7 Tips Merawat Aglaonema agar Warna Daun Semakin Cerah dan Menarik
-
Halo Sobat SHAHIR! Apakah Sobat termasuk salah satu penggemar tanaman hias
yang terpukau dengan keindahan Aglaonema? Tanaman yang juga dikenal […]
Chapter 23 Guru
Diterjemahkan oleh ZasuNovel
Bagian 1
Medria, satu dari sekian kota yang ada di benua Adroad.
Meski tidak sebesar kota yang memiliki kastil, namun berada ditingat ukuran menengah dengan kerumunan orang berlalu lalang menyesakkan, itulah tempatku berada sekarang.
Tujuanku adalah menjual permata dari Jewel Turtle.
Aku mencoba menjualnya di Serikat petualang dan toko-toko yang lebih besar, tapi ternyata itu memang mustahil. Mereka takkan mau mendengarkan seorang bocah yang tak jelas asal usulnya. Jadi agar identitasku tidak diketahui, aku memutuskan untuk menjual ini menggunakan organisasi bawah tanah.
Salah satu organisasi yang berada di Medria, terutama menangani urusan ilegal, Melissa.
Setelah mengumpulkan informasi di bar, aku berhasil masuk ke ruang bawah tanah. Itulah markas besar mereka.
Begitulah, di sebuah ruangan yang hanya diterangi samar-samar oleh lilin, diriku duduk di depan pria yang merupakan salah satu petinggi Melissa.
Pria itu botak, tanpa satupun helai rambut di kepalanya dan memiliki beberapa bekas luka di wajah, seorang pria paruh baya yang tampak dipenuhi martabat. Dia mencoba mengintimidasiku dengan otot-otot terlatih tanpa menyembunyikannya sama sekali, tapi ini sangat remeh dibandingkan dengan Lior. Karena dia---tidak menilai seorang anak berjubah dengan tudung di atas kepalanya---dari penampilan, dia pasti pria yang sangat menghargai kemampuan pribadi.
Yah, kurasa wajar saja jika dia terus ingin menipu. Ketika aku pertama kali menunjukkan barangnya, jumlah potongan emas yang diberikan hanyalah dua puluh. Bila memperhitungkan harga pasar diluar, ini setidaknya bernilai lima puluh koin. Ini perlu di diskusikan sebentar.
"Ini tidak masuk akal"
Dengan melempar tas berisi emas yang tadi diberikan kepadaku ke atas meja, aku tertawa mencemoohnya. Seolah tak senang dan dengan sombongnya bersandar di tempat duduk.
"Bukankah ini harga wajar?"
"Apa kau meremehkanku? Mustahil bagi anak yang tidak tahu harga pasar bisa datang ke tempat ini, kan? Kalian ini seperti organisasi tingkat rendah yang menilai orang dari penampilan atau apa?"
"Jika dilihat dari luar, memang begitu. Kami adalah organisasi yang mempunyai sedikit pengaruh di kota ini dan tidak benar-benar memiliki masalah dengan uang. Dalam kasus terburuk, kesepakatan kita akan batal"
"Kebohonganmu sangat jelas. Hal yang sangat langka semacam ini pastinya di inginkan oleh dirimu dan organisasi lain, ya kan?"
"Hahaha, sepertinya kau mengerti. Namun....ada cara mendapatkannya tanpa menggunakan uang, kau tahu?"
Bersamaan ketika lengannya terangkat, niat intens membunuh muncul dari beberapa sudut di kegelapan.
"Kalau begitu....bagaimana?"
Pria itu menurunkan lengannya sambil mengambangkan senyum kejam, niat membunuh di sekitar pun lenyap. Apa ini? Kau ingin berkata 'Aku bisa membunuhmu dengan satu tanda'? Ekstrim, seperti yang diharapkan dari sebuah organisasi bawah tanah.
"Semakin absurd. Jangan-jangan kalian berpikir aku mendapatkan ini secara kebetulan ya?"
Aku menggunakan {Search} sambil mengetuk-ngetuk meja dengan ringan. Dari apa yang kuketahui, ada dua orang di balik langit-langit, satu di sudut gelap kiri, dan satu di sisi lain pintu di belakangku.
"Dua di langit-langit, satu di sudut, dan satu di belakang pintu. Termasuk dirimu, totalnya lima orang. Jika kau bisa melawan Jewel Turtle hanya dengan jumlah ini....datanglah padaku"
Kau tidak boleh membiarkan seseorang memandang rendah dirimu selama negosiasi. Bahkan jika berada di posisi yang kurang menguntungkan, kalau kau mulai mengeluh, mereka akan memanfaatkannya dan mengubah situasi ke jalur yang mereka inginkan.
Bertindaklah keras sampai akhir, terkadang sengaja menunjukkan kelemahan juga tidak apa-apa, itu akan membuat seseorang mendapat kondisi yang menguntungkan. Masalah memang agak rumit ketika itu mengenai sisi gelap dunia, tapi entah masa lalu ataupun sekarang, masalah kecil bisa diurus dengan cara menyerang sambil bertingkah kuat. Inilah gaya utamaku.
"Ada apa? Kau memiliki dua orang di langit-langit yang siap melempar pisau dan orang dibelakang akan mengakhirinya dalam satu tebasan, kan? Atau mungkin, kau berniat menahanku, dan menyuruh mereka berempat menyerang secara bersamaan?"
Ketika diriku melepaskan sedikit tekanan bercampur Mana, pria di depanku meneguk ludah sambil berkeringat.
"Dengan melawanku, setidaknya organisasimu takkan tertinggal tanpa cedera. Jika sudah begitu, organisasi lain akan berdatangan dan memanfaatkan celah yang muncul"
Ketika selesai berucap, aku berhenti menekan dan mengeluarkan pisau mithril untuk menunjukkannya pada pria ini.
"Hanya saja, aku sama sekali tidak tertarik dengan organisasimu. Yang kuinginkan hanyalah menjual permata ini secara diam-diam. Boleh-boleh saja untuk mengujiku, tapi bagaimana kalau kita langsung ke intinya?"
Orang-orang ini mencoba untuk membeli murah dan mengintimidasi hanya untuk memeriksa. 'Apa dia layak melakukan bisnis dengan kita?' Mereka menggunakan metode langsung untuk menemukan jawabannya. Sedangkan bagiku, mundur setelah memberi tekanan, agar mereka lega, lalu memamerkan pisau mithril mahal dan membuat mereka sadar bahwa aku bukanlah bocah biasa.
Mungkin orang-orang ini akan menyerah setelahnya.
"Kemampuan dan wawasanmu....aku telah sangat memahaminya. Aku minta maaf karena melakukan hal seperti ini untuk mengkonfirmasi"
"Jangan khawatir. Itu merupakan langkah yang diperlukan selama kau tinggal di dunia bawah. Kalau begitu, kau jadi membeli ini?"
"Ya, kami akan membelinya. Adapun harga....bagaimana dengan lima puluh koin emas?"
Hmmm....lima puluh keping emas memang sudah cukup, tapi pria ini masih berusaha memanfaatkanku.
"Permata ini berada dalam kondisi sempurna, sangat murni dan tanpa kecacatan. Bila dijual pada sebuah pelelangan, harganya pasti tinggi. Seratus koin emas"
"Kau pasti bercanda. Hubungan kita bukan hanya membeli dan menjual barang. Mengingat adanya masalah privasi, lima puluh lima koin emas"
"Namun, ini adalah batu mentah asli yang indah. Kalau diolah, para bangsawan akan berdatangan untuk membelinya. Sembilan puluh koin emas"
"Kau tidak tahu seberapa banyak usaha dan waktu untuk mengolahnya, ya? Lima puluh lima koin"
"Aku memiliki hobi kerajinan. Jadi harga setingkat itu kurasa masuk akal setelah dijadikan perhiasan. Delapan puluh koin"
"Apa?! Begitu ya, luar biasa. Bagaimana dengan tujuh puluh lima koin?"
"....Setuju"
"Negosiasi selesai. Kalau begitu, aku akan mempersiapkan uangnya segera, tunggulah dulu"
Yang kuberikan pada pria itu adalah sejenis kerajinan lampu, di mana aku memasukkan potongan batu rubi mentah.
Ditaburi dengan permata kecil, masing-masingnya dituliskan lingkaran sihir yang menciptakan sinar, {Light}. Seluruh bagian lampu akan bercahaya, kegunaan utamanya memang hanya untuk memunculkan rasa kagum. Seorang bangsawan yang memiliki suatu ketertarikan pada perhiasan unik pasti akan membelinya. Memang butuh waktu dan usaha, namun tak menjadi sia-sia karena aku menganggap proses pembuatannya sebagai latihan.
"Tujuh puluh lima koin emas. Kau mau memastikannya sendiri?"
"Tentu saja"
Bukannya tidak percaya, tapi tanpa mengecek suatu hal di organisasi bawah tanah, malah membuatmu diragukan. Contoh saja, menempatkannya langsung ke saku dada tanpa melakukan verifikasi mungkin terlihat keren, tapi dari sudut pandang pedagang di dunia bawah, itu hanya membuat dirimu tidak layak diurus. Saat berhadapan dengan uang dan barang, penampilanmu melakukan sesuatu menunjukkan tingkat kepercayaan. Hanya saja, ini bukan sesuatu yang harus aku katakan saat melakukannya, namun karena aku tidak berniat untuk bertemu orang-orang ini lagi, itu mungkin sesuatu yang tidak perlu.
"Aku telah memastikannya, tujuh puluh lima koin. Kalau begitu, sekarang saatnya diriku pamit"
"Ah, ini adalah negosiasi yang berharga"
'Kau sudah mau kembali?' Dia tidak berucap hal seperti itu untuk menghentikanku. Hubungan kami bukannya dalam kondisi buruk, melainkan dia mengerti bahwa aku berhubungan dengan pihak bawah untuk menghindari campur tangan orang luar. Pada sudut pandang lain malah terkesan bagus, mereka memang termasuk organisasi bawah tanah, namun dapat dipercaya selama kau mencapai kesepakatan.
"Baiklah. Karena koin-koin emas ini sudah menjadi milikku, sebagai sebuah organisasi, Melissa tak akan mengganggu dengan apapun, kan?"
"....Benar juga. Aku bersumpah bahwa Melissa takkan mencoba terlibat lagi, tak peduli apapun yang terjadi"
"Aku akan terus mengingat kata-katamu itu"
Dengan cepat, aku meninggalkan ruang bawah tanah, keluar dari gang belakang menuju jalan utama, dan menghembuskan nafas. Sudah lama sekali aku tidak terlibat dengan dunia bawah, kelelahan mental ini membuatku bosan. Meski begitu, berakhir dengan mendapat harga mahal, mungkin aku akan membeli oleh-oleh untuk para penghuni rumah dulu dan pulang. Sambil berjalan melalui jalan utama, aku membeli barang-barang yang menarik perhatianku.
Sebuah pita untuk Emilia, sarung tangan kokoh untuk Reus. Namun apa hadiah pernikahan yang pas untuk Noel dan Dee, ya? Akan terlalu dini untuk keperluan bayi, jadi mungkin sesuatu seperti liontin pasangan atau sejenis itu.
Setelah menemukan dan membeli apa yang aku inginkan, diriku pergi keluar kota, menuju hutan terdekat. Memang tidak apa-apa untuk segera kembali, namun sepertinya masih ada satu pekerjaan kecil yang harus dilakukan.
"....Keluarlah"
Dari gumamku, seorang pria berpakaian hitam menunjukkan dirinya.
Orang ini mengikutiku sepanjang jalan dari ruang bawah tanah. Aku mampu merasakan beberapa kehadiran ketika menggunakan {Search}, yah, orang ini adalah satu bagian dari orang-orang yang mengelilingiku sejak beberapa waktu lalu. Ada beberapa kehadiran lain yang kutahu untuk pertama kalinya, tapi ini pasti tidak ramah. Kurasa aku akan bergerak terlebih dahulu.
"Sepertinya bukan kebetulan kau bisa merasakan kehadiranku. Bagaimana kau melakukannya?"
"Kau pikir aku ini bodoh? Lagipula, apa yang kau inginkan? Seharusnya aku menerima uang melalui negosiasi yang tepat"
"Aku hanya berpikir jumlah itu terlalu banyak untuk bocah sepertimu. Jadi, orang dewasa sepertiku datang untuk mengambilnya kembali"
Pria itu tersenyum serakah sambil menyodorkan pisau di hadapanku. Aku memang mengira ini akan terjadi sampai batas tertentu, tapi hal terlalu mudah untuk dimengertipun datang, ya....
"Agak aneh ketika kesombongan muncul dari bocah nakal, jadi aku akan mengajarimu tentang dunia para orang dewasa. Biaya pendidikannya adalah uang dan pisau berhargamu itu. Hal itu agak mengejutkan petinggi seperti diriku tanpa bisa menahan"
"Boleh-boleh saja untuk mengajar, hanya saja kau merupakan orang yang tidak memiliki keahlian untuk memegang pisau. Sadarilah kemampuanmu sendiri dengan benar"
"Cih, bocah nakal yang membuat kesal. Oi, keluarlah kalian semua!!"
Pria itu mengangkat lengan, orang-orang pemberanipun....Tak satupun yang keluar. Dia melihat sekeliling dengan rasa ingin tahu, mengangkat dan menurunkan lengan beberapa kali, tapi tak ada yang terjadi.
"Sialan, orang-orang itu mengkhianatiku!!"
Tidak, tidak, mereka bukannya mengkhianatimu, mereka hanya tidak bisa datang.
Sementara kita berbicara, aku mendeteksi mereka semua dan menembak hingga menembus kepala seluruh anggota. Kau dapat menemukan mereka pada bagian bawah bayang-bayang rumput di sekeliling, mereka seharusnya berbaring disana. Yang tersisa hanyalah dirimu.
"Cukup! Aku bisa melakukannya sendiri. Aku akan mengambil kembali uangnya dan dipromosikan. Aku bosan tunduk oleh si botak itu meski lebih unggul darinya!"
Begitu ya, tujuannya bukanlah uang, tapi untuk meningkatkan statusnya di dalam organisasi. Memang bagus untuk mencari kesuksesan dalam hidup, namun apa kau lebih unggul dari pria itu? Orang ini sangat salah mengerti.
"Kenapa semua orang ribut hanya karena dia sedikit pintar. Bertindak lemah lembut dihadapan bocah nakal, aku ingin tahu apa yang dia takuti!"
Kau kekurangan kemampuan untuk mengenali yang kuat. Paling tidak pria itu memahami diriku sebagai orang yang kuat setelah memastikannya dan merespon dengan sikap hormat. Di dunia bawah, bahaya akan selalu menghampiri lehermu, jadi orang yang memiliki keunggulan dalam mengurus risiko akan bertahan. Ketika kau belum mengerti, itulah akhirmu.
Atau lebih tepatnya, berakhir disini.
"Sampai sejauh ini kau belum paham. {Magnum}"
Sayangnya, aku bukan orang suci. Aku akan menyerang kembali jika diserang, dan membalas perbuatan baik dengan hal yang sama. Karena orang ini jelas-jelas mengincarku, biarkan aku melakukannya tanpa menahan diri. Aku mengubur banyak orang sepertimu di dunia sebelumnya.
"Apa yang kau ocehkan---?!"
Peluru yang dilepaskan melewati otak, pria itupun meninggal tanpa mengetahui alasannya. Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya aku membunuh di dunia ini, hanya saja....aku tak merasakan apapun. Aku tidak berniat melakukan hal yang sia-sia, tapi ada kalanya harus kulakukan untuk bertahan hidup. Suatu hari aku akan membiarkan para siswaku mengalaminya.
Jari yang kutunjuk turun. Aku lalu memeriksa situasi di sekitar, namun tak menemukan tanda-tanda musuh.
Karena aku menghabisi seorang anggota, itu bisa dianggap sebagai tindakan mengobarkan pertarungan pada organisasi tersebut. Beruntungnya, aku sudah menerima janji dari pria itu, kali ini memang jelas bahwa orang disinilah yang bertindak sendiri. Proses selanjutnya akan diurus oleh organisasi. Saksi mata juga dibersihkan, jadi jika aku terbang tak ada, identitasku seharusnya tidak ketahuan.
Dengan begitu, diriku pulang sambil membawa setumpuk koin emas.
☆☆☆☆
Bagian 2
"Selamat datang kembali, Sirius-sama"
"Selamat datang kembali, Aniki!"
Begitu sampai di rumah, para saudara yang sedang berlatih di kebun menyambutku. Petunjuk masing-masing untuk pelatihan diputuskan, sehingga mereka bisa berlatih secara mandiri bahkan tanpa adanya diriku di tempat. Sisanya tergantung pada motivasi mereka, tapi melihat tingkat kelelahan keduanya, tampak kalau mereka melakukan ini dengan serius.
"Aku pulang. Apa ada hal yang terjadi?"
"Tak ada yang khusus"
"Tak ada yang terjadi selain Noel-nee dan Dee-nii yang masih berwarna pink"
Bahkan setelah satu bulan berlalu sejak upacara pernikahan tersebut, pasangan ini masih di surga. Mereka melakukan pekerjaan rumah dengan serius, namun saat istirahat dan waktu makan, main matapun sering terjadi. Kehidupan dipenuhi cinta memang hal yang baik, tapi ini membuat Emilia iri karena suasan penuh asmara. Disisi lain, Reus mulai memiliki kesan negatif terhadap pernikahan hingga berkata 'Jika aku akan bersikap lembek seperti itu, mungkin lebih baik aku tidak perlu menikah'.
Sebenarnya, ini agak mengganggu. Aku lalu meyakinkan Reus dengan menjelaskan hal tentang pernikahan, 'Anggap saja itu sebagai penyakit yang sembuh seiring waktu'. Sayangnya, aku tidak harus menghentikan kisah cinta pasangan suami-istri ini walaupun itu bisa memberikan pendidikan yang salah, jadi belakangan menjadi sesuatu yang perlu kuperhatian.
"Apa kalian berdua sudah selesai berlatih?
"Ya, aku telah menyelesaikan target harian. Hanya saja, bolehkah aku meminta Sirius-sama mengawasiku nanti ketika menggunakan sihir nanti?"
"Aku juga selesai, dan ingin pergi ke tempat occhan* Lior"
[Sejenis sama Ojii-chan, yg artinya ya kakek]
"Baiklah, aku akan memikirkannya dulu. Untuk sekarang, aku ingin semua penghuni rumah berkumpul, ada sesuatu yang perlu dibahas"
"Mengerti. Aku akan memanggil onee-chan, tempat berkumpulnya di ruang tamu kan?"
"Aku akan membawa Dee-nii"
Melihat mereka membagi peran dan bertindak setelah membaca maksudku, aku jadi agak berpikir emosional.
Emilia mulai menyerupai Erina, sedangkan Reus yang masih kekanak-kanakan mulai berperilaku tegas. Waktu kami di sini hampir berakhir. Ketika mereka sudah cukup mengumpulkan pengalaman, kakak beradik ini harusnya bisa melangkah kedunia luar tanpa masalah.
Sambil merasa senang dengan pertumbuhan mereka, aku menuju ruang tamu dan menunggu semua orang berkumpul.
"Ini adalah hasil hari ini"
Seiring dengan setumpuk koin emas yang jatuh di atas meja, mata semua orang berubah menjadi titik-titik. Secara keseluruhan, koin emas berjumlah tujuh puluh lima, sekitar tujuh setengah juta yen jepang. Nilai mata didunia ini mungkin memang tidak normal.
"Me-Menakjubkan~~!!! Aku belum pernah melihat koin emas sebanyak ini~!!!"
"Awalnya, kupikir paling banyak adalah lima puluh. Tapi bisa sampai seperti ini...."
"Nee-chan, nee-chan, sepertinya aku tidak tahu apa yang hebat dari hal itu"
"Hmmm, apa kau mengerti jika aku berkata kalau satu keping ini bernilai dua puluh koin perak?"
"Ooh! Sungguh menakjubkan! Tapi aku tidak butuh terlalu banyak"
Ini bukan uangmu, tapi kedua bersaudara ini memang tidak mengenal keserakahan ya. Nah, mereka lahir di sebuah desa di mana uang tidak diperlukan, dari budak mereka menjadi siswaku. Tanpa pernah pergi ke kota dan selalu tinggal di rumah ini, aku kira kebutuhan tentang uang akan memudar....
"Aku rasa Emilia sudah mengerti. Baiklah, Reus, uang memiliki arti penting. Contohnya, tanpa koin emas ini, kita tidak akan bisa bersekolah"
"Begitu ya! Berapa banyak yang dibutuhkan untuk sekolah?"
"Jika ingatanku benar, mungkin lima belas koin? Itu biaya yang mahal bagi masyarakat biasa"
"Artinya, tiga orang masing-masing menghabiskan lima belas koin. Apa yang akan Sirius-sama lakukan dengan sisanya, ada tiga puluh koin tertinggal kan?"
Sebenarnya, harga permata mula-mula adalah lima puluh koin, tapi aku terbawa suasana dan menegosiasikannya terlalu banyak. Yah, itu tidak termasuk persoalan karena ada uang, dan aku sudah memutuskan untuk menggunakannya dibagian mana.
"Yah....Noel, Dee, apa kalian ingin menggunakan kesempatan ini untuk pergi juga ke sekolah?"
"....Tidak~. Sebelumnya aku memang ingin pergi, tapi sejak menikah, aku tidak lagi menyesalinya~"
"Bahkan jika uang ini membuat kalian dilindungi oleh sekolah, ini masihlah diperlukan. Silakan gunakan sisanya untuk biaya hidup"
Saran ini kulontarkan setengah serius, tapi sesuai dugaan, mereka menolak. Nah, setelah memeriksa di buku, sepertinya mayoritas diisi oleh anak-anak dan remaja ketika mendaftar. Usia mungkin akan menjadi kendala.
"Kalau begitu, aku akan memutuskan penggunaannya. Dee, orang itu akan datang lusa, benar kan?"
"Ya, harusnya begitu, lebih tepatnya pada siang hari"
"Sepertinya aku tepat waktu"
Bahkan tak sampai setengah bulan sampai kami diusir.
Meski begitu, tanpa menampilkan wajahnya, dan tak mengirim sepucuk surat pun. Aku lalu memutuskan untuk memanggilnya ke sini sendiri.
Hanya akan timbul masalah jika aku membiarkan waktu berlalu. Aku ingin menyelesaikannya sebelum pergi ke sekolah.
Lusa, aku akan bertemu ayah untuk pertama kalinya sejak kelahiranku.
☆☆☆☆
Dan, hari itupun tiba.
Aku bertemu ayahku, Bardomyl Dorianus, di ruang tamu.
Aku menyuruh Dee berdiri di belakangku, sedangkan para ras binatang berada di kamarku.
Nah, ini adalah pertemuan pertama dengan ayah, tapi keriput dan rambut putihnya telah meningkat sejak terakhir kali aku melihat. Tubuhnya semakin gemuk, jelas sekali dia menjalani kehidupan yang tidak beradab. Sepertinya dia satu langkah menjauh dari tanda-tanda geriatri*.
[Geriatri itu pengetahuan tentang usia lanjut. Tapi yang dimaksud Sirius disini adalah ayahnya itu semakin tua, semakin goblok. Gak peduli sama kesehatan dan maunya cuma hepi-hepi -_- ]
"Senang bertemu dengan Anda untuk pertama kalinya. Namaku Sirius"
"Heh? Sopan, agak tak dapat dipercaya ketika tahu kalau kau adalah anak yang lahir dari gadis kasar itu"
Dia segera melepaskan pukulan langsung kesebuah salam pertemuan. Bukankah aku menyapamu? Jadi balaslah itu dengan sapaan juga. Dia tidak mengerti sopan santun.
"Kau sepertinya baik-baik saja. Ngomong-ngomong, di mana pelayan itu? Namanya seperti.... jika aku ingat, Erina?"
"Erina telah meninggal beberapa bulan yang lalu. Saat ini, aku bertindak sebagai kepala rumah"
"Ahh, akhirnya jatuh juga. Dia memang kompeten dalam menjalankan tugas, tapi menyebalkan karena sering khawatir pada gadis itu"
"Berkat Erina lah aku tumbuh dengan sangat lancar. Sebagai pelayan sekaligus orang tua asuh, dia adalah wanita terbaik"
"Wanita terbaik? Dia mungkin telah mencuci otakmu sambil menanamkan rencana untuk mengambil alih rumahku"
Dia sungguh pandai menyenggol saraf orang lain. Karena dilakukan secara alami, ini bahkan lebih menjijikkan. Dee yang berdiri di belakangku menekan kemarahannya dengan tubuh yang menegang. Sisi lain pintu juga terdengar ribut.
"Hentikan, Reus! Sia-sia saja bahkan jika kau pergi ke sana!"
"Biarkan aku pergi, nee-chan! Orang itu, orang itu berbicara buruk tentang Erina-san!! Aku tidak akan memaafkannya!!!"
"Aku bisa mengerti kemarahanmu, Reu-kun~. Tapi sekarang Sirius-sama ada di sana, jadi hentikan. Tolong, tahanlah untuk saat ini"
"Kuu....Sialan!!!"
Dialog seperti itu yang tertangkap telinga setelah aku memperkuat indra pendengaran.
Meski aku menyuruh mereka menunggu di kamar, ini tidak berguna. Tolong, kalian tahanlah Reus seperti itu.
"Agak ramai disini. Apakah ini ulah 'si bukan manusia' itu?"
"Tolong jangan pedulikan. Selain itu, alasan aku memanggil Anda ke sini...."
'Si bukan manusia', mendengar hinaan ini, amarah Dee semakin meningkat. Dia memelototi ayah dengan sangat intens seolah-olah tatapan itu akan membunuhnya. Namun, pria tua ini luar biasa karena tidak menyadarinya.
"Yah, lebih baik langsung ke topik. Kenapa kau memanggilku, orang yang penuh kesibukan ini kemari? Sebaiknya ada alasan yang sesuai"
"Tentu saja. Alasannya adalah pembahasan tentang diriku yang akan meninggalkan rumah ini. Hanya sampai setengah bulan lagi hingga waktu yang dijanjikan tiba, tapi...."
Ketika aku mengatakan ini, wajah pria itu melengkung dalam ketidaksenangan.
"Tidak, sama sekali tidak! Sepertinya kau telah mendengar dari para petugas, tapi pengusiranmu dari rumah ini telah diputuskan. Aku tidak akan menundanya lagi!"
"Bukan begitu. Setelah setengah bulan....atau mungkin lebih awal, aku tidak keberatan dan sudah bersiap untuk meninggalkan rumah"
"Kalau begitu, kenapa kau harus merepotkanku dengan memanggil diriku kemari?"
"Sebenarnya, aku memiliki permintaan. Itu adalah sesuatu yang membutuhkan izin Anda, tolong lihatlah ini dulu"
Aku mengambil tas yang dibawa oleh Dee, dan menumpahkan isinya ke atas meja. Wajahnya diwarnai ketakjuban ketika menyaksikan itu.
"I-Ini....koin emas? Dan, jumlahnya juga lebih dari dua puluh?! Dari mana kau mendapatkan semua ini?!"
"Karena keberuntungan, ini adalah uang yang aku tabung sejak beberapa tahun lalu. Aku akan memberikannya untuk Anda"
"Ho-Hohou? Sikap yang cukup mengagumkan"
Begitu aku berkata akan memberikannya, dia segera mengumpulkan itu, dan menaruh semua ke dalam kantong dadanya.
Tanganmu sungguh cepat.
"Meski aku berkata itu adalah pemberian, namun sebenarnya aku hanya mengembalikan apa yang diriku pernah terima. Uang itu merupakan penebusan dari jumlah yang Anda berikan kepada Erina untuk membesarkanku. Dia telah meninggalkan catatan dengan rinci, jadi harusnya itu tidak kurang"
"Hmm, memang. Terdengar seperti suatu hal yang wanita itu akan lakukan"
"Aku sedikit menambahkannya karena aku menganggap tinggal dirumah ini merupakan hal yang juga harus dihargai. Anggap saja impas, dan terimalah"
"Kalau begitu, jangan ragu untuk mengatakannya padaku. Apa permintaanmu? Jangan katakan bahwa kau akan mulai menyemburkan omong kosong seperti ingin menjadi kandidat pewarisku?"
"Tidak, aku sama sekali tidak tertarik dengan itu. Yang ingin aku minta adalah untuk melepas nama Dorianus. Aku menginginkan kepastian bahwa diriku bukan putra Anda lagi"
Diapun berhenti bergerak ketika mendengar sesuatu yang tak terduga. Yah, aku memberinya uang dan meminta agar membuangku dari garis keluarga, jadi itu tidak mengherankan.
Memang, disaat meninggalkan rumah ini, aku juga ingin meninggalkan segala hal yang berhubungan dengannya.
Hanya saja, jika terus memiliki nama keluarga buruk dari orang ini, rasanya seperti pada suatu saat aku akan dikelilingi oleh berbagai macam masalah yang menyebalkan, jadi aku ingin memotong semua hubungan dengannya.
Itu sejauh aku ingin mendapatkan izin agar lepas dari si pemberi izin.
Aku tidak tertarik untuk menjadi seorang bangsawan, apalagi seperti dirinya yang takkan bersifat kasar kalau tanpa keunggulan.
Lebih baik diriku hanya menjadi seorang Sirius.
"Kau ingin membuang nama Dorianus yang dibanggakan? Gelar bangsawanmu juga akan menghilang"
"Aku menyadari itu. Kehidupan akan kujalani sebagai Sirius belaka, bukan sebagai putra ayah, melainkan sebagai anak Miliaria"
"Baguslah. Lagipula, itu akan terjadi juga saat kau meninggalkan rumah ini. Aku, kepala keluarga Dorianus, Bardomyl memutuskan. Kau tidak diizinkan lagi menyebut diri sebagai Dorianus, kau bahkan bukan anakku!!"
"Aku sudah mendengarnya"
....Aku bahkan tidak pernah membayangkan diriku sebagai anakmu, dan tidak ingat pernah menyebut diriku Dorianus.
"Hanya itu yang kuinginkan. Terima kasih telah menyusahkan diri untuk datang jauh-jauh ke sini"
"Memang, aku ingin berkata begitu juga, tapi ini bermanfaat bagiku"
Merasakan berat koin emas di pakaiannya, ia tampak sangat senang. Sungguh, betapa serakahnya mata itu. Aku bahkan tidak bisa membayangkan berapa banyak yang akan dia hamburkan di kota dalam perjalanan pulang.
"Nah, setengah bulan lagi, kan? Aku akan mengirim seseorang ketika saatnya tiba, jadi pergilah sebelum itu terjadi. Aku akan memberitahu mereka menendang kalian keluar karena masuk tanpa izin jika kau masih di sini"
"Mengerti. Aku akan meninggalkan rumah ini dalam waktu setengah bulan"
Bardomyl yang bertingkah laku sombong sejak awal sampai akhirpun pergi.
Dengan begini, pertemuan pertama seorang ayah dan anakpun berakhir. Mulai sekarang, aku hanyalah Sirius.
☆☆☆☆
Bagian 3
"....Sirius-sama"
Ketika hanya tersisa kami berdua seusai perginya Bardomyl, Dee meremas suara, seakan mengerang.
"Erina-san....dia diperlakukan seperti ini setiap kali bertemu pria itu, ya...."
"Mungkin. Aku tidak tahu sudah berapa kali mereka bertemu, tapi dia memang orang yang kuat"
"....Aku merasa frustrasi. Aria-sama, Sirius-sama, Erina-san, bahkan Noel di hina. Penyesalan karena tidak dapat melakukan apapun sungguh membuatku frustasi"
"Tidak, kau bertahan dengan baik. Entah apa yang aku harus lakukan jika kau mulai berkelahi dengan seorang bangsawan. Kau telah menahan amarahmu demi Noel. Itu bisa dibanggakan"
"Kata-kata barusan lebih dari cukup untukku"
"Lagipula, aku bukan lagi seorang bangsawan. Pada saat yang sama kalian dipecat sebagai petugas. Jadi tak perlu lagi menghormatiku, kau tahu?"
"Tidak. Dari awal, masterku bukanlah bangsawan....melainkan hanya Sirius-sama"
"Sama denganku~~!"
"Aku juga! Aku adalah petugas Sirius-sama seumur hidup!"
"Aku juga, Aniki!!"
Aku menyadari semua orang telah berkumpul di belakangku. Seluruh penghuni rumah merasakan hal yang sama, menatapku dengan mata dilimpahi kepercayaan. Obligasi yang kami bangun tidaklah sia-sia.
"Ayah Sirius-sama...."
"Dia bukan lagi ayahku, Emilia. Jadi kau bisa memanggilnya apapun semaumu dan menjelek-jelekkannya, aku tidak keberatan"
"Aku mengerti. Orang itu benar-benar mengerikan. Bahkan jika tidak sah, bersikap sedingin ini kepada anaknya sendiri. Rasanya tak dapat dipercaya"
"Ya, itu benar!! Dia bahkan mengolok-olok Erina-san! Aku hampir saja memotongnya jika Aniki tidak ada di sana!"
