahan. Perbincangan ini seolah-olah takkan pernah berakhir. Ayo kita segera pergi.

Saat aku hendak menuju kereta kami, Noel meletakkan tangannya dikedua pipiku dan mencium keningku.

"Kami akan selalu berdoa agar keberuntungan menyertai dan membuat hidupmu bahagia~"

Seusai menjauh dari dahiku, dia melemparkan senyuman lebar. Astaga....kau tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menciptakan adegan manis, ya. Kaulah yang terbaik.

"Baiklah, aku pasti bisa menemukan kebahagiaan....Nee-san"

"---?!"

Tentunya kau takkan mengira aku akan memanggilmu begitu.

Sambil membelakangi kedua pasang petugas yang terisak di belakang, kami menaiki gerbong.

Ketika hendak meminta Zack untuk berangkat, Gad muncul di hadapan kami dan menyerahkan tas yang agak besar.

"Danna, tolong gunakan hal-hal yang telah kami sediakan ini dalam perjalanan"

"Terima kasih. Aku merasa menyesal karena merepotkanmu"

"Seperti yang kukatakan pada Dee, jangan khawatir tentang hal itu"

"Walaupun begitu. Meski tidak banyak, ini...."

Aku mencoba mengambil koin emas dari saku dan memberikan itu kepadanya. Namun, Gad menggelengkan kepala dan menolak.

"Aku tidak bisa menerima uang dari orang yang telah mengubah pria itu"

"....Sebagai gantinya, aku akan memberimu ini"

Apa yang kuambil dari dalam tas adalah reversi* terbuat dari kayu. Awalnya aku berencana memainkan ini sepanjang perjalanan, tapi kuurungkan niat itu karena sadar bahwa gerbong kereta pasti akan berguncang. Ini adalah dunia dengan hanya segelintir hiburan. Kalau aku menjualnya sebagai suatu permainan, harusnya agak menguntungkan, ya kan?
[Namanya emank Reversi. Kalau masih gak ngerti, inilah yg namanya Othello]

Itulah apa yang aku pikirkan, tapi....

"Apa ini? Sebuah papan dan....koin kayu hitam dan putih?"

"Ini permainan yang aku buat. Jangan ragu untuk memproduksinya secara massal dan menjualnya seperti yang kau inginkan. Bertanyalah pada Dee bagaimana cara bermainnya"

"Hooohh. Ini pertama kali aku melihatnya. Dengan rasa syukur aku akan menerima. Dan....Danna akan pergi sekarang?"

"Ya, aku mengandalkanmu"

"Baiklah. Hei Zack, berangkat!"

"Siap, Aniki! Ayoo!!"

Kereta mulai melaju dan menjauh. Perlahan, sosok Noel dan Dee memudar.

Keduanya terus melambaikan tangan sambil menangis. Kami juga membalas dengan lambaian seakan merangkai kata 'Sampa jumpa lagi' hingga mereka benar-benar lenyap dari pandangan.

☆☆☆☆

Bagian 3

Dikatakan bahwa akan memakan waktu lima hari untuk sampai di lokasi sekolah, yaitu kota Elysion.

Jalan menuju Elysion telah tertata dengan baik, tanahnya sangat datar hingga hampir seperti vertikal sempurna. Monster juga jarang muncul di sini. Sambil tertawa, Zack berkata kalau hal yang paling sulit diperjalanan adalah mengusir kebosanan.

Saat ini, kami sudah melepas jubah dan duduk di tempat kusir bersama Zack sambil mengobrol bebas. Tiga anak termasuk diriku sekarang mengenakan pakaian yang cocok untuk seorang petualang. Ngomong-ngomong, Emilia mengikat rambut panjangnya menjadi ponytail agar tidak mengganggu.

Sama dengan kakaknya, Zack tidak menganggap ras binatang sebagai suatu hal buruk. Sebaliknya, ketika dia melihat ekor dan telinga serigala berwarna perak kakak beradik ini, dia malah melontarkan kekaguman, 'Sepertinya kalian telah dibesarkan dilingkungan yang baik'. Merekapun langsung akrab dan menjadi teman sambil membahas berbagai hal.