Ras serigala perak adalah ras yang menghargai keluarga mereka, dengan kata lain pria itu tidak mungkin dimaafkan. Kalian sangat marah dan mengeluh lebih dariku, tapi dengan begini mereka harusnya tahu bahwa sampah semacam itu ada, ya kan?
"Dia membenci ras binatang seperti itu, jadi ada saat dimana aku akan dilecehkan ketika tinggal di rumah besarnya~. Aria-sama dan Erina-san melindungiku, jadi tidak ada hal yang terlalu serius terjadi"
"Apa yang dia benci tentang ras binatang? Meskipun Noel itu manis"
"Sayang~...."
"Noel...."
....Kalian berdua benar-benar memiliki masalah menahan diri, kan? Aku tidak bisa mengantisipasi apa yang akan menyebabkan mereka menciptakan 'Dunia Cinta' lagi. Ketika aku berdehem, mereka mulai dengan panik menjaga jarak dan mencoba membuat percakapan kembali ke jalur semula.
"M-Meski begitu~. Sirius-sama benar-benar menahan diri dengan baik. Jika itu diriku, saat dia berbicara buruk tentang Erina-san, aku pasti akan menamparnya!"
"Ya!! Membalas saat dipukul lebih seperti dirimu, Aniki!!"
"Apa kalian benar-benar berpikir bahwa aku tidak melakukan apapun?"
"....Mungkinkah....yang kau berikan padanya adalah barang palsu?"
"Salah"
Koin-koin emas yang kuserahkan kepada Bardomyl itu memang asli. Hanya saja, aku menempelkan suatu trik ke koin itu sendiri.
"Aku memasang {Impact} ke beberapa koin emas dengan mengatur waktu kapan harus aktif. Kekuatannya memang sudah sangat ditekan, tapi ledakannya akan membuat koin-koin bertebaran"
Aku telah melapisi {Impact} dengan Mana padat. Seiring waktu berlalu, lapisan Mana ini akan terurai dan perlahan menghilang, sihirpun aktif dengan penundaan. Ini jugalah yang kugunakan selama melawan Turtle Jewel.
Jedanya beberapa jam sejak aku memasang trik itu, dan akan menyebabkan keributan saat melibatkan lingkungan sekitar. Dia pasti akan merasakan dampaknya langsung karena menaruhnya di saku dada, atau mengekspos penampilan tak sedap dipandang saat mencoba mengumpulkan koin emas yang berserakan dengan tergesa-gesa.
Bahkan jika koin-koin itu sampai ke tangan orang lain, dia masih akan bersalah karena menciptakan korban dijalan.
Ketika aku menjelaskan sambil berpikir ini mungkin sedikit jahat, para pelayan mendukung dengan kedua tangan terangkat tinggi.
"Seperti yang diharapkan dari Sirius-sama~~!! Meskipun disesalkan aku tidak dapat melihatnya sendiri, namun mengetahui bahwa orang itu akan panik membuatku merasa lebih baik~!"
"Hehe, rasakan itu!!"
"Seorang pria yang tidak menghargai keluargaku layak menderita!"
"Ini adalah hasil dari perbuatannya"
Selama beberapa saat mereka terus mengucapkan semua itu. Namun sudah tiba waktunya untuk memulai langkah baru. Aku menepukkan kedua tanganku dan mengganti arus percakapan.
"Baiklah, ayo tinggalkan sampah semacam itu dan beralih ke tujuan berikutnya. Semua orang sudah bersiap untuk berangkat, kan?"
"Ya, tak ada yang terlewatkan"
"Rumah dibersihkan dengan sempurna. Sama seperti baru dibangun~!"
"Tak ada masalah disini"
"Aku siap pergi kapan saja!"
Dengan senang hati mengangguk pada jawaban semua orang, aku dengan lantang mengumumkan.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita berpesta!! Jadwal hari ini adalah bersenang-senang sepanjang malam!!!"
""""Yaaa~~!!!!""""
Persiapan untuk berangkat telah selesai.
Besok, kami akan meninggalkan rumah ini.
Aku telah memutuskan untuk pergi sehari setelah bertemu Bardomyl.
Karena menyerahkan uang sebanyak itu dengan mudah, dia mungkin mengira aku memiliki lebih banyak dan mencoba menggeledah tempat ini. Semakin cepat kami pergi, semakin baik.
Kesepakatannya adalah setengah bulan, dia takkan pernah mengira kami akan pergi keesokan harinya. Sempat terlintas dipikiranku penampilannya yg kecewa setelah melihat rumah ini benar-benar sepi.
☆☆☆☆
"Sirius-sama, dari tadi aku memikirkan ini. Apa yang akan kau lakukan tentang nama rumahmu?"
"Ah, benar juga....Ini akan diperlukan begitu aku sampai di dunia luar, ya"
Noel melontarkan pertanyaan itu disaat kami mempersiapkan pesta.
Nama rumah....itu merujuk pada nama seperti Dorianus, yang pernah aku tinggalkan sebelumnya, atau Silvarion kedua bersaudara.
Ini akan dianggap nama keluarga dalam duniaku dulu. Tentu saja Noel dan Dee juga memilikinya. Namun orang awam hampir tidak mempunyai nama rumah, jadi hal itu tak terlalu kupermasalahkan.
Nama rumah terutama digunakan oleh bangsawan. Aku sempat menolaknya karena itu hanya membuatku terkesan berada di posisi tinggi.
Walaupun, tampaknya ini adalah aib untuk publik bagi yang tidak mempunyainya. Aku harus memikirkan sesuatu.
"Setahuku~. Umumnya itu, kau harus menamai diri dengan Eldrand sesuai dengan Aria-sama~"
"Aku sebenarnya juga ingin, tapi keluarga Eldran adalah bangsawan meski sudah lenyap. Jika masyarakat tahu bahwa keluarga cabangnya masih ada, mungkin akan menimbulkan masalah"
"Kalau begitu, ayo kita pikirkan yang baru. Sebuah nama rumah yang bermartabat dan secara bertahap melambung ketenarannya....seperti legenda~"
"Aku bukannya ingin terkenal di dunia...."
"Tidak. Aku sangat yakin ketika mengatakan ini, Sirius-sama yang memiliki kemampuan dan kekuatan seperti itu pasti akan terkenal"
Aku sama sekali tidak menginginkan kepopuleran atau sejenisnya, dan hanya berniat untuk mengembangkan para siswaku. Sementara pikiranku berkutat, Noel mengumpulkan semua orang, lalu memulai sebuah pertemuan mendadak untuk memutuskan nama rumah baru.
"Topik pertemuan kali ini adalah 'Nama rumah untuk Sirius-sama'. Semua orang, tepuk tangan~!!"
Aku heran tentang kenapa dia bisa begitu saja memulai sesuatu secara tiba-tiba. Mungkin akan ada babak kedua?.
Tepuk tanganpun bermunculan seakan memgiringi Tsukkomi pikiranku, para petugaspun mulai melemparkan gagasan satu demi satu.
"Sesuatu yang sejenis nama raja itu bagus. Karena Aniki sudah seperti yang terkuat"
"Bagaimana dengan hal-hal seperti Naga?"
"Umm....aku tidak keberatan jika memakai nama kami. Sirius Sylvarion....ahh indahnya, seakan-akan menjadi suamiku...."
"Apa yang kau bicarakan, nee-chan? Jika dia memakai nama rumah kita, Aniki akan menjadi seperti saudara sungguhan!!"
Astaga....aku tidak mampu membayangkan nama apa yang muncul jika menyerahkannya kepada mereka.
Aku akan memutuskannya sendiri sebelum ada sebutan aneh yang keluar.
Hmmm....awalnya aku ingin menggunakan nama di kehidupan terdahulu, tapi kepalaku masih belum bisa mengingatnya.
....Nama yang sederhana, tidak mencolok, dan menyimbolkan diriku. Itu akan bagus.
Menyimbolkan....karena aku bermaksud menjadi seorang pengajar....'teacher'*?.
[Huruf kanjinya 教師 cara ngucapinnya itu 'Kyoushi'. Artinya bisa sebagai guru atau pengajar. 教 (Kyou)= mengajar]
"....Teacher*"
[Dan disini dia berkata ティーチャー. Dilafalkan 'Ticha' atau 'teacher']
"Ti~chaa~? Aniki, apa artinya?"
"Dikehidupanku dulu---bukan, menurut literatur lama, kata itu memiliki makna seorang guru"
"Guru....itu sangat sesuai untuk Sirius-sama. Aku pikir itu bagus"
"Aku juga beranggapan sama~! Sirius-sama adalah master sekaligus guru kita"
"Dia mengetahui berbagai hal, itu persis menggambarkan dirinya. Ya, sangat cocok"
"Dengan ini....sudah diputuskan?"
"Baiklah....mulai sekarang, namaku adalah Sirius Teacher"
....Itulah bagaimana nama rumahku ditetapkan.
Setelahnya, kami berpesta ria. Menghabiskan malam terakhir di rumah ini bersama seluruh anggota keluarga.
☆☆☆☆
Keesokan paginya, setelah mengemasi berbagai hal, kami berbaris di halaman depan.
Diriku sudah disini selama delapan tahun. Wajar saja jika muncul suatu keterikatan. Sejujurnya, aku tidak ingin berangkat menjauh. Bahkan bagi kedua bersaudara yang tinggal di sini untuk waktu singkat, ini juga merupakan rumah mereka....hingga mulai meneteskan air mata penuh rasa syukur. Sedangkan Dee dan Noel hanya memandangi bangunan itu tanpa mengucapkan sepatah katapun, seakan tenggelam oleh memori.
Kami tak boleh terkurung selamanya dalam kenangan.
....Semua orang mungkin takkan bergerak sampai ada yang mulai melangkah pergi.
Aku menyentuh bahu kakak beradik ini, dan memunggungi rumah kami.
Sambil mendengar ayunan pijak kaki para petugas, diriku bergerak maju tanpa menoleh ke belakang.
....Aku pergi....kaa-san.
☆☆☆Chapter 23 Berakhir disini☆☆☆
>Catatan Penulis : Sirius Teacher.
Diterjemahkan oleh ZasuNovel
Bagian 1
Medria, satu dari sekian kota yang ada di benua Adroad.
Meski tidak sebesar kota yang memiliki kastil, namun berada ditingat ukuran menengah dengan kerumunan orang berlalu lalang menyesakkan, itulah tempatku berada sekarang.
Tujuanku adalah menjual permata dari Jewel Turtle.
Aku mencoba menjualnya di Serikat petualang dan toko-toko yang lebih besar, tapi ternyata itu memang mustahil. Mereka takkan mau mendengarkan seorang bocah yang tak jelas asal usulnya. Jadi agar identitasku tidak diketahui, aku memutuskan untuk menjual ini menggunakan organisasi bawah tanah.
Salah satu organisasi yang berada di Medria, terutama menangani urusan ilegal, Melissa.
Setelah mengumpulkan informasi di bar, aku berhasil masuk ke ruang bawah tanah. Itulah markas besar mereka.
Begitulah, di sebuah ruangan yang hanya diterangi samar-samar oleh lilin, diriku duduk di depan pria yang merupakan salah satu petinggi Melissa.
Pria itu botak, tanpa satupun helai rambut di kepalanya dan memiliki beberapa bekas luka di wajah, seorang pria paruh baya yang tampak dipenuhi martabat. Dia mencoba mengintimidasiku dengan otot-otot terlatih tanpa menyembunyikannya sama sekali, tapi ini sangat remeh dibandingkan dengan Lior. Karena dia---tidak menilai seorang anak berjubah dengan tudung di atas kepalanya---dari penampilan, dia pasti pria yang sangat menghargai kemampuan pribadi.
Yah, kurasa wajar saja jika dia terus ingin menipu. Ketika aku pertama kali menunjukkan barangnya, jumlah potongan emas yang diberikan hanyalah dua puluh. Bila memperhitungkan harga pasar diluar, ini setidaknya bernilai lima puluh koin. Ini perlu di diskusikan sebentar.
"Ini tidak masuk akal"
Dengan melempar tas berisi emas yang tadi diberikan kepadaku ke atas meja, aku tertawa mencemoohnya. Seolah tak senang dan dengan sombongnya bersandar di tempat duduk.
"Bukankah ini harga wajar?"
"Apa kau meremehkanku? Mustahil bagi anak yang tidak tahu harga pasar bisa datang ke tempat ini, kan? Kalian ini seperti organisasi tingkat rendah yang menilai orang dari penampilan atau apa?"
"Jika dilihat dari luar, memang begitu. Kami adalah organisasi yang mempunyai sedikit pengaruh di kota ini dan tidak benar-benar memiliki masalah dengan uang. Dalam kasus terburuk, kesepakatan kita akan batal"
"Kebohonganmu sangat jelas. Hal yang sangat langka semacam ini pastinya di inginkan oleh dirimu dan organisasi lain, ya kan?"
"Hahaha, sepertinya kau mengerti. Namun....ada cara mendapatkannya tanpa menggunakan uang, kau tahu?"
Bersamaan ketika lengannya terangkat, niat intens membunuh muncul dari beberapa sudut di kegelapan.
"Kalau begitu....bagaimana?"
Pria itu menurunkan lengannya sambil mengambangkan senyum kejam, niat membunuh di sekitar pun lenyap. Apa ini? Kau ingin berkata 'Aku bisa membunuhmu dengan satu tanda'? Ekstrim, seperti yang diharapkan dari sebuah organisasi bawah tanah.
"Semakin absurd. Jangan-jangan kalian berpikir aku mendapatkan ini secara kebetulan ya?"
Aku menggunakan {Search} sambil mengetuk-ngetuk meja dengan ringan. Dari apa yang kuketahui, ada dua orang di balik langit-langit, satu di sudut gelap kiri, dan satu di sisi lain pintu di belakangku.
"Dua di langit-langit, satu di sudut, dan satu di belakang pintu. Termasuk dirimu, totalnya lima orang. Jika kau bisa melawan Jewel Turtle hanya dengan jumlah ini....datanglah padaku"
Kau tidak boleh membiarkan seseorang memandang rendah dirimu selama negosiasi. Bahkan jika berada di posisi yang kurang menguntungkan, kalau kau mulai mengeluh, mereka akan memanfaatkannya dan mengubah situasi ke jalur yang mereka inginkan.
Bertindaklah keras sampai akhir, terkadang sengaja menunjukkan kelemahan juga tidak apa-apa, itu akan membuat seseorang mendapat kondisi yang menguntungkan. Masalah memang agak rumit ketika itu mengenai sisi gelap dunia, tapi entah masa lalu ataupun sekarang, masalah kecil bisa diurus dengan cara menyerang sambil bertingkah kuat. Inilah gaya utamaku.
"Ada apa? Kau memiliki dua orang di langit-langit yang siap melempar pisau dan orang dibelakang akan mengakhirinya dalam satu tebasan, kan? Atau mungkin, kau berniat menahanku, dan menyuruh mereka berempat menyerang secara bersamaan?"
Ketika diriku melepaskan sedikit tekanan bercampur Mana, pria di depanku meneguk ludah sambil berkeringat.
"Dengan melawanku, setidaknya organisasimu takkan tertinggal tanpa cedera. Jika sudah begitu, organisasi lain akan berdatangan dan memanfaatkan celah yang muncul"
Ketika selesai berucap, aku berhenti menekan dan mengeluarkan pisau mithril untuk menunjukkannya pada pria ini.
"Hanya saja, aku sama sekali tidak tertarik dengan organisasimu. Yang kuinginkan hanyalah menjual permata ini secara diam-diam. Boleh-boleh saja untuk mengujiku, tapi bagaimana kalau kita langsung ke intinya?"
Orang-orang ini mencoba untuk membeli murah dan mengintimidasi hanya untuk memeriksa. 'Apa dia layak melakukan bisnis dengan kita?' Mereka menggunakan metode langsung untuk menemukan jawabannya. Sedangkan bagiku, mundur setelah memberi tekanan, agar mereka lega, lalu memamerkan pisau mithril mahal dan membuat mereka sadar bahwa aku bukanlah bocah biasa.
Mungkin orang-orang ini akan menyerah setelahnya.
"Kemampuan dan wawasanmu....aku telah sangat memahaminya. Aku minta maaf karena melakukan hal seperti ini untuk mengkonfirmasi"
"Jangan khawatir. Itu merupakan langkah yang diperlukan selama kau tinggal di dunia bawah. Kalau begitu, kau jadi membeli ini?"
"Ya, kami akan membelinya. Adapun harga....bagaimana dengan lima puluh koin emas?"
Hmmm....lima puluh keping emas memang sudah cukup, tapi pria ini masih berusaha memanfaatkanku.
"Permata ini berada dalam kondisi sempurna, sangat murni dan tanpa kecacatan. Bila dijual pada sebuah pelelangan, harganya pasti tinggi. Seratus koin emas"
"Kau pasti bercanda. Hubungan kita bukan hanya membeli dan menjual barang. Mengingat adanya masalah privasi, lima puluh lima koin emas"
"Namun, ini adalah batu mentah asli yang indah. Kalau diolah, para bangsawan akan berdatangan untuk membelinya. Sembilan puluh koin emas"
"Kau tidak tahu seberapa banyak usaha dan waktu untuk mengolahnya, ya? Lima puluh lima koin"
"Aku memiliki hobi kerajinan. Jadi harga setingkat itu kurasa masuk akal setelah dijadikan perhiasan. Delapan puluh koin"
"Apa?! Begitu ya, luar biasa. Bagaimana dengan tujuh puluh lima koin?"
"....Setuju"
"Negosiasi selesai. Kalau begitu, aku akan mempersiapkan uangnya segera, tunggulah dulu"
Yang kuberikan pada pria itu adalah sejenis kerajinan lampu, di mana aku memasukkan potongan batu rubi mentah.
Ditaburi dengan permata kecil, masing-masingnya dituliskan lingkaran sihir yang menciptakan sinar, {Light}. Seluruh bagian lampu akan bercahaya, kegunaan utamanya memang hanya untuk memunculkan rasa kagum. Seorang bangsawan yang memiliki suatu ketertarikan pada perhiasan unik pasti akan membelinya. Memang butuh waktu dan usaha, namun tak menjadi sia-sia karena aku menganggap proses pembuatannya sebagai latihan.
"Tujuh puluh lima koin emas. Kau mau memastikannya sendiri?"
"Tentu saja"
Bukannya tidak percaya, tapi tanpa mengecek suatu hal di organisasi bawah tanah, malah membuatmu diragukan. Contoh saja, menempatkannya langsung ke saku dada tanpa melakukan verifikasi mungkin terlihat keren, tapi dari sudut pandang pedagang di dunia bawah, itu hanya membuat dirimu tidak layak diurus. Saat berhadapan dengan uang dan barang, penampilanmu melakukan sesuatu menunjukkan tingkat kepercayaan. Hanya saja, ini bukan sesuatu yang harus aku katakan saat melakukannya, namun karena aku tidak berniat untuk bertemu orang-orang ini lagi, itu mungkin sesuatu yang tidak perlu.
"Aku telah memastikannya, tujuh puluh lima koin. Kalau begitu, sekarang saatnya diriku pamit"
"Ah, ini adalah negosiasi yang berharga"
'Kau sudah mau kembali?' Dia tidak berucap hal seperti itu untuk menghentikanku. Hubungan kami bukannya dalam kondisi buruk, melainkan dia mengerti bahwa aku berhubungan dengan pihak bawah untuk menghindari campur tangan orang luar. Pada sudut pandang lain malah terkesan bagus, mereka memang termasuk organisasi bawah tanah, namun dapat dipercaya selama kau mencapai kesepakatan.
"Baiklah. Karena koin-koin emas ini sudah menjadi milikku, sebagai sebuah organisasi, Melissa tak akan mengganggu dengan apapun, kan?"
"....Benar juga. Aku bersumpah bahwa Melissa takkan mencoba terlibat lagi, tak peduli apapun yang terjadi"
"Aku akan terus mengingat kata-katamu itu"
Dengan cepat, aku meninggalkan ruang bawah tanah, keluar dari gang belakang menuju jalan utama, dan menghembuskan nafas. Sudah lama sekali aku tidak terlibat dengan dunia bawah, kelelahan mental ini membuatku bosan. Meski begitu, berakhir dengan mendapat harga mahal, mungkin aku akan membeli oleh-oleh untuk para penghuni rumah dulu dan pulang. Sambil berjalan melalui jalan utama, aku membeli barang-barang yang menarik perhatianku.
Sebuah pita untuk Emilia, sarung tangan kokoh untuk Reus. Namun apa hadiah pernikahan yang pas untuk Noel dan Dee, ya? Akan terlalu dini untuk keperluan bayi, jadi mungkin sesuatu seperti liontin pasangan atau sejenis itu.
Setelah menemukan dan membeli apa yang aku inginkan, diriku pergi keluar kota, menuju hutan terdekat. Memang tidak apa-apa untuk segera kembali, namun sepertinya masih ada satu pekerjaan kecil yang harus dilakukan.
"....Keluarlah"
Dari gumamku, seorang pria berpakaian hitam menunjukkan dirinya.
Orang ini mengikutiku sepanjang jalan dari ruang bawah tanah. Aku mampu merasakan beberapa kehadiran ketika menggunakan {Search}, yah, orang ini adalah satu bagian dari orang-orang yang mengelilingiku sejak beberapa waktu lalu. Ada beberapa kehadiran lain yang kutahu untuk pertama kalinya, tapi ini pasti tidak ramah. Kurasa aku akan bergerak terlebih dahulu.
"Sepertinya bukan kebetulan kau bisa merasakan kehadiranku. Bagaimana kau melakukannya?"
"Kau pikir aku ini bodoh? Lagipula, apa yang kau inginkan? Seharusnya aku menerima uang melalui negosiasi yang tepat"
"Aku hanya berpikir jumlah itu terlalu banyak untuk bocah sepertimu. Jadi, orang dewasa sepertiku datang untuk mengambilnya kembali"
Pria itu tersenyum serakah sambil menyodorkan pisau di hadapanku. Aku memang mengira ini akan terjadi sampai batas tertentu, tapi hal terlalu mudah untuk dimengertipun datang, ya....
"Agak aneh ketika kesombongan muncul dari bocah nakal, jadi aku akan mengajarimu tentang dunia para orang dewasa. Biaya pendidikannya adalah uang dan pisau berhargamu itu. Hal itu agak mengejutkan petinggi seperti diriku tanpa bisa menahan"
"Boleh-boleh saja untuk mengajar, hanya saja kau merupakan orang yang tidak memiliki keahlian untuk memegang pisau. Sadarilah kemampuanmu sendiri dengan benar"
"Cih, bocah nakal yang membuat kesal. Oi, keluarlah kalian semua!!"
Pria itu mengangkat lengan, orang-orang pemberanipun....Tak satupun yang keluar. Dia melihat sekeliling dengan rasa ingin tahu, mengangkat dan menurunkan lengan beberapa kali, tapi tak ada yang terjadi.
"Sialan, orang-orang itu mengkhianatiku!!"
Tidak, tidak, mereka bukannya mengkhianatimu, mereka hanya tidak bisa datang.
Sementara kita berbicara, aku mendeteksi mereka semua dan menembak hingga menembus kepala seluruh anggota. Kau dapat menemukan mereka pada bagian bawah bayang-bayang rumput di sekeliling, mereka seharusnya berbaring disana. Yang tersisa hanyalah dirimu.
"Cukup! Aku bisa melakukannya sendiri. Aku akan mengambil kembali uangnya dan dipromosikan. Aku bosan tunduk oleh si botak itu meski lebih unggul darinya!"
Begitu ya, tujuannya bukanlah uang, tapi untuk meningkatkan statusnya di dalam organisasi. Memang bagus untuk mencari kesuksesan dalam hidup, namun apa kau lebih unggul dari pria itu? Orang ini sangat salah mengerti.
"Kenapa semua orang ribut hanya karena dia sedikit pintar. Bertindak lemah lembut dihadapan bocah nakal, aku ingin tahu apa yang dia takuti!"
Kau kekurangan kemampuan untuk mengenali yang kuat. Paling tidak pria itu memahami diriku sebagai orang yang kuat setelah memastikannya dan merespon dengan sikap hormat. Di dunia bawah, bahaya akan selalu menghampiri lehermu, jadi orang yang memiliki keunggulan dalam mengurus risiko akan bertahan. Ketika kau belum mengerti, itulah akhirmu.
Atau lebih tepatnya, berakhir disini.
"Sampai sejauh ini kau belum paham. {Magnum}"
Sayangnya, aku bukan orang suci. Aku akan menyerang kembali jika diserang, dan membalas perbuatan baik dengan hal yang sama. Karena orang ini jelas-jelas mengincarku, biarkan aku melakukannya tanpa menahan diri. Aku mengubur banyak orang sepertimu di dunia sebelumnya.
"Apa yang kau ocehkan---?!"
Peluru yang dilepaskan melewati otak, pria itupun meninggal tanpa mengetahui alasannya. Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya aku membunuh di dunia ini, hanya saja....aku tak merasakan apapun. Aku tidak berniat melakukan hal yang sia-sia, tapi ada kalanya harus kulakukan untuk bertahan hidup. Suatu hari aku akan membiarkan para siswaku mengalaminya.
Jari yang kutunjuk turun. Aku lalu memeriksa situasi di sekitar, namun tak menemukan tanda-tanda musuh.
Karena aku menghabisi seorang anggota, itu bisa dianggap sebagai tindakan mengobarkan pertarungan pada organisasi tersebut. Beruntungnya, aku sudah menerima janji dari pria itu, kali ini memang jelas bahwa orang disinilah yang bertindak sendiri. Proses selanjutnya akan diurus oleh organisasi. Saksi mata juga dibersihkan, jadi jika aku terbang tak ada, identitasku seharusnya tidak ketahuan.
Dengan begitu, diriku pulang sambil membawa setumpuk koin emas.
☆☆☆☆
Bagian 2
"Selamat datang kembali, Sirius-sama"
"Selamat datang kembali, Aniki!"
Begitu sampai di rumah, para saudara yang sedang berlatih di kebun menyambutku. Petunjuk masing-masing untuk pelatihan diputuskan, sehingga mereka bisa berlatih secara mandiri bahkan tanpa adanya diriku di tempat. Sisanya tergantung pada motivasi mereka, tapi melihat tingkat kelelahan keduanya, tampak kalau mereka melakukan ini dengan serius.
"Aku pulang. Apa ada hal yang terjadi?"
"Tak ada yang khusus"
"Tak ada yang terjadi selain Noel-nee dan Dee-nii yang masih berwarna pink"
Bahkan setelah satu bulan berlalu sejak upacara pernikahan tersebut, pasangan ini masih di surga. Mereka melakukan pekerjaan rumah dengan serius, namun saat istirahat dan waktu makan, main matapun sering terjadi. Kehidupan dipenuhi cinta memang hal yang baik, tapi ini membuat Emilia iri karena suasan penuh asmara. Disisi lain, Reus mulai memiliki kesan negatif terhadap pernikahan hingga berkata 'Jika aku akan bersikap lembek seperti itu, mungkin lebih baik aku tidak perlu menikah'.
Sebenarnya, ini agak mengganggu. Aku lalu meyakinkan Reus dengan menjelaskan hal tentang pernikahan, 'Anggap saja itu sebagai penyakit yang sembuh seiring waktu'. Sayangnya, aku tidak harus menghentikan kisah cinta pasangan suami-istri ini walaupun itu bisa memberikan pendidikan yang salah, jadi belakangan menjadi sesuatu yang perlu kuperhatian.
"Apa kalian berdua sudah selesai berlatih?
"Ya, aku telah menyelesaikan target harian. Hanya saja, bolehkah aku meminta Sirius-sama mengawasiku nanti ketika menggunakan sihir nanti?"
"Aku juga selesai, dan ingin pergi ke tempat occhan* Lior"
[Sejenis sama Ojii-chan, yg artinya ya kakek]
"Baiklah, aku akan memikirkannya dulu. Untuk sekarang, aku ingin semua penghuni rumah berkumpul, ada sesuatu yang perlu dibahas"
"Mengerti. Aku akan memanggil onee-chan, tempat berkumpulnya di ruang tamu kan?"
"Aku akan membawa Dee-nii"
Melihat mereka membagi peran dan bertindak setelah membaca maksudku, aku jadi agak berpikir emosional.
Emilia mulai menyerupai Erina, sedangkan Reus yang masih kekanak-kanakan mulai berperilaku tegas. Waktu kami di sini hampir berakhir. Ketika mereka sudah cukup mengumpulkan pengalaman, kakak beradik ini harusnya bisa melangkah kedunia luar tanpa masalah.
Sambil merasa senang dengan pertumbuhan mereka, aku menuju ruang tamu dan menunggu semua orang berkumpul.
"Ini adalah hasil hari ini"
Seiring dengan setumpuk koin emas yang jatuh di atas meja, mata semua orang berubah menjadi titik-titik. Secara keseluruhan, koin emas berjumlah tujuh puluh lima, sekitar tujuh setengah juta yen jepang. Nilai mata didunia ini mungkin memang tidak normal.
"Me-Menakjubkan~~!!! Aku belum pernah melihat koin emas sebanyak ini~!!!"
"Awalnya, kupikir paling banyak adalah lima puluh. Tapi bisa sampai seperti ini...."
"Nee-chan, nee-chan, sepertinya aku tidak tahu apa yang hebat dari hal itu"
"Hmmm, apa kau mengerti jika aku berkata kalau satu keping ini bernilai dua puluh koin perak?"
"Ooh! Sungguh menakjubkan! Tapi aku tidak butuh terlalu banyak"
Ini bukan uangmu, tapi kedua bersaudara ini memang tidak mengenal keserakahan ya. Nah, mereka lahir di sebuah desa di mana uang tidak diperlukan, dari budak mereka menjadi siswaku. Tanpa pernah pergi ke kota dan selalu tinggal di rumah ini, aku kira kebutuhan tentang uang akan memudar....
"Aku rasa Emilia sudah mengerti. Baiklah, Reus, uang memiliki arti penting. Contohnya, tanpa koin emas ini, kita tidak akan bisa bersekolah"
"Begitu ya! Berapa banyak yang dibutuhkan untuk sekolah?"
"Jika ingatanku benar, mungkin lima belas koin? Itu biaya yang mahal bagi masyarakat biasa"
"Artinya, tiga orang masing-masing menghabiskan lima belas koin. Apa yang akan Sirius-sama lakukan dengan sisanya, ada tiga puluh koin tertinggal kan?"
Sebenarnya, harga permata mula-mula adalah lima puluh koin, tapi aku terbawa suasana dan menegosiasikannya terlalu banyak. Yah, itu tidak termasuk persoalan karena ada uang, dan aku sudah memutuskan untuk menggunakannya dibagian mana.
"Yah....Noel, Dee, apa kalian ingin menggunakan kesempatan ini untuk pergi juga ke sekolah?"
"....Tidak~. Sebelumnya aku memang ingin pergi, tapi sejak menikah, aku tidak lagi menyesalinya~"
"Bahkan jika uang ini membuat kalian dilindungi oleh sekolah, ini masihlah diperlukan. Silakan gunakan sisanya untuk biaya hidup"
Saran ini kulontarkan setengah serius, tapi sesuai dugaan, mereka menolak. Nah, setelah memeriksa di buku, sepertinya mayoritas diisi oleh anak-anak dan remaja ketika mendaftar. Usia mungkin akan menjadi kendala.
"Kalau begitu, aku akan memutuskan penggunaannya. Dee, orang itu akan datang lusa, benar kan?"
"Ya, harusnya begitu, lebih tepatnya pada siang hari"
"Sepertinya aku tepat waktu"
Bahkan tak sampai setengah bulan sampai kami diusir.
Meski begitu, tanpa menampilkan wajahnya, dan tak mengirim sepucuk surat pun. Aku lalu memutuskan untuk memanggilnya ke sini sendiri.
Hanya akan timbul masalah jika aku membiarkan waktu berlalu. Aku ingin menyelesaikannya sebelum pergi ke sekolah.
Lusa, aku akan bertemu ayah untuk pertama kalinya sejak kelahiranku.
☆☆☆☆
Dan, hari itupun tiba.
Aku bertemu ayahku, Bardomyl Dorianus, di ruang tamu.
Aku menyuruh Dee berdiri di belakangku, sedangkan para ras binatang berada di kamarku.
Nah, ini adalah pertemuan pertama dengan ayah, tapi keriput dan rambut putihnya telah meningkat sejak terakhir kali aku melihat. Tubuhnya semakin gemuk, jelas sekali dia menjalani kehidupan yang tidak beradab. Sepertinya dia satu langkah menjauh dari tanda-tanda geriatri*.
[Geriatri itu pengetahuan tentang usia lanjut. Tapi yang dimaksud Sirius disini adalah ayahnya itu semakin tua, semakin goblok. Gak peduli sama kesehatan dan maunya cuma hepi-hepi -_- ]
"Senang bertemu dengan Anda untuk pertama kalinya. Namaku Sirius"
"Heh? Sopan, agak tak dapat dipercaya ketika tahu kalau kau adalah anak yang lahir dari gadis kasar itu"
Dia segera melepaskan pukulan langsung kesebuah salam pertemuan. Bukankah aku menyapamu? Jadi balaslah itu dengan sapaan juga. Dia tidak mengerti sopan santun.
"Kau sepertinya baik-baik saja. Ngomong-ngomong, di mana pelayan itu? Namanya seperti.... jika aku ingat, Erina?"
"Erina telah meninggal beberapa bulan yang lalu. Saat ini, aku bertindak sebagai kepala rumah"
"Ahh, akhirnya jatuh juga. Dia memang kompeten dalam menjalankan tugas, tapi menyebalkan karena sering khawatir pada gadis itu"
"Berkat Erina lah aku tumbuh dengan sangat lancar. Sebagai pelayan sekaligus orang tua asuh, dia adalah wanita terbaik"
"Wanita terbaik? Dia mungkin telah mencuci otakmu sambil menanamkan rencana untuk mengambil alih rumahku"
Dia sungguh pandai menyenggol saraf orang lain. Karena dilakukan secara alami, ini bahkan lebih menjijikkan. Dee yang berdiri di belakangku menekan kemarahannya dengan tubuh yang menegang. Sisi lain pintu juga terdengar ribut.
"Hentikan, Reus! Sia-sia saja bahkan jika kau pergi ke sana!"
"Biarkan aku pergi, nee-chan! Orang itu, orang itu berbicara buruk tentang Erina-san!! Aku tidak akan memaafkannya!!!"
"Aku bisa mengerti kemarahanmu, Reu-kun~. Tapi sekarang Sirius-sama ada di sana, jadi hentikan. Tolong, tahanlah untuk saat ini"
"Kuu....Sialan!!!"
Dialog seperti itu yang tertangkap telinga setelah aku memperkuat indra pendengaran.
Meski aku menyuruh mereka menunggu di kamar, ini tidak berguna. Tolong, kalian tahanlah Reus seperti itu.
"Agak ramai disini. Apakah ini ulah 'si bukan manusia' itu?"
"Tolong jangan pedulikan. Selain itu, alasan aku memanggil Anda ke sini...."
'Si bukan manusia', mendengar hinaan ini, amarah Dee semakin meningkat. Dia memelototi ayah dengan sangat intens seolah-olah tatapan itu akan membunuhnya. Namun, pria tua ini luar biasa karena tidak menyadarinya.
"Yah, lebih baik langsung ke topik. Kenapa kau memanggilku, orang yang penuh kesibukan ini kemari? Sebaiknya ada alasan yang sesuai"
"Tentu saja. Alasannya adalah pembahasan tentang diriku yang akan meninggalkan rumah ini. Hanya sampai setengah bulan lagi hingga waktu yang dijanjikan tiba, tapi...."
Ketika aku mengatakan ini, wajah pria itu melengkung dalam ketidaksenangan.
"Tidak, sama sekali tidak! Sepertinya kau telah mendengar dari para petugas, tapi pengusiranmu dari rumah ini telah diputuskan. Aku tidak akan menundanya lagi!"
"Bukan begitu. Setelah setengah bulan....atau mungkin lebih awal, aku tidak keberatan dan sudah bersiap untuk meninggalkan rumah"
"Kalau begitu, kenapa kau harus merepotkanku dengan memanggil diriku kemari?"
"Sebenarnya, aku memiliki permintaan. Itu adalah sesuatu yang membutuhkan izin Anda, tolong lihatlah ini dulu"
Aku mengambil tas yang dibawa oleh Dee, dan menumpahkan isinya ke atas meja. Wajahnya diwarnai ketakjuban ketika menyaksikan itu.
"I-Ini....koin emas? Dan, jumlahnya juga lebih dari dua puluh?! Dari mana kau mendapatkan semua ini?!"
"Karena keberuntungan, ini adalah uang yang aku tabung sejak beberapa tahun lalu. Aku akan memberikannya untuk Anda"
"Ho-Hohou? Sikap yang cukup mengagumkan"
Begitu aku berkata akan memberikannya, dia segera mengumpulkan itu, dan menaruh semua ke dalam kantong dadanya.
Tanganmu sungguh cepat.
"Meski aku berkata itu adalah pemberian, namun sebenarnya aku hanya mengembalikan apa yang diriku pernah terima. Uang itu merupakan penebusan dari jumlah yang Anda berikan kepada Erina untuk membesarkanku. Dia telah meninggalkan catatan dengan rinci, jadi harusnya itu tidak kurang"
"Hmm, memang. Terdengar seperti suatu hal yang wanita itu akan lakukan"
"Aku sedikit menambahkannya karena aku menganggap tinggal dirumah ini merupakan hal yang juga harus dihargai. Anggap saja impas, dan terimalah"
"Kalau begitu, jangan ragu untuk mengatakannya padaku. Apa permintaanmu? Jangan katakan bahwa kau akan mulai menyemburkan omong kosong seperti ingin menjadi kandidat pewarisku?"
"Tidak, aku sama sekali tidak tertarik dengan itu. Yang ingin aku minta adalah untuk melepas nama Dorianus. Aku menginginkan kepastian bahwa diriku bukan putra Anda lagi"
Diapun berhenti bergerak ketika mendengar sesuatu yang tak terduga. Yah, aku memberinya uang dan meminta agar membuangku dari garis keluarga, jadi itu tidak mengherankan.
Memang, disaat meninggalkan rumah ini, aku juga ingin meninggalkan segala hal yang berhubungan dengannya.
Hanya saja, jika terus memiliki nama keluarga buruk dari orang ini, rasanya seperti pada suatu saat aku akan dikelilingi oleh berbagai macam masalah yang menyebalkan, jadi aku ingin memotong semua hubungan dengannya.
Itu sejauh aku ingin mendapatkan izin agar lepas dari si pemberi izin.
Aku tidak tertarik untuk menjadi seorang bangsawan, apalagi seperti dirinya yang takkan bersifat kasar kalau tanpa keunggulan.
Lebih baik diriku hanya menjadi seorang Sirius.
"Kau ingin membuang nama Dorianus yang dibanggakan? Gelar bangsawanmu juga akan menghilang"
"Aku menyadari itu. Kehidupan akan kujalani sebagai Sirius belaka, bukan sebagai putra ayah, melainkan sebagai anak Miliaria"
"Baguslah. Lagipula, itu akan terjadi juga saat kau meninggalkan rumah ini. Aku, kepala keluarga Dorianus, Bardomyl memutuskan. Kau tidak diizinkan lagi menyebut diri sebagai Dorianus, kau bahkan bukan anakku!!"
"Aku sudah mendengarnya"
....Aku bahkan tidak pernah membayangkan diriku sebagai anakmu, dan tidak ingat pernah menyebut diriku Dorianus.
"Hanya itu yang kuinginkan. Terima kasih telah menyusahkan diri untuk datang jauh-jauh ke sini"
"Memang, aku ingin berkata begitu juga, tapi ini bermanfaat bagiku"
Merasakan berat koin emas di pakaiannya, ia tampak sangat senang. Sungguh, betapa serakahnya mata itu. Aku bahkan tidak bisa membayangkan berapa banyak yang akan dia hamburkan di kota dalam perjalanan pulang.
"Nah, setengah bulan lagi, kan? Aku akan mengirim seseorang ketika saatnya tiba, jadi pergilah sebelum itu terjadi. Aku akan memberitahu mereka menendang kalian keluar karena masuk tanpa izin jika kau masih di sini"
"Mengerti. Aku akan meninggalkan rumah ini dalam waktu setengah bulan"
Bardomyl yang bertingkah laku sombong sejak awal sampai akhirpun pergi.
Dengan begini, pertemuan pertama seorang ayah dan anakpun berakhir. Mulai sekarang, aku hanyalah Sirius.
☆☆☆☆
Bagian 3
"....Sirius-sama"
Ketika hanya tersisa kami berdua seusai perginya Bardomyl, Dee meremas suara, seakan mengerang.
"Erina-san....dia diperlakukan seperti ini setiap kali bertemu pria itu, ya...."
"Mungkin. Aku tidak tahu sudah berapa kali mereka bertemu, tapi dia memang orang yang kuat"
"....Aku merasa frustrasi. Aria-sama, Sirius-sama, Erina-san, bahkan Noel di hina. Penyesalan karena tidak dapat melakukan apapun sungguh membuatku frustasi"
"Tidak, kau bertahan dengan baik. Entah apa yang aku harus lakukan jika kau mulai berkelahi dengan seorang bangsawan. Kau telah menahan amarahmu demi Noel. Itu bisa dibanggakan"
"Kata-kata barusan lebih dari cukup untukku"
"Lagipula, aku bukan lagi seorang bangsawan. Pada saat yang sama kalian dipecat sebagai petugas. Jadi tak perlu lagi menghormatiku, kau tahu?"
"Tidak. Dari awal, masterku bukanlah bangsawan....melainkan hanya Sirius-sama"
"Sama denganku~~!"
"Aku juga! Aku adalah petugas Sirius-sama seumur hidup!"
"Aku juga, Aniki!!"
Aku menyadari semua orang telah berkumpul di belakangku. Seluruh penghuni rumah merasakan hal yang sama, menatapku dengan mata dilimpahi kepercayaan. Obligasi yang kami bangun tidaklah sia-sia.
"Ayah Sirius-sama...."
"Dia bukan lagi ayahku, Emilia. Jadi kau bisa memanggilnya apapun semaumu dan menjelek-jelekkannya, aku tidak keberatan"
"Aku mengerti. Orang itu benar-benar mengerikan. Bahkan jika tidak sah, bersikap sedingin ini kepada anaknya sendiri. Rasanya tak dapat dipercaya"
"Ya, itu benar!! Dia bahkan mengolok-olok Erina-san! Aku hampir saja memotongnya jika Aniki tidak ada di sana!"
Ras serigala perak adalah ras yang menghargai keluarga mereka, dengan kata lain pria itu tidak mungkin dimaafkan. Kalian sangat marah dan mengeluh lebih dariku, tapi dengan begini mereka harusnya tahu bahwa sampah semacam itu ada, ya kan?
"Dia membenci ras binatang seperti itu, jadi ada saat dimana aku akan dilecehkan ketika tinggal di rumah besarnya~. Aria-sama dan Erina-san melindungiku, jadi tidak ada hal yang terlalu serius terjadi"
"Apa yang dia benci tentang ras binatang? Meskipun Noel itu manis"
"Sayang~...."
"Noel...."
....Kalian berdua benar-benar memiliki masalah menahan diri, kan? Aku tidak bisa mengantisipasi apa yang akan menyebabkan mereka menciptakan 'Dunia Cinta' lagi. Ketika aku berdehem, mereka mulai dengan panik menjaga jarak dan mencoba membuat percakapan kembali ke jalur semula.
"M-Meski begitu~. Sirius-sama benar-benar menahan diri dengan baik. Jika itu diriku, saat dia berbicara buruk tentang Erina-san, aku pasti akan menamparnya!"
"Ya!! Membalas saat dipukul lebih seperti dirimu, Aniki!!"
"Apa kalian benar-benar berpikir bahwa aku tidak melakukan apapun?"
"....Mungkinkah....yang kau berikan padanya adalah barang palsu?"
"Salah"
Koin-koin emas yang kuserahkan kepada Bardomyl itu memang asli. Hanya saja, aku menempelkan suatu trik ke koin itu sendiri.
"Aku memasang {Impact} ke beberapa koin emas dengan mengatur waktu kapan harus aktif. Kekuatannya memang sudah sangat ditekan, tapi ledakannya akan membuat koin-koin bertebaran"
Aku telah melapisi {Impact} dengan Mana padat. Seiring waktu berlalu, lapisan Mana ini akan terurai dan perlahan menghilang, sihirpun aktif dengan penundaan. Ini jugalah yang kugunakan selama melawan Turtle Jewel.
Jedanya beberapa jam sejak aku memasang trik itu, dan akan menyebabkan keributan saat melibatkan lingkungan sekitar. Dia pasti akan merasakan dampaknya langsung karena menaruhnya di saku dada, atau mengekspos penampilan tak sedap dipandang saat mencoba mengumpulkan koin emas yang berserakan dengan tergesa-gesa.
Bahkan jika koin-koin itu sampai ke tangan orang lain, dia masih akan bersalah karena menciptakan korban dijalan.
Ketika aku menjelaskan sambil berpikir ini mungkin sedikit jahat, para pelayan mendukung dengan kedua tangan terangkat tinggi.
"Seperti yang diharapkan dari Sirius-sama~~!! Meskipun disesalkan aku tidak dapat melihatnya sendiri, namun mengetahui bahwa orang itu akan panik membuatku merasa lebih baik~!"
"Hehe, rasakan itu!!"
"Seorang pria yang tidak menghargai keluargaku layak menderita!"
"Ini adalah hasil dari perbuatannya"
Selama beberapa saat mereka terus mengucapkan semua itu. Namun sudah tiba waktunya untuk memulai langkah baru. Aku menepukkan kedua tanganku dan mengganti arus percakapan.
"Baiklah, ayo tinggalkan sampah semacam itu dan beralih ke tujuan berikutnya. Semua orang sudah bersiap untuk berangkat, kan?"
"Ya, tak ada yang terlewatkan"
"Rumah dibersihkan dengan sempurna. Sama seperti baru dibangun~!"
"Tak ada masalah disini"
"Aku siap pergi kapan saja!"
Dengan senang hati mengangguk pada jawaban semua orang, aku dengan lantang mengumumkan.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita berpesta!! Jadwal hari ini adalah bersenang-senang sepanjang malam!!!"
""""Yaaa~~!!!!""""
Persiapan untuk berangkat telah selesai.
Besok, kami akan meninggalkan rumah ini.
Aku telah memutuskan untuk pergi sehari setelah bertemu Bardomyl.
Karena menyerahkan uang sebanyak itu dengan mudah, dia mungkin mengira aku memiliki lebih banyak dan mencoba menggeledah tempat ini. Semakin cepat kami pergi, semakin baik.
Kesepakatannya adalah setengah bulan, dia takkan pernah mengira kami akan pergi keesokan harinya. Sempat terlintas dipikiranku penampilannya yg kecewa setelah melihat rumah ini benar-benar sepi.
☆☆☆☆
"Sirius-sama, dari tadi aku memikirkan ini. Apa yang akan kau lakukan tentang nama rumahmu?"
"Ah, benar juga....Ini akan diperlukan begitu aku sampai di dunia luar, ya"
Noel melontarkan pertanyaan itu disaat kami mempersiapkan pesta.
Nama rumah....itu merujuk pada nama seperti Dorianus, yang pernah aku tinggalkan sebelumnya, atau Silvarion kedua bersaudara.
Ini akan dianggap nama keluarga dalam duniaku dulu. Tentu saja Noel dan Dee juga memilikinya. Namun orang awam hampir tidak mempunyai nama rumah, jadi hal itu tak terlalu kupermasalahkan.
Nama rumah terutama digunakan oleh bangsawan. Aku sempat menolaknya karena itu hanya membuatku terkesan berada di posisi tinggi.
Walaupun, tampaknya ini adalah aib untuk publik bagi yang tidak mempunyainya. Aku harus memikirkan sesuatu.
"Setahuku~. Umumnya itu, kau harus menamai diri dengan Eldrand sesuai dengan Aria-sama~"
"Aku sebenarnya juga ingin, tapi keluarga Eldran adalah bangsawan meski sudah lenyap. Jika masyarakat tahu bahwa keluarga cabangnya masih ada, mungkin akan menimbulkan masalah"
"Kalau begitu, ayo kita pikirkan yang baru. Sebuah nama rumah yang bermartabat dan secara bertahap melambung ketenarannya....seperti legenda~"
"Aku bukannya ingin terkenal di dunia...."
"Tidak. Aku sangat yakin ketika mengatakan ini, Sirius-sama yang memiliki kemampuan dan kekuatan seperti itu pasti akan terkenal"
Aku sama sekali tidak menginginkan kepopuleran atau sejenisnya, dan hanya berniat untuk mengembangkan para siswaku. Sementara pikiranku berkutat, Noel mengumpulkan semua orang, lalu memulai sebuah pertemuan mendadak untuk memutuskan nama rumah baru.
"Topik pertemuan kali ini adalah 'Nama rumah untuk Sirius-sama'. Semua orang, tepuk tangan~!!"
Aku heran tentang kenapa dia bisa begitu saja memulai sesuatu secara tiba-tiba. Mungkin akan ada babak kedua?.
Tepuk tanganpun bermunculan seakan memgiringi Tsukkomi pikiranku, para petugaspun mulai melemparkan gagasan satu demi satu.
"Sesuatu yang sejenis nama raja itu bagus. Karena Aniki sudah seperti yang terkuat"
"Bagaimana dengan hal-hal seperti Naga?"
"Umm....aku tidak keberatan jika memakai nama kami. Sirius Sylvarion....ahh indahnya, seakan-akan menjadi suamiku...."
"Apa yang kau bicarakan, nee-chan? Jika dia memakai nama rumah kita, Aniki akan menjadi seperti saudara sungguhan!!"
Astaga....aku tidak mampu membayangkan nama apa yang muncul jika menyerahkannya kepada mereka.
Aku akan memutuskannya sendiri sebelum ada sebutan aneh yang keluar.
Hmmm....awalnya aku ingin menggunakan nama di kehidupan terdahulu, tapi kepalaku masih belum bisa mengingatnya.
....Nama yang sederhana, tidak mencolok, dan menyimbolkan diriku. Itu akan bagus.
Menyimbolkan....karena aku bermaksud menjadi seorang pengajar....'teacher'*?.
[Huruf kanjinya 教師 cara ngucapinnya itu 'Kyoushi'. Artinya bisa sebagai guru atau pengajar. 教 (Kyou)= mengajar]
"....Teacher*"
[Dan disini dia berkata ティーチャー. Dilafalkan 'Ticha' atau 'teacher']
"Ti~chaa~? Aniki, apa artinya?"
"Dikehidupanku dulu---bukan, menurut literatur lama, kata itu memiliki makna seorang guru"
"Guru....itu sangat sesuai untuk Sirius-sama. Aku pikir itu bagus"
"Aku juga beranggapan sama~! Sirius-sama adalah master sekaligus guru kita"
"Dia mengetahui berbagai hal, itu persis menggambarkan dirinya. Ya, sangat cocok"
"Dengan ini....sudah diputuskan?"
"Baiklah....mulai sekarang, namaku adalah Sirius Teacher"
....Itulah bagaimana nama rumahku ditetapkan.
Setelahnya, kami berpesta ria. Menghabiskan malam terakhir di rumah ini bersama seluruh anggota keluarga.
☆☆☆☆
Keesokan paginya, setelah mengemasi berbagai hal, kami berbaris di halaman depan.
Diriku sudah disini selama delapan tahun. Wajar saja jika muncul suatu keterikatan. Sejujurnya, aku tidak ingin berangkat menjauh. Bahkan bagi kedua bersaudara yang tinggal di sini untuk waktu singkat, ini juga merupakan rumah mereka....hingga mulai meneteskan air mata penuh rasa syukur. Sedangkan Dee dan Noel hanya memandangi bangunan itu tanpa mengucapkan sepatah katapun, seakan tenggelam oleh memori.
Kami tak boleh terkurung selamanya dalam kenangan.
....Semua orang mungkin takkan bergerak sampai ada yang mulai melangkah pergi.
Aku menyentuh bahu kakak beradik ini, dan memunggungi rumah kami.
Sambil mendengar ayunan pijak kaki para petugas, diriku bergerak maju tanpa menoleh ke belakang.
....Aku pergi....kaa-san.
☆☆☆Chapter 23 Berakhir disini☆☆☆
>Catatan Penulis : Sirius Teacher.
World Teacher chap 23 B.indonesia
Chapter 22 Hari Cerah Setelah Hujan
Diterjemahkan oleh ZasuNovel
Bagian 1
---Sudut pandang Emilia---
Erina-san, ibu kami, sudah meninggal.
Kemarin, kami kembali ke rumah setelah menyelesaikan pemakaman. Hanya saja, suasana didalam sangat sunyi seolah-olah semua api telah padam karena angin yang berhembus kencang.
Sirius-sama berperilaku seperti tidak ada apapun yang terjadi, namun dari pandanganya, dia seakan berada ditempat lain. Ini tidak mengherankan, seseorang yang mengawasinya sejak lahir sudah meninggal. Dia pasti merasa lebih sedih daripada kami semua.
Meski begitu, Sirius-sama berinisiatif merapikan kamar Erina-san dan membimbing kami, yang berkabung, dengan memberi perintah. Dia sungguh kuat.
Dee-san masih sama seperti sebelumnya, walaupun agak bermasalah dengan pengapian ketika memasak. Namun tetap saja dia bergerak menangani pekerjaan, membuatku akhirnya bertanya apakah dia baik-baik saja tanpa ragu. Sambil tersenyum agak pahit, dia berkata 'sudah terbiasa tentang hidup dan mati sebagai seorang petualang'. Aku juga setuju, diriku mampu berpikir tenang mungkin karena pernah menyaksikan ayah dan ibuku meninggal di depan mata.
Ini pasti apa yang disebut 'membiasakan diri', tapi aku tidak ingin terbiasa dengan hal seperti itu.
Reus dan onee-chan sangat mudah dimengerti.
Setelah kembali dari pemakaman mereka menangis dan tertekan sepanjang waktu. Tapi, di pagi harinya, keduanya berlarian mengelilingi kebun. Aku pikir perasaan itu pada akhirnya akan meledak, mereka berlari sambil meneriakkan nama Erina-san dan mengucapan terima kasih padanya.
Untuk mampu menumpahkan perasaan dengan berani, itu sedikit membuat iri.
Sarapan akan segera tiba, semoga saja suasana menjadi lebih ringan.
Sedangkan diriku, berdiri di depan kamar Sirius-sama.
Kalau ini jadwal biasanya, kami akan dipanggil untuk berlarian di kebun pagi-pagi sekali, tapi hari ini aku belum menangkap sosoknya, apalagi bicara. Kupikir dia mungkin masih tidur di kamar.
Dulu, aku sering terbangun di tengah malam setelah memimpikan kedua orang tuaku, dan takut untuk kembali terlelap. Sirius-sama pasti terjaga dan tidur terlambat karena hal yang sama. Aku terselamatkan berkat dirinya, jadi kali ini, akulah yang akan menyelamatkannya.
....Tak ada jawaban, walaupun sudah mengetuk berkali-kali.
Tanpa reaksi apapun, aku memutuskan membuka pintu setelah menyiapkan diri.
"Selamat pagi, Sirius-sa....ma?"
Aneh, dia tidak ada disini. Pakaian yang Sirius-sama gunakan sebagai piyama dibiarkan begitu saja di kasur, tapi tak ada jejak kalau dia keluar lewat pintu. Alasan kenapa aku mengetahui itu adalah karena ras serigala perak memiliki indra penciuman yang tajam.
Tidak mencium apa pun di sekitar pintu, aku lalu menghampiri kasur dan mendekatkan wajahku ke piyama. Sepertinya ini sudah lama dilepas karena suhunya agak dingin.
Kemana bau ini mengarah....
"....Ah?!"
Tidak, tidak*, aku secara tidak sadar memeluk piyama Sirius-sama. Baunya terlalu memikat, ya.
[Lucu ya. Dia bilang "Ikenai ikenai" XD]
Saat mencoba mengikuti baunya, itu mengarah ke jendela. Apa dia keluar lewat sana? Sirius-sama mungkin pergi untuk berlatih di puncak gunung dan akan kembali untuk sarapan pagi, jadi sebaiknya aku membantu Dee-san.
Fakta bahwa aku mencium piyamanya sekali lagi sebelum pergi adalah sebuah rahasia.
☆☆☆☆
Hal yang serius terjadi.
Sudah waktunya sarapan pagi, namun tak peduli berapa lama aku menunggu, Sirius-sama belum kembali juga. Dia biasanya akan pulang dengan melintasi langit.
Saat pergi ke ruang tamu dan mengatakan hal ini, wajah Reus dan onee-chan yang usai berlatih, memucat.
"Itu buruk~!! Dia pasti melampiaskan seluruh perasaannya dari kehilangan Erina-san dan berkeliaran dilangit!!!"
"Aniki sedang menghadapi sesuatu! Sial, aku akan membantunya segera!!"
"Kalian berdua, tenanglah"
Sirius-sama akan baik-baik saja melawan apapun. Hanya saja, firasat menjijikkan terus lahir satu demi satu. Meski ini tidak mungkin, seandainya Sirius-sama juga pergi seperti Erina-san, kami....aku....
"....Apa yang sedang kalian ributkan?"
Menoleh ke arah suara itu berasal, matahari kami, Sirius-sama, ada di sana.
Meskipun diriku tahu....
Meskipun diriku sungguh tahu....
Tanpa bisa melepaskan rasa buruk itu, aku langsung melompat ke dadanya. Reus dan onee-chan juga ikut. Semua orang cemas karena Erina-san telah pergi.
Sirius-sama mungkin mengerti situasinya, dia mulai menggaruk kepala.
"Aku menyesal karena membuat kalian khawatir. Aku pulang terlambat karena mampir sejenak untuk melihat kuburan kaa-san"
"Tidak, tidak, mohon maafkan kami karena menunjukkan sesuatu yang memalukan"
"Tidak masalah jika aniki aman"
"Kalau begitu, ayo semuanya"
Dengan ajakan Dee-san, sarapan kami dimulai.
Hanya saja, sebelum sempat meraih hidangan, Sirius sama menepukkan kedua tangannya untuk mengumpulkan perhatian. Dia kemudian tiba-tiba menunduk.
"Aku pikir kalian sudah tenang, jadi aku akan mulai dengan meminta maaf kepada semua orang"
Apa yang dia maksud adalah karena terlambat untuk sarapan? Tidak perlu meminta maaf kepada para petugas untuk sesuatu seperti itu....mulutku ingin memberitahukannya, tapi ini mungkin berbeda.
"Sebenarnya obat yang diminum kaa-san adalah sesuatu yang disiapkan olehku. Aku membuat itu setelah menjelaskan efek-efeknya, tapi aku merasa harus menjelaskan ini kepada semua orang. Maaf"
Dia pun menunduk untuk kedua kali. Tentu saja, Sirius-sama tidak perlu meminta maaf karena itu adalah suatu hal yang Erina-san putuskan sendiri. Walaupun agak disesalkan ketika dia tidak membahasnya juga dengan kami.
"Tolong angkat kepalamu, Sirius-sama! Kemungkinan besar yang terjadi masih akan sama, bahkan jika kami tahu"
"Ya, aniki. Sebaliknya, kamilah yang harus meminta maaf karena tidak dapat melakukan apapun"
"Kita tinggalkan saja sebagai kesalahan dari kedua belah pihak"
"Ya, Dee-san benar~! Kedua belah pihak harus disalahkan, kedua belah pihak!"
"....Agak melegakan ketika kalian mengatakan begitu"
Entah bagaimana berhasil membuatnya mengangkat kepala, kamipun menarik napas lega. Sepertinya Sirius-sama masih memiliki sesuatu yang ingin diutarakan. Kamipun bersiap untuk mendengarkannya.
"Aku akan mengucapkan ini dengan tegas. Pastinya aku merasa sedih karena kaa-san, Erina sudah pergi. Namun dia meninggal setelah berkata bahwa dirinya sangat puas dan bahagia. Kalian ingat wajahnya saat itu?"
Semua orang mengangguk. Aku juga ingat wajah Erina-san, dan itu masih terpatri dengan jelas. Senyuman cerah yang takkan membuatmu mengira dia akan pergi ke tempat yang sangat jauh.
"Aku tidak bersedih kepada seseorang yang meninggal dengan sangat puas. Sebaliknya, dia sangat bahagia hingga membuatmu merasa iri, ya kan?"
Erina-san yang sudah tiada lagi memang menyedihkan, tapi ketika wajahnya melintas di pikiran membuatku merasa sedikit ringan. Un....Ini adalah pemikiran yang tidak-tidak, tapi aku juga ingin mati sambil tersenyum seperti dia.
"Selain itu, ada segunung hal yang aku dapatkan darinya. Hari-hari dihabiskan dengan penuh kasih sayang dan kegembiraan, semuanya hidup dalam diriku. Kalian juga memperoleh sesuatu dari Erina, kan?"
"Iya, Erina-san memberiku banyak hal. Dan itu sekarang tinggal di hatiku"
"Begitupun diriku"
"Aku! Kepalaku sering ditepuk oleh Erina-san!!"
"Aku juga diberi banyak hal oleh Erina-san~"
Dia mengajari berbagai pengetahuan. Tidak hanya teknik seorang petugas, terkadang juga memberi nasehat saat diriku tidak tahu harus berbuat apa dan merupakan panutanku. Tanpa adanya Erina-san, aku pasti sudah akan menangis, bahkan tidak tahu bagaimana harus berbicara dengan Sirius-sama.
Semua yang aku terima darinya, tertanam di kedalam diri ini.
"Jadi....aku takkan berkabung lagi. Langkahku akan terus berpijak kedepan, hidup dengan cara yang tidak membuat kaa-san merasa malu"
Ketika dia mengatakan itu, Sirius-sama tersenyum tanpa menunjukkan sedikitpun rasa suram. Ini bukan hal yang tidak berperasaan, melainkan dia memanglah orang yang kuat.
Terus maju membawa suka dukanya.
Sungguh orang yang hebat dan tak dapat diduga. Kami juga harus melakukan yang terbaik.
"Masih lama sebelum kita beranjak pergi dari sini, ada banyak hal yang harus dilakukan. Semua orang, aku ingin kalian mengikutiku"
""""Ya!!!""""
Tidak peduli apa yang terjadi, aku akan mengikutimu.
☆☆☆☆
Setelah itu, seusai sarapan dan menyiapkan teh, Sirius-sama tiba-tiba memanggil Dee-san.
"Dee. Bukankah kau memiliki sesuatu yang perlu dilakukan?"
"....Baiklah"
Dee-san berdiri dengan ekspresi kaku dan berjalan menuju onee-chan. Sambil kaget dengan aksi mendadak itu, onee-chan juga berdiri.
"....Noel"
"Ada apa?"
"Me....Menikahlah denganku!"
"Heh?"
....HHAAAAA?!?!
Aku mengeras, meski bukan orang yang terlibat.
Onee-chan masih membeku. Dee-san mendadak meraih tangannya dan meletakkan cincin disana. Sangat indah, itu permata yang bersinar biru.
"A....uh....itu....aku....?"
"Ya kau"
"Tapi....aku dari ras binatang, kau tahu....?"
"Aku tidak peduli. Aku....jatuh cinta padamu. Aku tidak akan berkata ini demi Erina-san, namun aku pasti akan melindungimu. Jadi, tolong....beritahukan jawabanmu"
"....Aku....Iya. Aku....mau menjadi istri Dee-san...."
Onee-chan tersenyum dan menempel padanya sambil meneteskan air mata. Dee-san dengan canggung memeluknya juga.
Uwaa....Uwaa....Romantisnya....
Aku juga ingin dilamar seperti itu suatu hari nanti. Tentu saja, pasanganku adalah....
"Apa?"
Tunggu, tunggu, aku seorang petugas. Ini sudah cukup dengan bisa berada di sisinya. Jika dia memelukku suatu hari nanti, aku akan puas.
"Noel, Dee. Selamat"
"Kau berhasil, Dee-nii!"
"Selamat!"
"Terima kasih...."
"Sirius-sama, semuanya....terima kasih~"
Erina-san meninggal, tapi kami senang.
Jika memiliki Sirius-sama dan semua orang, kami bisa terus tersenyum.
Erina-san....semua orang baik-baik saja sekarang.
Jadi....tolong terus awasi kami.
☆☆☆☆
Bagian 2
---Sudut pandang Sirius---
Astaga, aku tidak tahu berapa tahun yang dibutuhkan untuk sampai ke titik ini, tapi akhirnya Dee mengutarakan itu sendiri.
Noel takut untuk mengakuinya, karena dia merasa tertekan telah terlahir sebagai seorang dari ras binatang dan mantan budak, jadi itu semua adalah rintangan awal yang harus Dee hadapi. Kata-kata terakhir kaa-san mungkin telah memberikan dorongan bagi Dee untuk membuat keputusan. Mulai saat ini dia akan melindungi Noel. Membuatku merasa lega, bahkan jika kami meninggalkan rumah dan berpisah.
Ah, tidak, daripada memperhatikan keduanya berpelukan, aku harus membaca suasanannya. Dengan menepuk bahu Emilia, yang melihat dengan ekspresi merona dan Reus, yang tampak senang, aku membimbing mereka keluar menggunakan isyarat tangan. Kami pun diam-diam menyelinap keluar dari ruang tamu.
"Aku senang. Benar-benar senang, onee-chan"
"Ini pertama kalinya aku melihat wajah sebahagia itu dari Noel-nee"
"Apa kalian ingin membuat keduanya lebih bahagia? Sebenarnya, aku memiliki suatu rencana...."
Untuk anak-anak yang duduk di kebun dan berbagi kesan mereka tentang hal barusan, aku melontarkan suatu saran. Mendengar itu, mereka melonjak dipenuhi motivasi.
"Aku mau. Ayo kita lakukan itu, Sirius-sama!"
"Aku juga akan bekerja keras! Beritahu aku apa yang harus dilakukan, Aniki!!"
"Reus, kau akan mencari bahan-bahannya. Pergilah mengumpulkan buah-buahan termasuk Apu, dan unggas berukuran sedang. Kembalilah sebelum siang hari"
"Mengerti!!"
Anak itu masuk ke kamarnya melalui jendela, dan setelah bersiap, dia melesat menerobos hutan. Baginya, rimbunan pohon disekitar sini seperti halaman belakang. Jadi bahkan jika sendirian, dia mungkin akan kembali dengan hasil yang diharapkan.
"Emilia, aku ingin kau menyiapkan suatu pakaian. Aku akan menjelaskannya sambil kita kembali"
"Baiklah"
Aku pergi dengan Emilia ke kamarku, lalu mengambil pena dan kertas untuk menggambar sketsa kasar dari pakaian yang dimaksud.
"Renda-renda ini harusnya sudah membuatnya terkesan cukup manis. Kalau waktunya terlalu sedikit, aku ingin kau setidaknya menjahit dengan kain yang digunakan Erina"
Yang aku minta adalah gaun pengantin. Dekorasi seperti manik-manik atau pakaian berlapis banyak tidaklah mungkin tercipta hanya dalam setengah hari. Namun lain lagi jika menambahkan kain atau renda pada pakaian yang sudah ada. Seharusnya akan terlihat bagus.
Dia mulai mengerti seusai aku menjelaskan sampai sejauh itu.
Yang ingin aku lakukan adalah mengadakan upacara pernikahan untuk Noel dan Dee.
Memang tak ada tamu yang akan hadir selain kami, tapi aku ingin meninggalkan pengalaman seperti ini sekali seumur hidup dalam ingatan mereka. Terutama apa yang dikenakan, gaun pengantin sangatlah penting.
"Serahkan itu padaku, aku akan menyelesaikannya secara sempurna dan tepat waktu"
Jawabannya sangat bisa diandalkan.
Aku akan bertugas memasak. Aku agak menyesal karena beban terbesar diserahkan padanya.
"Haa....onee-chan akan memakai ini, ya. Betapa beruntungnya...."
Um....Ini bukan saatnya melihat ilustrasi yang aku gambar sambil termenung, kan? Aku bukannya tidak merasakan kekagumanmu tapi....entah kenapa kekhawatiranku muncul.
☆☆☆☆
Emilia kembali ke kamarnya dan mulai membuat pakaian, sedangkan diriku beralih ke dapur dan memasak.
Masalahnya ada pada gaun itu. Sambil membuat persiapan, aku memikirkan cara untuk mengatasi persoalan ini. Kami tidak bisa begitu saja menyuruh mereka untuk membantu....tidak, tunggu dulu. Jika dipikirkan lagi, di duniaku dulu ada orang yang membuat gaun pengantin mereka sendiri, jadi bukankah bagus jika mereka dapat membantu?.
Awalnya aku berpikir untuk membuat ini sebagai kejutan, tapi akan sangat menyedihkan jika apa yang mereka kenakan memiliki ukuran yang salah atau berujung pada hasil aneh lainnya. Haruskah aku berbicara pada mereka terlebih dahulu?.
Akan merepotkan untuk masuk tiba-tiba dan menemukan suatu adegan yang memalukan, jadi aku mencoba merunduk agar tidak ketahuan sambil mengintip ke ruang tamu.
Keduanya sedang duduk di sofa sambil meringkukkan bahu mereka dalam suasana mendamaikan hati. Dilihat dari kejauhan, terbungkus dalam udara penuh kemesraan, mereka pasti sudah berciuman. Ketika aku dengan ringan mengetuk pintu, keduanya secara sontak memisahkan diri dari satu sama lain.
"Aku merasa tidak enak dengan hal ini, hanya saja, bolehkah aku mengganggu kalian sebentar?"
"Y-Y-Y-Y-Ya~~!! Uhh, jangankan sebentar, kau bisa mengatakannya kapanpun kau mau...."
"Ja-Jadi....apa itu?"
Oh, oh, sangat merona, betapa polosnya. Aku bisa menggoda mereka sedikit lebih lama, namun waktunya sudah mepet. Akupun membuat penjelesan singkat tentang upacara pernikahan itu.
"Demi kami?....Terima kasih banyak~!!"
"Benarkah....apa ini tidak apa-apa?"
"Kami lah orang yang ingin melakukan sesuatu. Hanya saja, aku merasa buruk karena membuat kalian harus membantu dalam persiapannya, meskipun ini adalah pernikahan kalian sendiri. Jika Noel bebas, aku ingin kau menolong Emilia"
"Baiklah~!! Pernikahan~, gaun pengantin~....ufufu~"
Dia mungkin sedang membayangkannya ketika menuju ke tempat Emilia sambil melompat-lompat. Bersemangat dalam keadaan seperti ini membuatku lebih khawatir.
"Nah, selanjutnya Dee, tapi...."
"Aku akan menulisnya"
Dengan buku catatan dan pena di tangan, dia berdiri dengan wajah penuh harap. Mungkin mengerti bahwa aku akan membuat sebuah hidangan baru. Benar juga, dia sangat serakah pada persoalan makanan.
"Tidak apa-apa, kau tidak diizinkan untuk membantu dalam hal itu. Karena ini pernikahanmu"
"....Sangat disayangkan, tapi aku mengerti. Aku akan menerimanya untuk hari ini"
Terlepas dari masalah gaun, aku belum mau menyerah dalam hal membuat hidangan. Ini hanya lima orang, bukan masalah besar jika makanan yang paling sulit bisa diselesaikan terlebih dahulu.
Akupun menuju dapur bersama Dee.
☆☆☆☆
"Pertama adalah kue"
Kue tidak bisa dipisahkan dalam acara pernikahan. Aku akan menyiapkan beberapa hidangan lain, hanya saja hidangan unggas masih perlu kepulangan Reus dulu. Ayo mulai dengan membuat kue pertamaku di dunia ini.
"Kue?! Hal semacam itu....Sirius-sama sungguh akan membuat sesuatu yang hanya disiapkan untuk bangsawan kelas atas?"
"Aa, ya Jadi kue itu sangat mewah, ya"
Ini adalah makanan lumrah di duniaku dulu, tapi sangat berharga disini. Menurut informasi yang aku kumpulkan dari buku-buku, kue di dunia ini tampaknya sederhana tanpa rasa yang menonjol.
Mencampurkan gula ke dalam adonan roti, memotong roti yang telah dipanggang menjadi bentuk kue melingkar, dan diberi beberapa buah di atasnya. Terdengar seperti lelucon, tapi hanya itu. Tampak sederhana jika dilihat sekilas, namun dari sudut pandang orang jelata, hal ini terlalu menghabiskan banyak gula yang bernilai tinggi. Mereka lebih memilih memproduksi roti secara massal daripada membuat kue.
Para bangsawan memiliki tradisi menumpuk potongan kue, ketinggiannya dijadikan semacam simbol yang melambangkan kekayaan. 'Apa-apaan itu'....begitulah yang aku pikirkan secara serius setelah mengetahuinya.
Tentu saja, aku tidak akan membuat kue aneh seperti itu. Aku berencana menciptakannya dari awal dengan menggunakan adonan mentega dan telur, whipped cream* sebagai pelapis, dan memberikan berbagai warna dari buah-buahan yang Reus akan bawa kembali nanti.
[Krim kocok. Dari lemak susu yang dikocok hingga kental]
Yang paling penting adalah proses pemanggangan. Karena tidak ada alat mudah seperti oven, aku saling menempelkan sekat-sekat besi dan menciptakan sebuah kotak yang mampu menahan temperatur tinggi. Tingkat panas dan durasi pemanggangan belum bisa dipastikan karena ini adalah usaha pertama. Aku harus sangat berkonsentrasi.
Dee yang berada disampingku menghafal seluruh langkah sambil sungguh terfokus.
Tiga puluh menit berkonsentrasi, dasar-dasar dari kue pun selesai dengan lancar. ketika aku akan melanjutkan dengan melapisi whipped cream, suara Reus bergema dari luar.
"Anikiii!!! Aku sudah mendapatkannyaaaa!!!"
"Kerja bagus....tunggu, berapa banyak yang kau bawa?!*"
[Aku ato penerjemah Englishnya kagak tau kalimat apa yang pas. Siapa Donsuke?? Atau apa itu Don Daigake?? Bingung. Kalimatnya berupa tsukkomi sih, jadi ngikut english aja kayak gitu]
Kau terlalu bersemangat! Di kedua genggaman, dia membawa enam unggas tampak seperti bebek. Sedangkan dipunggungnya, tas itu seolah akan membeludak karena isinya yang terlalu penuh dengan buah-buahan. Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, itu untuk sepuluh orang, bukan lima. Ini mungkin disebabkan karena aku tidak menentukan jumlahnya. Sekarang aku sangat paham, Reus tidak bisa dibiarkan bertindak sesuai naluri.
Pada akhirnya, bahan yang tidak dapat kami gunakan bertambah, masalah menjadi semakin sulit melebihi perkiraan.
☆☆☆☆
Sore hari tiba, upacara pernikahan Noel dan Dee diadakan pada ruang tamu yang telah di dekor ulang.
Aku berdiri di atas panggung sederhana sambil mengenakan jubah untuk memainkan peran sebagai pendeta atau pastor. Sedangkan Dee mengenakan pakaian bagus, dan menunggu Noel dengan gelisah.
"Dee-nii, tenanglah. Noel-nee tidak akan melarikan diri"
"Aa....aku mengerti itu"
Melipat lengan, menggaruk kepala, dia benar-benar gugup. Mungkin karena merasakan sensasi upacara pernikahan yang sesungguhnya, kau tidak dapat berbuat apa-apa disaat seperti ini meskipun selalu tenang.
Sementara aku mengamatinya dengan tatapan hangat, pintu bergerak terbuka. Noel muncul darisana, mengenakan gaun pengantin buatan sendiri.
"Maaf untuk membuatmu menunggu, Sirius-sama~"
Emilia memegangi tangan disampingnya dan tersenyum penuh kepuasan.
Ini pertama kali aku melihat dia memakai gaun, namun penampilan Noel sebagai seorang pengantin sangatlah cantik. Yah, memang tidak berkilauan ataupun menonjol dibandingkan dengan duniaku dulu, tapi untuk sesuatu yang dibuat dalam keadaan darurat, itu sungguh menakjubkan. Benang yang saling menghubungkan, ornamen-ornamen dengan memanfaatkan tonjolan pada kain, ini adalah karya indah yang menggunakan pengetahuan dari Erina.
Maju selangkah demi selangkah tanpa mengucapkan sepatah katapun ke arah Dee, Noel tersenyum saat mereka saling berhadapan.
"Bagaimana~? Apa aku terlihat cantik?"
"Aa....sangat cantik"
Tercengang dan merasa malu, dia benar-benar terpesona olehnya.
Tangan yang digenggam Emilia kemudian diserahkan kepada Dee. Pasangan ini lalu berpaling ke arahku. Rasanya, bagian dalam hidungku serasa gatal ketika melihat mereka berdua berdiri didepanku. Entah bagaimana aku merasa bagaikan seorang ayah yang memberikan putrinya.
Tidak, ini bukan saatnya untuk merasa sentimen. Aku harus menjadi pendeta dengan benar.
"Kalian berdua yang berada disini"
"Iya. Kami akan memberikan janji suci pernikahan kepada dewa, kan?"
Pernikahan di sini nampaknya terdiri dari mengundang kerabat dan kenalan, membuat sumpah kepada dewa melalui pendeta di depan semua orang, dan setelah itu berpesta ria....itu memang bagus. Tapi aku berencana untuk melakukannya seperti di duniaku dulu.
"Aku akan menanyakan ini kepada kalian berdua terlebih dahulu. Ada cara lain dalam melakukannya di budaya lama. Boleh aku menerapkan itu?"
"Sirius-sama yang menyiapkan pernikahan ini. Aku akan menyerahkannya padamu"
"Aku juga~. Karena aku merasa seperti Sirius-sama akan menjadikannya sebagai sebuah upacara yang indah"
"Terima kasih. Kalian berdua hanya perlu menjawab pertanyaanku"
Aku pernah mendapat izin menyamar sebagai pendeta dalam operasi mata-mata, namun tidak pernah menyangka harus menjadi yang sungguhan. Aku benar-benar berterima kasih kepada pengalaman masa lalu, karena itu membuatku ingat apa yang harus diucapkan. Aku akan mencampurkan ini dengan sedikit gayaku.
"Kita berkumpul di sini untuk bergabung bersama Deemas dan Noel. Dewa* yang menyaksikan upacara pernikahan kedua insan ini, terimalah sumpah mereka. Sebelum kita mendengarnya, aku akan bertanya kepada para tamu yang berkumpul"
[Aku menggunakan kata "Dewa". Lebih cocok sama kesan fantasy ketimbang tuhan]
"Apa itu?"
"Ada apa, Aniki?"
"Deemas dan Noel akan segera bersatu. Jika ada di antara kalian yang keberatan, bicaralah sekarang"
"Tidak ada!"
"Pastinya, tidak ada!!"
Mata Noel mulai berkaca-kaca karena kata-kata mereka yang tegas. Memang tidak mungkin ada keberatan, tapi ini hanya sekedar kewajiban.
"Tentu saja, aku juga tidak....Baiklah, mempelai pria, Deemas. Apakah kau akan bersumpah untuk mencintai mempelai wanita, Noel dalam suka maupun duka, dan mendukungnya sampai kematian memisahkan?"
"A....Aku....Aku bersumpah!!"
"Mempelai wanita, Noel. Apakah kau akan bersumpah untuk mencintai mempelai pria, Deemas, dalam suka maupun duka, dan mendukungnya sampai kematian memisahkan?"
"....Ya, aku bersumpah~!"
"Apakah kalian berdua akan berjanji untuk mengabdikan diri satu sama lain?"
""Aku berjanji!""
"Kalau begitu, mempelai pria, tolong berikan cincin pada mempelai wanita"
Aku menyajikan cincin dari batu mulia safir yang sebelumnya ku temukan kepada Dee. Dia kaku karena gugup, tapi entah bagaimana berhasil memasangkan cincin itu di jari manis Noel.
"....Aku, akan melakukan yang terbaik. Noel....Aku akan membuatmu selalu bahagia"
"Tidak, aku juga akan melakukan yang terbaik. Aku akan mendukung Dee-san, jadi tolong lindungi diriku"
"Ah....aku pasti akan melindungimu"
Mereka bertukar kata dengan cara yang menyenangkan, suasana tempat ini telah memanas hingga maksimal. Kalau begitu, ayo kita menuju sentuhan akhir.
"Sekarang, kau diperbolehkan mencium sang mempelai wanita"
""Eh?....EEEHHHH?!?!?!""
Oh, kalian tidak bisa melakukannya? Baiklah, seperti saling memakaikan cincin, ciuman itu adalah ritual penting, jadi akan bermasalah jika tidak dilakukan. Sambil berdiri tanpa ekspresi, aku terus menekan pria ini dengan tatapanku.
Dee yang pada akhirnya bertekad meraih bahu Noel....dan merampas bibirnya.
"Kyaaa!!!"
"Oooooh?!"
Kakak beradik itu sangat ribut disana. Adegan ini harusnya sunyi, tapi aku akan membiarkannya karena mereka anggota keluarga.
"Dari sekarang, kalian telah menjadi suami istri. Oh dewa, tolong sampaikan berkat kekal kepada keduanya. Lalu, semua orang, silakan memberi ucapan selamat"
""Selamat!!!"""
Atas tepuk tangan para saudara dan kata-kata restu mereka, pasangan ini menjawab sambil tersenyum.
"Terima kasih"
"Sirius-sama, Emi-chan, Reu-kun~....aku sangat senang....Terima kasih, sungguh, terima kasih"
Upacara pernikahan mereka berakhir dalam bentuk yang indah.
Pada satu kursi tambahan yang berada tak jauh dari sini, kaa-san bertepuk tangan dan mengirimi ucapan berkat-nya....atau seperti itulah yang aku rasakan....
☆☆☆☆
Bagian 3
Setelah upacara selesai, ini waktunya menyantap hidangan.
Noel, meski warna yang dia kenakan tidak berbeda, setelah berganti menjadi pakaian pembantu yang biasa, dia memakan masakanku.
"Nn~?....Seperti yang diharapkan dari Sirius-sama. Daging ini yang terbaik karena sangat lembut dan memiliki rasa yang langsung meresap di lidah"
Kali ini aku membuat sesuatu seperti kalkun panggang. Sekarang memang bukan natal, tapi memiliki kesan yang cocok untuk perayaan. Bahkan itu bagus karena rasanya lebih enak daripada kalkun sungguhan. Setelah menyiapkan bahan, merebus dengan saus khusus, lalu dipanggang dulu permukaannya, begitulah.
"Noel-nee, walaupun itu sangat cocok untukmu, kau sudah berganti?"
"Pakaian itu adalah sesuatu yang dibuat bersama Emi-chan dan diberkati oleh semua orang. Aku ingin menghargainya, jadi aku tidak mau itu sampai kotor~"
"Itu benar. Lagipula, aku sangat senang untukmu, Noel-nee"
"Ya, terimakasih sekali lagi. Sirius-sama yang merencanakan dan memasak hidangan, Emi-chan membuat gaunnya, Reu-kun berburu dan membantu persiapan, sedangkan Dee-san menggandeng tanganku. Aku benar-benar orang yang beruntung~"
Diiringi aura kegembiraan yang pulih sepenuhnya, Noel melenyapkan makanan dengan kecepatan luar biasa. Apakah sifat dietnya berubah tergantung pada mood? Kuharap berat badannya tidak bertambah karena menjalani kehidupan harmonis.
"Onee-chan, meskipun kau sudah menikah dengan Dee-san, kau tidak mengubah cara memanggilnya?"
"Benar juga. Hmm~.... Seperti yang diharapkan, aku harus melakukan 'itu' di sini, ya?....Masakan Sirius-sama sangat lezat, kan, Sa~ya~ng~~♪"
"GUFUUU?!?!"
Dee yang awalnya makan disampingnya dengan sunyi dan malu-malu, secara mendadak tersedak. Itu merupakan hal fatal baginya yang hanyalah seorang pemula. Namun, serangan Noel belum berakhir.
"Ini, Sayang. Aann~~...."
"Oi....Noel"
Tampaknya pembatas kebagiaan Noel telah terlepas. Dia membawa garpu tertusuk unggas panggang mendekati sang suami sambil tersenyum, menunggu dia membuka mulut.
"....Baiklah"
"Sayang~~....Aku sungguh gembira~~"
Hmmmm, ruang yang dipenuhi tanda hati merah muda terbentuk mengelilingi pasangan itu, hingga membuat pemandangan serasa terdistorsi. Emilia tampak mengagumi mereka, sedangkan Reus agak mundur. Karena aku tidak keberatan, kupikir ini baik-baik saja asal keduanya bahagia.
"Aniki, entah bagaimana aku kesulitan mendekati mereka, apa hanya aku yang merasakannya?"
"Tidak, itu bukan hanya kau. Dunia untuk mereka sendiri telah tercipta, jadi abaikan saja"
"Jika Aniki berkata begitu. Walaupun agak aneh melihat Noel-nee 'berwarna pink'"
"Haaaa....bagus sekali. Onee-chan, betapa indahnya...."
Kekaguman Emilia melampaui batas, dia mulai menggelengkan kepala sambil menatap garpu yang menusuk pada makanannya.
"Tidak, itu tidak benar. Aku adalah petugas dan bukan istri, ini berbeda....Tapi, karena aku akan menjaganya....Uun, tidak, tidak!!"
Halo, Emilia-san? Kau menyangkalnya sambil mengatakan ini dan itu, tapi garpumu bergerak ke arah mulutku. Sementara terkagum sendiri melihat siswa yang tidak memiliki kontrol diri, aku pikir diriku terlalu lunak karena tetap saja memakannya.
"Hehehe....aku bahagia...."
"Hah? Nee-chan juga mulai 'berwarna pink'. Ada apa ini?"
"Abaikan saja"
Kau akan mengerti setelah dewasa....mungkin.
☆☆☆☆
Setelah menyantap hidangan, saatnya kue untuk muncul.
Meski teksturnya agak keras, ini sudah mirip kue yang ku tahu. Kecuali Dee, ketiganya melihat krim yang dibentuk indah, dengan mata berbinar-binar.
"I-Ini kue~~? Sangat berbeda dengan yang aku lihat ketika bersama Aria-sama"
"Apa ini? Polanya sangat indah, tapi bagaimana cara membuat hingga bisa seperti itu?"
"Menakjubkan!!!"
Ah, sial. Seharusnya aku memotong kue ini selama upacara berlangsung. Sekarang memang belum terlambat, tapi mereka sudah berganti pakaian. Ketika menyaksikan mata ketiga orang yang tampak bagai karnivora, aku menyerah.
"Fufufu, ini sedikit berbeda dari apa yang diharapkan, tapi aku yakin dengan cita rasanya"
"""Yaay!!"""
Mendengar itu, ketegangan para ras binatang menembus puncak. Karena Noel dan Dee merupakan pemeran utama, aku memberikan irisan yang lebih besar kepada keduanya. Semua orang lalu dengan segera mengunyah kue.
"....Lezat. Jadi ini yang dinamakan kue....seenak dan semanis ini...."
"....Owaaa~~....ini yang terbaik~~~"
"Inih shahngatt lezwat Anikyu"
Aku senang mendapat pujian setinggi itu. Mungkin Reus berusaha mengatakan 'Sangat lezat, aniki!', namun jangan berbicara ketika mulutmu penuh. Aku memang mencicipinya sedikit disaat membuatnya tadi, hanya saja memakan hidangan yang sudah siap memberikan nuansa berbeda. Mungkin krimnya terlalu banyak, tapi tidak berlebihan.
"Sayang~! Kau tentunya...."
"Aku sudah mencatatnya dengan sempurna. Lain kali aku akan mencoba membuat ini"
"Kau yang terbaik, sayang~~!!"
Dialog seperti itu tetap tidak berubah bahkan setelah menikah, ya. Mereka pasti akan menjadi pasangan suami istri yang harmonis karena memiliki kecocokan yang bagus dan sudah lama bersama.
Dan begitulah, pesta kami berlanjut sampai larut malam.
☆☆☆☆
Nah, sekarang....untuk sentuhan akhir.
Setelah membuat Emilia dan Reus tidur dengan obat bius, aku memanggil kedua orang yang hendak meninggalkan ruang tamu.
"Kalian berdua, Emilia dan Reus tertidur karena ramuan yang aku diam-diam berikan. Sedangkan aku akan tidur dengan penyumbat telinga. Jadi akan baik-baik saja meski kalian membuat sedikit kebisingan"
"....Hah?"
"Eeh~?!"
"Juga, gunakan alat kontrasepsi sesuai kebutuhan. Kalau begitu, bersenang-senanglah"
"Tu-Tunggu~!! Sirius-sama, dari mana kau mendapatkan pengetahuan itu....Ap---, hei, Sirius-samaaa~~!!!!"
Aku sadar bahwa diriku terlibat terlalu dalam. Tapi, mereka sudah membuatku kesal dari tadi. Sebut saja ini hukumannya*.
[Yah, kalimat terakhir jepangnya emank bukan begitu. Sungguh, karena bingung kubuat aja kayak gini]
Nikmatilah malam pertama kalian dengan baik.
☆☆☆☆
Pagi selanjutnya.
"Noel...."
"Sayang....aku mencintaimu~"
Dan....kemesraan mereka sudah berubah ke tingkat super.
☆☆☆Chapter 22 berakhir disini☆☆☆
Diterjemahkan oleh ZasuNovel
Bagian 1
---Sudut pandang Emilia---
Erina-san, ibu kami, sudah meninggal.
Kemarin, kami kembali ke rumah setelah menyelesaikan pemakaman. Hanya saja, suasana didalam sangat sunyi seolah-olah semua api telah padam karena angin yang berhembus kencang.
Sirius-sama berperilaku seperti tidak ada apapun yang terjadi, namun dari pandanganya, dia seakan berada ditempat lain. Ini tidak mengherankan, seseorang yang mengawasinya sejak lahir sudah meninggal. Dia pasti merasa lebih sedih daripada kami semua.
Meski begitu, Sirius-sama berinisiatif merapikan kamar Erina-san dan membimbing kami, yang berkabung, dengan memberi perintah. Dia sungguh kuat.
Dee-san masih sama seperti sebelumnya, walaupun agak bermasalah dengan pengapian ketika memasak. Namun tetap saja dia bergerak menangani pekerjaan, membuatku akhirnya bertanya apakah dia baik-baik saja tanpa ragu. Sambil tersenyum agak pahit, dia berkata 'sudah terbiasa tentang hidup dan mati sebagai seorang petualang'. Aku juga setuju, diriku mampu berpikir tenang mungkin karena pernah menyaksikan ayah dan ibuku meninggal di depan mata.
Ini pasti apa yang disebut 'membiasakan diri', tapi aku tidak ingin terbiasa dengan hal seperti itu.
Reus dan onee-chan sangat mudah dimengerti.
Setelah kembali dari pemakaman mereka menangis dan tertekan sepanjang waktu. Tapi, di pagi harinya, keduanya berlarian mengelilingi kebun. Aku pikir perasaan itu pada akhirnya akan meledak, mereka berlari sambil meneriakkan nama Erina-san dan mengucapan terima kasih padanya.
Untuk mampu menumpahkan perasaan dengan berani, itu sedikit membuat iri.
Sarapan akan segera tiba, semoga saja suasana menjadi lebih ringan.
Sedangkan diriku, berdiri di depan kamar Sirius-sama.
Kalau ini jadwal biasanya, kami akan dipanggil untuk berlarian di kebun pagi-pagi sekali, tapi hari ini aku belum menangkap sosoknya, apalagi bicara. Kupikir dia mungkin masih tidur di kamar.
Dulu, aku sering terbangun di tengah malam setelah memimpikan kedua orang tuaku, dan takut untuk kembali terlelap. Sirius-sama pasti terjaga dan tidur terlambat karena hal yang sama. Aku terselamatkan berkat dirinya, jadi kali ini, akulah yang akan menyelamatkannya.
....Tak ada jawaban, walaupun sudah mengetuk berkali-kali.
Tanpa reaksi apapun, aku memutuskan membuka pintu setelah menyiapkan diri.
"Selamat pagi, Sirius-sa....ma?"
Aneh, dia tidak ada disini. Pakaian yang Sirius-sama gunakan sebagai piyama dibiarkan begitu saja di kasur, tapi tak ada jejak kalau dia keluar lewat pintu. Alasan kenapa aku mengetahui itu adalah karena ras serigala perak memiliki indra penciuman yang tajam.
Tidak mencium apa pun di sekitar pintu, aku lalu menghampiri kasur dan mendekatkan wajahku ke piyama. Sepertinya ini sudah lama dilepas karena suhunya agak dingin.
Kemana bau ini mengarah....
"....Ah?!"
Tidak, tidak*, aku secara tidak sadar memeluk piyama Sirius-sama. Baunya terlalu memikat, ya.
[Lucu ya. Dia bilang "Ikenai ikenai" XD]
Saat mencoba mengikuti baunya, itu mengarah ke jendela. Apa dia keluar lewat sana? Sirius-sama mungkin pergi untuk berlatih di puncak gunung dan akan kembali untuk sarapan pagi, jadi sebaiknya aku membantu Dee-san.
Fakta bahwa aku mencium piyamanya sekali lagi sebelum pergi adalah sebuah rahasia.
☆☆☆☆
Hal yang serius terjadi.
Sudah waktunya sarapan pagi, namun tak peduli berapa lama aku menunggu, Sirius-sama belum kembali juga. Dia biasanya akan pulang dengan melintasi langit.
Saat pergi ke ruang tamu dan mengatakan hal ini, wajah Reus dan onee-chan yang usai berlatih, memucat.
"Itu buruk~!! Dia pasti melampiaskan seluruh perasaannya dari kehilangan Erina-san dan berkeliaran dilangit!!!"
"Aniki sedang menghadapi sesuatu! Sial, aku akan membantunya segera!!"
"Kalian berdua, tenanglah"
Sirius-sama akan baik-baik saja melawan apapun. Hanya saja, firasat menjijikkan terus lahir satu demi satu. Meski ini tidak mungkin, seandainya Sirius-sama juga pergi seperti Erina-san, kami....aku....
"....Apa yang sedang kalian ributkan?"
Menoleh ke arah suara itu berasal, matahari kami, Sirius-sama, ada di sana.
Meskipun diriku tahu....
Meskipun diriku sungguh tahu....
Tanpa bisa melepaskan rasa buruk itu, aku langsung melompat ke dadanya. Reus dan onee-chan juga ikut. Semua orang cemas karena Erina-san telah pergi.
Sirius-sama mungkin mengerti situasinya, dia mulai menggaruk kepala.
"Aku menyesal karena membuat kalian khawatir. Aku pulang terlambat karena mampir sejenak untuk melihat kuburan kaa-san"
"Tidak, tidak, mohon maafkan kami karena menunjukkan sesuatu yang memalukan"
"Tidak masalah jika aniki aman"
"Kalau begitu, ayo semuanya"
Dengan ajakan Dee-san, sarapan kami dimulai.
Hanya saja, sebelum sempat meraih hidangan, Sirius sama menepukkan kedua tangannya untuk mengumpulkan perhatian. Dia kemudian tiba-tiba menunduk.
"Aku pikir kalian sudah tenang, jadi aku akan mulai dengan meminta maaf kepada semua orang"
Apa yang dia maksud adalah karena terlambat untuk sarapan? Tidak perlu meminta maaf kepada para petugas untuk sesuatu seperti itu....mulutku ingin memberitahukannya, tapi ini mungkin berbeda.
"Sebenarnya obat yang diminum kaa-san adalah sesuatu yang disiapkan olehku. Aku membuat itu setelah menjelaskan efek-efeknya, tapi aku merasa harus menjelaskan ini kepada semua orang. Maaf"
Dia pun menunduk untuk kedua kali. Tentu saja, Sirius-sama tidak perlu meminta maaf karena itu adalah suatu hal yang Erina-san putuskan sendiri. Walaupun agak disesalkan ketika dia tidak membahasnya juga dengan kami.
"Tolong angkat kepalamu, Sirius-sama! Kemungkinan besar yang terjadi masih akan sama, bahkan jika kami tahu"
"Ya, aniki. Sebaliknya, kamilah yang harus meminta maaf karena tidak dapat melakukan apapun"
"Kita tinggalkan saja sebagai kesalahan dari kedua belah pihak"
"Ya, Dee-san benar~! Kedua belah pihak harus disalahkan, kedua belah pihak!"
"....Agak melegakan ketika kalian mengatakan begitu"
Entah bagaimana berhasil membuatnya mengangkat kepala, kamipun menarik napas lega. Sepertinya Sirius-sama masih memiliki sesuatu yang ingin diutarakan. Kamipun bersiap untuk mendengarkannya.
"Aku akan mengucapkan ini dengan tegas. Pastinya aku merasa sedih karena kaa-san, Erina sudah pergi. Namun dia meninggal setelah berkata bahwa dirinya sangat puas dan bahagia. Kalian ingat wajahnya saat itu?"
Semua orang mengangguk. Aku juga ingat wajah Erina-san, dan itu masih terpatri dengan jelas. Senyuman cerah yang takkan membuatmu mengira dia akan pergi ke tempat yang sangat jauh.
"Aku tidak bersedih kepada seseorang yang meninggal dengan sangat puas. Sebaliknya, dia sangat bahagia hingga membuatmu merasa iri, ya kan?"
Erina-san yang sudah tiada lagi memang menyedihkan, tapi ketika wajahnya melintas di pikiran membuatku merasa sedikit ringan. Un....Ini adalah pemikiran yang tidak-tidak, tapi aku juga ingin mati sambil tersenyum seperti dia.
"Selain itu, ada segunung hal yang aku dapatkan darinya. Hari-hari dihabiskan dengan penuh kasih sayang dan kegembiraan, semuanya hidup dalam diriku. Kalian juga memperoleh sesuatu dari Erina, kan?"
"Iya, Erina-san memberiku banyak hal. Dan itu sekarang tinggal di hatiku"
"Begitupun diriku"
"Aku! Kepalaku sering ditepuk oleh Erina-san!!"
"Aku juga diberi banyak hal oleh Erina-san~"
Dia mengajari berbagai pengetahuan. Tidak hanya teknik seorang petugas, terkadang juga memberi nasehat saat diriku tidak tahu harus berbuat apa dan merupakan panutanku. Tanpa adanya Erina-san, aku pasti sudah akan menangis, bahkan tidak tahu bagaimana harus berbicara dengan Sirius-sama.
Semua yang aku terima darinya, tertanam di kedalam diri ini.
"Jadi....aku takkan berkabung lagi. Langkahku akan terus berpijak kedepan, hidup dengan cara yang tidak membuat kaa-san merasa malu"
Ketika dia mengatakan itu, Sirius-sama tersenyum tanpa menunjukkan sedikitpun rasa suram. Ini bukan hal yang tidak berperasaan, melainkan dia memanglah orang yang kuat.
Terus maju membawa suka dukanya.
Sungguh orang yang hebat dan tak dapat diduga. Kami juga harus melakukan yang terbaik.
"Masih lama sebelum kita beranjak pergi dari sini, ada banyak hal yang harus dilakukan. Semua orang, aku ingin kalian mengikutiku"
""""Ya!!!""""
Tidak peduli apa yang terjadi, aku akan mengikutimu.
☆☆☆☆
Setelah itu, seusai sarapan dan menyiapkan teh, Sirius-sama tiba-tiba memanggil Dee-san.
"Dee. Bukankah kau memiliki sesuatu yang perlu dilakukan?"
"....Baiklah"
Dee-san berdiri dengan ekspresi kaku dan berjalan menuju onee-chan. Sambil kaget dengan aksi mendadak itu, onee-chan juga berdiri.
"....Noel"
"Ada apa?"
"Me....Menikahlah denganku!"
"Heh?"
....HHAAAAA?!?!
Aku mengeras, meski bukan orang yang terlibat.
Onee-chan masih membeku. Dee-san mendadak meraih tangannya dan meletakkan cincin disana. Sangat indah, itu permata yang bersinar biru.
"A....uh....itu....aku....?"
"Ya kau"
"Tapi....aku dari ras binatang, kau tahu....?"
"Aku tidak peduli. Aku....jatuh cinta padamu. Aku tidak akan berkata ini demi Erina-san, namun aku pasti akan melindungimu. Jadi, tolong....beritahukan jawabanmu"
"....Aku....Iya. Aku....mau menjadi istri Dee-san...."
Onee-chan tersenyum dan menempel padanya sambil meneteskan air mata. Dee-san dengan canggung memeluknya juga.
Uwaa....Uwaa....Romantisnya....
Aku juga ingin dilamar seperti itu suatu hari nanti. Tentu saja, pasanganku adalah....
"Apa?"
Tunggu, tunggu, aku seorang petugas. Ini sudah cukup dengan bisa berada di sisinya. Jika dia memelukku suatu hari nanti, aku akan puas.
"Noel, Dee. Selamat"
"Kau berhasil, Dee-nii!"
"Selamat!"
"Terima kasih...."
"Sirius-sama, semuanya....terima kasih~"
Erina-san meninggal, tapi kami senang.
Jika memiliki Sirius-sama dan semua orang, kami bisa terus tersenyum.
Erina-san....semua orang baik-baik saja sekarang.
Jadi....tolong terus awasi kami.
☆☆☆☆
Bagian 2
---Sudut pandang Sirius---
Astaga, aku tidak tahu berapa tahun yang dibutuhkan untuk sampai ke titik ini, tapi akhirnya Dee mengutarakan itu sendiri.
Noel takut untuk mengakuinya, karena dia merasa tertekan telah terlahir sebagai seorang dari ras binatang dan mantan budak, jadi itu semua adalah rintangan awal yang harus Dee hadapi. Kata-kata terakhir kaa-san mungkin telah memberikan dorongan bagi Dee untuk membuat keputusan. Mulai saat ini dia akan melindungi Noel. Membuatku merasa lega, bahkan jika kami meninggalkan rumah dan berpisah.
Ah, tidak, daripada memperhatikan keduanya berpelukan, aku harus membaca suasanannya. Dengan menepuk bahu Emilia, yang melihat dengan ekspresi merona dan Reus, yang tampak senang, aku membimbing mereka keluar menggunakan isyarat tangan. Kami pun diam-diam menyelinap keluar dari ruang tamu.
"Aku senang. Benar-benar senang, onee-chan"
"Ini pertama kalinya aku melihat wajah sebahagia itu dari Noel-nee"
"Apa kalian ingin membuat keduanya lebih bahagia? Sebenarnya, aku memiliki suatu rencana...."
Untuk anak-anak yang duduk di kebun dan berbagi kesan mereka tentang hal barusan, aku melontarkan suatu saran. Mendengar itu, mereka melonjak dipenuhi motivasi.
"Aku mau. Ayo kita lakukan itu, Sirius-sama!"
"Aku juga akan bekerja keras! Beritahu aku apa yang harus dilakukan, Aniki!!"
"Reus, kau akan mencari bahan-bahannya. Pergilah mengumpulkan buah-buahan termasuk Apu, dan unggas berukuran sedang. Kembalilah sebelum siang hari"
"Mengerti!!"
Anak itu masuk ke kamarnya melalui jendela, dan setelah bersiap, dia melesat menerobos hutan. Baginya, rimbunan pohon disekitar sini seperti halaman belakang. Jadi bahkan jika sendirian, dia mungkin akan kembali dengan hasil yang diharapkan.
"Emilia, aku ingin kau menyiapkan suatu pakaian. Aku akan menjelaskannya sambil kita kembali"
"Baiklah"
Aku pergi dengan Emilia ke kamarku, lalu mengambil pena dan kertas untuk menggambar sketsa kasar dari pakaian yang dimaksud.
"Renda-renda ini harusnya sudah membuatnya terkesan cukup manis. Kalau waktunya terlalu sedikit, aku ingin kau setidaknya menjahit dengan kain yang digunakan Erina"
Yang aku minta adalah gaun pengantin. Dekorasi seperti manik-manik atau pakaian berlapis banyak tidaklah mungkin tercipta hanya dalam setengah hari. Namun lain lagi jika menambahkan kain atau renda pada pakaian yang sudah ada. Seharusnya akan terlihat bagus.
Dia mulai mengerti seusai aku menjelaskan sampai sejauh itu.
Yang ingin aku lakukan adalah mengadakan upacara pernikahan untuk Noel dan Dee.
Memang tak ada tamu yang akan hadir selain kami, tapi aku ingin meninggalkan pengalaman seperti ini sekali seumur hidup dalam ingatan mereka. Terutama apa yang dikenakan, gaun pengantin sangatlah penting.
"Serahkan itu padaku, aku akan menyelesaikannya secara sempurna dan tepat waktu"
Jawabannya sangat bisa diandalkan.
Aku akan bertugas memasak. Aku agak menyesal karena beban terbesar diserahkan padanya.
"Haa....onee-chan akan memakai ini, ya. Betapa beruntungnya...."
Um....Ini bukan saatnya melihat ilustrasi yang aku gambar sambil termenung, kan? Aku bukannya tidak merasakan kekagumanmu tapi....entah kenapa kekhawatiranku muncul.
☆☆☆☆
Emilia kembali ke kamarnya dan mulai membuat pakaian, sedangkan diriku beralih ke dapur dan memasak.
Masalahnya ada pada gaun itu. Sambil membuat persiapan, aku memikirkan cara untuk mengatasi persoalan ini. Kami tidak bisa begitu saja menyuruh mereka untuk membantu....tidak, tunggu dulu. Jika dipikirkan lagi, di duniaku dulu ada orang yang membuat gaun pengantin mereka sendiri, jadi bukankah bagus jika mereka dapat membantu?.
Awalnya aku berpikir untuk membuat ini sebagai kejutan, tapi akan sangat menyedihkan jika apa yang mereka kenakan memiliki ukuran yang salah atau berujung pada hasil aneh lainnya. Haruskah aku berbicara pada mereka terlebih dahulu?.
Akan merepotkan untuk masuk tiba-tiba dan menemukan suatu adegan yang memalukan, jadi aku mencoba merunduk agar tidak ketahuan sambil mengintip ke ruang tamu.
Keduanya sedang duduk di sofa sambil meringkukkan bahu mereka dalam suasana mendamaikan hati. Dilihat dari kejauhan, terbungkus dalam udara penuh kemesraan, mereka pasti sudah berciuman. Ketika aku dengan ringan mengetuk pintu, keduanya secara sontak memisahkan diri dari satu sama lain.
"Aku merasa tidak enak dengan hal ini, hanya saja, bolehkah aku mengganggu kalian sebentar?"
"Y-Y-Y-Y-Ya~~!! Uhh, jangankan sebentar, kau bisa mengatakannya kapanpun kau mau...."
"Ja-Jadi....apa itu?"
Oh, oh, sangat merona, betapa polosnya. Aku bisa menggoda mereka sedikit lebih lama, namun waktunya sudah mepet. Akupun membuat penjelesan singkat tentang upacara pernikahan itu.
"Demi kami?....Terima kasih banyak~!!"
"Benarkah....apa ini tidak apa-apa?"
"Kami lah orang yang ingin melakukan sesuatu. Hanya saja, aku merasa buruk karena membuat kalian harus membantu dalam persiapannya, meskipun ini adalah pernikahan kalian sendiri. Jika Noel bebas, aku ingin kau menolong Emilia"
"Baiklah~!! Pernikahan~, gaun pengantin~....ufufu~"
Dia mungkin sedang membayangkannya ketika menuju ke tempat Emilia sambil melompat-lompat. Bersemangat dalam keadaan seperti ini membuatku lebih khawatir.
"Nah, selanjutnya Dee, tapi...."
"Aku akan menulisnya"
Dengan buku catatan dan pena di tangan, dia berdiri dengan wajah penuh harap. Mungkin mengerti bahwa aku akan membuat sebuah hidangan baru. Benar juga, dia sangat serakah pada persoalan makanan.
"Tidak apa-apa, kau tidak diizinkan untuk membantu dalam hal itu. Karena ini pernikahanmu"
"....Sangat disayangkan, tapi aku mengerti. Aku akan menerimanya untuk hari ini"
Terlepas dari masalah gaun, aku belum mau menyerah dalam hal membuat hidangan. Ini hanya lima orang, bukan masalah besar jika makanan yang paling sulit bisa diselesaikan terlebih dahulu.
Akupun menuju dapur bersama Dee.
☆☆☆☆
"Pertama adalah kue"
Kue tidak bisa dipisahkan dalam acara pernikahan. Aku akan menyiapkan beberapa hidangan lain, hanya saja hidangan unggas masih perlu kepulangan Reus dulu. Ayo mulai dengan membuat kue pertamaku di dunia ini.
"Kue?! Hal semacam itu....Sirius-sama sungguh akan membuat sesuatu yang hanya disiapkan untuk bangsawan kelas atas?"
"Aa, ya Jadi kue itu sangat mewah, ya"
Ini adalah makanan lumrah di duniaku dulu, tapi sangat berharga disini. Menurut informasi yang aku kumpulkan dari buku-buku, kue di dunia ini tampaknya sederhana tanpa rasa yang menonjol.
Mencampurkan gula ke dalam adonan roti, memotong roti yang telah dipanggang menjadi bentuk kue melingkar, dan diberi beberapa buah di atasnya. Terdengar seperti lelucon, tapi hanya itu. Tampak sederhana jika dilihat sekilas, namun dari sudut pandang orang jelata, hal ini terlalu menghabiskan banyak gula yang bernilai tinggi. Mereka lebih memilih memproduksi roti secara massal daripada membuat kue.
Para bangsawan memiliki tradisi menumpuk potongan kue, ketinggiannya dijadikan semacam simbol yang melambangkan kekayaan. 'Apa-apaan itu'....begitulah yang aku pikirkan secara serius setelah mengetahuinya.
Tentu saja, aku tidak akan membuat kue aneh seperti itu. Aku berencana menciptakannya dari awal dengan menggunakan adonan mentega dan telur, whipped cream* sebagai pelapis, dan memberikan berbagai warna dari buah-buahan yang Reus akan bawa kembali nanti.
[Krim kocok. Dari lemak susu yang dikocok hingga kental]
Yang paling penting adalah proses pemanggangan. Karena tidak ada alat mudah seperti oven, aku saling menempelkan sekat-sekat besi dan menciptakan sebuah kotak yang mampu menahan temperatur tinggi. Tingkat panas dan durasi pemanggangan belum bisa dipastikan karena ini adalah usaha pertama. Aku harus sangat berkonsentrasi.
Dee yang berada disampingku menghafal seluruh langkah sambil sungguh terfokus.
Tiga puluh menit berkonsentrasi, dasar-dasar dari kue pun selesai dengan lancar. ketika aku akan melanjutkan dengan melapisi whipped cream, suara Reus bergema dari luar.
"Anikiii!!! Aku sudah mendapatkannyaaaa!!!"
"Kerja bagus....tunggu, berapa banyak yang kau bawa?!*"
[Aku ato penerjemah Englishnya kagak tau kalimat apa yang pas. Siapa Donsuke?? Atau apa itu Don Daigake?? Bingung. Kalimatnya berupa tsukkomi sih, jadi ngikut english aja kayak gitu]
Kau terlalu bersemangat! Di kedua genggaman, dia membawa enam unggas tampak seperti bebek. Sedangkan dipunggungnya, tas itu seolah akan membeludak karena isinya yang terlalu penuh dengan buah-buahan. Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, itu untuk sepuluh orang, bukan lima. Ini mungkin disebabkan karena aku tidak menentukan jumlahnya. Sekarang aku sangat paham, Reus tidak bisa dibiarkan bertindak sesuai naluri.
Pada akhirnya, bahan yang tidak dapat kami gunakan bertambah, masalah menjadi semakin sulit melebihi perkiraan.
☆☆☆☆
Sore hari tiba, upacara pernikahan Noel dan Dee diadakan pada ruang tamu yang telah di dekor ulang.
Aku berdiri di atas panggung sederhana sambil mengenakan jubah untuk memainkan peran sebagai pendeta atau pastor. Sedangkan Dee mengenakan pakaian bagus, dan menunggu Noel dengan gelisah.
"Dee-nii, tenanglah. Noel-nee tidak akan melarikan diri"
"Aa....aku mengerti itu"
Melipat lengan, menggaruk kepala, dia benar-benar gugup. Mungkin karena merasakan sensasi upacara pernikahan yang sesungguhnya, kau tidak dapat berbuat apa-apa disaat seperti ini meskipun selalu tenang.
Sementara aku mengamatinya dengan tatapan hangat, pintu bergerak terbuka. Noel muncul darisana, mengenakan gaun pengantin buatan sendiri.
"Maaf untuk membuatmu menunggu, Sirius-sama~"
Emilia memegangi tangan disampingnya dan tersenyum penuh kepuasan.
Ini pertama kali aku melihat dia memakai gaun, namun penampilan Noel sebagai seorang pengantin sangatlah cantik. Yah, memang tidak berkilauan ataupun menonjol dibandingkan dengan duniaku dulu, tapi untuk sesuatu yang dibuat dalam keadaan darurat, itu sungguh menakjubkan. Benang yang saling menghubungkan, ornamen-ornamen dengan memanfaatkan tonjolan pada kain, ini adalah karya indah yang menggunakan pengetahuan dari Erina.
Maju selangkah demi selangkah tanpa mengucapkan sepatah katapun ke arah Dee, Noel tersenyum saat mereka saling berhadapan.
"Bagaimana~? Apa aku terlihat cantik?"
"Aa....sangat cantik"
Tercengang dan merasa malu, dia benar-benar terpesona olehnya.
Tangan yang digenggam Emilia kemudian diserahkan kepada Dee. Pasangan ini lalu berpaling ke arahku. Rasanya, bagian dalam hidungku serasa gatal ketika melihat mereka berdua berdiri didepanku. Entah bagaimana aku merasa bagaikan seorang ayah yang memberikan putrinya.
Tidak, ini bukan saatnya untuk merasa sentimen. Aku harus menjadi pendeta dengan benar.
"Kalian berdua yang berada disini"
"Iya. Kami akan memberikan janji suci pernikahan kepada dewa, kan?"
Pernikahan di sini nampaknya terdiri dari mengundang kerabat dan kenalan, membuat sumpah kepada dewa melalui pendeta di depan semua orang, dan setelah itu berpesta ria....itu memang bagus. Tapi aku berencana untuk melakukannya seperti di duniaku dulu.
"Aku akan menanyakan ini kepada kalian berdua terlebih dahulu. Ada cara lain dalam melakukannya di budaya lama. Boleh aku menerapkan itu?"
"Sirius-sama yang menyiapkan pernikahan ini. Aku akan menyerahkannya padamu"
"Aku juga~. Karena aku merasa seperti Sirius-sama akan menjadikannya sebagai sebuah upacara yang indah"
"Terima kasih. Kalian berdua hanya perlu menjawab pertanyaanku"
Aku pernah mendapat izin menyamar sebagai pendeta dalam operasi mata-mata, namun tidak pernah menyangka harus menjadi yang sungguhan. Aku benar-benar berterima kasih kepada pengalaman masa lalu, karena itu membuatku ingat apa yang harus diucapkan. Aku akan mencampurkan ini dengan sedikit gayaku.
"Kita berkumpul di sini untuk bergabung bersama Deemas dan Noel. Dewa* yang menyaksikan upacara pernikahan kedua insan ini, terimalah sumpah mereka. Sebelum kita mendengarnya, aku akan bertanya kepada para tamu yang berkumpul"
[Aku menggunakan kata "Dewa". Lebih cocok sama kesan fantasy ketimbang tuhan]
"Apa itu?"
"Ada apa, Aniki?"
"Deemas dan Noel akan segera bersatu. Jika ada di antara kalian yang keberatan, bicaralah sekarang"
"Tidak ada!"
"Pastinya, tidak ada!!"
Mata Noel mulai berkaca-kaca karena kata-kata mereka yang tegas. Memang tidak mungkin ada keberatan, tapi ini hanya sekedar kewajiban.
"Tentu saja, aku juga tidak....Baiklah, mempelai pria, Deemas. Apakah kau akan bersumpah untuk mencintai mempelai wanita, Noel dalam suka maupun duka, dan mendukungnya sampai kematian memisahkan?"
"A....Aku....Aku bersumpah!!"
"Mempelai wanita, Noel. Apakah kau akan bersumpah untuk mencintai mempelai pria, Deemas, dalam suka maupun duka, dan mendukungnya sampai kematian memisahkan?"
"....Ya, aku bersumpah~!"
"Apakah kalian berdua akan berjanji untuk mengabdikan diri satu sama lain?"
""Aku berjanji!""
"Kalau begitu, mempelai pria, tolong berikan cincin pada mempelai wanita"
Aku menyajikan cincin dari batu mulia safir yang sebelumnya ku temukan kepada Dee. Dia kaku karena gugup, tapi entah bagaimana berhasil memasangkan cincin itu di jari manis Noel.
"....Aku, akan melakukan yang terbaik. Noel....Aku akan membuatmu selalu bahagia"
"Tidak, aku juga akan melakukan yang terbaik. Aku akan mendukung Dee-san, jadi tolong lindungi diriku"
"Ah....aku pasti akan melindungimu"
Mereka bertukar kata dengan cara yang menyenangkan, suasana tempat ini telah memanas hingga maksimal. Kalau begitu, ayo kita menuju sentuhan akhir.
"Sekarang, kau diperbolehkan mencium sang mempelai wanita"
""Eh?....EEEHHHH?!?!?!""
Oh, kalian tidak bisa melakukannya? Baiklah, seperti saling memakaikan cincin, ciuman itu adalah ritual penting, jadi akan bermasalah jika tidak dilakukan. Sambil berdiri tanpa ekspresi, aku terus menekan pria ini dengan tatapanku.
Dee yang pada akhirnya bertekad meraih bahu Noel....dan merampas bibirnya.
"Kyaaa!!!"
"Oooooh?!"
Kakak beradik itu sangat ribut disana. Adegan ini harusnya sunyi, tapi aku akan membiarkannya karena mereka anggota keluarga.
"Dari sekarang, kalian telah menjadi suami istri. Oh dewa, tolong sampaikan berkat kekal kepada keduanya. Lalu, semua orang, silakan memberi ucapan selamat"
""Selamat!!!"""
Atas tepuk tangan para saudara dan kata-kata restu mereka, pasangan ini menjawab sambil tersenyum.
"Terima kasih"
"Sirius-sama, Emi-chan, Reu-kun~....aku sangat senang....Terima kasih, sungguh, terima kasih"
Upacara pernikahan mereka berakhir dalam bentuk yang indah.
Pada satu kursi tambahan yang berada tak jauh dari sini, kaa-san bertepuk tangan dan mengirimi ucapan berkat-nya....atau seperti itulah yang aku rasakan....
☆☆☆☆
Bagian 3
Setelah upacara selesai, ini waktunya menyantap hidangan.
Noel, meski warna yang dia kenakan tidak berbeda, setelah berganti menjadi pakaian pembantu yang biasa, dia memakan masakanku.
"Nn~?....Seperti yang diharapkan dari Sirius-sama. Daging ini yang terbaik karena sangat lembut dan memiliki rasa yang langsung meresap di lidah"
Kali ini aku membuat sesuatu seperti kalkun panggang. Sekarang memang bukan natal, tapi memiliki kesan yang cocok untuk perayaan. Bahkan itu bagus karena rasanya lebih enak daripada kalkun sungguhan. Setelah menyiapkan bahan, merebus dengan saus khusus, lalu dipanggang dulu permukaannya, begitulah.
"Noel-nee, walaupun itu sangat cocok untukmu, kau sudah berganti?"
"Pakaian itu adalah sesuatu yang dibuat bersama Emi-chan dan diberkati oleh semua orang. Aku ingin menghargainya, jadi aku tidak mau itu sampai kotor~"
"Itu benar. Lagipula, aku sangat senang untukmu, Noel-nee"
"Ya, terimakasih sekali lagi. Sirius-sama yang merencanakan dan memasak hidangan, Emi-chan membuat gaunnya, Reu-kun berburu dan membantu persiapan, sedangkan Dee-san menggandeng tanganku. Aku benar-benar orang yang beruntung~"
Diiringi aura kegembiraan yang pulih sepenuhnya, Noel melenyapkan makanan dengan kecepatan luar biasa. Apakah sifat dietnya berubah tergantung pada mood? Kuharap berat badannya tidak bertambah karena menjalani kehidupan harmonis.
"Onee-chan, meskipun kau sudah menikah dengan Dee-san, kau tidak mengubah cara memanggilnya?"
"Benar juga. Hmm~.... Seperti yang diharapkan, aku harus melakukan 'itu' di sini, ya?....Masakan Sirius-sama sangat lezat, kan, Sa~ya~ng~~♪"
"GUFUUU?!?!"
Dee yang awalnya makan disampingnya dengan sunyi dan malu-malu, secara mendadak tersedak. Itu merupakan hal fatal baginya yang hanyalah seorang pemula. Namun, serangan Noel belum berakhir.
"Ini, Sayang. Aann~~...."
"Oi....Noel"
Tampaknya pembatas kebagiaan Noel telah terlepas. Dia membawa garpu tertusuk unggas panggang mendekati sang suami sambil tersenyum, menunggu dia membuka mulut.
"....Baiklah"
"Sayang~~....Aku sungguh gembira~~"
Hmmmm, ruang yang dipenuhi tanda hati merah muda terbentuk mengelilingi pasangan itu, hingga membuat pemandangan serasa terdistorsi. Emilia tampak mengagumi mereka, sedangkan Reus agak mundur. Karena aku tidak keberatan, kupikir ini baik-baik saja asal keduanya bahagia.
"Aniki, entah bagaimana aku kesulitan mendekati mereka, apa hanya aku yang merasakannya?"
"Tidak, itu bukan hanya kau. Dunia untuk mereka sendiri telah tercipta, jadi abaikan saja"
"Jika Aniki berkata begitu. Walaupun agak aneh melihat Noel-nee 'berwarna pink'"
"Haaaa....bagus sekali. Onee-chan, betapa indahnya...."
Kekaguman Emilia melampaui batas, dia mulai menggelengkan kepala sambil menatap garpu yang menusuk pada makanannya.
"Tidak, itu tidak benar. Aku adalah petugas dan bukan istri, ini berbeda....Tapi, karena aku akan menjaganya....Uun, tidak, tidak!!"
Halo, Emilia-san? Kau menyangkalnya sambil mengatakan ini dan itu, tapi garpumu bergerak ke arah mulutku. Sementara terkagum sendiri melihat siswa yang tidak memiliki kontrol diri, aku pikir diriku terlalu lunak karena tetap saja memakannya.
"Hehehe....aku bahagia...."
"Hah? Nee-chan juga mulai 'berwarna pink'. Ada apa ini?"
"Abaikan saja"
Kau akan mengerti setelah dewasa....mungkin.
☆☆☆☆
Setelah menyantap hidangan, saatnya kue untuk muncul.
Meski teksturnya agak keras, ini sudah mirip kue yang ku tahu. Kecuali Dee, ketiganya melihat krim yang dibentuk indah, dengan mata berbinar-binar.
"I-Ini kue~~? Sangat berbeda dengan yang aku lihat ketika bersama Aria-sama"
"Apa ini? Polanya sangat indah, tapi bagaimana cara membuat hingga bisa seperti itu?"
"Menakjubkan!!!"
Ah, sial. Seharusnya aku memotong kue ini selama upacara berlangsung. Sekarang memang belum terlambat, tapi mereka sudah berganti pakaian. Ketika menyaksikan mata ketiga orang yang tampak bagai karnivora, aku menyerah.
"Fufufu, ini sedikit berbeda dari apa yang diharapkan, tapi aku yakin dengan cita rasanya"
"""Yaay!!"""
Mendengar itu, ketegangan para ras binatang menembus puncak. Karena Noel dan Dee merupakan pemeran utama, aku memberikan irisan yang lebih besar kepada keduanya. Semua orang lalu dengan segera mengunyah kue.
"....Lezat. Jadi ini yang dinamakan kue....seenak dan semanis ini...."
"....Owaaa~~....ini yang terbaik~~~"
"Inih shahngatt lezwat Anikyu"
Aku senang mendapat pujian setinggi itu. Mungkin Reus berusaha mengatakan 'Sangat lezat, aniki!', namun jangan berbicara ketika mulutmu penuh. Aku memang mencicipinya sedikit disaat membuatnya tadi, hanya saja memakan hidangan yang sudah siap memberikan nuansa berbeda. Mungkin krimnya terlalu banyak, tapi tidak berlebihan.
"Sayang~! Kau tentunya...."
"Aku sudah mencatatnya dengan sempurna. Lain kali aku akan mencoba membuat ini"
"Kau yang terbaik, sayang~~!!"
Dialog seperti itu tetap tidak berubah bahkan setelah menikah, ya. Mereka pasti akan menjadi pasangan suami istri yang harmonis karena memiliki kecocokan yang bagus dan sudah lama bersama.
Dan begitulah, pesta kami berlanjut sampai larut malam.
☆☆☆☆
Nah, sekarang....untuk sentuhan akhir.
Setelah membuat Emilia dan Reus tidur dengan obat bius, aku memanggil kedua orang yang hendak meninggalkan ruang tamu.
"Kalian berdua, Emilia dan Reus tertidur karena ramuan yang aku diam-diam berikan. Sedangkan aku akan tidur dengan penyumbat telinga. Jadi akan baik-baik saja meski kalian membuat sedikit kebisingan"
"....Hah?"
"Eeh~?!"
"Juga, gunakan alat kontrasepsi sesuai kebutuhan. Kalau begitu, bersenang-senanglah"
"Tu-Tunggu~!! Sirius-sama, dari mana kau mendapatkan pengetahuan itu....Ap---, hei, Sirius-samaaa~~!!!!"
Aku sadar bahwa diriku terlibat terlalu dalam. Tapi, mereka sudah membuatku kesal dari tadi. Sebut saja ini hukumannya*.
[Yah, kalimat terakhir jepangnya emank bukan begitu. Sungguh, karena bingung kubuat aja kayak gini]
Nikmatilah malam pertama kalian dengan baik.
☆☆☆☆
Pagi selanjutnya.
"Noel...."
"Sayang....aku mencintaimu~"
Dan....kemesraan mereka sudah berubah ke tingkat super.
☆☆☆Chapter 22 berakhir disini☆☆☆
World Teacher chap 22 B.indonesia
Chapter 21 Erina
Diterjemahkan oleh ZasuNovel
Ini adalah suatu kontribusi tambahan untuk merayakan penerbitan LN jilid 1.
Aku minta maaf, karena jika dibandingkan dengan LN jilid 1, ada poin dimana dialognya sedikit berbeda.
Namun dasarnya tidak berubah, jadi jangan khawatir*.
[Itu dari penulisnya. Bukan aku]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Erina.
Aku terlahir sebagai orang biasa yang miskin.
Setiap hari dijalani tanpa mengetahui apakah diriku bahkan bisa makan atau tidak. Namun aku mampu bertahan karena memiliki orang tua yang lembut.
....Sayangnya, mereka meninggal karena sebuah wabah, dan meninggalkanku sendirian.
Tanpa satupun kerabat, ataupun kelompok yang bisa diandalkan....akupun berjuang untuk tetap hidup, tidak ingin tergeletak hingga mati begitu saja.
Suatu hari ketika aku sudah cukup dewasa untuk dilihat sebagai seorang wanita....titik balikpun datang.
Seorang bangsawan tertentu melihatku bekerja di kota dan mengundangku untuk menjadi petugasnya.
Pekerjaannya termasuk pergi ke kamar tidur. Tak ada alasan untuk ragu ketika ditawari sebuah posisi yang menjanjikan sejumlah besar uang sekaligus makanan, yang sudah sangat sulit diperoleh di zaman sekarang.
Dan....itulah bagaimana diriku menjadi seorang pelayan bangsawan, terus berkembang sambil belajar berbagai hal.
Beberapa tahun kemudian....ketika aku sudah terbiasa tidur bersama majikanku dan memperoleh posisi yang layak di mansion....suatu penyakitpun datang menimpa.
Nyawaku memang berhasil diselamatkan. Hanya saja, fisikku mulai melemah dan meninggalkan efek yang bahkan lebih mengerikan.
Tubuh ini kemudian menjadi tidak mampu lagi melahirkan seorang anak yang seharusnya menjadi satu-satunya keluarga bagiku, yang telah kehilangan orangtuanya.
Bagaikan menambahkan penghinaan pada luka, aku diusir dari mansion.
Tidak memiliki kekuatan fisik yang cukup bahkan untuk datang ke kamar tidur, akhirnya aku benar-benar ditinggalkan.
Diusir dari rumah tanpa dapat melahirkan, membuatku kehilangan harapan dalam segala hal. Semuanya mulai kuanggap sebagai hal yang tak penting.
Terduduk di sudut kota sambil memeluk barang-barangku dan hanya terdiam tanpa peduli apakah aku akan diserang oleh orang jahat atau semacam itu....tak lama kemudian, seorang gadis mendekat dan berbicara denganku.
"Hei, onee-san, apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?"
Itulah pertemuanku dengan Aria-sama.
Yang menyelamatkanku dari gelapnya keputusaan....seakan menjadi sebuah perjumpaan yang telah ditakdirkan.
☆☆☆☆
Setelah itu, diriku menjadi petugas Aria-sama sambil menyaksikan pertumbuhannya.
Aria-sama merupakan seorang berhati lembut, tak pernah melenceng dari kata maupun sikap. Kami terus bersama seiring aku yang mulai memikirkannya sebagai adik kecilku.
Selanjutnya, Aku bertemu dengan Dee, mengenal Noel, dan terus tinggal bersama....bahkan sampai keluarga bangsawan Eldrand runtuh.
Lalu....Aria-sama memperoleh benih dari pria yang sangat kubenci....
"Aria-sama! Tolong....lihatlah! Kau mempunyai seorang bayi laki-laki!!"
"Aa....syukurlah. Dia sudah terlahir dengan aman....aku akan....mempercayakannya padamu...."
"Bertahanlah, Aria-sama!! Apakah kau tidak ingin memeluknya?!?!"
Aku memanggil dirinya sambil memegangi bayi yang baru saja lahir. Namun, kondisi perempuan itu hanya semakin memburuk.
Setelah semua, melahirkan dengan kekuatan fisiknya saat ini terlalu beresiko.
Hanya saja....aku tidak bisa menghentikannya.
---Karena diriku bisa memahami Aria-sama, yang bersikeras ingin melahirkan---
"Aria-sama! Tolong....demi anak ini....demi kita...tolong hiduplah Aria-sama!!!"
Aku tahu bahwa api kehidupannya akan segera tertiup dan lenyap.
Orang tuaku....dan Aria-sama yang menyelamatkan diriku.
Semua yang sangat kusayangi....pergi dan meninggalkanku sendiri.
"Aku tidak menginginkan ini. Aku tidak ingin....kehilangan orang yang berharga bagiku lagi...."
"....Apa....yang kau katakan? Kau tidak kehilangan....siapapun"
"Tapi, Aria-sama....!!"
Dia yang mengambil bayi itu dariku, tersenyum sambil menunjukkan wajah putranya.
"Ini, lihatlah lebih dekat. Suatu kehidupan....baru...."
"....Apa?"
"Memang bukan Erina yang melahirkannya....tapi bayi ini adalah anak semua orang. Jadi....rawatlah dia dengan baik...."
"Tidak, hal itu harus dilakukan dengan Aria-sama! Dengan semua orang....ayo besarkan dia bersama-sama!!"
"....Itu mungkin benar, aku juga....aku juga ingin membesarkannya....mungkin akan mustahil, walaupun hanya untuk sesaat, ya kan?"
....Tolong berhenti.
Aku tidak....menginginkan ini....
"Namamu adalah Sirius....Anakku Sirius, aku mencintaimu. Hiduplah jujur dengan penuh kepercayaan diri dan tanpa terikat apapun. Itu keinginanku sebagai ibumu....Dan Erina, aku akan meninggalkan sisanya padamu. Berikan dia cinta....menggantikan diriku"
Dan setelah mempercayakan Sirius-sama padaku, dia....
"Aria-sama?! Aria-....sama...."
....Segalanya telah selesai. Dia sangat bahagia sampai dirinya pergi....
Yang tertinggal adalah diriku, penuh kepiluan dan linglung....juga Sirius-sama, yang baru saja lahir.
Aria-sama hanya menginginkan keluarga dan orang disekitarnya bahagia....Lalu, kenapa....jadi seperti ini.
"(Memang bukan Erina yang melahirkannya....tapi bayi ini adalah anak semua orang. Jadi....rawatlah dia dengan baik....)"
Pada saat itu, tangisan dan kehangatan bayi ini membuatku kembali tersadar.
Tegaslah....aku tidak punya waktu untuk meratap.
Hal penting yang ditinggalkan Aria-sama....hanya diriku yang dapat melindunginya.
"....Aku akan membesarkan dengan baik Sirius-sama....Tolong awasi kami darisana"
Dan Ini adalah pertemuanku dengan Sirius-sama.
Salah seorang yang membawa kebahagiaan padaku....perjumpaan dengan sosok yang sangat berharga.
☆☆☆☆
Sebulan kemudian.
Ketika semua orang tertinggal di rumah seusai kematian Aria-sama, diriku terserap dalam kelucuan Sirius-sama.
Tangan mungil yang akan meraih ketika kuulurkan jari, mata bulat yang diperoleh dari ibu kandungnya....setiap bagian begitu menggemaskan.
Aku telah mengurus beberapa bayi di masa lalu, hanya saja Sirius-sama tidak rewel sama sekali. Jika disuapi makanan, dia akan mengunyahnya dengan cara yang rapi.
Seolah-olah, dia memahami kata-kataku. Rasanya seperti dia akan makan sendiri jika aku menyerahkannya sendok.
"Meski begitu, Sirius-sama makan terlalu bersih, kan?"
"Sirius-sama itu spesial"
Perkembangkannya sangat cepat bila dibandingkan dengan bayi lain. Dia benar-benar putra Aria-sama.
Awalnya Noel memiringkan kepala dengan heran, lalu menyerah berpikir tentang hal itu karena kelucuan Sirius-sama.
Setelah itu, gadis ini meminta agar dirinya dipanggil 'Onee-chan' oleh Sirius-sama. Itu sudah sering kudengar, tapi....kenapa aku merasa selain diriku, Sirius-sama juga merasa takjub?.
Aku senang dia tumbuh dengan cepat. Hanya saja....aku juga berharap agar dia tumbuh sedikit lebih lambat.
....Namun, itu merupakan perasaan seorang ibu. Suatu perasaan yang tidak seharusnya diriku genggam.
Aku adalah petugas Aria-sama, mengawasi perkembangan Sirius-sama saja sudah cukup.
☆☆☆☆
Diriku lalu runtuh karena penyakit air.
Tanpa bisa merasakan sensasi tubuh karena demam dan kesadaran yang mulai meredup, aku mengerti bahwa kematianku sudah mendekat.
"Aria-....sa....ma...."
Aku....masih belum....melakukan segala hal yang harus dilakukan....
Akankah diriku berakhir....hanya sejauh ini?
....Aria-sama....maaf.
....Meskipun aku bersumpah untuk melindungi anakmu....aku....sungguh meminta....maaf....
"Minum saja! Aku takkan memaafkanku kalau kau tidak melakukannya!!"
Rambut hitam ini....Aria-sama?
Aku mengerti. Jika itu adalah....perintahmu....
Sesuatu mendekat, dan ketika mulutku benar-benar meminumnya....akupun menyadari hal yang berbeda.
Suara dan tangan ini tidak mirip dengan Aria-sama....melainkan Sirius-sama?
"Tidur"
....Aa....Sirius-sama.
Kau telah berkembang hingga....mampu memerintahkan diriku.
Tumbuhlah....lebih banyak seperti ini....
☆☆☆☆
"Dimana....ini?"
Aku masih hidup.
Meski kelelahan masih ada, namun demam yang menyiksa tubuhku telah lenyap tanpa jejak, penyakit air ini sudah sembuh total.
Ketika diriku melihat sosok Sirius-sama yang sedang tertidur dalam posisi tidak benar dan bersandar di kasur....aku mengingatnya.
Hidupku telah diselamatkan oleh dirinya.
Tatapan serius saat mencoba menyelamatkanku itu mirip dengan Aria-sama.
Aku tidak tahu tentang asal-usul obat....persoalan itu seakan menjadi masalah sepele ketika melihat wajah tidurnya yang polos.
Tanpa dapat menahan rasa kasih sayang yang memuncak, aku mengulurkan tangan pada Sirius-sama dan membelai kepalanya.
"Erina?!"
"Ya, aku disini...."
Setelah aku mengatakan kebenaran tentang ibunya, Sirius-sama mengutarakan alasan di balik pertumbuhannya yang abnormal.
Tampaknya mustahil dan sulit dipercaya. Namun jika dia berucap demikian, maka itu harusnya benar.
....Tidak, kebenaran bukanlah hal yang penting bagiku sekarang.
Dia telah berkembang sedemikian rupa hingga aku bisa menghormatinya sebagai masterku.
Mulai sekarang aku akan menjalani sisa hidup ini, bukan sebagai petugas Aria-sama, melainkan sebagai petugas Sirius-sama.
☆☆☆☆
Sirius-sama berkembang pada kecepatan yang tidak masuk akal.
Sampai di hari yang lain, dia bertarung dengan Dee, bekas seorang petualang ditambah memiliki postur lebih besar, dan berakhir sebagai kemenangan Sirius-sama.
Sekarang ia memainkan peran sentral bagi kami, tumbuh sebagai master hebat yang mampu memberikan mimpi dan harapan tidak hanya untukku, namun juga untuk Noel dan Dee.
....Pertumbuhan ini bisa dikatakan 'luar biasa'.
Kemampuannya dapat dengan mudah mengambil nyawa seseorang.
Dari perspektif orang yang tidak mengetahui apapun, ia merupakan eksistensi mengerikan.
Tapi, Sirius-sama mengerti bagaimana untuk menggunakan kekuatannya. Orang yang memanggil kami keluarga ini, memiliki banyak kebaikan sekaligus kepedulian.
Aku tidak berpikir dia sebagai individu yang harus ditakuti, bahkan tidak sedikitpun.
Dia merupakan anak kami yang berhar---....tidak, dia adalah tuanku yang berharga.
Suatu hari Sirius-sama pulang sambil membawa anak-anak dari ras serigala perak.
Kampung halaman sekaligus orang tua mereka telah lenyap oleh monster, kakak beradik itupun tidak mempunyai satupun tempat untuk dituju.
Terus terang, kami tidak mampu lagi menyediakan makanan untuk tambahan dua orang. Namun, jika Sirius-sama menginginkannya, satu-satunya hal yang bisa kami lakukan adalah menanggapi itu.
Lagipula....ini adalah pertama kalinya dia mengatakan sesuatu yang egois, aku tentu ingin memenuhinya.
"....Aku lebih ingin ditepuk...."
"Ya, ya, Reus adalah anak yang baik"
"Un...."
Sementara Sirius-sama merawat bekas luka Emilia, aku menempatkan Reus ke tempat tidurnya.
Dia terlelap dengan ekspresi polos dan lucu, tapi tetap saja wajah tidur Sirius-sama yang terbaik.
Ngomong-ngomong, kapan terakhir kali aku melihat tidur wajah Sirius-sama?
Dia bangun lebih awal daripada kami, jadi aku tidak memiliki kenangan tentang menyaksikannya sampai beberapa tahun terakhir.
Pertumbuhan Sirius-sama adalah hal yang menggembirakan, hanya saja aku juga berharap dia akan menjadi sedikit lebih egois sesuai usianya seperti Reus.
Malam itu, diputuskan bahwa Sirius-sama akan akhirnya tidur di kamarku.
Dia tampak berpikir keras tentang sesuatu, tapi wajah seriusnya juga menggemaskan.
Meskipun beberapa waktu yang lalu dirinya masih kecil....dia telah tumbuh dengan sangat baik.
"....Hei....aku cemas kalau ditatap terlalu lama, jadi...."
"Aku sangat menyesal. Hanya saja, aku tidak bisa tidur jika tidak menghadap ke sisi ini"
"Jangan berbohong"
"Tidak, hanya untuk hari ini, aku tidak bisa tidur jika tidak menghadap ke sisi ini"
Memiliku momen yang menyenangkan, aku tidak bisa menyia-nyiakannya dengan terlelap.
☆☆☆☆
Beberapa hari setelah itu, Emilia dan Reus menyadari kehebatan Sirius-sama, dan mengabdikan loyalitas kepadanya.
Terutama Emilia, dia mungkin akan menjadi petugas yang tidak akan pernah berhianat.
Artinya, dia mungkin bisa meneruskan jejakku.
Aku....tidak memiliki sisa umur yang panjang....
....Akhir-akhir ini tubuhku sulit untuk digerakkan. Hari-hari tanpa bisa menangani pekerjaan jika tidak beristirahat beberapa kali telah meningkat.
Masalahnya adalah umur. Aku tidak bisa mendukung Sirius-sama selamanya.
Membuat penggantiku....dengan kata lain, mempercayakan perasaanku kepada gadis kecil itu. Ini hanyalah keegoisanku sendiri.
Ini bukan hanya tindakan yang membuat Emilia membawa beban tak terlihat, namun juga tindakan yang mampu mengubah masa depannya.
Jika perasaan satu sisi ini diutarakan terlepas dari keputusannya....
"Aku memutuskan untuk hidup demi Sirius-sama! Jadi, tolong ajarkan aku semua keterampilan seorang petugas secara penuh, Erina-san!!"
....Dia ternyata menerimanya dengan penuh semangat.
Sirius-sama, kau menemukan seorang gadis yang sungguh baik.
Akan kupastikan untuk mengasuhnya menjadi petugas yang hebat, sesuai untukmu.
Mungkin ini akan menjadi tugas terakhirku.
Jadi, tolong....
....Aku ingin mampu bertahan....sedikit lebih lama.
☆☆☆☆
Tampaknya aku sudah mencapai batas.
Untunglah semua curahan ini masih sempat kupercayakan kepada Emilia.
Aku hanya harus memberikan ucapan terakhir untuk semua orang....Hanya saja, Sirius-sama mulai marah padaku.
"Aku akan mendengarnya. Tapi aku ingin kau mengutarakan perasaan sejatimu....kaa-san"
Dan....dia memanggil diriku sebagai 'kaa-san'.
Meskipun aku bukan wanita yang melahirkan dirimu.
Tidak apa-apakah walaupun aku bukan ibu kandungmu?
Tidak apa-apakah aku menjadi ibumu?
Perasaan yang seharusnya tidak pernah kumiliki mengalir deras. Akupun menjadi tidak mampu menahan luapan air mata ini.
"....Apa kau yakin akan hal itu?"
"Aku sudah terlanjur menganggap Erina hanya sebagai seorang ibu. Jadi tolong katakan, kalau tidak aku akan membencimu, kaa-san"
"Sirius-sama....tidak, Sirius. Aku tidak ingin dibenci jadi aku akan melakukan apa yang kau inginkan"
Aku lalu menyampaikan kepada semua orang setiap tetes dari untaian lubuk hatiku yang sesungguhnya.
Untuk Reus agar menjadi lebih sopan.
Untuk Dee agar dirinya semakin berani.
Untuk Noel agar dia terus tersenyum cerah.
Untuk Emilia agar gadis itu juga memperhatikan dirinya sendiri.
Dan untuk Sirius, seperti ucapan terakhir dari Aria-sama....agar kau bisa menjalani hidup....dengan bebas.
"Boleh aku....dipanggil kaa-san lagi?"
"Berapa kalipun itu, kaa-san"
"Lagi"
"Kaa-san!"
"Lebih keras"
"Kaa-san!!!"
"Aku ingin kau memanggilku mama"
"Ya ya, mama!"
"Sudah kuduga, kaa-san lebih baik"
"....Baiklah, kaa-san"
"Fufu, ini pertama kalinya aku melihat air matamu....Kau menangis untukku?"
"....itu sudah jelas....kan"
Aku tidak bisa merasakan tangan yang kau berikan padaku karena pengaruh obat, namun kehangatanmu telah tersampaikan.
Sejak dirinya lahir, aku tak pernah menyaksikan Sirius membiarkan air matanya mengalir.
Anak yang tidak menangis bahkan setelah mengetahui bahwa Aria-sama sudah tiada....meneteskan perasaan tulusnya untukku.
"Aku juga.....merasa bahagia....bisa bersamamu, kaa-san"
Aku....telah sungguh menjadi ibumu, ya?
"Sirius-ku....Aku mencintaimu"
"....Aku juga mencintaimu, kaa-san"
"Aah....ucapan itu sudah cukup, Sirius....---"
Mendadak....kenangan dari masa laluku mengalir.
Sejak menerima kehidupan di dunia ini, aku berulang kali mengalami suka duka.
Setelah kehilangan orang tua, hari-hariku di isi sebagai seorang pelayan bangsawan yang lebih mirip dengan menjual diri, menghabiskan setiap waktu penuh hal-hal melelahkan.
Dan begitu diriku tertular penyakit parah, aku pun mulai putus asa disaat mengetahui tubuhku menjadi tidak mampu lagi untuk melahirkan.
Namun....Aku yang kehilangan alasan untuk hidup, diselamatkan oleh Aria-sama.
Seusai kehilangan dirinya juga, waktu ketika aku hendak jatuh kedalam gelapnya keputusasaan sekali lagi....aku bertemu denganmu.
Ketika mengangkat dirimu, bayi yang ditinggalkan oleh Aria-sama dalam pelukanku untuk pertama kalinya....aku menegaskan segala hal.
'Aku akan....hidup untuk melindungi anak ini'
Itu lucu....sambil mencintai dirimu....aku ada untuk melindungimu, bahkan jika harus membuang segala sesuatunya.
Ada juga hal yang sulit dan menyusahkan, tapi aku tidak takut pada apapun jika memikirkanmu.
Karena itulah alasanku untuk hidup.
Disebut 'kaa-san' olehmu, seluruh hal serasa berharga.
Memberikan impian untuk Noel dan Dee, menjadi tujuan masa depan Emilia dan Reus....demi keluarga....kau adalah kebanggaanku.
Karena adanya dirimulah, aku disini.
Karena adanya dirimulah, duniaku dipenuhi cahaya terang.
Oleh karena itu....aku ingin memberitahumu di akhir.
Sirius ku yang tercinta....
....Untuk terlahir....---
....
☆☆☆Chapter 21 berakhir disini☆☆☆
Diterjemahkan oleh ZasuNovel
Ini adalah suatu kontribusi tambahan untuk merayakan penerbitan LN jilid 1.
Aku minta maaf, karena jika dibandingkan dengan LN jilid 1, ada poin dimana dialognya sedikit berbeda.
Namun dasarnya tidak berubah, jadi jangan khawatir*.
[Itu dari penulisnya. Bukan aku]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Erina.
Aku terlahir sebagai orang biasa yang miskin.
Setiap hari dijalani tanpa mengetahui apakah diriku bahkan bisa makan atau tidak. Namun aku mampu bertahan karena memiliki orang tua yang lembut.
....Sayangnya, mereka meninggal karena sebuah wabah, dan meninggalkanku sendirian.
Tanpa satupun kerabat, ataupun kelompok yang bisa diandalkan....akupun berjuang untuk tetap hidup, tidak ingin tergeletak hingga mati begitu saja.
Suatu hari ketika aku sudah cukup dewasa untuk dilihat sebagai seorang wanita....titik balikpun datang.
Seorang bangsawan tertentu melihatku bekerja di kota dan mengundangku untuk menjadi petugasnya.
Pekerjaannya termasuk pergi ke kamar tidur. Tak ada alasan untuk ragu ketika ditawari sebuah posisi yang menjanjikan sejumlah besar uang sekaligus makanan, yang sudah sangat sulit diperoleh di zaman sekarang.
Dan....itulah bagaimana diriku menjadi seorang pelayan bangsawan, terus berkembang sambil belajar berbagai hal.
Beberapa tahun kemudian....ketika aku sudah terbiasa tidur bersama majikanku dan memperoleh posisi yang layak di mansion....suatu penyakitpun datang menimpa.
Nyawaku memang berhasil diselamatkan. Hanya saja, fisikku mulai melemah dan meninggalkan efek yang bahkan lebih mengerikan.
Tubuh ini kemudian menjadi tidak mampu lagi melahirkan seorang anak yang seharusnya menjadi satu-satunya keluarga bagiku, yang telah kehilangan orangtuanya.
Bagaikan menambahkan penghinaan pada luka, aku diusir dari mansion.
Tidak memiliki kekuatan fisik yang cukup bahkan untuk datang ke kamar tidur, akhirnya aku benar-benar ditinggalkan.
Diusir dari rumah tanpa dapat melahirkan, membuatku kehilangan harapan dalam segala hal. Semuanya mulai kuanggap sebagai hal yang tak penting.
Terduduk di sudut kota sambil memeluk barang-barangku dan hanya terdiam tanpa peduli apakah aku akan diserang oleh orang jahat atau semacam itu....tak lama kemudian, seorang gadis mendekat dan berbicara denganku.
"Hei, onee-san, apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?"
Itulah pertemuanku dengan Aria-sama.
Yang menyelamatkanku dari gelapnya keputusaan....seakan menjadi sebuah perjumpaan yang telah ditakdirkan.
☆☆☆☆
Setelah itu, diriku menjadi petugas Aria-sama sambil menyaksikan pertumbuhannya.
Aria-sama merupakan seorang berhati lembut, tak pernah melenceng dari kata maupun sikap. Kami terus bersama seiring aku yang mulai memikirkannya sebagai adik kecilku.
Selanjutnya, Aku bertemu dengan Dee, mengenal Noel, dan terus tinggal bersama....bahkan sampai keluarga bangsawan Eldrand runtuh.
Lalu....Aria-sama memperoleh benih dari pria yang sangat kubenci....
"Aria-sama! Tolong....lihatlah! Kau mempunyai seorang bayi laki-laki!!"
"Aa....syukurlah. Dia sudah terlahir dengan aman....aku akan....mempercayakannya padamu...."
"Bertahanlah, Aria-sama!! Apakah kau tidak ingin memeluknya?!?!"
Aku memanggil dirinya sambil memegangi bayi yang baru saja lahir. Namun, kondisi perempuan itu hanya semakin memburuk.
Setelah semua, melahirkan dengan kekuatan fisiknya saat ini terlalu beresiko.
Hanya saja....aku tidak bisa menghentikannya.
---Karena diriku bisa memahami Aria-sama, yang bersikeras ingin melahirkan---
"Aria-sama! Tolong....demi anak ini....demi kita...tolong hiduplah Aria-sama!!!"
Aku tahu bahwa api kehidupannya akan segera tertiup dan lenyap.
Orang tuaku....dan Aria-sama yang menyelamatkan diriku.
Semua yang sangat kusayangi....pergi dan meninggalkanku sendiri.
"Aku tidak menginginkan ini. Aku tidak ingin....kehilangan orang yang berharga bagiku lagi...."
"....Apa....yang kau katakan? Kau tidak kehilangan....siapapun"
"Tapi, Aria-sama....!!"
Dia yang mengambil bayi itu dariku, tersenyum sambil menunjukkan wajah putranya.
"Ini, lihatlah lebih dekat. Suatu kehidupan....baru...."
"....Apa?"
"Memang bukan Erina yang melahirkannya....tapi bayi ini adalah anak semua orang. Jadi....rawatlah dia dengan baik...."
"Tidak, hal itu harus dilakukan dengan Aria-sama! Dengan semua orang....ayo besarkan dia bersama-sama!!"
"....Itu mungkin benar, aku juga....aku juga ingin membesarkannya....mungkin akan mustahil, walaupun hanya untuk sesaat, ya kan?"
....Tolong berhenti.
Aku tidak....menginginkan ini....
"Namamu adalah Sirius....Anakku Sirius, aku mencintaimu. Hiduplah jujur dengan penuh kepercayaan diri dan tanpa terikat apapun. Itu keinginanku sebagai ibumu....Dan Erina, aku akan meninggalkan sisanya padamu. Berikan dia cinta....menggantikan diriku"
Dan setelah mempercayakan Sirius-sama padaku, dia....
"Aria-sama?! Aria-....sama...."
....Segalanya telah selesai. Dia sangat bahagia sampai dirinya pergi....
Yang tertinggal adalah diriku, penuh kepiluan dan linglung....juga Sirius-sama, yang baru saja lahir.
Aria-sama hanya menginginkan keluarga dan orang disekitarnya bahagia....Lalu, kenapa....jadi seperti ini.
"(Memang bukan Erina yang melahirkannya....tapi bayi ini adalah anak semua orang. Jadi....rawatlah dia dengan baik....)"
Pada saat itu, tangisan dan kehangatan bayi ini membuatku kembali tersadar.
Tegaslah....aku tidak punya waktu untuk meratap.
Hal penting yang ditinggalkan Aria-sama....hanya diriku yang dapat melindunginya.
"....Aku akan membesarkan dengan baik Sirius-sama....Tolong awasi kami darisana"
Dan Ini adalah pertemuanku dengan Sirius-sama.
Salah seorang yang membawa kebahagiaan padaku....perjumpaan dengan sosok yang sangat berharga.
☆☆☆☆
Sebulan kemudian.
Ketika semua orang tertinggal di rumah seusai kematian Aria-sama, diriku terserap dalam kelucuan Sirius-sama.
Tangan mungil yang akan meraih ketika kuulurkan jari, mata bulat yang diperoleh dari ibu kandungnya....setiap bagian begitu menggemaskan.
Aku telah mengurus beberapa bayi di masa lalu, hanya saja Sirius-sama tidak rewel sama sekali. Jika disuapi makanan, dia akan mengunyahnya dengan cara yang rapi.
Seolah-olah, dia memahami kata-kataku. Rasanya seperti dia akan makan sendiri jika aku menyerahkannya sendok.
"Meski begitu, Sirius-sama makan terlalu bersih, kan?"
"Sirius-sama itu spesial"
Perkembangkannya sangat cepat bila dibandingkan dengan bayi lain. Dia benar-benar putra Aria-sama.
Awalnya Noel memiringkan kepala dengan heran, lalu menyerah berpikir tentang hal itu karena kelucuan Sirius-sama.
Setelah itu, gadis ini meminta agar dirinya dipanggil 'Onee-chan' oleh Sirius-sama. Itu sudah sering kudengar, tapi....kenapa aku merasa selain diriku, Sirius-sama juga merasa takjub?.
Aku senang dia tumbuh dengan cepat. Hanya saja....aku juga berharap agar dia tumbuh sedikit lebih lambat.
....Namun, itu merupakan perasaan seorang ibu. Suatu perasaan yang tidak seharusnya diriku genggam.
Aku adalah petugas Aria-sama, mengawasi perkembangan Sirius-sama saja sudah cukup.
☆☆☆☆
Diriku lalu runtuh karena penyakit air.
Tanpa bisa merasakan sensasi tubuh karena demam dan kesadaran yang mulai meredup, aku mengerti bahwa kematianku sudah mendekat.
"Aria-....sa....ma...."
Aku....masih belum....melakukan segala hal yang harus dilakukan....
Akankah diriku berakhir....hanya sejauh ini?
....Aria-sama....maaf.
....Meskipun aku bersumpah untuk melindungi anakmu....aku....sungguh meminta....maaf....
"Minum saja! Aku takkan memaafkanku kalau kau tidak melakukannya!!"
Rambut hitam ini....Aria-sama?
Aku mengerti. Jika itu adalah....perintahmu....
Sesuatu mendekat, dan ketika mulutku benar-benar meminumnya....akupun menyadari hal yang berbeda.
Suara dan tangan ini tidak mirip dengan Aria-sama....melainkan Sirius-sama?
"Tidur"
....Aa....Sirius-sama.
Kau telah berkembang hingga....mampu memerintahkan diriku.
Tumbuhlah....lebih banyak seperti ini....
☆☆☆☆
"Dimana....ini?"
Aku masih hidup.
Meski kelelahan masih ada, namun demam yang menyiksa tubuhku telah lenyap tanpa jejak, penyakit air ini sudah sembuh total.
Ketika diriku melihat sosok Sirius-sama yang sedang tertidur dalam posisi tidak benar dan bersandar di kasur....aku mengingatnya.
Hidupku telah diselamatkan oleh dirinya.
Tatapan serius saat mencoba menyelamatkanku itu mirip dengan Aria-sama.
Aku tidak tahu tentang asal-usul obat....persoalan itu seakan menjadi masalah sepele ketika melihat wajah tidurnya yang polos.
Tanpa dapat menahan rasa kasih sayang yang memuncak, aku mengulurkan tangan pada Sirius-sama dan membelai kepalanya.
"Erina?!"
"Ya, aku disini...."
Setelah aku mengatakan kebenaran tentang ibunya, Sirius-sama mengutarakan alasan di balik pertumbuhannya yang abnormal.
Tampaknya mustahil dan sulit dipercaya. Namun jika dia berucap demikian, maka itu harusnya benar.
....Tidak, kebenaran bukanlah hal yang penting bagiku sekarang.
Dia telah berkembang sedemikian rupa hingga aku bisa menghormatinya sebagai masterku.
Mulai sekarang aku akan menjalani sisa hidup ini, bukan sebagai petugas Aria-sama, melainkan sebagai petugas Sirius-sama.
☆☆☆☆
Sirius-sama berkembang pada kecepatan yang tidak masuk akal.
Sampai di hari yang lain, dia bertarung dengan Dee, bekas seorang petualang ditambah memiliki postur lebih besar, dan berakhir sebagai kemenangan Sirius-sama.
Sekarang ia memainkan peran sentral bagi kami, tumbuh sebagai master hebat yang mampu memberikan mimpi dan harapan tidak hanya untukku, namun juga untuk Noel dan Dee.
....Pertumbuhan ini bisa dikatakan 'luar biasa'.
Kemampuannya dapat dengan mudah mengambil nyawa seseorang.
Dari perspektif orang yang tidak mengetahui apapun, ia merupakan eksistensi mengerikan.
Tapi, Sirius-sama mengerti bagaimana untuk menggunakan kekuatannya. Orang yang memanggil kami keluarga ini, memiliki banyak kebaikan sekaligus kepedulian.
Aku tidak berpikir dia sebagai individu yang harus ditakuti, bahkan tidak sedikitpun.
Dia merupakan anak kami yang berhar---....tidak, dia adalah tuanku yang berharga.
Suatu hari Sirius-sama pulang sambil membawa anak-anak dari ras serigala perak.
Kampung halaman sekaligus orang tua mereka telah lenyap oleh monster, kakak beradik itupun tidak mempunyai satupun tempat untuk dituju.
Terus terang, kami tidak mampu lagi menyediakan makanan untuk tambahan dua orang. Namun, jika Sirius-sama menginginkannya, satu-satunya hal yang bisa kami lakukan adalah menanggapi itu.
Lagipula....ini adalah pertama kalinya dia mengatakan sesuatu yang egois, aku tentu ingin memenuhinya.
"....Aku lebih ingin ditepuk...."
"Ya, ya, Reus adalah anak yang baik"
"Un...."
Sementara Sirius-sama merawat bekas luka Emilia, aku menempatkan Reus ke tempat tidurnya.
Dia terlelap dengan ekspresi polos dan lucu, tapi tetap saja wajah tidur Sirius-sama yang terbaik.
Ngomong-ngomong, kapan terakhir kali aku melihat tidur wajah Sirius-sama?
Dia bangun lebih awal daripada kami, jadi aku tidak memiliki kenangan tentang menyaksikannya sampai beberapa tahun terakhir.
Pertumbuhan Sirius-sama adalah hal yang menggembirakan, hanya saja aku juga berharap dia akan menjadi sedikit lebih egois sesuai usianya seperti Reus.
Malam itu, diputuskan bahwa Sirius-sama akan akhirnya tidur di kamarku.
Dia tampak berpikir keras tentang sesuatu, tapi wajah seriusnya juga menggemaskan.
Meskipun beberapa waktu yang lalu dirinya masih kecil....dia telah tumbuh dengan sangat baik.
"....Hei....aku cemas kalau ditatap terlalu lama, jadi...."
"Aku sangat menyesal. Hanya saja, aku tidak bisa tidur jika tidak menghadap ke sisi ini"
"Jangan berbohong"
"Tidak, hanya untuk hari ini, aku tidak bisa tidur jika tidak menghadap ke sisi ini"
Memiliku momen yang menyenangkan, aku tidak bisa menyia-nyiakannya dengan terlelap.
☆☆☆☆
Beberapa hari setelah itu, Emilia dan Reus menyadari kehebatan Sirius-sama, dan mengabdikan loyalitas kepadanya.
Terutama Emilia, dia mungkin akan menjadi petugas yang tidak akan pernah berhianat.
Artinya, dia mungkin bisa meneruskan jejakku.
Aku....tidak memiliki sisa umur yang panjang....
....Akhir-akhir ini tubuhku sulit untuk digerakkan. Hari-hari tanpa bisa menangani pekerjaan jika tidak beristirahat beberapa kali telah meningkat.
Masalahnya adalah umur. Aku tidak bisa mendukung Sirius-sama selamanya.
Membuat penggantiku....dengan kata lain, mempercayakan perasaanku kepada gadis kecil itu. Ini hanyalah keegoisanku sendiri.
Ini bukan hanya tindakan yang membuat Emilia membawa beban tak terlihat, namun juga tindakan yang mampu mengubah masa depannya.
Jika perasaan satu sisi ini diutarakan terlepas dari keputusannya....
"Aku memutuskan untuk hidup demi Sirius-sama! Jadi, tolong ajarkan aku semua keterampilan seorang petugas secara penuh, Erina-san!!"
....Dia ternyata menerimanya dengan penuh semangat.
Sirius-sama, kau menemukan seorang gadis yang sungguh baik.
Akan kupastikan untuk mengasuhnya menjadi petugas yang hebat, sesuai untukmu.
Mungkin ini akan menjadi tugas terakhirku.
Jadi, tolong....
....Aku ingin mampu bertahan....sedikit lebih lama.
☆☆☆☆
Tampaknya aku sudah mencapai batas.
Untunglah semua curahan ini masih sempat kupercayakan kepada Emilia.
Aku hanya harus memberikan ucapan terakhir untuk semua orang....Hanya saja, Sirius-sama mulai marah padaku.
"Aku akan mendengarnya. Tapi aku ingin kau mengutarakan perasaan sejatimu....kaa-san"
Dan....dia memanggil diriku sebagai 'kaa-san'.
Meskipun aku bukan wanita yang melahirkan dirimu.
Tidak apa-apakah walaupun aku bukan ibu kandungmu?
Tidak apa-apakah aku menjadi ibumu?
Perasaan yang seharusnya tidak pernah kumiliki mengalir deras. Akupun menjadi tidak mampu menahan luapan air mata ini.
"....Apa kau yakin akan hal itu?"
"Aku sudah terlanjur menganggap Erina hanya sebagai seorang ibu. Jadi tolong katakan, kalau tidak aku akan membencimu, kaa-san"
"Sirius-sama....tidak, Sirius. Aku tidak ingin dibenci jadi aku akan melakukan apa yang kau inginkan"
Aku lalu menyampaikan kepada semua orang setiap tetes dari untaian lubuk hatiku yang sesungguhnya.
Untuk Reus agar menjadi lebih sopan.
Untuk Dee agar dirinya semakin berani.
Untuk Noel agar dia terus tersenyum cerah.
Untuk Emilia agar gadis itu juga memperhatikan dirinya sendiri.
Dan untuk Sirius, seperti ucapan terakhir dari Aria-sama....agar kau bisa menjalani hidup....dengan bebas.
"Boleh aku....dipanggil kaa-san lagi?"
"Berapa kalipun itu, kaa-san"
"Lagi"
"Kaa-san!"
"Lebih keras"
"Kaa-san!!!"
"Aku ingin kau memanggilku mama"
"Ya ya, mama!"
"Sudah kuduga, kaa-san lebih baik"
"....Baiklah, kaa-san"
"Fufu, ini pertama kalinya aku melihat air matamu....Kau menangis untukku?"
"....itu sudah jelas....kan"
Aku tidak bisa merasakan tangan yang kau berikan padaku karena pengaruh obat, namun kehangatanmu telah tersampaikan.
Sejak dirinya lahir, aku tak pernah menyaksikan Sirius membiarkan air matanya mengalir.
Anak yang tidak menangis bahkan setelah mengetahui bahwa Aria-sama sudah tiada....meneteskan perasaan tulusnya untukku.
"Aku juga.....merasa bahagia....bisa bersamamu, kaa-san"
Aku....telah sungguh menjadi ibumu, ya?
"Sirius-ku....Aku mencintaimu"
"....Aku juga mencintaimu, kaa-san"
"Aah....ucapan itu sudah cukup, Sirius....---"
Mendadak....kenangan dari masa laluku mengalir.
Sejak menerima kehidupan di dunia ini, aku berulang kali mengalami suka duka.
Setelah kehilangan orang tua, hari-hariku di isi sebagai seorang pelayan bangsawan yang lebih mirip dengan menjual diri, menghabiskan setiap waktu penuh hal-hal melelahkan.
Dan begitu diriku tertular penyakit parah, aku pun mulai putus asa disaat mengetahui tubuhku menjadi tidak mampu lagi untuk melahirkan.
Namun....Aku yang kehilangan alasan untuk hidup, diselamatkan oleh Aria-sama.
Seusai kehilangan dirinya juga, waktu ketika aku hendak jatuh kedalam gelapnya keputusasaan sekali lagi....aku bertemu denganmu.
Ketika mengangkat dirimu, bayi yang ditinggalkan oleh Aria-sama dalam pelukanku untuk pertama kalinya....aku menegaskan segala hal.
'Aku akan....hidup untuk melindungi anak ini'
Itu lucu....sambil mencintai dirimu....aku ada untuk melindungimu, bahkan jika harus membuang segala sesuatunya.
Ada juga hal yang sulit dan menyusahkan, tapi aku tidak takut pada apapun jika memikirkanmu.
Karena itulah alasanku untuk hidup.
Disebut 'kaa-san' olehmu, seluruh hal serasa berharga.
Memberikan impian untuk Noel dan Dee, menjadi tujuan masa depan Emilia dan Reus....demi keluarga....kau adalah kebanggaanku.
Karena adanya dirimulah, aku disini.
Karena adanya dirimulah, duniaku dipenuhi cahaya terang.
Oleh karena itu....aku ingin memberitahumu di akhir.
Sirius ku yang tercinta....
....Untuk terlahir....---
....
☆☆☆Chapter 21 berakhir disini☆☆☆
World Teacher chap 21 B.indonesia
Chapter 20 Innocent Love
Diterjemahkan oleh ZasuNovel
Bagian 1
Tersisa setengah tahun sampai pergi ke sekolah.
Musim sekarang disebut {Bulan dari Bunga Salju}*, dalam hidupku sebelumnya inilah musim dingin. Hari-hari bersuhu rendah-pun berlanjut, waktu dimana alat sihir pemanas terus-terusan digunakan.
[Yang dimaksud bukannya bulan dilangit malam. Melainkan, bulan di tanggalan]
Aku memang masih memiliki permata dari Jewel Turtle, namun sempat mengkonsultasikannya dengan Dee dan Erina tentang menjualnya segera.
Tak ada permasalahan dengan keuangan karena terdapat penghasilan yang sudah ditabung selama 5 tahun
Pelatihan juga berjalan lancar, mengetahui bahwa mereka bisa bersekolah bersama membuat kedua siswa berusaha lebih keras. Awalnya aku membuat jadwal jangka pendek karena berpikir kami akan berpisah, tapi itu tidak lagi diperlukan jadi durasinya kuubah dan diperpanjang.
Memang akan sulit, hanya saja keduanya akan bertahan dan meningkat.
Tujuan dari para petugas juga telah diputuskan.
Yang pertama adalah Noel, sepertinya dia akan kembali ke kampung halamannya.
Orang tua dan saudara-saudaranya tinggal di sebuah desa miskin, dia pergi dari tempat itu dengan dalih menjadi pekerja migran hanya agar dapat mengurangi 'mulut yang harus diberi makan'. Tapi, saat bertukar surat, dia mengetahui bahwa penguasa saat ini cukuplah mampu mengurus wilayahnya dan dapat mengurangi kemiskinan disana. Sekarang juga sudah sedikit berkembang, dan karena merupakan desa yang toleran terhadap ras binatang, Noel memutuskan pulang kampung sambil berpikir bahwa dia pasti bisa menemukan minimal satu pekerjaan.
Dee juga akan pergi menuju desa Noel.
Dia memiliki kelebihan sebagai bekas seorang petualang dan pandai dalam hal memasak. Mereka takkan pernah bisa meragukan kedatangan Dee jika Noel menyajikan hidangan buatannya kepada para penduduk. Dia akan mampu menghidupi diri sebagai koki.
Setengah tahun telah berlalu, tapi dia masih belum meyatakan perasaannya kepada Noel. Ini membuat kesal, aku berencana untuk mendorongnya agar melakukan yobai*.
[Istilah untuk seorang lelaki muda yg blum menikah datang menyelinap ke rumah si gadis yg juga blum menikah sampai ke kamarnya. Nanti, si lelaki akan menyatakan niatnya. Jika si gadis setuju, mereka berdua akan 'tidur bersama' sampai pagi menjelang. Ini adalah cara kuno yg dilakukan untuk menentukan pasangan suami-istri yg cocok]
Sedangkan Erina....
Hari itu aku berlatih tanding dengan Reus.
Noel dan Dee sibuk dengan pekerjaan rumah. Emilia menerima pendidikan dari Erina. Dilain sisi, kami berdua saling menarikan pedang kayu ke masing-masing pihak. Sekarang aku di tengah-tengah memperbaiki kebiasaan Reus.
"Anikiiiii!!! Menyerah, menyerah!!!"
"Berapa kali kau perlu diberitahu agar paham? Itu karena kau tidak menarik pedang ke arah sini, akibatnya kau terkena serangan"
Karena ia memiliki terlalu banyak celah, aku mencakar besi dirinya dan membuatnya belajar secara fisik.
"Baiklah, ayo kita coba lagi. Yang berikutnya---"
"Sirius-samaa!!! Tolong....Tolong datanglah segera!!!!"
Teriakan Emilia lebih mirip sebuah jeritan dengan wajah menyembul keluar dari jendela. Mengakhiri hukuman di sana, diriku kembali ke rumah dan menyadari semuanya begitu sampai di kamar Erina.
"Erina-san....Erina-san runtuh....dia berhenti bergerak...."
Sambil bernafas tersengal-sengal, wajah Erina memucat seakan telah kehilangan banyak darah ketika dipeluk diantara lengan Emilia. Gadis itu hampir tumpah dalam tangisan sementara memanggil-manggil namanya.
"Erina-san! Erina-san!"
"Aku....baik-baik....saja. Jika sedikit....beristirahat...."
"Jangan bicara lagi! Segera pindahkan dia ke kasur!"
"Tolong bertahanlah, Erina-san!"
"Emilia!!!"
"---?!"
Aku merasa malu karena mengikuti emosi. Dia pun tenang seusai diriku berbicara perlahan dengannya. Itu benar, aku tidak boleh tak sabaran disini. Prioritas pertama adalah membaringkan Erina ke tempat tidur.
"Terlebih dahulu, gendong dia ke kasur. Jika tidak, aku takkan bisa memeriksanya. Kau mengerti?"
"I...ya...."
Setelah diberikan instruksi, Emilia pun membawa Erina dengan sangat berhati-hati ke tempat tidur seakan sedang mengangkat hal yang mudah pecah. Meskipun sulit, teknik menggendong sementara tidak memberi beban pada seseorang yang sedang dibawa merupakan hadiah dari pendidikan petugasnya.
Ketika aku berdiri di samping tempat tidur sambil mengkonsentrasikan Mana, Noel dan Dee hadir, berdiri di belakang. Mereka tampak cemas, namun masih terdiam membisu untuk menunggu hasil pemeriksaanku. Sedangkan kedua bersaudara terus terisak saat memegangi tangan Erina.
Menggunakan {Search}, aku memeriksa tubuhnya. Dari kepala sampai perut, dari pinggul hingga kaki, menghabiskan waktu perlahan dengan memindai keseluruhan badan.
Dan....suatu kesimpulan pun muncul
"Akhirnya....tiba, ya"
Ini bukanlah penyakit, atau luka. Melainkan hanya umur.
Aku pernah mendengar ini sebelumnya. Di masa muda, dia tidak bisa mengkonsumsi makanan dengan benar. Tanpa dapat memperoleh gizi secara memuaskan, ditambah berada dilingkungan yang membuatnya terus bekerja terlalu keras. Mengakibatkan organ-organ dalam tak dapat berkembang selama fase pertumbuhan.
Harga untuk membayarnya pun adalah persis sekarang. Di kehidupanku dulu, usia setiap orang bisa sampai hampir seratus tahun. Namun di dunia di mana pengetahuan medis tidak dikembangkan, umur Erina mungkin takkan lama lagi. Sihir pemulihan juga tidak memiliki kemampuan untuk memanjangkan rentang hidup.
Hanya satu hal yang dapat dikatakan dengan pasti. Dirinya....tidak mempunyai banyak waktu tersisa.
Dari awal, tubuhnya memang telah mencapai batas. Durasi duduk telah meningkat sejak setengah tahun terakhir, lalu secara bertahap semakin kesulitan hanya untuk bergerak. Bahkan akhir-akhir ini dia sering menghabiskan hari-hari dengan terbaring lemah di tempat tidur.
Meski begitu, ketika jadwal pendidikan Emilia tiba, dia akan berdiri dan menunjukkan contoh dari dirinya sendiri sambil memberitahu poin-poin yang salah. Menahan rasa sakit yang menjalar ke sekujur tubuh, memeras setiap tetes kekuatan, untuk menyampaikan kemampuannya pada gadis itu, bahkan jika hanya sedikit.
"Sirius-sama! Erina-san baik-baik saja, kan?!"
"Aniki, Aniki dapat menyembuhnya, ya kan?!"
Noel dan Dee tampaknya telah paham, tapi kakak beradik ini masih terjebak pada harapan, yaitu diriku. Sayangnya, aku bukan orang yang akan percaya pada keajaiban yang tak mampu kuciptakan. Bahkan dari awal aku tidak ingin lari ke ilusi yang disebut 'keajaiban'. Diriku merasa hina kepada keduanya, tapi aku memang bukanlah dewa. Melakukan sesuatu tentang umur seseorang adalah mustahil.
"....Tidak mungkin....jangan katakan...."
"Erina-san!!"
Erina tersadar kembali, namun wajahnya masih pucat dengan gejala yang tidak membaik. Dia membelai kepala dua bersaudara yang menangis, lalu menghadapkan wajahnya kemari.
"Sirius-sama, pemeriksaanku telah selesai, benar kan?"
"Ya, aku sudah memastikannya"
"Kalau begitu, aku ingin hasilnya didengar semua orang"
"....Kau tidak keberatan?"
"Aku siap karena ini tentang diriku sendiri. Setiap orang berhak mengetahuinya"
Walaupun berada di situasi sulit, ia masih tersenyum lembut. Aku mengerti....dia telah memantapkan hatinya.
"Erina, kau memiliki dua....tidak, satu bulan tersisa"
Para saudara menjatuhkan diri mendengar pengumumanku, sementara Dee dan Noel dengan sedih menundukkan pandangan mereka.
"Kalian dengar? Waktuku tidak akan lama lagi. Oleh karena itu...."
Dia memandang semua orang sekali, dan menyatakan suatu hal dengan ekspresi serius.
"Buat diri kalian siap"
☆☆☆☆
Bagian 2
Beberapa hari berlalu sejak saat itu, akan tetapi gejalanya semakin buruk.
Tanpa bisa keluar dari tempat tidur, dia berdiam disana sambil dirawat oleh Noel dan Emilia. Ketika setiap satu dari penghuni rumah memiliki waktu luang, mereka akan tinggal di sisinya. Hanya saja, Erina hanya akan membalas dengan anggukan atau sedikit berucap, penampilan berkesan orang yang akan pergi ke ajalnya itu sangat sulit untuk dilihat. Namun, hal ini merupakan pertimbangannya, yang dengan usaha keras menunjukkan kepada kami. Inilah yang dia ingin katakan.
"(Saat waktunya tiba, relakan diriku)"
Beberapa hari yang lalu ketika ia mengatakan untuk mempersiapkan diri, itulah maksudnya. Memang hanya akan menampilkan hantaman keras lagi kepada kedua bersaudara yang sudah mulai sembuh dari kematian orang tua mereka, sayangnya hal ini tak dapat dihindari. Itu sebabnya, dia menguatkan hati dan menunjukkan sosoknya yang akan pergi, agar Reus dan Emilia dapat menahannya walaupun hanya sedikit.
Dalan situasi begini, pelatihan masih terus berlangsung. Walaupun keduanya sering kehilangan konsentrasi, mungkin perasaan sedih itu bisa sedikit dialihkan ketika menggerakkan tubuh*. Sambil berhati-hati agar tidak melukai diri, hari pun berlalu.
[Mungkin maksudnya kayak orang yg ngelampiasin emosi dengan cara meninju tembok]
Setengah bulan terlewati.
Erina tak lagi bisa mengkonsumsi makanan padat, sekarang itu hanya terdiri dari meminum suplemen gizi khusus.
Mungkin dikarenakan telah jatuh ke dalam jurang keputus-asaan sekali, kedua bersaudara telah mengukuhkan hati masing-masing. Mereka mulai berbincang dengan Erina sambil tersenyum, seolah berkata 'kami baik-baik saja'. Itu jelas mengisyaratkan kekhawatiran dan berusaha untuk memberikan dia ketenangan pikiran.
Ini mungkin disekitar tengah hari.
'Apa yang bisa aku lakukan?'
Aku merenungkan itu sambil membaca berbagai buku dan menemukan suatu hal tertentu. Ketika sebuah saran kusampaikan pada Erina, dia menyetujuinya.
Apa yang akan aku lakukan bukan sesuatu yang harus dipuji, tergantung dari sudut pandangnya itu bahkan menjadi suatu tindakan kejam. Meski begitu, tinggal diam tanpa melakukan apapun bukanlah pilihan, aku ingin dirinya puas.
Setelah memperoleh izin, kakiku berlari mengitari langit untuk mengumpulkan bahan-bahan.
Persiapannya lalu selesai dalam beberapa hari.
Hal itu kemudian berpindah tangan kepada Erina, satu-satunya yang tersisa adalah menunggu keputusannya.
Dan....hari itupun tiba.
☆☆☆☆
Bagian 3
Satu bulan setelah Erina runtuh.
Pagi hari dimulai dengan suara berisik.
"Selamat pagi, semua orang"
""""Erina-san?!?!"""""
Semua penghuni rumah selain diriku berteriak. Tidak mengherankan, Erina yang seharusnya terbaring di tempat tidur, saat ini sedang berdiri di dapur dan memasak. Dia mempersiapkan sarapan sambil bersenandung, mengabaikan mereka yang berdiri bodoh tanpa tahu apapun.
"Erina-san....kau sudah sembuh?"
"Aku akan menjelaskan itu nanti. Ayo mulai dengan sarapan terlebih dahulu"
Hidangan yang berbaris di meja, seluruhnya adalah menu klasik yang sudah umum disiapkan oleh Erina. Hatiku merasakan kegembiraan dari masakannya, entah itu daging, telur sup ataupun sandwich.
Hanya saja, itu berbeda untuk Erina. Yang ada didepannya sendiri bukanlah makanan, melainkan cuma segelas air putih
"Apakah Erina-san tidak akan makan?"
"Iya, sedikit. Lagipula, Jangan pedulikan aku dan makanlah"
Sambil bertanya-tanya, semua orang memutuskan untuk memberikan prioritas pada masakan buatanya, yang sudah cukup lama tidak dirasakan.
"Bagaimana? Aku berharap itu tidak menjadi aneh"
"Ini tidak berubah"
"Ah, syukurlah. Sebenarnya, aku agak cemas"
"Ya. sandwich favoritku juga masih sama seperti sebelumnya"
"Aku menyukainya juga!"
Momen sarapan yang damai berakhir. Kebenaran mengejutkanpun terucap setelah Erina mengambil teh.
"Aku akan mati hari ini"
Semua gerakan berhenti. Aku yang mengetahui keadaan, hanya menatapnya yang mengumumkan itu dengan santai. Di lain sisi, setelah tersadar kembali, Noel mengangkat tangan dan mengajukan pertanyaan.
"Itu....Tolong beri aku penjelasan. Ini sesuatu yang terlalu mendadak"
"Tentu saja. Aku yang bisa berdiri dan memasak ini adalah berkat obat tertentu"
"Obat....tidakkah memang karena obat?"
"Bukan begitu. Ini merupakan obat tabu, yang mengurangi rentang kehidupan pemakainya sebagai ganti meningkatkan kemampuan fisik. Efeknya akan berlangsung hingga malam hari ini, jadi sampai saat itu aku bisa beraktivitas seperti biasa"
{Pil Peningkat Kehidupan}
Itulah obat yang dia minum.
Efeknya seperti yang Erina baru saja jelaskan, tampaknya sering digunakan selama perang. Pada umumnya, pengaruh obat seharusnya lenyap setelah beberapa jam, seseorang lalu berbaring di tempat tidur selama berhari-hari agar bisa pulih. Namun aku sudah menyesuaikan itu, menahan efek sekaligus memperpanjang durasi. Hanya saja, beban yang akan muncul jauh lebih parah. Ketika saat itu datang, dia akan 'berakhir'.
"Kenapa kau meminum obat yang seperti itu....Erina-san....Kenapa?"
"Bahkan jika tidak dilakukan, hanya ada beberapa hari tersisa, aku tidak ingin menghabiskan waktu dengan berbaring. Jadi, aku lebih memilih menjalani hidup normal, walaupun hanya untuk hari ini"
""""Haahhh....""""
Semua dari mereka kagum atas pernyataan lugas itu. Aku juga berpikir demikian. Karena sangat jarang baginya untuk mengajukan suatu keegoisan, aku ingin bertindak seperti yang dia inginkan. Garis pandang Erina lalu terkonsentrasi padaku tanpa memperdulikan tatapan sekitar, seolah berucap 'Apa yang harus dilakukan?'.
"Seperti katanya. Aku tidak akan berlatih hari ini dan hanya bersantai di rumah. Sehingga, kau dapat melakukan apa yang kau inginkan, Erina"
"Terima kasih banyak. Kemudian, Noel, Emilia, kita akan membersihkan rumah setelah ini, jadi datanglah denganku"
"Y-Ya!"
Diapun menangani pekerjaan rumah seperti sebelumnya.
Dimulai dengan bersih-bersih, mencuci, menyiapkan makan siang---terus bekerja sambil tampak senang dari lubuk hati. Pada awalnya semua orang kebingungan, namun menyerah karena melihat perilakunya yang terlalu normal dan ikut membantu dalam pekerjaan rumah tangga.
Dari permulaan, dia menghabiskan sepanjang waktu dengan tersenyum. Sering menepuk kepala Reus dan Emilia, minum teh sambil bercanda bersama Noel dan Dee, juga memberiku bantal pangkuan.
Lalu....seusai makan malam, dia mengajak semua orang ke kamarnya.
Mengabaikan siapapun, dia mulai berbaring di tempat tidur. Memandangi kami yang berbaris mengelilinginya, Erina mulai membuka mulut.
"Hari ini memang menyenangkan. Waktunya sudah tiba, jadi untuk yang terakhir, aku ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian semua"
Sambil tersenyum lembut, dia berbicara dan memanggil nama kami satu per satu.
Berkata kepada Noel bahwa dia akan baik-baik saja selama tidak melupakan dasar-dasarnya. Mengingatkan Dee untuk memperbaiki caranya berbicara. Lembut menegur Reus agar selalu ingat berkata hormat dan sopan. Juga, menyampaikan ke Emilia untuk terus mendukungku sambil memanfaatkan seluruh keterampilan yang diajarkan kepadanya.
Setiap orang mendengarkan sambil membocorkan aliran air mata, tapi disaat terus menyimak cerita ini....Aku mulai marah. Jika ditanya apa yang membuatku marah, itu adalah sikap Erina.
"Kenapa kau...."
"Apakah ada masalah, Sirius-sama?"
Dia bertanya, masih tersenyum. Tapi aku tidak menyukai senyuman itu. Apa-apaan dia? Ini hanyalah pembicaraan sederhana, namun dia membuatnya seolah-olah menjadi sebuah acara untuk pengambil alihan pekerjaan.
Apa ini perasaan sejatimu? Aku repot-repot menyiapkan obat, dan kau sudah puas hanya dengan begini?.
"Erina....apa ini saja tidak apa-apa?"
"Maaf, apa kau keberatan dengan sesuatu?"
Lingkungan mulai mengalami perubahan karena suasana disekitar diriku. Dia lalu mencoba untuk menenangkanku sebagai seorang petugas, namun kemarahan itu takkan menghilang.
'Apa kau keberatan?'.
Memang tidak.
Kau....berapa lama kau akan bertindak sebagai petugas?! Hubungan kita memang master dan bawahannya, tapi untuk yang terakhir bicaralah padaku layaknya keluarga!! Seperti seorang ibu yang menepuk kepala anaknya!!!....---
"(Erina sangat cocok sebagai ibu. Aku juga berpikir seperti itu)"
"(---?! A-Apakah begitu? Terima kasih banyak!)"
"(Kalian berdua agak seperti seorang ibu dan ayah~)"
"(Hei hei, tidak mungkin dalam hal usia. Jadikan aku setidaknya sebagai seorang adik)"
"(Dengan kata lain, aku ibu Sirius-sama? Itu sangat bagus)"*
[Itu semua dialog ketika Sirius selesai menyembuhkan bekas luka Emilia]
---Oh, jadi begitu.
Erina bertindak sebagai petugas bukan hanya karena dirinya sendiri, itu juga terjadi karena diriku.
Aku tidak harus terus bertindak seperti orang dewasa. Sepatutnya seorang anak, diriku akan membiarkan cintanya sampai kepadaku dan patuh untuk dimanjakan.
"Sirius-sama, aku minta maaf jika suasana hatimu buruk karena ucapanku. Jadi, tolong dengarkan...."
"Aku akan mendengarnya. Tapi aku ingin kau mengutarakan perasaan sejatimu....kaa-san*"
[Ibu. Lebih informal]
Erina sempat terkejut mendengar ucapanku dengan matanya yang melebar, namun segera menggeleng dan tersenyum masam.
"Tolong berhenti bercanda. Ibumu semata-mata adalah Aria-sama, aku hanyalah seorang pelayan yang bekerja untukmu"
"Itu berbeda. Aku memiliki seorang ibu yang melahirkanku, dan ibu yang membesarkanku. Ibu yang membesarkanku, yaitu kau....Erina"
"Aku....Ibu...."
"Aku pikir diriku sangat beruntung karena memiliki dua ibu. Jadi aku ingin kau memberitahu semua orang bukan sebagai petugas, melainkan sebagai seorang ibu dan anggota keluarga. Tolong, kaa-san"
"....Apa kau yakin akan hal itu?"
"Aku sudah terlanjur menganggap Erina begitu. Jadi tolong katakan, kalau tidak aku akan membenci dirimu"
Butiran air jernih mulai meluap dari sudut matanya. Itu adalah air mata kebahagiaan yang murni. Dia menatapku lurus tanpa menyeka satupun tetesannya.
"Sirius-sama....tidak, Sirius. Aku tidak ingin dibenci jadi aku akan melakukan apa yang kau inginkan"
Noel dan yang lain kebingungan pada Erina dimana nada suaranya berubah menjadi tidak formal terhadapku, tapi diriku sangat puas. Benar, seharusnya aku memanggilnya ibu lebih dini dan menerima segala hal seperti ini. Aku terlambat menyadari itu....sialan.
"....Maaf untuk semua orang....Apa kalian tidak keberatan aku mengatakannya lagi?"
Kali ini, disaat dimana hati sesungguhnya dari Erina menyampaikan untaian kata.
"Reus, kau harus mengunyah makanan dengan benar. Aku telah memberitahu itu berkali-kali, tapi akan tidak sopan bagi mereka yang memakannya secara kasar"
"H-Hal semacam itu....tidak harus dibilang sekarang....kan...."
"Tidak, justru karena sekaranglah aku mengatakan ini. Juga, belajarlah untuk berbicara dengan sopan. Jika pribadimu mencurigakan, itu hanya akan menyebabkan ketidak nyamanan untuk dirimu juga, jadi berhati-hatilah, mengerti?"
"U-Un....Ya....!!"
"Berikutnya adalah Dee. Kau adalah yang tertua, tapi bagaimana kalau aku menyampaikan beberapa kata untukmu?"
"....Silakan...."
"Berhati-hati itu bagus, tapi kalau keterlaluan kau hanya akan menjadi seorang pengecut. Lebih beranilah. Tunda pembicaraanmu dan bertindaklah sebelum terlambat"
"....Aku....akan terus mengingat itu...."
"Noel....adikku yang lucu sekaligus ceroboh. Kau membuatku benar-benar berjuang"
"Apa....kau sedang....memuji~....?"
"Ya, ya, sebagaimana yang mereka katakan, adik kecil yang bodoh itu manis"
"....Itu mengerikan"
"Bukankah bagus? Kau orang bodoh dan polos yang paling aku sukai. Jadi tetaplah seperti itu"
"Un....aku akan melakukan yang terbaik~"
"Emilia, manfaatkan sepenuh mungkin apa yang telah aku ajarkan. Aku memang sudah mendengarnya berulang-ulang, namun tekadmu tidak berubah, kan?"
"Ini masih sama....Tempatku harus berada adalah di samping Sirius-sama"
"Kalau begitu, jangan sampai memaksakan diri. Karena Sirius lah yang akan paling sedih jika kau terluka. Jadi, berhati-hatilah"
"Aku sering diberitahu seperti itu"
"....Mungkin ini sudah agak terlambat. Tapi....hargailah dirimu sendiri dengan benar. Karena mulai dari sekarang kau akan mendukung Sirius"
"Un....Aku....Aku akan....mendukungnya...."
"Dan....Sirius....aku tidak punya sesuatu untuk disampaikan kepadamu"
"Apa-apaan itu?"
"Karena kau bisa melakukan apa saja sendirian, kan?"
"Tunggu....'apa saja' itu mustahil"
"Aku tidak benar-benar menyangkalnya. Tapi kau memang bisa melakukan apapun. Karena Kaa-san yang akan menjaminnya"
"Terdengar menjanjikan"
"Seperti yang Aria-sama katakan, lakukan apapun yang kau ingin dan jalani hidup dengan maju kedepan tanpa terikat oleh siapapun"
"Serahkan padaku, aku pandai dalam hal semacam itu"
"Agak menggembirakan. Ngomong-ngomong, aku punya permintaan....bolehkah?"
"Apa itu?"
"Boleh aku....dipanggil kaa-san lagi?"
"Berapa kalipun, kaa-san"
"Lagi"
"Kaa-san!"
"Lebih keras!"
"Kaa-san!!!"
"Aku ingin kau memanggilku mama"
"Ya ya, mama!"
"Sudah kuduga, kaa-san lebih baik"
"....Baiklah, kaa-san"
"Fufu, ini pertama kalinya aku melihat air matamu....Kau menangis untukku?"
"....Sudah jelas....kan...."
"....Hei, Sirius, aku sangat bahagia sekarang"
"....Baguslah...."
"Satu-satunya penyesalan diriku yang tersisa....adalah tak mampu menyaksikan pertumbuhanmu lagi"
"Bukankah itu berarti....kau tidak bahagia....?"
"....Mungkin. Tapi, aku senang. Ada banyak hal yang menyakitkan, namun hidupku tetap memuaskan. Disaat terakhir diriku diantar pergi oleh keluarga yang mencintaiku....sangat membahagiakan...."
"....Aku juga....merasa bahagia....bisa bersamamu, kaa-san"
"Sirius-ku.....Aku mencintaimu"
"....Aku juga mencintaimu, kaa-san...."
"Aah....ucapan itu sudah cukup, Sirius....---"
"---Terima kasih"
☆☆☆☆
Bagian 4
---Sudut pandang Erina---
Aku tersadar di suatu ruangan putih tanpa ujung.
Aneh, beberapa saat yang lalu diriku berada di tempat tidur sambil diawasi oleh Sirius....apa artinya ini?
"Mou, masih terlalu dini untuk datang!"
Itu....Aria-sama?!
"Benar. Lama tidak bertemu, Erina"
....Memang, sudah lama. Putramu telah tumbuh dengan luar biasa.
"Un un. Selama ini aku juga telah mengawasinya, jadi aku tahu. Juga kau keliru. Dia bukan hanya putraku, dia merupakan putra kita....ya kan?"
....Ah, ya, itu benar.
"Kesampingkan itu, caramu bicara terlalu kaku. Kita bukan lagi master dan petugasnya....kita berdua hanyalah ibu"
Kata-kata itu membuatku senang, tapi ini sudah menjadi kebiasaan. Lagipula, disini tempat apa?
"Hmmm....bagaimana cara mengatakannya, ya. Kukira ini seperti....mimpi"
Mimpi? Menurut apa yang Aria-sama ucapkan, situasi Sirius dapat dilihat dari sini?.
"Bukankah kau beradaptasi terlalu cepat? Aku pikir ini akan sedikit mengejutkan...."
Kau akan terbiasa jika tinggal didekat anak itu. Ini hanyalah masalah sepele kalau diriku bisa menyaksikan keadaan Sirius.
"Aku mengerti. Duduklah karena tempat disebelahku kosong"
Walaupun disuruh duduk, dimana kursinya?.
"Jangan pedulikan itu. Lihat, Sirius dapat disaksikan disini"
....Benar. Aa....menggemaskan tidak peduli berapa kalipun aku melihatnya.
"Hoouuhh....anakku memanglah pembunuh wanita. Dia seorang yang berdosa karena sudah membuat Erina menjadi seperti ini"
Aku telah jatuh hati sejak ia lahir dan kugendong.
"Jika berbicara tentang itu, aku bahkan sudah jatuh hati sebelum ia lahir. Kedalaman cintaku tidak akan kalah dengan siapapun!"
Apa yang kau katakan? Aku lebih mencintainya!.
"Aku yang lebih mencintainya!!"
Tidak, itu aku!!....
"....Ini sia-sia. Mungkin cinta kita sebegitu dalamnya hingga dasarnya tak dapat dilihat"
....Benar, aku setuju dengan itu. Tapi, aku akan tetap mengukur seberapa besarnya perasaanku.
"Hei, keras kepalamu pada hal yang aneh tidak pernah berubah, ya"
Aria-sama juga tidak berubah.
"Yah begitulah....Erina, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan sekarang adalah mengawasinya, namun aku juga memiliki hal yang ingin kusampaikan kepadamu"
Aku akan mendengarkannya.
"....Terima kasih. Dan....kerja bagus"
....Iya.
....Diriku bahagia karena telah menjalani kehidupan.
☆☆☆☆
Bagian 5
---Sudut pandang Sirius---
Keesokan harinya, kami sampai di taman bunga tempat piknik sebelumnya.
Adapun kenapa kami repot-repot datang adalah karena aku berencana untuk membuat makam di dasar pohon pada pusat kebun pelangi.
Di dunia ini, pemakaman dilakukan diam-diam diantara keluarga kecuali untuk para bangsawan. Mengkremasi sampai ke tulang dan menghancur leburkan tulangnya menjadi beberapa bagian. Karena ada kasus sisa-sisa tubuh menyerap Mana dan berubah menjadi zombie.
Kami pun mulai menggali lubang untuk memasukkan kotak kayu berisi tulang bubuk Erina.
Semua orang tak mengucapkan sesuatu, bahkan satu kata. Hanya dengan sunyi menggali dan menguburkannya.
"Aniki, ini"
Menyiapkan batu nisan yang dibawa Reus, aku mengukir sebuah nama disana menggunakan pisau mithril. Hanya sebuah nama akan terkesan monoton, haruskah sesuatu ditambahkan?.
"Semua orang, aku ingin mengukir hal yang lain, apakah ada saran?"
"Uuuun, aku tak punya ide~"
"Begitupun diriku"
"Aku ingin mengukir namaku atau sesuatu seperti 'Untuk favoritku, Erina-san...."
"Tidak adil untuk mengukir namamu sendiri dimakam seseorang, Reus. Walaupun aku juga setuju tentang memfavoritkannya"
"Hmmm....kalau begitu, bagaimana kalau begini?"
Semua orang lalu yakin sambil menganggukkan kepala atas rangkaian huruf yang terukir disana. Dan akhirnya mengheningkan diri menghantarkan doa bersama.
Dengan demikian pemakaman Erina berakhir.
Aku tidak tahu ibu kandungku di kehidupan sebelumnya, orang yang mengangkat dan membesarkanku, hanya wali daripada orangtua.
Meskipun dilahirkan kembali, aku masih tidak bisa melihat wajah ibuku, namun Erina tentunya adalah orang yang mengajariku tentang kasih sayang seorang ibu.
Aku berpikir bahwa diriku telah berulang kali mengalami penderitaan di kehidupan sebelumnya, aku berpikir bahwa air mataku telah habis....namun, ternyata tangisan masih bisa keluar ketika memikirkan dirinya.
Ini adalah sensasi yang nostalgia. Aku sungguh-sungguh berpikir, bahwa cinta ibu yang menyebabkan diriku mengingat kesedihan, benar-benar menakjubkan.
Erina, yang menuangkan limpahan cinta murni dan polosnya.
Erina, yang terus mendukung dari belakang demi diriku, demi keluarga.
....Selamat tinggal. Orang tersayang, yang mengajari kehangatan seorang ibu untuk pertama kalinya....
Sekarang tidurlah....dalam damai.
---Untaian kata yang tertera pada batu nisan---
{Erina tercinta dan setia kepada keluarganya....beristirahat disini}
☆☆☆Chapter 20 berakhir disini☆☆☆
>Catatan penulis = Inilah Ujung dari Volume 3.
Aku akan menulis sedikit lagi tentang kisah seperti ini di jadwalku, jadi silakan lihat jika kau tidak keberatan. Akhirnya, di volume selanjutnya mereka akan pergi ke sekolah.
Aku akan mencoba mengarahkan sebuah cerita berat disekitar sana.
Terima kasih sudah membaca.
keChapter 21
Ke Halaman Utama The World Teacher
Diterjemahkan oleh ZasuNovel
Bagian 1
Tersisa setengah tahun sampai pergi ke sekolah.
Musim sekarang disebut {Bulan dari Bunga Salju}*, dalam hidupku sebelumnya inilah musim dingin. Hari-hari bersuhu rendah-pun berlanjut, waktu dimana alat sihir pemanas terus-terusan digunakan.
[Yang dimaksud bukannya bulan dilangit malam. Melainkan, bulan di tanggalan]
Aku memang masih memiliki permata dari Jewel Turtle, namun sempat mengkonsultasikannya dengan Dee dan Erina tentang menjualnya segera.
Tak ada permasalahan dengan keuangan karena terdapat penghasilan yang sudah ditabung selama 5 tahun
Pelatihan juga berjalan lancar, mengetahui bahwa mereka bisa bersekolah bersama membuat kedua siswa berusaha lebih keras. Awalnya aku membuat jadwal jangka pendek karena berpikir kami akan berpisah, tapi itu tidak lagi diperlukan jadi durasinya kuubah dan diperpanjang.
Memang akan sulit, hanya saja keduanya akan bertahan dan meningkat.
Tujuan dari para petugas juga telah diputuskan.
Yang pertama adalah Noel, sepertinya dia akan kembali ke kampung halamannya.
Orang tua dan saudara-saudaranya tinggal di sebuah desa miskin, dia pergi dari tempat itu dengan dalih menjadi pekerja migran hanya agar dapat mengurangi 'mulut yang harus diberi makan'. Tapi, saat bertukar surat, dia mengetahui bahwa penguasa saat ini cukuplah mampu mengurus wilayahnya dan dapat mengurangi kemiskinan disana. Sekarang juga sudah sedikit berkembang, dan karena merupakan desa yang toleran terhadap ras binatang, Noel memutuskan pulang kampung sambil berpikir bahwa dia pasti bisa menemukan minimal satu pekerjaan.
Dee juga akan pergi menuju desa Noel.
Dia memiliki kelebihan sebagai bekas seorang petualang dan pandai dalam hal memasak. Mereka takkan pernah bisa meragukan kedatangan Dee jika Noel menyajikan hidangan buatannya kepada para penduduk. Dia akan mampu menghidupi diri sebagai koki.
Setengah tahun telah berlalu, tapi dia masih belum meyatakan perasaannya kepada Noel. Ini membuat kesal, aku berencana untuk mendorongnya agar melakukan yobai*.
[Istilah untuk seorang lelaki muda yg blum menikah datang menyelinap ke rumah si gadis yg juga blum menikah sampai ke kamarnya. Nanti, si lelaki akan menyatakan niatnya. Jika si gadis setuju, mereka berdua akan 'tidur bersama' sampai pagi menjelang. Ini adalah cara kuno yg dilakukan untuk menentukan pasangan suami-istri yg cocok]
Sedangkan Erina....
Hari itu aku berlatih tanding dengan Reus.
Noel dan Dee sibuk dengan pekerjaan rumah. Emilia menerima pendidikan dari Erina. Dilain sisi, kami berdua saling menarikan pedang kayu ke masing-masing pihak. Sekarang aku di tengah-tengah memperbaiki kebiasaan Reus.
"Anikiiiii!!! Menyerah, menyerah!!!"
"Berapa kali kau perlu diberitahu agar paham? Itu karena kau tidak menarik pedang ke arah sini, akibatnya kau terkena serangan"
Karena ia memiliki terlalu banyak celah, aku mencakar besi dirinya dan membuatnya belajar secara fisik.
"Baiklah, ayo kita coba lagi. Yang berikutnya---"
"Sirius-samaa!!! Tolong....Tolong datanglah segera!!!!"
Teriakan Emilia lebih mirip sebuah jeritan dengan wajah menyembul keluar dari jendela. Mengakhiri hukuman di sana, diriku kembali ke rumah dan menyadari semuanya begitu sampai di kamar Erina.
"Erina-san....Erina-san runtuh....dia berhenti bergerak...."
Sambil bernafas tersengal-sengal, wajah Erina memucat seakan telah kehilangan banyak darah ketika dipeluk diantara lengan Emilia. Gadis itu hampir tumpah dalam tangisan sementara memanggil-manggil namanya.
"Erina-san! Erina-san!"
"Aku....baik-baik....saja. Jika sedikit....beristirahat...."
"Jangan bicara lagi! Segera pindahkan dia ke kasur!"
"Tolong bertahanlah, Erina-san!"
"Emilia!!!"
"---?!"
Aku merasa malu karena mengikuti emosi. Dia pun tenang seusai diriku berbicara perlahan dengannya. Itu benar, aku tidak boleh tak sabaran disini. Prioritas pertama adalah membaringkan Erina ke tempat tidur.
"Terlebih dahulu, gendong dia ke kasur. Jika tidak, aku takkan bisa memeriksanya. Kau mengerti?"
"I...ya...."
Setelah diberikan instruksi, Emilia pun membawa Erina dengan sangat berhati-hati ke tempat tidur seakan sedang mengangkat hal yang mudah pecah. Meskipun sulit, teknik menggendong sementara tidak memberi beban pada seseorang yang sedang dibawa merupakan hadiah dari pendidikan petugasnya.
Ketika aku berdiri di samping tempat tidur sambil mengkonsentrasikan Mana, Noel dan Dee hadir, berdiri di belakang. Mereka tampak cemas, namun masih terdiam membisu untuk menunggu hasil pemeriksaanku. Sedangkan kedua bersaudara terus terisak saat memegangi tangan Erina.
Menggunakan {Search}, aku memeriksa tubuhnya. Dari kepala sampai perut, dari pinggul hingga kaki, menghabiskan waktu perlahan dengan memindai keseluruhan badan.
Dan....suatu kesimpulan pun muncul
"Akhirnya....tiba, ya"
Ini bukanlah penyakit, atau luka. Melainkan hanya umur.
Aku pernah mendengar ini sebelumnya. Di masa muda, dia tidak bisa mengkonsumsi makanan dengan benar. Tanpa dapat memperoleh gizi secara memuaskan, ditambah berada dilingkungan yang membuatnya terus bekerja terlalu keras. Mengakibatkan organ-organ dalam tak dapat berkembang selama fase pertumbuhan.
Harga untuk membayarnya pun adalah persis sekarang. Di kehidupanku dulu, usia setiap orang bisa sampai hampir seratus tahun. Namun di dunia di mana pengetahuan medis tidak dikembangkan, umur Erina mungkin takkan lama lagi. Sihir pemulihan juga tidak memiliki kemampuan untuk memanjangkan rentang hidup.
Hanya satu hal yang dapat dikatakan dengan pasti. Dirinya....tidak mempunyai banyak waktu tersisa.
Dari awal, tubuhnya memang telah mencapai batas. Durasi duduk telah meningkat sejak setengah tahun terakhir, lalu secara bertahap semakin kesulitan hanya untuk bergerak. Bahkan akhir-akhir ini dia sering menghabiskan hari-hari dengan terbaring lemah di tempat tidur.
Meski begitu, ketika jadwal pendidikan Emilia tiba, dia akan berdiri dan menunjukkan contoh dari dirinya sendiri sambil memberitahu poin-poin yang salah. Menahan rasa sakit yang menjalar ke sekujur tubuh, memeras setiap tetes kekuatan, untuk menyampaikan kemampuannya pada gadis itu, bahkan jika hanya sedikit.
"Sirius-sama! Erina-san baik-baik saja, kan?!"
"Aniki, Aniki dapat menyembuhnya, ya kan?!"
Noel dan Dee tampaknya telah paham, tapi kakak beradik ini masih terjebak pada harapan, yaitu diriku. Sayangnya, aku bukan orang yang akan percaya pada keajaiban yang tak mampu kuciptakan. Bahkan dari awal aku tidak ingin lari ke ilusi yang disebut 'keajaiban'. Diriku merasa hina kepada keduanya, tapi aku memang bukanlah dewa. Melakukan sesuatu tentang umur seseorang adalah mustahil.
"....Tidak mungkin....jangan katakan...."
"Erina-san!!"
Erina tersadar kembali, namun wajahnya masih pucat dengan gejala yang tidak membaik. Dia membelai kepala dua bersaudara yang menangis, lalu menghadapkan wajahnya kemari.
"Sirius-sama, pemeriksaanku telah selesai, benar kan?"
"Ya, aku sudah memastikannya"
"Kalau begitu, aku ingin hasilnya didengar semua orang"
"....Kau tidak keberatan?"
"Aku siap karena ini tentang diriku sendiri. Setiap orang berhak mengetahuinya"
Walaupun berada di situasi sulit, ia masih tersenyum lembut. Aku mengerti....dia telah memantapkan hatinya.
"Erina, kau memiliki dua....tidak, satu bulan tersisa"
Para saudara menjatuhkan diri mendengar pengumumanku, sementara Dee dan Noel dengan sedih menundukkan pandangan mereka.
"Kalian dengar? Waktuku tidak akan lama lagi. Oleh karena itu...."
Dia memandang semua orang sekali, dan menyatakan suatu hal dengan ekspresi serius.
"Buat diri kalian siap"
☆☆☆☆
Bagian 2
Beberapa hari berlalu sejak saat itu, akan tetapi gejalanya semakin buruk.
Tanpa bisa keluar dari tempat tidur, dia berdiam disana sambil dirawat oleh Noel dan Emilia. Ketika setiap satu dari penghuni rumah memiliki waktu luang, mereka akan tinggal di sisinya. Hanya saja, Erina hanya akan membalas dengan anggukan atau sedikit berucap, penampilan berkesan orang yang akan pergi ke ajalnya itu sangat sulit untuk dilihat. Namun, hal ini merupakan pertimbangannya, yang dengan usaha keras menunjukkan kepada kami. Inilah yang dia ingin katakan.
"(Saat waktunya tiba, relakan diriku)"
Beberapa hari yang lalu ketika ia mengatakan untuk mempersiapkan diri, itulah maksudnya. Memang hanya akan menampilkan hantaman keras lagi kepada kedua bersaudara yang sudah mulai sembuh dari kematian orang tua mereka, sayangnya hal ini tak dapat dihindari. Itu sebabnya, dia menguatkan hati dan menunjukkan sosoknya yang akan pergi, agar Reus dan Emilia dapat menahannya walaupun hanya sedikit.
Dalan situasi begini, pelatihan masih terus berlangsung. Walaupun keduanya sering kehilangan konsentrasi, mungkin perasaan sedih itu bisa sedikit dialihkan ketika menggerakkan tubuh*. Sambil berhati-hati agar tidak melukai diri, hari pun berlalu.
[Mungkin maksudnya kayak orang yg ngelampiasin emosi dengan cara meninju tembok]
Setengah bulan terlewati.
Erina tak lagi bisa mengkonsumsi makanan padat, sekarang itu hanya terdiri dari meminum suplemen gizi khusus.
Mungkin dikarenakan telah jatuh ke dalam jurang keputus-asaan sekali, kedua bersaudara telah mengukuhkan hati masing-masing. Mereka mulai berbincang dengan Erina sambil tersenyum, seolah berkata 'kami baik-baik saja'. Itu jelas mengisyaratkan kekhawatiran dan berusaha untuk memberikan dia ketenangan pikiran.
Ini mungkin disekitar tengah hari.
'Apa yang bisa aku lakukan?'
Aku merenungkan itu sambil membaca berbagai buku dan menemukan suatu hal tertentu. Ketika sebuah saran kusampaikan pada Erina, dia menyetujuinya.
Apa yang akan aku lakukan bukan sesuatu yang harus dipuji, tergantung dari sudut pandangnya itu bahkan menjadi suatu tindakan kejam. Meski begitu, tinggal diam tanpa melakukan apapun bukanlah pilihan, aku ingin dirinya puas.
Setelah memperoleh izin, kakiku berlari mengitari langit untuk mengumpulkan bahan-bahan.
Persiapannya lalu selesai dalam beberapa hari.
Hal itu kemudian berpindah tangan kepada Erina, satu-satunya yang tersisa adalah menunggu keputusannya.
Dan....hari itupun tiba.
☆☆☆☆
Bagian 3
Satu bulan setelah Erina runtuh.
Pagi hari dimulai dengan suara berisik.
"Selamat pagi, semua orang"
""""Erina-san?!?!"""""
Semua penghuni rumah selain diriku berteriak. Tidak mengherankan, Erina yang seharusnya terbaring di tempat tidur, saat ini sedang berdiri di dapur dan memasak. Dia mempersiapkan sarapan sambil bersenandung, mengabaikan mereka yang berdiri bodoh tanpa tahu apapun.
"Erina-san....kau sudah sembuh?"
"Aku akan menjelaskan itu nanti. Ayo mulai dengan sarapan terlebih dahulu"
Hidangan yang berbaris di meja, seluruhnya adalah menu klasik yang sudah umum disiapkan oleh Erina. Hatiku merasakan kegembiraan dari masakannya, entah itu daging, telur sup ataupun sandwich.
Hanya saja, itu berbeda untuk Erina. Yang ada didepannya sendiri bukanlah makanan, melainkan cuma segelas air putih
"Apakah Erina-san tidak akan makan?"
"Iya, sedikit. Lagipula, Jangan pedulikan aku dan makanlah"
Sambil bertanya-tanya, semua orang memutuskan untuk memberikan prioritas pada masakan buatanya, yang sudah cukup lama tidak dirasakan.
"Bagaimana? Aku berharap itu tidak menjadi aneh"
"Ini tidak berubah"
"Ah, syukurlah. Sebenarnya, aku agak cemas"
"Ya. sandwich favoritku juga masih sama seperti sebelumnya"
"Aku menyukainya juga!"
Momen sarapan yang damai berakhir. Kebenaran mengejutkanpun terucap setelah Erina mengambil teh.
"Aku akan mati hari ini"
Semua gerakan berhenti. Aku yang mengetahui keadaan, hanya menatapnya yang mengumumkan itu dengan santai. Di lain sisi, setelah tersadar kembali, Noel mengangkat tangan dan mengajukan pertanyaan.
"Itu....Tolong beri aku penjelasan. Ini sesuatu yang terlalu mendadak"
"Tentu saja. Aku yang bisa berdiri dan memasak ini adalah berkat obat tertentu"
"Obat....tidakkah memang karena obat?"
"Bukan begitu. Ini merupakan obat tabu, yang mengurangi rentang kehidupan pemakainya sebagai ganti meningkatkan kemampuan fisik. Efeknya akan berlangsung hingga malam hari ini, jadi sampai saat itu aku bisa beraktivitas seperti biasa"
{Pil Peningkat Kehidupan}
Itulah obat yang dia minum.
Efeknya seperti yang Erina baru saja jelaskan, tampaknya sering digunakan selama perang. Pada umumnya, pengaruh obat seharusnya lenyap setelah beberapa jam, seseorang lalu berbaring di tempat tidur selama berhari-hari agar bisa pulih. Namun aku sudah menyesuaikan itu, menahan efek sekaligus memperpanjang durasi. Hanya saja, beban yang akan muncul jauh lebih parah. Ketika saat itu datang, dia akan 'berakhir'.
"Kenapa kau meminum obat yang seperti itu....Erina-san....Kenapa?"
"Bahkan jika tidak dilakukan, hanya ada beberapa hari tersisa, aku tidak ingin menghabiskan waktu dengan berbaring. Jadi, aku lebih memilih menjalani hidup normal, walaupun hanya untuk hari ini"
""""Haahhh....""""
Semua dari mereka kagum atas pernyataan lugas itu. Aku juga berpikir demikian. Karena sangat jarang baginya untuk mengajukan suatu keegoisan, aku ingin bertindak seperti yang dia inginkan. Garis pandang Erina lalu terkonsentrasi padaku tanpa memperdulikan tatapan sekitar, seolah berucap 'Apa yang harus dilakukan?'.
"Seperti katanya. Aku tidak akan berlatih hari ini dan hanya bersantai di rumah. Sehingga, kau dapat melakukan apa yang kau inginkan, Erina"
"Terima kasih banyak. Kemudian, Noel, Emilia, kita akan membersihkan rumah setelah ini, jadi datanglah denganku"
"Y-Ya!"
Diapun menangani pekerjaan rumah seperti sebelumnya.
Dimulai dengan bersih-bersih, mencuci, menyiapkan makan siang---terus bekerja sambil tampak senang dari lubuk hati. Pada awalnya semua orang kebingungan, namun menyerah karena melihat perilakunya yang terlalu normal dan ikut membantu dalam pekerjaan rumah tangga.
Dari permulaan, dia menghabiskan sepanjang waktu dengan tersenyum. Sering menepuk kepala Reus dan Emilia, minum teh sambil bercanda bersama Noel dan Dee, juga memberiku bantal pangkuan.
Lalu....seusai makan malam, dia mengajak semua orang ke kamarnya.
Mengabaikan siapapun, dia mulai berbaring di tempat tidur. Memandangi kami yang berbaris mengelilinginya, Erina mulai membuka mulut.
"Hari ini memang menyenangkan. Waktunya sudah tiba, jadi untuk yang terakhir, aku ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian semua"
Sambil tersenyum lembut, dia berbicara dan memanggil nama kami satu per satu.
Berkata kepada Noel bahwa dia akan baik-baik saja selama tidak melupakan dasar-dasarnya. Mengingatkan Dee untuk memperbaiki caranya berbicara. Lembut menegur Reus agar selalu ingat berkata hormat dan sopan. Juga, menyampaikan ke Emilia untuk terus mendukungku sambil memanfaatkan seluruh keterampilan yang diajarkan kepadanya.
Setiap orang mendengarkan sambil membocorkan aliran air mata, tapi disaat terus menyimak cerita ini....Aku mulai marah. Jika ditanya apa yang membuatku marah, itu adalah sikap Erina.
"Kenapa kau...."
"Apakah ada masalah, Sirius-sama?"
Dia bertanya, masih tersenyum. Tapi aku tidak menyukai senyuman itu. Apa-apaan dia? Ini hanyalah pembicaraan sederhana, namun dia membuatnya seolah-olah menjadi sebuah acara untuk pengambil alihan pekerjaan.
Apa ini perasaan sejatimu? Aku repot-repot menyiapkan obat, dan kau sudah puas hanya dengan begini?.
"Erina....apa ini saja tidak apa-apa?"
"Maaf, apa kau keberatan dengan sesuatu?"
Lingkungan mulai mengalami perubahan karena suasana disekitar diriku. Dia lalu mencoba untuk menenangkanku sebagai seorang petugas, namun kemarahan itu takkan menghilang.
'Apa kau keberatan?'.
Memang tidak.
Kau....berapa lama kau akan bertindak sebagai petugas?! Hubungan kita memang master dan bawahannya, tapi untuk yang terakhir bicaralah padaku layaknya keluarga!! Seperti seorang ibu yang menepuk kepala anaknya!!!....---
"(Erina sangat cocok sebagai ibu. Aku juga berpikir seperti itu)"
"(---?! A-Apakah begitu? Terima kasih banyak!)"
"(Kalian berdua agak seperti seorang ibu dan ayah~)"
"(Hei hei, tidak mungkin dalam hal usia. Jadikan aku setidaknya sebagai seorang adik)"
"(Dengan kata lain, aku ibu Sirius-sama? Itu sangat bagus)"*
[Itu semua dialog ketika Sirius selesai menyembuhkan bekas luka Emilia]
---Oh, jadi begitu.
Erina bertindak sebagai petugas bukan hanya karena dirinya sendiri, itu juga terjadi karena diriku.
Aku tidak harus terus bertindak seperti orang dewasa. Sepatutnya seorang anak, diriku akan membiarkan cintanya sampai kepadaku dan patuh untuk dimanjakan.
"Sirius-sama, aku minta maaf jika suasana hatimu buruk karena ucapanku. Jadi, tolong dengarkan...."
"Aku akan mendengarnya. Tapi aku ingin kau mengutarakan perasaan sejatimu....kaa-san*"
[Ibu. Lebih informal]
Erina sempat terkejut mendengar ucapanku dengan matanya yang melebar, namun segera menggeleng dan tersenyum masam.
"Tolong berhenti bercanda. Ibumu semata-mata adalah Aria-sama, aku hanyalah seorang pelayan yang bekerja untukmu"
"Itu berbeda. Aku memiliki seorang ibu yang melahirkanku, dan ibu yang membesarkanku. Ibu yang membesarkanku, yaitu kau....Erina"
"Aku....Ibu...."
"Aku pikir diriku sangat beruntung karena memiliki dua ibu. Jadi aku ingin kau memberitahu semua orang bukan sebagai petugas, melainkan sebagai seorang ibu dan anggota keluarga. Tolong, kaa-san"
"....Apa kau yakin akan hal itu?"
"Aku sudah terlanjur menganggap Erina begitu. Jadi tolong katakan, kalau tidak aku akan membenci dirimu"
Butiran air jernih mulai meluap dari sudut matanya. Itu adalah air mata kebahagiaan yang murni. Dia menatapku lurus tanpa menyeka satupun tetesannya.
"Sirius-sama....tidak, Sirius. Aku tidak ingin dibenci jadi aku akan melakukan apa yang kau inginkan"
Noel dan yang lain kebingungan pada Erina dimana nada suaranya berubah menjadi tidak formal terhadapku, tapi diriku sangat puas. Benar, seharusnya aku memanggilnya ibu lebih dini dan menerima segala hal seperti ini. Aku terlambat menyadari itu....sialan.
"....Maaf untuk semua orang....Apa kalian tidak keberatan aku mengatakannya lagi?"
Kali ini, disaat dimana hati sesungguhnya dari Erina menyampaikan untaian kata.
"Reus, kau harus mengunyah makanan dengan benar. Aku telah memberitahu itu berkali-kali, tapi akan tidak sopan bagi mereka yang memakannya secara kasar"
"H-Hal semacam itu....tidak harus dibilang sekarang....kan...."
"Tidak, justru karena sekaranglah aku mengatakan ini. Juga, belajarlah untuk berbicara dengan sopan. Jika pribadimu mencurigakan, itu hanya akan menyebabkan ketidak nyamanan untuk dirimu juga, jadi berhati-hatilah, mengerti?"
"U-Un....Ya....!!"
"Berikutnya adalah Dee. Kau adalah yang tertua, tapi bagaimana kalau aku menyampaikan beberapa kata untukmu?"
"....Silakan...."
"Berhati-hati itu bagus, tapi kalau keterlaluan kau hanya akan menjadi seorang pengecut. Lebih beranilah. Tunda pembicaraanmu dan bertindaklah sebelum terlambat"
"....Aku....akan terus mengingat itu...."
"Noel....adikku yang lucu sekaligus ceroboh. Kau membuatku benar-benar berjuang"
"Apa....kau sedang....memuji~....?"
"Ya, ya, sebagaimana yang mereka katakan, adik kecil yang bodoh itu manis"
"....Itu mengerikan"
"Bukankah bagus? Kau orang bodoh dan polos yang paling aku sukai. Jadi tetaplah seperti itu"
"Un....aku akan melakukan yang terbaik~"
"Emilia, manfaatkan sepenuh mungkin apa yang telah aku ajarkan. Aku memang sudah mendengarnya berulang-ulang, namun tekadmu tidak berubah, kan?"
"Ini masih sama....Tempatku harus berada adalah di samping Sirius-sama"
"Kalau begitu, jangan sampai memaksakan diri. Karena Sirius lah yang akan paling sedih jika kau terluka. Jadi, berhati-hatilah"
"Aku sering diberitahu seperti itu"
"....Mungkin ini sudah agak terlambat. Tapi....hargailah dirimu sendiri dengan benar. Karena mulai dari sekarang kau akan mendukung Sirius"
"Un....Aku....Aku akan....mendukungnya...."
"Dan....Sirius....aku tidak punya sesuatu untuk disampaikan kepadamu"
"Apa-apaan itu?"
"Karena kau bisa melakukan apa saja sendirian, kan?"
"Tunggu....'apa saja' itu mustahil"
"Aku tidak benar-benar menyangkalnya. Tapi kau memang bisa melakukan apapun. Karena Kaa-san yang akan menjaminnya"
"Terdengar menjanjikan"
"Seperti yang Aria-sama katakan, lakukan apapun yang kau ingin dan jalani hidup dengan maju kedepan tanpa terikat oleh siapapun"
"Serahkan padaku, aku pandai dalam hal semacam itu"
"Agak menggembirakan. Ngomong-ngomong, aku punya permintaan....bolehkah?"
"Apa itu?"
"Boleh aku....dipanggil kaa-san lagi?"
"Berapa kalipun, kaa-san"
"Lagi"
"Kaa-san!"
"Lebih keras!"
"Kaa-san!!!"
"Aku ingin kau memanggilku mama"
"Ya ya, mama!"
"Sudah kuduga, kaa-san lebih baik"
"....Baiklah, kaa-san"
"Fufu, ini pertama kalinya aku melihat air matamu....Kau menangis untukku?"
"....Sudah jelas....kan...."
"....Hei, Sirius, aku sangat bahagia sekarang"
"....Baguslah...."
"Satu-satunya penyesalan diriku yang tersisa....adalah tak mampu menyaksikan pertumbuhanmu lagi"
"Bukankah itu berarti....kau tidak bahagia....?"
"....Mungkin. Tapi, aku senang. Ada banyak hal yang menyakitkan, namun hidupku tetap memuaskan. Disaat terakhir diriku diantar pergi oleh keluarga yang mencintaiku....sangat membahagiakan...."
"....Aku juga....merasa bahagia....bisa bersamamu, kaa-san"
"Sirius-ku.....Aku mencintaimu"
"....Aku juga mencintaimu, kaa-san...."
"Aah....ucapan itu sudah cukup, Sirius....---"
"---Terima kasih"
☆☆☆☆
Bagian 4
---Sudut pandang Erina---
Aku tersadar di suatu ruangan putih tanpa ujung.
Aneh, beberapa saat yang lalu diriku berada di tempat tidur sambil diawasi oleh Sirius....apa artinya ini?
"Mou, masih terlalu dini untuk datang!"
Itu....Aria-sama?!
"Benar. Lama tidak bertemu, Erina"
....Memang, sudah lama. Putramu telah tumbuh dengan luar biasa.
"Un un. Selama ini aku juga telah mengawasinya, jadi aku tahu. Juga kau keliru. Dia bukan hanya putraku, dia merupakan putra kita....ya kan?"
....Ah, ya, itu benar.
"Kesampingkan itu, caramu bicara terlalu kaku. Kita bukan lagi master dan petugasnya....kita berdua hanyalah ibu"
Kata-kata itu membuatku senang, tapi ini sudah menjadi kebiasaan. Lagipula, disini tempat apa?
"Hmmm....bagaimana cara mengatakannya, ya. Kukira ini seperti....mimpi"
Mimpi? Menurut apa yang Aria-sama ucapkan, situasi Sirius dapat dilihat dari sini?.
"Bukankah kau beradaptasi terlalu cepat? Aku pikir ini akan sedikit mengejutkan...."
Kau akan terbiasa jika tinggal didekat anak itu. Ini hanyalah masalah sepele kalau diriku bisa menyaksikan keadaan Sirius.
"Aku mengerti. Duduklah karena tempat disebelahku kosong"
Walaupun disuruh duduk, dimana kursinya?.
"Jangan pedulikan itu. Lihat, Sirius dapat disaksikan disini"
....Benar. Aa....menggemaskan tidak peduli berapa kalipun aku melihatnya.
"Hoouuhh....anakku memanglah pembunuh wanita. Dia seorang yang berdosa karena sudah membuat Erina menjadi seperti ini"
Aku telah jatuh hati sejak ia lahir dan kugendong.
"Jika berbicara tentang itu, aku bahkan sudah jatuh hati sebelum ia lahir. Kedalaman cintaku tidak akan kalah dengan siapapun!"
Apa yang kau katakan? Aku lebih mencintainya!.
"Aku yang lebih mencintainya!!"
Tidak, itu aku!!....
"....Ini sia-sia. Mungkin cinta kita sebegitu dalamnya hingga dasarnya tak dapat dilihat"
....Benar, aku setuju dengan itu. Tapi, aku akan tetap mengukur seberapa besarnya perasaanku.
"Hei, keras kepalamu pada hal yang aneh tidak pernah berubah, ya"
Aria-sama juga tidak berubah.
"Yah begitulah....Erina, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan sekarang adalah mengawasinya, namun aku juga memiliki hal yang ingin kusampaikan kepadamu"
Aku akan mendengarkannya.
"....Terima kasih. Dan....kerja bagus"
....Iya.
....Diriku bahagia karena telah menjalani kehidupan.
☆☆☆☆
Bagian 5
---Sudut pandang Sirius---
Keesokan harinya, kami sampai di taman bunga tempat piknik sebelumnya.
Adapun kenapa kami repot-repot datang adalah karena aku berencana untuk membuat makam di dasar pohon pada pusat kebun pelangi.
Di dunia ini, pemakaman dilakukan diam-diam diantara keluarga kecuali untuk para bangsawan. Mengkremasi sampai ke tulang dan menghancur leburkan tulangnya menjadi beberapa bagian. Karena ada kasus sisa-sisa tubuh menyerap Mana dan berubah menjadi zombie.
Kami pun mulai menggali lubang untuk memasukkan kotak kayu berisi tulang bubuk Erina.
Semua orang tak mengucapkan sesuatu, bahkan satu kata. Hanya dengan sunyi menggali dan menguburkannya.
"Aniki, ini"
Menyiapkan batu nisan yang dibawa Reus, aku mengukir sebuah nama disana menggunakan pisau mithril. Hanya sebuah nama akan terkesan monoton, haruskah sesuatu ditambahkan?.
"Semua orang, aku ingin mengukir hal yang lain, apakah ada saran?"
"Uuuun, aku tak punya ide~"
"Begitupun diriku"
"Aku ingin mengukir namaku atau sesuatu seperti 'Untuk favoritku, Erina-san...."
"Tidak adil untuk mengukir namamu sendiri dimakam seseorang, Reus. Walaupun aku juga setuju tentang memfavoritkannya"
"Hmmm....kalau begitu, bagaimana kalau begini?"
Semua orang lalu yakin sambil menganggukkan kepala atas rangkaian huruf yang terukir disana. Dan akhirnya mengheningkan diri menghantarkan doa bersama.
Dengan demikian pemakaman Erina berakhir.
Aku tidak tahu ibu kandungku di kehidupan sebelumnya, orang yang mengangkat dan membesarkanku, hanya wali daripada orangtua.
Meskipun dilahirkan kembali, aku masih tidak bisa melihat wajah ibuku, namun Erina tentunya adalah orang yang mengajariku tentang kasih sayang seorang ibu.
Aku berpikir bahwa diriku telah berulang kali mengalami penderitaan di kehidupan sebelumnya, aku berpikir bahwa air mataku telah habis....namun, ternyata tangisan masih bisa keluar ketika memikirkan dirinya.
Ini adalah sensasi yang nostalgia. Aku sungguh-sungguh berpikir, bahwa cinta ibu yang menyebabkan diriku mengingat kesedihan, benar-benar menakjubkan.
Erina, yang menuangkan limpahan cinta murni dan polosnya.
Erina, yang terus mendukung dari belakang demi diriku, demi keluarga.
....Selamat tinggal. Orang tersayang, yang mengajari kehangatan seorang ibu untuk pertama kalinya....
Sekarang tidurlah....dalam damai.
---Untaian kata yang tertera pada batu nisan---
{Erina tercinta dan setia kepada keluarganya....beristirahat disini}
☆☆☆Chapter 20 berakhir disini☆☆☆
>Catatan penulis = Inilah Ujung dari Volume 3.
Aku akan menulis sedikit lagi tentang kisah seperti ini di jadwalku, jadi silakan lihat jika kau tidak keberatan. Akhirnya, di volume selanjutnya mereka akan pergi ke sekolah.
Aku akan mencoba mengarahkan sebuah cerita berat disekitar sana.
Terima kasih sudah membaca.
keChapter 21
Ke Halaman Utama The World Teacher