"Dan saat itulah Aniki berteriak 'Apa yang kalian lakukan pada adikku, brengsek?!'....pada waktu itu, dimataku dia bersinar sangat terang"

"Aku mengerti apa yang kau maksud, Zack-nii*! Aniki ku juga selalu bersinar. Dialah tujuan kami!"
[Aslinya sih 'Zack-niichan'....entah kenapa terasa aneh, jadi kuganti]

Mungkin karena sama-sama memiliki jiwa persaudaraan yang kental, keduanya menjadi cepat akrab. Mereka saling membicarakan kenangan indah dan mengobrol seolah-olah sudah berteman lama.

"Tapi, apa Reus baik-baik saja? Hampir satu jam berlalu dan...."

"Tidak masalah. Ini juga bentuk pelatihan!"

Hanya Reus yang tak menaiki kereta dan malah berlari. Memang bisa disebut sebagai latihan, lagipula dia melakukannya atas inisiatif sendiri, itulah kenapa aku tidak menghentikan anak ini. Aku memang ingin dia menyimpan stamina untuk berjaga-jaga, namun kecepatannya berlari hanyalah setengah dari yang biasa dia lakukan. Mungkin takkan ada masalah karena aku juga ada disini.

"Ngomong-ngomong, kalau jalan ini aman, kenapa kau menyewa pengawal?"

Emilia mengalihkan pandangannya ke arah dua pria yang terdiam di kursi belakang kereta. Mereka mengenakan jubah, hampir menutupi mata seperti kedua bersaudara sebelumnya. Ketika mendapatkan waktu luang, mereka akan merawat pedang besar ataupun tombak yang merupakan senjata masing-masing. Namun, sejak berangkat, mereka tak pernah berbicara. Sejujurnya, kesan mencurigakan cukup terasa.

"Baru-baru ini, para bandit sering muncul disekitar sini. Itulah kenapa aku menyewa para petualang dari serikat"

Begitu ya. Namun, ada sesuatu yang membuatku khawatir dari tadi. Mendekatkan diri ke telinga Zack, aku bergumam dengan suara yang mereka tidak bisa dengar.

"Bagaimana kemampuan mereka? Maaf karena terlalu penasaran, tapi aku merasa aneh dengan senjata mereka yang terlihat masih baru"

Para petualang tidak jauh dari kata 'pertarungan'.

Andai mereka sering bertarung, akan tampak bahwa senjata itu lebih usang atau sedikit kotor terkena bercak darah. Kalau penampilan senjata mereka yang seolah baru saja dibeli didapatkan dari perawatan rutin mungkin bisa dimengerti. Tapi yang kulihat dari tadi, mereka hanya melakukan perawatan dengan setengah-setengah. Lebih seperti, mereka masih 'asing' dengan senjata.

"Mereka mungkin memang baru saja membelinya? Aku memperoleh orang-orang ini dari serikat petualang, jadi harusnya tak ada masalah"

Yah, aku tidak begitu tahu tentang hal-hal mengenai serikat. Daripada itu, bersamaan dengan munculnya firasat buruk, aku mencoba menggunakan {Search} pada lingkup area luas dan....mendapat banyak respon.

"Aniki!!"

Reus yang tengah berlari mulai berteriak lalu menghunus pedang dipinggannya dalam posisi kewaspadaan. Intuisinya cukup tajam.

Terkejut dengan tindakan anak ini, Zack panik dan buru-buru menarik tali kekang kuda untuk menghentikan laju kereta.

"A-Ada apa?!"

"Serangan musuh. Meskipun ada beberapa yang jaraknya masih jauh, mereka telah mengepung kereta ini. Mungkin para bandit yang barusan kau bicarakan"

"Ini buruk. Hei kalian! Para bandit mungkin akan muncul jadi---apa?!"

Ketika menoleh ke suara Zack, aku dihadapkan dengan situasi berbahaya di dalam kereta.

"Kalian!! Jangan berani bergerak!!"

Dengan lehernya yang disodorkan bilah tajam, Emilia telah menjadi seorang sandera.

☆☆☆Chapter 24 berakhir disini☆☆☆

>Catatan penulis : untuk sementara, Noel dan Dee takkan muncul. Tapi tenang saja, aku akan menghadirkan mereka lagi.


>Catatan penerjemah : Kita ucapkan sampai jumpa lagi juga pada dua tokoh itu, Noel dan Dee. Walaupun merupakan chara yang menjengkelkan atau bagaimana, ketika gak muncul cerita utama, agak sunyi ya.

World Teacher chap 24 B.indonesia

Posted by : Kinderboy 0 Comments

- Copyright © ZasuNovel - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -